Jumat, 05 Agustus 2011

Ternyata Menyusui Punya Dampak Negatif (Based on True Story)

Di posting sebelumnya saya menulis tentang faktor utama kelancaran ASI yang belum pernah dibahas di banyak artikel yang pernah saya baca. Nah, di posting kali ini saya ingin membahas satu hal mengenai efek samping menyusui.

Perlu digarisbawahi di sini bahwa yang saya maksudkan bukan manfaat menyusui yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Semua orang tahun banyak sekali manfaat menyusui, baik bagi ibu, si bayi maupun bagi keuangan keluarga, sehingga ASI menjadi hadiah paling berharga dari Sang Pencipta. Nah, ternyata menyusui ada nggak enaknya juga lho, itulah yang saya maksudkan dengan efek samping.

Seperti halnya saat kita mengkonsumsi obat, dalam label yang tertera pada kemasan biasanya diterangkan juga mengenai efek samping obat tersebut. Contohnya adalah salah satu merk obat batuk yang menyebutkan efek sampingnya adalah mengantuk, pusing, konstipasi dan lain-lain. Efek samping ini bisa terjadi, bisa juga tidak tergantung dari daya tahan tubuh si pengguna obat. Nah demikian juga efek samping menyusui, bisa terjadi bisa juga tidak, kebetulan saja pada saya terjadi, makanya saya bisa cerita.

Efek samping yang saya maksudkan adalah: (maaf) vagina saya menjadi kering hingga memiliki efek domino yakni sakit pada area kemaluan saat dipakai berhubungan intim.

Saya termasuk wanita yang tidak mengalami datang bulan saat menyusui. Setelah kelahiran anak pertama, saya hanya menyusui sampai masa 4 bulan saja. Makanya pada bulan kelima saya sudah mengalami datang bulan. Berbeda dengan anak kedua, saya masih menyusui hingga saat ini si kecil sudah berusia 14 bulan dan baru saja mengalami menstruasi bulan lalu.

Sebenarnya efek langsungnya (yakni vagina kering) tidak terlalu menjadi masalah. Justru malah hari-hari jadi lebih nyaman karena tidak lembab. Namun kendalanya baru terasa saat melakukan hubungan intim. Rasa sakitnya menyebabkan trauma. Saya sudah mencoba men”curhat”kan hal ini pada beberapa sahabat dan juga melalui forum diskusi di milis. Rata-rata teman saya menyarankan untuk melakukan foreplay lebih lama, menciptakan suasana yang lebih kondusif agar lebih terangsang sebelum berhubungan. Hal itu sudah saya coba dan hasilnya nihil. Entah karena memang perangsangannya belum cukup atau karena sugesti, baik bibir vagina maupun rongga di dalamnya terasa sangat pedih dan panas.

Awalnya bahkan suami kesulitan melakukan penetrasi hingga akhirnya kami mencoba “pelumas”. Cara ini lumayan menolong, suami bisa melakukan penetrasi, namun rasa perih dan terbakar dalam rongga vagina masih belum berkurang. Rasanya seperti digesek dengan kertas gosok.

Setahun berlalu sejak kelahiran anak kedua, saya tidak tahan dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter. Berharap dokter meresepkan semacam vitamin/hormon yang bisa membuat vagina saya tidak kering namun tidak punya efek menghentikan ASI. Juga agak kuatir karena seorang teman di milis menduga ada sesuatu yang tidak beres dan sebaiknya dikonsultasikan ke DSOG. Syukurlah setelah diperiksa dengan USG, tidak ada masalah di daerah rahim saya.

Menurut penjelasan dokter kandungan, menyusui memang membuat produksi hormon estrogen jadi terhambat. Nah hormon estrogen inilah yang punya andil dalam siklus menstruasi dan juga memproduksi “oli” pada vagina. Solusi instannya, jika ingin kadar hormon estrogen kembali stabil, ya tentu saja dengan berhenti menyusui. Tapi tentu saja hal itu tidak beliau sarankan. Alternatif kedua ya menunggu hingga lewat masa menyusui yakni 2 tahun. Saya jadi membayangkan bahwa saya masih harus menunggu setahun lagi agar bisa kembali menikmati hubungan seks. Akhirnya saya pulang dengan tangan hampa. Dokter tidak meresepkan vitamin atau obat-obatan sama sekali. Saya memutuskan untuk pasrah dan menunggu saja. Jika sudah lewat masa menyusui dan tidak ada perubahan juga, saya berjanji untuk menemui dokter lagi.

Ternyata saya tidak perlu menunggu terlalu lama. Tidak lama setelah kunjungan ke dokter, akhirnya saya datang bulan dan setelah itu saya bisa kembali berhubungan dengan suami seperti dulu lagi. Saya tidak tahu apakah karena faktor sugesti atau bukan, yang jelas saya merasakan area kemaluan sudah tidak kering seperti sebelumnya.

Sampai kini (Kairo 14 bulan), saya memang masih menyusui walau hanya di malam hari. Semoga saja Tuhan memberikan kesempatan untuk bisa menyusui hingga bayi saya berusia 2 tahun.

Demikianlah sharing pengalaman saya selama masa menyusui. Memang tidak semua wanita akan mengalami hal yang sama, karena dunia hormon wanita yang sedemikian unik. Semoga bermanfaat..

Tulisan yang berhubungan dengan topik ini:
1. Breast pump
2. Agar Lebih Semangat Menyusui
3. Manajemen ASI Perah Untuk Ibu Bekerja

Gambar dikopi dari sini

3 komentar:

  1. Dear ibu, kejadian yang ibu alami juga dialami istri saya. Sebenarnya istri tetap mens selama menyusui. Setelah anak 2th anak disapih, memang benar setelah disapih gairah istri ada dan Tidak merasa pedih lagi. Thks share infonya ya

    BalasHapus

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)