Selasa, 17 Desember 2013

Tetap Syar’i dengan Kerudung Paris Nan Tipis





“There’s no tutorial for hijab sharee”.

Sumpah, aku tertohok melihat salah satu artwork yang kutemukan di google image saat aku mengetikkan kata kunci  tutorial hijab syar’i. Jujur aku merasa tersindir karena dulu aku sempat menghabiskan waktu berjam-jam di depan you tube. Lantas dilanjutkan dengan di depan cermin untuk mempraktekkan tutorial jilbab yang baru saja kulihat, tentu saja dengan ditemani selembar pashmina yang baru-baru ini jadi trend, serta jarum pentul dan peniti. Walaupun pada akhirnya, gaya berjilbabku ya begitu-begitu saja. Jilbab paris yang disemat di bawah dagu dan kemudian salah satu ujungnya ditarik ke belakang kepala. Sementara ujung satunya lagi dibiarkan menjuntai atau jika sedang risih dilempar ke belakang melewati pundak. Gaya jilbaban anak madrasah, begitu aku menyebutnya.
 
Gaya berjilbabku sampai sebulan lalu :D
Bertahun-tahun aku merasa nyaman sangat dengan gaya berjilbab seperti itu. Hingga kemudian di suatu hari Minggu, aku datang ke yayasan Nurul Hayat demi mengikuti talkshow bersama Ustadz Felix Siauw. Di sanalah, ya…di sanalah aku melihat banyak cewe-cewe yang gaya berjilbabnya persis plek sama gaja berjilbab beberapa teman di kampus dulu. Disemat di bawah dagu tapi ujungnya dibiarkan saja menutupi dada, paling-paling agak disilang sedikit dan kemudian diberi bros mungil sebagai pemanis. Tidak hanya itu, kain jilbabnya lebar hingga menutupi pundak, lengan, dada dan punggung.

Gaya berjilbab itu, ya gaya berjilbab itu, yang bikin aku dulu menjaga jarak dengan teman-teman yang mengenakannya. Sebab kupikir, cewek yang berjilbabnya demikian pasti yang dipikirin agamaaaa melulu. Mana nyambung mereka jika diajak ngomong soal film Titanic atau lagu baru Westlife? Sekarang jadi feel  guilty deh sudah punya pikiran kaya gitu sama mereka. Maafkan aku ya teman-teman :'(.

Nah back to topic. Di hari itu, di aula Nurul Hayat yang sejuk, aku melihat wanita-wanita yang berhijab lebar itu begitu berbeda. Mereka tampak begitu anggun, begitu cantik, begitu well protected, begitu membuatku ingin terlihat seperti mereka juga.

So, itu lah yang membuatku kemudian mengunjungi Om Google dan bertanya tentang hijab syar’i. Aku ingin tahu bagaimana caranya mengenakan jilbab yang sesuai syariat, serta di mana aku bisa mendapatkan kain kerudung yang sedemikian lebar di toko. Sebab rasa-rasanya aku tak pernah melihat jilbab-jilbab yang kainnya lebar di sentral jilbab di Jembatan Merah Plaza atau Altara, tempat favoritku berburu kerudung.

Aku menemukan penjual jilbab syar’i online. Dijual kain jilbab syar’i berbahan adem, begitu katanya. Tapi harganya bikin ilfil; Rp. 40 ribu per lembar, dan aku yakin harga segitu belum termasuk ongkir.  Aku garuk-garuk kepala cukup lama sambil memandangi laman tersebut. Teringat olehku tumpukan jilbab paris aneka warna koleksiku yang jumlahnya sudah lebih dari sekodi. Tak mungkin mereka bisa dipakai karena tipis, semriwing dan tembus pandang.

Aku terus mencari hingga akhirnya pencarian itu membawaku ke sebuah halaman milik rekan-rekan @pedulijilbab yang memberikan tutorial cara memakai hijab syar’i dengan menggunakan kain selebar kain paris. Kuncinya ternyata terletak pada cara melipat ujung jilbab. Jika dilipat sedikit, hasilnya adalah jilbab lebar. Senyumku langsung sumringah melihat tutorial simpel tersebut. Yang lebih menggembirakan lagi, di tutorial tersebut disebutkan "jika jilbabmu tembus pandang, gunakan dua lapis jilbab". 

Hahai...!!! jilbab parisku masih bisa dipakai, asalkan didobel. Dengan bersorak penuh semangat aku langsung mencobanya. Oya, ini tutorialnya (kalau kurang jelas silahkan didonlot);

Cara Berjilbab Syar'i by @PeduliJilbab


Horeee…!!! Akhirnya untuk pertama kalinya dalam lebih dari 3 dekade hidupku, aku memakai jilbab syar’I alias jilbab lebar. Dan anehnya aku sama sekali tidak merasa risih, walau biasanya aku mengenakan kerudung hanya sebatas leher.

Ups! Tapi tunggu dulu. Memakai jilbab paris dengan didobel begini sama sekali tidak praktis. Pertama, karakter kain paris yang lengket sehingga saat ditumpuk susah ditata. Kedua, ukuran kain paris yang bermacam-macam, belum tentu kain yang kita mau pakai ukurannya lebih lebar dari kain pendobelnya. Ngerti kan, kain yang berfungsi sebagai pendobel (diletakkan di dalam) kudu memiliki luas yang lebih kecil ketimbang kain yang di luar. Kalau nggak kan bisa jelek karena kelihatan balapan.

But I don’t have any choice! So far, Cuma itu jalan terbaik untuk bisa berjilbab syar’I tanpa keluar biaya untuk membeli kerudung lebar atau kerudung yang tidak tembus cahaya. Walau itu berarti aku harus menganggarkan waktu lebih lama untuk mengenakan jilbab sebelum keluar rumah.

Beberapa hari kemudian, aku bertemu dengan salah satu teman sekantor yang baru pulang haji. Dia pun mengenakan jilbab lebar. Dan kainnya paris.
“Buk, di mana beli paris lebar begini?”, tanyaku.
“I make it double”, jawabnya. (Temen saya itu memang sukanya ngomong bahasa Inggris, walau asli orang Gunung Sari)
Lha, sama aja brarti kaya aku. “Tapi Ibuk ini makenya rapi sekali ya?”, kataku lagi sambil membandingkan jilbabku dan jilbabnya.
Barulah kemudian cerita bahwa dia diajarkan oleh temannya untuk bisa berjilbab syar’I dengan paris yang didobel, tapi tetap terlihat rapi (nggak kelihatan dobelannya). Caranya dengan ditumpuk, digunting sama lebar, dijahit dan kemudian disatukan dengan neci. Dijamin tumpukannya nggak akan menceng-menceng (ya eya lah, secara dijahit gitu loh).
“Sekarang sudah ada 12 pasang jilbab parisku ada di penjahit”, katanya.

Aku menepuk jidat. Dijahit. Dineci. Iya ya? Kok aku nggak kepikir. Akhirnya nggak pake nunggu besok. Sepulang kantor hari itu langsung aku bongkar laci tempat kerudung parisku bersemayam. Setelah kupadu padan, kukirimkanlah 6 set sebagai kloter percobaan ke ibu penjahit sebelah rumah. Tentu saja dengan pesan agar agak cepat mengerjakannya. Sebab aku sudah tidak tahan dengan aktivitas menumpuk dan mengepaskan dua jilbab paris di pagi hari. Ribettt…!!!

Memadu padankan kombinasi jilbab paris yang mau dineci, bisa senada, bisa kontras, sesuka-suka aja ^-^
 
And…voila!!! Jilbab syar’I dari bahan kain paris dan semriwing dan tipis sudah jadi. Hanya dengan merogoh dompet sebesar Rp. 50 ribu untuk 6 pasang jilbab. Sekarang aku bisa menghemat waktu mengenakan jilbab dan hasilnya juga lebih rapi.
Kloter pertama jilbab paris kombinasi yang sudah dineci

Semoga tulisan ini bermanfaat, selamat mencoba dan selamat menjadi lebih cantik di hadapan Allah dengan hijab syar'i ^-^

Special thanks to:
Ibu Hj. Umi Sri Wulandari

23 komentar:

  1. Very good. Sy sukka :)

    BalasHapus
  2. Di neci itu di apa'in yah ka ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu untuk merapikan bagian tepi kain yang sudah dipotong agar serat kainnya tidak keluar.

      Hapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Bisa difoto hasilnya dgn dilebarin ga sist? Msh blum kebayang nih.. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maaf sekali sist, saya belum sempet posting foto yang lebih jelas. In a few days ya...
      Tapi kalau masih bingung langsung dibawa ke penjahit aja, biasanya mereka langsung paham kok maksudnya. Bilang aja dijahit pinggirnya trus dineci gitu.

      Hapus
  5. makasi banyak infonya sist, bermanfaat bgt.. maaf mo nanya cara neci nya gmana ya? di-pas-in sisi2 kedua kerudung atau dilebihkan sedikit? makasi sebelumnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya kerudung paris kan ukurannya beda-beda mbak. Jadi ntar penjahitnya yang ngepasin, dia akan ngikutin ukuran kerudung yang lebih kecil. Mbak tinggal ngematchin warnanya aja.

      Hapus
  6. syukron mba infonya,bermanfaa sekali

    BalasHapus
  7. Waaah mkasih loh... Bisa jadi jalan keluar juga buat saya ;)

    BalasHapus
  8. Dineci memang bikin jadi rapi jali ya mbak. Tapi ini ada ide lain yg mungkin bisa kepake, bisa gonta-ganti variasi warna, didobel tapi sengaja dilebihin kain dobel yg bawahnya. Layak disini

    http://emmakim28.blogspot.com/2013/10/berhijab-syari-dengan-dobel-paris.html?m=1

    BalasHapus
  9. Mba izin share ya..:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. siip banget nih,,,tambah ilmu tentang segi empat,,,gag boleh terawang klo mau pake hijab

      Hapus
  10. Ini dia yg kucari......!

    BalasHapus
  11. alhamdulillah, makasih banyak infonyaaah!

    BalasHapus
  12. mbak belum kebayang nanti jadinya sudah siap pakai apa masih segi empat? hehehe ayuk upload yg sudah jadi

    BalasHapus
  13. Alkhamdulilahh,..
    syukur lah kak,..
    tetap istiqomah ya kak,.. produsen mukena katun jepang

    BalasHapus
  14. 😊😀 keren,, tapi hijab syar'i di temanku 35 ribu saja ko ukht~
    hhe

    BalasHapus
  15. Makasih ukh atas ilmunya :) pengen coba.. Tapi masih bingung gmna jadinya
    Selama ini ana pake di double 2 aja..
    Terkadang. Banyak yg tanya. Kok di double :) ana jawab aja supaya ga terawang.

    BalasHapus
  16. alhamdulillah,,. bermanfaat bgt buat sya yg baru memulia bebenah diri... alhamdulillah masih bisa memanfaatkan jilbab paris dirumah

    BalasHapus
  17. Alhamdulillah, bermanfaat.
    ijin kopas tips dan fotonya ya kaak :)

    BalasHapus
  18. Terima kasih tulisannya mbak, sangat bermanfaat :)

    BalasHapus

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)