Kamis, 27 Desember 2012

Batu Kryptonite Isa


Sekarang
Gusti hanya bisa menatap nanar pada sesosok tubuh di kamar mandi. Tubuh seorang wanita dalam posisi duduk tertelungkup di pinggiran bath tub. Satu tangannya tercelup dalam bak yang airnya masih hangat. Airnya merah diwarnai darah yang keluar dari urat pergelangannya. Tidak butuh waktu lama untuk mengenali siapa dia. Isa. Tujuh tahun hidup bersama, membuat Gusti langsung tahu bahwa sosok itu adalah istrinya.
Walau belum memeriksa apakah denyut jantung Isa masih ada, entah mengapa perasaan Gusti mengatakan bahwa Isa sudah tiada. Gusti tahu Isa telah mengakhiri hidupnya sendiri, dan dia tahu mengapa. Surat singkat dengan tulisan tangan Isa telah menjelaskan semuanya.

Seminggu yang Lalu
“Maksudnya saya mandul, dok?”, aku bertanya dengan nada setengah tak percaya. Aku tahu tidak seharusnya aku bertanya. Toh aku bisa menyimpulkannya setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter kandungan yang duduk tenang di hadapanku. Mungkin sudah puluhan bahkan ratusan kali dia menerangkan hal yang sama pada pasien-pasiennya yang lain. Sehingga dia bisa menjelaskan hal yang sedemikian menyakitkan dengan ekspresi dingin. Caranya menyampaikan kenyataan bahwa aku tidak mungkin bisa hamil sama dengan jika menyampaikan aku terkena flu.
“Jadi saya tidak mungkin bisa hamil, Dok?”, aku mengulangi pertanyaanku. Jantungku berdebar-debar tidak karuan dan tubuhku menggigil menunggu jawaban. Dokter itu memandangku dengan tersenyum dan lantas menjawab dengan diplomatis; “Ya kalau urusan punya anak itu wewenang Tuhan, Bu Isa”.
Betul. Dokter itu tidak salah. Melihat hasil pemeriksaan indung telur dan rahimku, tampaknya hanya mukjizat yang bisa membuat aku hamil. Dan masalahnya, aku tidak pernah percaya akan mukjizat. Mukjizat hanya milik nabi atau rasul atau orang-orang sakti jaman dulu.
Inilah yang kutakutkan sejak dulu. Tujuh tahun pernikahan dan tidak kunjung hamil juga. Padahal menstruasiku selalu teratur dan aku tidak pernah mengalami keluhan apa-apa. Selama ini, Mas Gusti tidak pernah mau membahas masalah itu. Setiap kali kuajak untuk ke dokter kandungan, dia selalu saja menolak. Alasannya selalu sama, “Sudahlah, yang sabar saja sayang. Mungkin belum waktunya kita dipercaya untu dititipi bayi”.
Awalnya aku bisa menerima jawabannya. Lagipula, jujur saja, dalam hati aku juga takut memeriksakan diri ke dokter, aku takut jika ternyata aku lah yang bermasalah. Aku khawatir ternyata aku lah biang dari sepinya rumah tangga kami dari jerit tangis dan tawa anak-anak.
Selama ini, kesibukanlah yang membuatku lupa. Pekerjaan di kantor yang menumpuk disertai deadline yang tak henti-hentinya mengejar membuat kami sejenak lupa akan keinginan punya anak. Hingga tak terasa, tujuh tahun berlalu. Dan lagi-lagi saat mas Gusti kuajak ke dokter, dia menolak.
Akhirnya aku tak sabar lagi. Tanpa sepengetahuan suamiku, aku pergi ke dokter dan memintanya melakukan observasi untuk mengetahui mengapa aku tidak kunjung hamil.
Dan hasil observasi dokter menunjukkan bahwa karena suatu hal, indung telurku selalu menghasilkan sel telur yang berkualitas buruk. Ditambah lagi adanya kelainan bentuk rahim, sehingga kalaupun terjadi pembuahan, akan sulit bagi embrio untuk menempel di sana.
Kesimpulannya, aku mandul. Aku tidak akan pernah bisa punya anak. Mas Gusti tidak akan pernah bisa menimang bayi yang terlahir dari rahimku. Menyadari ini, tenggorokanku tercekat, kepalaku terasa pening.
Sejak hari itu, sejak dari ruangan dokter kandungan itu, aku kehilangan semangat hidup. Aku merasa gelap walau mentari bersinar. Dan masalahnya adalah, aku tidak bisa menyampaikan hal itu pada mas Gusti. Takut. Tidak tega.
Dalam hati kecil aku tahu, cinta seorang mas Gusti terhadap aku pasti tidak akan berubah “hanya” karena masalah ini. Selama ini, berkali-kali dia bilang bahwa dia mencintaiku karena aku. Titik. Tidak ada alasan lain. Tapi aku tahu, dia pun pasti merindukan kehadiran seoarng anak untuk membuat hidupnya semakin lengkap. Dengan kondisiku yang seperti ini, satu kepingan puzzle dalam hidup mas Gusti tidak akan pernah bisa ditemukan. Dan hidup mas Gusti tidak akan pernah lengkap.
Mas Gusti harus menikah lagi. Tampaknya aku harus rela memiliki madu. Ya, hanya dengan cara itu suamiku bisa memiliki keturunan. Ah, tapi mana aku tahan? Membayangkan suamiku tidur dengan perempuan lain saja sudah membuatku ingin muntah.
Kalau begitu, biar aku minta dicerai saja. Lantas pergi ke kota lain untuk melupakan kenanganku dengan mas Gusti. Ah, tapi dia tidak mungkin mau. Aku tahu, dia sangat mencintaiku. Seperti aku pun sangat mencintainya dan menginginkan dia bahagia. Namun, dengan kondisi seperti ini mas Gusti tidak akan pernah bisa bahagia.
Berarti tidak ada jalan lain. Hidupku harus berakhir. Dengan begitu, mas Gusti tidak perlu susah-susah menceraikan aku. Dia tidak perlu merasa bersalah jika ingin menikah lagi dengan perempuan yang memiliki indung telur dan rahim yang normal. Dan bagiku, aku tak perlu menahan pedih di hati tiap kali membayangkan dia bercinta dengan wanita lain.
Ya betul, inilah jalan terbaik.

Sekarang
Gusti tahu ada yang tidak beres dengan Isa sejak semingguan yang lalu. Dia sudah berusaha mendesak istrinya untuk bercerita sebenarnya ada apa.
Tidak biasanya Isa seperti itu. Isa yang dia kenal semenjak mereka masih kuliah dulu adalah perempuan yang selalu bersemangat. Gusti tahu, hidup tidak pernah mudah untuk Isa. Seorang yatim, dan harus membantu Ibunya menyekolahkan kedua adiknya. Sementara Isa sendiri juga berjuang menyelesaikan kuliahnya. Tapi Isa selalu tampak bergairah, tak pernah kelihatan susah. Otaknya pun cerdas, sampai-sampai saat belum menyelesaikan kuliahnya, dia sudah dilamar untuk bekerja di perusahaan ternama di kota mereka.
Isa tampaknya tak pernah mengenal malam. Baginya mentari selalu bersinar. Isa juga tidak pernah mengenal mendung. Bagi Isa, yang ada hanya pelangi. Hidup Isa selalu tampak indah. Dan itu yang membuat Gusti jatuh cinta. Gusti merasakan semangat hidup Isa yang sedemikian besar turut mempengaruhi hidupnya. Isa adalah inspirasi.
Sungguh kebahagiaan yang luar biasa saat Isa menerima lamarannya dan akhirnya mereka bisa hidup bersama.
Setahun berlalu. Dua tahun berlalu. Mereka menikmati indahnya bahtera rumah tangga berdua. Hanya berdua. Dan itu tampaknya tidak lagi indah bagi Isa.
Berkali-kali Isa mengajaknya ke dokter kandungan. Tapi Gusti selalu menolak. Sebenarnya Gusti khawatir jika ternyata, Gusti lah penyebab mereka belum bisa punya keturunan. Kesibukan kerja Isa rupanya bisa membuatnya lupa akan hasratnya mencari tahu mengapa dia belum juga hamil. Tapi tujuh tahun sudah berlalu. Teman-teman mereka, yang menikah lebih belakangan justru sudah punya anak, bahkan sudah ada yang beranak 2. Tiap kali mengunjungi teman yang melahirkan, Gusti tahu Isa gelisah. Setiap kali melihat bayi, Gusti tahu ada sebetik kesedihan yang terbit di hati Isa. Bukan. Gusti tahu bukan karena tidak bisa menimang bayi saja yang membuat Isa sedih. Tapi karena Isa tidak bisa memberinya keturunan. Bagi Isa, itu adalah to do list yang harus dia tuntaskan, sekalipun dia sudah berkali-kali menerangkan bahwa ada tidaknya seorang bayi tidak akan mengubah cinta Gusti padanya.
Gusti tak pernah tahu, bahwa istrinya diam-diam telah menemui dokter kandungan. Gusti juga tidak pernah mendengar dari mulut Isa sendiri bahwa ada kelainan dalam organ reproduksi istrinya. Gusti juga tidak pernah menyangka, bahwa kenyataan ini adalah batu kryptonite bagi Isa. Perempuan yang baginya tidak pernah mengenal kata “masalah” atau “beban hidup”. Ini lah ternyata yang memadamkan mentari yang selalu bersinar di sepanjang hidup Isa. Ini lah, awan mendung yang menutupi pelangi-pelangi Isa.

Sesaat sebelumnya.
“Tampaknya memang ada kelainan pada spermamu Gus. Gerakannya tidak seagresif sperma biasa. Kalau kamu mau, kita bisa observasi lebih lanjut. Gimana?”.
Aku mendengarkan penjelasan Dino, sahabatku yang dokter. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatiku, mendapati bahwa selama ini yang aku khawatirkan benar adanya. Tapi sejurus kemudian, ada perasaan lega. Bukan Isa penyebabnya. Kalau mendengar hal ini, Isa tidak perlu merasa bersalah dan terbebani lagi. Aku akan segera menyampaikan hal ini pada Isa. Kemudian mengajukan opsi-opsi untuk berusaha menghadirkan seorang bayi di rumah kami. Mungkin kami bisa mencoba program bayi tabung. Atau kalau Isa mau, kami bisa mengadopsi seorang bayi.
Ah, betapa aku tidak sabar ingin segera tiba di rumah dan menyampaikan hal ini pada istriku tercinta.


*Batu Kryptonite: Batu yang berasal dari Planet Krypton (planet darimana Superman berasal) yang menyebabkan Superman menjadi sangat lemah dan kehilangan seluruh kekuatannya.

27 Desember 2012

"Ini adalah fiksi pertama saya, jadi jika masih cupu ya harap dimaklumi. Terima kasih bagi yang sudah membaca sampai habis ^-^"

Jumat, 07 Desember 2012

Kampoeng Kidz; Kampoeng of Optimism, Kampoeng of Spirit


 (Read this article in Indonesian Version)

 
Thanks God I’ve been to Kampoeng Kidz.
Thanks God I’ve been part of optimism and spirit of Kampoeng Kidz, although only for 22 hours ^-^.

22 Hours in Kampoeng Kidz
It wasn’t my first time of hearing the words “Kampoeng kidz” as a friend told me her visit to that place. I’ve heard that word several times as the founder (Julianto Eka Putra) shared an inspirational story via Suara Surabaya (local radio).
Finally, we decided to bring our kids to Kampoeng Kidz, hoping for a difference vacation experience. Kampoeng Kidz is located in Batu city, precisely in Jalan Pandan Rejo 1, Bumiaji, Batu.
We didn’t find any direction board which guided us toward Kampoeng Kidz. I need to call Mr. Wayan (the executive marketing of Kampoeng Kidz) to show us the direction so we didn’t get lost. But don’t worry; it’s not really complicated because Kampoeng Kidz is located very closed to the main road to Selecta.
When we finally arrived at the entrance gate, my husband was a little bit confused because at the entrance we saw a board with “SMA Selamat Pagi Indonesia” written on it. It’s true that from outside, two 4-5 floor height-yellow building was seen. Lately, I knew that those building are the school and the dormitory of students of Selamat Pagi Indonesia High School. And those students are the ones who managed Kampoeng Kidz.
The building of Selamat Pagi Indonesia High School

As we finally found the customer service, we’ve been explained about the programs in Kampoeng Kidz. Just like its name, Kampoeng in Indonesia is spelled “Kampung” (village), so Kampoeng Kidz is the village for Kids, where kids can play and learn (experiential learning). They have various kind of educational programs, like farming (dove, fowl, rabbit and goat), catching fish, kitchen gardening (tomatoes, chili, corn, eggplant), art gallery (gypsum coloring, sand sticker, kite coloring, origami), construction (puzzle 3D), mining and restaurant (Think there are still some programs I didn’t mention).
Learning about Fowl


Learning in Art Gallery

Catching Fish

For every program, like entering the dove’s cage or catching fish or harvesting tomatoes, we had to pay IDR 10 thousand/kid/program. They also provide a package which can be used for all programs, which cost IDR 150 thousand/kid.
From the customer office, we’ve been accompanied by a guide (who looks very young, because she is still in the first class of this High School). Her task was bringing us go around the complex of Kampoeng Kidz as well as guiding Jasmine (6 years, our daughter) to play and learn ^-^.
That Saturday noon, we decided to spend that night in Kampoeng Kidz. Considering we didn’t make any reservation before, we’re lucky because they still have empty room left in LCA (Learning Centre Accommodation). We got a pretty large room. Actually that room is for 8 adults, while we’re only 2 adults and 2 kids :D
LCA (Learning Centre Accomodation)

Again, we’re lucky to have a room facing the mountains, vegetables garden and a field where several horses were playing and “grassing”. We passed a wonderful night, with the voice of rain and the orchestra of frogs and night insects as our lullaby.
The night passed and the dawn came. Sunday morning, it’s usually an opportunity to wake up late. But, I didn’t want to miss the beauty of morning panorama as well as the fresh air of Batu city. Finally, I left our room to walk around.
Complex of Kampoeng Kidz

The Dormitory and Open Stage

Add caption

Gazebos

The students of Selamat Pagi Indonesia High School had already looked very busy that morning. I met some students who prepared to go to Church. While others, seemed enjoying working in the complex of Kampoeng Kidz; preparing breakfast for the guests, cleaning the gazebos, sweeping the garden and going to the market.
That morning, while I climbed the tower of flying fox, I realized that the pool where Jasmine did catch the fish yesterday has the shaped of Islands in Indonesia ^-^.

As the kids woke up, we directly left our room and walked along the path of the vegetables garden, which located precisely besides the complex of Kampoeng Kidz. We saw a cleared water river, and lately we found out that the river is used as a rafting track.



We spent the whole morning and day in Kampoeng Kidz, watching the students of Selamat Pagi Indonesia High School playing football and basketball. We watched them preparing welcoming events for the guest from Astra Credit Company, who were having Family Gathering that day. Five dancers performed an India dance on an open stage followed by a mini operet. This operet was actually an opening for a kid’s outbound adventure. This was probably hardly found in other place, Kampoeng Kids has creatively designed an outbound event for kids as an adventure to save The White Princess who is kidnapped by the dragon. The kids were equipped with warrior costume complete with a wood sword and shield. If I were still a kid, it would be delight to join that adventure.


Kampoeng Kidz, Kampoeng Smile
This vacation was truly an outstanding one. From many places I’ve been visited, Kampoeng Kidz is one of holiday destinations who gave a strong impression. We got everything we need for a holiday purpose in this place. While parents can enjoy the fresh air and beautiful panorama (which can help refreshing mind), children can play, learn and being acquainted with nature ^-^
There’s one thing that make Kampoeng Kidz felt like home. Jasmine has forgotten her desire to go to swimming pool (she was actually whimpered and whimpered to swim during our trip to Batu). Even we canceled our plan to go to other place in Batu and spent the whole weekend only in Kampoeng Kidz. That one thing is; HOSPITALITY.
Every crews of Kampoeng Kidz we met are cheerful and friendly. All students of Selamat Pagi Indonesia (SPI) High School always hospitably greet and smile to every guest they met. They’re also very easily chummy with kids.
Oops, I forgot to tell you who are actually the students of SPI High School?
They’re young amazing boys and girls who came from many islands of Indonesia. This school is a boarding school, so the students live in a dormitory that is much closed with the school building. SPI High School itself is the reality of a Julianto Eka Putra’s dream to build a free school for Indonesian young generation. He’s a successful entrepreneur from Surabaya who had been a billionaire at the age of below 40.

In SPI High School, besides learning the subjects as mentioned in ordinary curriculum, the students also learn about life skill, so they can some day become an independent and good entrepreneur. The tutors are many practitioners who support the founding of this school.
By the time I wrote this, 102 students are studying in SPI High School. They came from Java, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua, Riau, Nusa Tenggara and Bali. SPI High School is a multi cultural school. Around 28 of 78 graduated students are now still staying in Bumiaji to manage Kampoeng Kidz.
The purpose of founding Kampoeng Kidz itself is to give chances for these students to learn how to be an entrepreneur. They called this place “A giant entrepreneur laboratory”. In this place, they can learn many things such as how to organize an event, how to be a customer service, how to manage a restaurant, sales and marketing as well as leadership.

Being part of Kampoeng Kidz and Selamat Pagi Indonesia High School (even only for a while) had made me become young again. Maybe their enthusiasm and spirit had been spreaded out and affected me. Seeing these boys and girls, somehow, made me more optimist to face the future ^-^
There are still many things I haven’t written about Kampoeng Kidz. Again, just like when I wrote about Kaliandra, I prefer not to write everything. I hope it can give you chance to proof how Kampoeng Kidz offers a different vacation to spend the weekend with your family.

If you need more information about the program and accommodation facilities in Kampoeng Kidz, please visit their website; www.kampoengkidz.com.

Thank you Kampoeng Kidz, Thank you “Mas” dan “Mbak” of Selamat Pagi Indonesia High School, for a memorable experience. J

My other note:
NegeriDongeng Sungai Pekalen (Indonesian version, a note about Rafting Adventure in Pekalen River, Probolinggo).

Senin, 03 Desember 2012

Kampoeng Kidz; Kampoeng Optimism, Kampoeng Spirit


(Read this article on English version)

Saya bersyukur pernah datang ke Kampoeng Kidz. Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari semangat dan optimisme di Kampoeng Kidz, walaupun hanya selama 22 jam.

22 Jam di Kampoeng Kidz
Bukan kali pertama saya mendengar kata Kampoeng Kidz saat seorang sahabat menceritakan kunjungannya ke sana. Beberapa kali kata Kampoeng Kidz sempat terdengar di Radio Suara Surabaya saat foundernya (Julianto Eka Putra) mengisi Titik Nol. Akhirnya, karena mengharapkan liburan yang berbeda, kami memutuskan untuk membawa anak-anak ke Kampoeng Kidz di kota Batu, tepatnya di Jalan Pandan Rejo 1, Bumiaji, Batu.
Tidak ada papan petunjuk di jalan yang menuju ke sana. Beberapa kali saya menelfon Mas Wayan (marketingnya Kampoeng Kidz) untuk menunjukkan arah agar tidak kebablasan.
Tidak ada yang menyolok dari Kampoeng Kidz saat kami tiba di gerbang pintu masuknya. Malah suami sempat kebingungan karena yang dia lihat malah tulisan SMA Selamat Pagi Indonesia. Memang, dari luar kelihatan ada beberapa gedung berwarna kuning setinggi 4-5 lantai. Belakangan baru saya tahu bahwa itu adalah gedung sekolah dan asrama adik-adik siswa SMA Selamat Pagi Indonesia. Merekalah orang-orang yang berada di balik pengelolaan Kampoeng Kidz.
Gedung Sekolah SMA Selamat Pagi Indonesia

Begitu menemukan kantor customer service, kami mendapatkan penjelasan program apa saja yang dipunyai Kampoeng Kidz. Kampoeng Kidz sejatinya adalah tempat edukasi untuk anak-anak (experiental learning). Program edukasinya pun beragam; mulai dari peternakan (merpati, unggas, kelinci dan kambing), perikanan, kitchen garden (tomat, terong, cabai, jagung), art gallery (mewarnai gypsum, stiker pasir, mewarnai layang-layang, origami), konstruksi (puzzle 3D), pertambangan, restaurant, dan mungkin masih ada lagi yang belum saya sebutkan.
Mengenal Unggas (Salah Satu Program Edukasi Kampoeng Kidz)


Belajar di Art Gallery ditemani Mbak Fajar (Guide Kampoeng Kidz)

Yang jelas, untuk tiap-tiap program, biayanya rata-rata 10 ribu/anak. Mereka juga menyediakan satu paket yang bisa dipakai untuk semua program dengan harga 150 ribu/anak. Lepas dari customer service, seorang guide (yang masih imut-imut karena masih kelas 1 SMA) ditugaskan untuk menemani Jasmine (6 tahun, anak pertama kami) belajar dan mengantar kami berkeliling kompleks Kampoeng Kidz^-^
Gazebo-gazebo Tempat Tetirah

Lapangan Olah Raga merangkap Panggung Terbuka

Danau Buatan (Salah Satu Lokasi Outbound)

Kompleks Kampoeng Kidz dan Asrama Siswa SMA SPI

Karena hari itu kami datang sudah menjelang sore, dan masih banyak yang belum kami lihat, kami memutuskan untuk menginap di sana. Kebetulan masih ada tempat kosong di LCA (learning Centre Accomodation). Kami menempati kamar yang lumayan besar, karena sebenarnya kapasitas kamar itu adalah untuk 8 orang dewasa, sedangkan kami hanya ber-2 dewasa dan 2 anak-anak. Kami beruntung mendapatkan kamar yang menghadap gunung dan kebun sayur serta lapangan kecil di mana ada beberapa ekor kuda yang asyik merumput. Kami melewatkan malam yang tidak biasa, kami tidur dengan diiringi suara hujan plus orkestra kodok dan serangga malam.
Salah Satu LCA (Learning Centre Accomodation)

Malam pun lewat dan pagi menjelang. Minggu pagi, di Surabaya biasanya ini kesempatan untuk bangun lebih siang. Ah, tapi rasanya kok sayang melewatkan panorama dan hawa pagi kota Batu. Akhirnya saya pun keluar kamar untuk melihat-lihat. Ternyata, adik-adik SMA Selamat Pagi Indonesia sudah tampak  kesibukannya. Saya berpapasan dengan serombongan adik-adik yang akan ke gereja. Sementara yang lain, tampak sibuk bekerja bakti. Ada yang menyiapkan makanan untuk sarapan, membersihkan gazebo-gazebo, menyapu taman, bahkan berbelanja. 
Pagi itu baru saya sadar, bahwa kolam tempat Jasmine main tangkap ikan kemarin sore ternyata berbentuk pulau-pulau Nusantara. Itu pun karena saya sempatkan untuk naik di menara starting point flying fox.
Kolam Tempat Menangkap Ikan

Begitu anak-anak bangun, kami langsung berjalan-jalan di sepanjang pematang kebun sayur yang terletak persis di sebelah kompleks Kampoeng Kidz. Kami melihat sungai berair jernih yang belakangan baru kami tahu, bahwa sungai itu dipakai untuk track arung jeram.
View dari Kamar LCA


Pagi Hari di Pematang Kebun

Kami menghabiskan sepanjang pagi hingga siang di Kampoeng Kidz. Melihat adik-adik SMA berolah raga di lapangan, senam pagi, kemudian bersiap-siap menyambut tamu dari Astra Credit Company yang sedang ber-family gathering, melihat tarian penyambutan tamu dan juga melihat semacam “operet”. Operet ini sebenarnya adalah pembuka acara outbound untuk anak-anak. Dengan kreatifnya, Kampoeng Kidz mengemas acara outbound menjadi acara petualangan menyelamatkan sang putri yang diculik naga.
Tarian India (Penanda Dibukanya Aktivitas Kampoeng Kidz Hari itu)
Persiapan Adventure's Outbound

Kampoeng Kidz, Kampoeng Smile
Benar-benar liburan yang tidak biasa. Dari banyak tempat wisata yang pernah kami kunjungi, Kampoeng Kidz adalah salah satu tempat yang meninggalkan kesan kuat. Di sini kami mendapatkan semuanya. Kami, orang tua, mendapatkan pemandangan dan hawa sejuk khas Batu (yang bisa membantu menghilangkan kepenatan), sedang anak-anak bisa bermain sekaligus belajar.
Ada satu hal yang membuat kami betah di Kampoeng Kidz. Saking betahnya, Jasmine sampai melupakan keinginannya untuk berenang (padahal selama di perjalanan, dia sudah merengek-rengek ingin cepat sampai kolam renang). Saking betahnya, kami sampai membatalkan acara ke tempat wisata lain di Batu dan menghabiskan akhir minggu hanya di Kampoeng Kidz. Hal yang membuat betah itu adalah; hospitality.
Tidak ada satu pun crew Kampoeng Kidz yang berpapasan dengan kami memasang muka masam atau judes. Semua siswa SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI) sangat ramah dan full senyum.
Oya, saya lupa menceritakan siapa sih sebenarnya adik-adik SMA SPI ini?
Mereka adalah anak-anak muda luar biasa yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. SMA SPI yang berdiri tahun 2007 berkonsep boarding school, jadi mereka tinggal di asrama yang lokasinya berdekatan dengan gedung sekolah. SMA SPI sendiri adalah sekolah gratis yang merupakan perwujudan dari mimpi seorang Julianto Eka Putra, arek Suroboyo yang sudah menjadi pengusaha sukses di usia kurang dari 40 tahun. Di SMA SPI, para siswa mendapatkan pembelajaran life skill untuk menjadi pengusaha handal dan mandiri. Pembimbingnya adalah para praktisi yang mendukung berdirinya sekolah gratis ini. Saat ini ada 102 siswa yang sedang belajar di SMA SPI. Mereka berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Maluku, Papua, Batam, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Riau, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur. Jumlah lulusannya saat ini berjumlah 78 orang dan 28 di antaranya masih tinggal di Bumiaji, Batu mengelola Kampoeng Kidz.
Kampoeng Kidz sendiri sebenarnya merupakan laboratorium enterpreneur yang diperuntukkan bagi adik-adik SPI belajar banyak hal secara langsung, semisal menjadi customer service, sales, marketing, accounting, menjadi EO, mengelola kantin dan leadership.


Sejenak menjadi bagian dari Kampoeng Kidz dan SMA Selamat Pagi Indonesia membuat saya merasa kembali muda. Mungkin karena tertular oleh semangat dan gairah adik-adik SMA ini. Melihat mereka, entah mengapa saya jadi lebih optimis menghadapi masa depan^-^.
Masih banyak sebenarnya yang ingin diceritakan tentang Kampoeng Kidz, tapi lagi-lagi (seperti saat saya menceritakan Kaliandra), saya tidak ingin menceritakan semuanya. Biarlah Anda sendiri yang membuktikan bagaimana Kampoeng Kidz menawarkan nuansa baru untuk liburan akhir pekan bersama keluarga.
Jika membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai program dan akomodasi di Kampoeng Kidz, silahkan kunjungi websitenya; www.kampoengkidz.com.

Sekses selalu untuk adik-adik SMA Selamat Pagi Indonesia dan Kampoeng Kidz ^-^

Semoga tulisan ini bermanfaat, Happy Weekend.

Foto: hasil jepretan sendiri yang terpaksa pakai hape karena lupa ngga bawa kamera :( 

Catatan perjalanan saya yang lain;
1. Negeri Dongeng di Sungai Pekalen
2. Kaliandra, Kecantikan Tersembunyi

Selasa, 20 November 2012

Trik Mengajari Anak Menghafal


Pagi itu sebelum berangkat kerja, saya sempatkan melihat buku penghubung Jasmine (TK B). Mana tahu ada catatan-catatan dari Ustadzahnya (yang jujur aja sering terlewatkan, hehe). Ternyata benar, Ustadzah memberikan informasi bahwa saat ini Jasmine sedang menghafal Surat Al Ma’uun dan mohon dibantu di rumah.
Sorenya begitu pulang kerja, dengan semangat 45 saya ajak Jasmine untuk menghafal. Metodenya standar, saya membacakan surat Al Ma’uun mulai dari ayat pertama dan saya suruh dia menirukannya: “Ara aytalladzii yukad dzibu biddiin”. Awalnya saya membaca sendiri dan dia mendengarkan, kemudian saya ajak dia membaca bersama-sama, kami mengulang-ulang hingga beberapa kali. Namun anehnya, tiap kali dia saya suruh mengulang hafalan sendiri, dia tidak bisa. Kami tidak membuat kemajuan sama sekali. Satu ayat pun Jasmine tidak sanggup menghafalnya. Padahal sudah saya pancing-pancing: “Ara...ara...ara...”.
Merasa sudah terlalu lama kami mencoba dan tidak juga membuahkan hasil, saya mulai emosi dan menyudahi acara belajar malam itu. Daripada emosi saya berubah menjadi amarah, lebih baik saya biarkan Jasmine beristirahat. Saya pun bisa menenangkan pikiran sambil mencari tahu mengapa Jasmine sulit sekali mengingat kata-kata yang sedemikian pendek, padahal sudah diulang berkali-kali.
Rupanya saya tidak perlu waktu lama untuk menyadari di mana masalahnya. Dan saya menyadarinya tepat keesokan harinya saat bermobil menuju kantor.
Supaya tidak sepi, saya biasa menyalakan radio yang memutar lagu-lagu Indonesia. Saya lupa waktu itu lagu apa, pokoknya lagu itu cukup populer dan hampir tiap hari selalu diputar di radio. Saya berusaha mengikuti syairnya, tapi tidak bisa sama persis dengan penyanyi aslinya (Bukan kualitas suaranya, kalau masalah kualitas sih tidak bisa dibandingkan karena saya spesialis penyanyi kamar mandi, haha...). Yang saya maksud adalah saya tidak bisa mengikuti syairnya persis, walaupun sudah mendengarkan berkali-kali.
Lantas ingatan saya melayang-layang ke masa puluhan tahun lalu, sewaktu saya masih SD, sewaktu saya masih belum bisa berbahasa Inggris, tapi kok bisa waktu itu saya hafal hampir semua lagu-lagunya New Kids On the Block? Saya coba mengingat-ingat lagi metode menghafal saya dulu. Yes, ternyata saya berhasil menghafal semua lagu dalam 1 album “Step by Step” karena saya mendengarkan lagunya sambil membaca teks lagu yang ada di sampul kaset. Mengingat masa kecil saya, saya lantas bersorak. Aha, mungkin ini bisa diterapkan pada Jasmine. Mungkin masalah Jasmine adalah dia kesulitan menyimpan inputan yang harus direkam secara auditori. Sama seperti saya yang harus membaca teks dahulu baru bisa hafal. Mungkin dengan membaca, Jasmine bisa lebih mudah menghafal. Hanya masalahnya, Jasmine belum lancar membaca. Tapi saya tidak kehabisa akal.
Begitu sampai di kantor, hal yang pertama saya lakukan adalah membuka Microsoft Word dan mengetik kalimat-kalimat berikut dengan ukuran font yang cukup besar:
Al Ma un
Aro aytal lazi yukad dibu bidin
Fada likal lazi yaduk ul yatim
Wala yahud du ala to amil miskin
Faway lul lil musolin
Alazi nahum an solat tihim sahun
Alazi nahum yuro un
Wayam na unal maun
Tidak lupa saya tambahkan warna yang berbeda untuk masing-masing kalimat agar lebih menarik. Seorang kawan saya melihat apa yang saya kerjakan dan memprotes tindakan saya. Mengapa saya menuliskannya tidak sesuai dengan makhraj? Mengapa tidak ada panjang pendeknya?
Saya bilang karena inilah cara agar Jasmine bisa menghafal, karena rupanya dia punya style belajar visual seperti saya. Cuma masalahnya, Jasmine belum bisa membaca huruf hijaiyah, dan dia juga belum lancar membaca huruf latin. Jadi saya harap dia bisa membaca kalimat-kalimat sederhana yang saya tuliskan dan memasukkannya dalam memori.
Alhamdulillah cara saya boleh dibilang berhasil. Pertama saya menyuruh Jasmine membaca kalimat tersebut satu per satu. Walau terbata-bata tapi toh dia bisa juga. Kemudian saya ulangi cara membacanya, tentu saja dengan cara membaca yang benar menurut ilmu tajwid, panjang pendek dan makhraj. Saya hanya perlu mengulang beberapa kali dan Jasmine pun bisa mengingatnya sendiri.
Saya merasa sangat lega. Bukan karena Jasmine bisa menghafal. Tapi karena berhasil memahami gaya belajar Jasmine, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan saya. Gaya belajar Visual.
Semoga pengalaman menghafal ini bisa saya jadikan pelajaran untuk di kemudian hari menemani Jasmine mempelajari hal-hal yang lain. 

Note: Oiya, foto ibu dan anak di atas bukan foto saya, saya nyomot dari internet (hasil karya Gareth Brown)

Jumat, 16 November 2012

Apakah Blighted Ovum


 Pernahkah Anda mengalaminya? Saya pernah, dua kali malah. Dan dua-duanya berakhir di meja kuretase. Saya pernah bertanya apa yang dimaksud dengan blighted ovum? Mungkin karena menganggap saya orang awam, dokter hanya mengatakan bahwa blighted ovum itu bisa diibaratkan bakal benih yang kopong.

Sebenarnya apakah blighted ovum itu? Berikut ini penjelasan yang saya baca dari American Pregnancy Association.

Seorang wanita dikatakan mengalami blighted ovum apabila sel telur yang telah dibuahi telah menempelkan dirinya pada dinding rahim, namun tidak bisa berkembang menjadi embrio. Kantung kehamilan memang terlihat berkembang, namun embrionya tidak.

Blighted Ovum yang terdeteksi melalui USG. Tampak kantung kehamilan tapi tidak tampak ada embrio yang berkembang
Wanita yang mengalami blighted ovum biasanya tetap mengalami gejala awal kehamilan, seperti telat mens maupun tes kehamilan yang positif. Di awal, plasenta pun masih bisa terus berkembang (walaupun tidak diikuti perkembangan embrio) dan hormon hCG pun masih terus meningkat. Inilah yang menyebabkan banyak wanita mengira kehamilan mereka baik-baik saja walaupun sebenarnya sedang mengalami blighted ovum. Blighted ovum biasanya diketahui saat dilakukan USG yang menunjukkan kondisi kantung kehamilan yang kosong. Gejala-gejala seperti kram ringan di perut atau pendarahan ringan juga bisa saja terjadi.

Salah satu penyebab blighted ovum adalah kualitas sel telur atau sperma yang buruk. Bisa juga karena proses pembelahan sel yang tidak normal.

Lima puluh persen (50%) kasus keguguran di trimester pertama adalah disebabkan karena blighted ovum. Kabar buruknya adalah, belum ada tindakan yang bisa mencegah terjadinya blighted ovum. Namun jika terjadi keguguran berulang akibat blighted ovum, maka pasangan suami istri bisa saja melakukan tes-tes genetika jika dirasa perlu.

Kabar baiknya adalah, pasangan suami istri tidak perlu melakukan pencegahan kehamilan yang terlalu lama setelah mengalami keguguran. Kebanyakan dokter akan menyarankan pasangan suami istri untuk menunda setidaknya 1-3 kali siklus menstruasi sebelum memutuskan untuk membiarkan pembuahan terjadi.

Masih menurut American Pregnancy Association; sangat jarang memang seorang wanita bisa mengalami blighted ovum hingga beberapa kali. Kalaupun sampai harus mengalami, biasanya hanya terjadi sekali. Tapi saya bisa sampai dua kali, hehehe...Yang pertama di usia kehamilan 6 minggu dan yang kedua di usia 8 minggu.

Bagi yang sekarang sedang mengalami kehilangan karena blighted ovum, tidak usah resah. Sebab banyak kok kasus-kasus keguguran karena blighted ovum yang berujung pada kehamilan lagi.

Semoga artikel ini bermanfaat ^-^

Jumat, 09 November 2012

Jeruk-Jeruk Mbah Ti


Tujuh tahun lebih saya menikah dengan suami. Selama 7 tahun itu pulalah saya mengenal sosok Mbah Ti. Rumah Mbah Ti memang berada tepat di depan rumah orang tua suami. Setiap kali berkunjung ke rumah mertua, saya kerap menjumpainya. Namun saya tidak benar-benar memperhatikannya hingga beberapa bulan yang lalu, ketika saya juga ikut-ikutan menjadi tetangga Mbah Ti.
Mbah Ti berusia 70an. Kurus kering dan berkulit hitam. Mbah Ti bukan orang penting karena dia sebenarnya hanyalah seorang pemulung. Pekerjaannya tiap hari mengorek-ngorek sampah di sekitar kampung. Berharap ada barang-barang bekas yang masih punya nilai untuk dijual. 
Mbah Ti di suatu sore

Kalau tidak sedang memulung, dia kerap terlihat menjemur nasi setengah basi di atas tampah di depan rumah sewaannya. Sebenarnya rumah sewaan Mbah Ti tidak tepat juga dibilang rumah. Karena hanya berupa kamar berukuran 4x2 m yang dibagi menjadi 2 bilik. Satu bilik ditempati Mbah Ti dan yang sebelahnya ditempati seorang penyewa lain. Saya tidak pernah masuk, tapi dari luar saya bisa melihat dipan tempat tidurnya, lengkap dengan bantal guling tanpa sarung yang warnanya sudah tidak jelas. Putih keabu-abuan, atau abu-abu keputih-putihan. Untungnya tempat tinggal Mbah Ti letaknya bersebelahan dengan kamar mandi umum. Jadi dia tidak perlu kerepotan kalau memerlukan fasilitas MCK.
Mbah Ti dan bilik mungilnya

Kalau malam, terutama jika udara benar-benar gerah. Mbah Ti seringkali duduk-duduk di depan rumah dengan hanya mengenakan pakaian dalam model kuno yang sudah kedodoran. Tak jarang dia tampak menggosok-gosokkan balsem di kakinya untuk membantunya mengurangi penat. Sesekali dia menyapa atau menjawab sapaan orang lewat. Ketika malam semakin larut, dia akan masuk ke bilik mungilnya yang hanya diterangi sebuah bohlam berwarna kuning. Beristirahat mengumpulkan tenaga untuk kembali mengorek-ngorek tempat sampah keesokan harinya.
Saya punya kesempatan mengenal Mbah Ti ketika pembangunan rumah kami dimulai. Kebetulan rumah itu letaknya tepat di belakang rumah orang tua suami. Seperti kebanyakan orang yang sedang membangun rumah, selama proses pembangunan dan pindah rumah tentu saja banyak barang-barang rongsokan. Entah kayu, triplek, kardus bahkan besi-besi. Oleh Ayah saya –yang kebetulan menjadi pengawas proyek pembangunan – Mbah Ti diberikan ijin penuh untuk mengambil semua barang-barang tersebut. Kegirangan Mbah Ti sungguh di luar dugaan. Berkali-kali dia mengucapkan terima kasih sambil meminta maaf karena tidak sanggup membeli barang-barang yang dia ambil. Tentu saja dia tidak perlu membayar, bagi kami barang-barang tersebut sudah tidak ada harganya. Malahan kami kan justru terbantu, karena dengan diambilnya barang-barang tersebut, kami tidak perlu kebingungan menyingkirkan barang-barang yang sudah tidak terpakai tersebut.
Rupanya Mbah Ti bukan pemulung biasa. Merasa apa yang diambilnya adalah rejeki yang luar biasa, sesekali dia datang ke rumah sambil mengantarkan 1 kresek kecil berisi beberapa butir jeruk. Dia bilang, itu untuk mengganti barang-barang bekas yang dia ambil.
Kami semua benar-benar dibuat melongo dengan apa yang dilakukan Mbah Ti. Betapa besarnya keinginan Mbah Ti untuk menunjukkan rasa terima kasih. Sekalipun itu dia tunjukkan dalam bentuk yang sangat sederhana seperti beberapa butir jeruk lokal yang dia antarkan ke rumah kami.
Bagaimana dengan kita? Saya 99% yakin Anda dan saya memiliki tingkat ekonomi yang lebih dibanding seorang Mbah Ti. Dengan kondisi keuangan yang lebih baik dari seorang pemulung sampah, sudahkah kita tunjukkan rasa terima kasih terhadap orang-orang yang bersikap baik kepada kita? Sudahkah kita tunjukkan balas budi kepada orang tua kita? Terlebih lagi kepada Allah?
Mungkin kita tidak merasa bahwa sebenarnya kita banyak sekali menerima nikmat. Terutama dari Allah. Namun alih-alih berterima kasih atau membalas budi, kita sering malah melupakan karunia yang sudah kita terima. Lebih parah lagi, kita malah menggerutu dengan apa yang sudah diberikan dan selalu saja merasa kurang. Yang paling parah, kita malah menyalahkan Allah. Naudzubillahimindzalik.
Allah telah berfirman dalam QS An Nahl:18, “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
Allah memang tidak sama dengan kita yang bisa saja haus  diberi ucapan terima kasih usai berbuat suatu kebaikan. Allah tidak membutuhkan balas budi dari makhlukNya. Justru kita lah yang butuh berterima kasih pada Allah, sebagai perwujudan rasa syukur. Sebagaimana Allah telah berjanji dalam QS Ibrahim:7, “Dan, tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih"”.
Kita memang butuh bersyukur, agar Allah menambahkan lagi nikmat-Nya dan agar Allah tidak menurunkan azab-Nya.
Dan dalam hal berterima kasih, Mbah Ti adalah juaranya. Kami tidak memberikan uang ataupun benda berharga. Yang kami berikan hanyalah ijin untuk mengambili barang-barang bekas di rumah. Itupun sebenarnya juga salah satu bentuk simbiosis mutualisme karena toh kami diuntungkan dengan dibantu menyingkirkan barang-barang bekas. Tapi tetap saja, Mbah Ti merasa tidak cukup hanya berterima kasih di mulut saja. Jeruk-jeruk pemberian Mbah Ti adalah bukti keinginan besarnya membalas budi.
Nah, jika tidak ingin kalah dengan Mbah Ti. Mari kita belajar berterima kasih atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Sesederhana apapun bentuknya. Mari kita belajar mengungkapkan rasa terima kasih tidak hanya di mulut saja. Menambah intensitas ibadah dan membelanjakan harta di jalan Allah adalah beberapa di antara bentuk rasa terima kasih atas karunia Allah. Mungkin tidak selalu mudah, terutama yang bagian membelanjakan harta di jalan Allah. Tapi bukankah dalam segala keterbatasannya, toh Mbah Ti masih bisa membelanjakan uangnya untuk membelikan kami beberapa butir buah jeruk demi menunjukkan rasa terima kasihnya? 

Allah Maha Besar
Thank you to let me born as a moslem ^-^

Rabu, 31 Oktober 2012

Anakku, Guruku


Episode kehidupan saya berbalik 180 derajat semenjak saya menjadi ibu. Semenjak kecil hingga dewasa, saya banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Namun secara naluriah semua itu berubah manakala bayi pertama saya lahir. Memang saya masih tetap bekerja di kantor seperti sebelum melahirkan. Tapi sudah tidak ada lagi acara kongkow-kongkow, menghabiskan waktu di toko buku atau menonton film favorit di bioskop. Begitu jam kerja berakhir, otomatis saya langsung melesat pulang menemui sang bayi. Saya memang seolah kehilangan “kebebasan”. Jujur saja awalnya memang sedikit kaget saat menyadari kenyataan tersebut. Tapi mana sempat saya berkaget-kaget terlalu lama, karena ternyata saya dihadapkan pada banyak hal baru yang harus segera saya pelajari. Memandikan bayi, memakaikan baju, menyusui sampai menidurkan bayi. Saya seakan menjadi satu spesies yang dibawa di habitat yang baru. Saya harus segera beradaptasi. Jika tidak, saya tidak akan survive.

Dalam perjalanan selama lebih dari 5 tahun menjadi ibu, Anak-anak membuat saya bermutasi. Tidak hanya merubah status lajang menjadi ibu. Mereka mengajarkan saya merubah diri dari zombie menjadi manusia. Betul, dulu saya adalah mayat hidup. Saya bisa bergerak kian kemari, tapi saya tidak punya tujuan kecuali mencari daging manusia untuk dirobek-robek. Saya adalah zombie yang hidup demi mencari sesuap nasi. Bangun pagi, ke kantor, pulang, tidur, demikian pula esok harinya. Semua seakan berjalan secara otomatis seperti robot. Saya tidak lagi memiliki karsa. Saya merasa senang saat gajian atau dapat bonus. Namun di saat bersamaan saya merasa miskin karena satu-satunya yang membuat saya bahagia hanyalah uang. Bukan maksud saya untuk tidak mensyukuri rejeki yang Tuhan berikan melalui perusahaan tempat saya bekerja. Tentu saja saya bersyukur. Namun, jauh di lubuk hati yang terbungkus oleh badan zombie saya, rupanya masih ada sebagian kecil nurani manusia yang terus memberontak.

Nurani itu terus berteriak, tapi suaranya kecil sekali seakan dia berada di kejauhan. Dulu saya memang sempat menjadi manusia dan tidak tahu pasti sejak kapan menjadi zombie. Bisa jadi, selama dulu saya masih menjadi manusia, sang nurani sudah berteriak sedemikian lantang. Tapi saya tidak mau mendengarnya karena terlalu sibuk dengan dunia yang saya kira “zona nyaman”. Dan kini, saat semua hampir terlambat dan saya sudah menjadi zombie, suara itu masih berteriak, namun pelan. “Ada sesuatu yang salah”, demikian suara itu berkata lagi dan lagi. Dan ketika kali pertama saya menyadarinya, beribu tanya pun bermunculan. “Apa yang salah?”, “Apa yang harus aku lakukan?”, “Bagaimana caranya?”.

Dan semua tanda tanya itu terjawab berkat anak-anak. Memang prosesnya tidak instan. Butuh waktu untuk menemukan jawaban-jawaban atas segala kebingungan saya. Saya bersyukur saya masih dalam fase menjadi zombie saat mendengar bisikan nurani. Belum benar-benar sekarat atau bahkan mati. Jadi masih belum terlambat untuk mencari jawaban-jawaban semua tanya tersebut.

Dan inilah beberapa poin penting yang diajarkan guru-guru kecil saya:
  1. Berani bermimpi
Saat kami sedang bicara tentang cita-cita, saya bertanya pada gadis kecil saya: “Apa cita-cita Kakak?”. Jawabnya dengan mantap; “Aku mau jadi Batman”. Tentu saya merasa geli mendengar jawabannya dan spontan menjawab; “Wah keren, Kakak bisa menolong banyak orang dong”.
Tentu saja saya menganggap omongannya tidak masuk akal. Dalam hati saya pun berpikir; “Batman kan cuma ada di film, mana bisa kita beneran jadi Batman?”. Jawaban spontan saya tadi sebenarnya hanyalah semata-mata menghormati antusiasmenya akan sang superhero.
Tapi lagi-lagi saya berpikir, gadis kecil saya tahu pasti bahwa Batman adalah seorang laki-laki. Dan dia berani mengkhayalkan, jika sudah dewasa nanti, dia yang seorang perempuan pun bisa jadi Batman.
Saya jadi ingat mimpi Wilbur dan Oliver kecil yang mengkhayalkan untuk bisa terbang. Seandainya saja kedua Wright bersaudara itu tidak berani memimpikan suatu hal yang tampak mustahil kala itu, mungkin kita tidak akan pernah bisa bepergian dengan pesawat terbang.
Benar, segala sesuatu di muka bumi ini, sejarah luar biasa yang pernah ditorehkan oleh tokoh-tokoh hebat di masa lalu, semuanya berawal dari mimpi.
Dan dengan sangat sedih, saya menyadari satu hal; selama ini saya tidak punya impian sama sekali. Atau lebih tepatnya saya tidak berani bermimpi. Saya tidak pernah punya impian yang “edan” seperti gadis kecil saya.
Selama ini hidup saya hanya mengikuti aliran air. Tidak berbeda seperti zombie yang bergerak karena mengikuti bau manusia. Semenjak itu, saya pun bertekad untuk mencari sungai saya sendiri. Tapi justru itulah fase tersulit saat proses mutasi menjadi manusia. Saya ingin bermimpi, tapi tidak tahu harus memimpikan apa.
Hari berganti minggu. Minggu berganti bulan. Dan bulan berganti tahun. Butuh puluhan bulan untuk sampai pada tahap mengerti apa impian saya sebenarnya. Dan itu pun melalui proses yang tidak mudah. Saya mencoba beberapa hal. Tentunya riset saya itu akhirnya merubah segalanya. Rutinitas saya berganti. Segalanya menjadi acak. Tampaknya tidak jelas, karena usai mencoba hal ini, saya mencoba hal itu, lantas mencoba hal lain lagi.
Namun lama kelamaan semuanya menjadi jelas. Perlahan saya mulai menyadari apa impian saya. Dan itu bisa dibilang cukup “edan” karena jika saya benar-benar ingin mewujudkan impian, itu artinya merubah seluruh pakem yang selama bertahun-tahun telah saya jalani. Tentu saja tidak mudah untuk membuat orang-orang terdekat memahaminya. Tapi saya membuktikan kesungguhan dan keseriusan saya. Perlahan tapi pasti, sosok manusia dalam diri saya terlahir lagi. Reborn. Menyisihkan dominasi zombie yang sudah bertahun-tahun menguasai badan dan pikiran saya. Dan itu berkat gadis kecil saya yang berkata; “Mama, kalau sudah besar aku mau jadi Batman”.



  1. Tidak mengenal kata “takut”
Suatu hari di playground sebuah Mall. Anak saya dan seorang anak lain sedang bermain ayunan. Jika anak lain itu cukup riang gembira dengan berayun-ayun, anak saya mengkombinasikannya dengan meloncat lepas dari ayunan saat dia berayun di titik tertinggi. Spontan saya menjerit kaget. Tapi melihat dia baik-baik saja dan tertawa senang, saya lantas diam saja dan mengawasinya dari kejauhan.
Pelajaran nomor dua dari anak-anak; mereka tidak mengenal kata “takut”. Yang ada hanyalah mereka akan senang jika melakukan hal itu. Mereka tidak banyak berpikir akan segala bahaya dan resiko, juga tidak memusingkan apa pendapat orang lain. Mereka sangat spontan dan mendapatkan kesenangan dari spontanitasnya.
Sebagai orang dewasa yang “merasa” lebih tahu segalanya ketimbang anak-anak, tentu saja saya banyak mempertimbangkan ini itu sebelum melakukan sesuatu. Jarang sekali saya mengambil keputusan spontan. Padahal justru yang spontan itulah yang berasal dari hati.
Demikian halnya saat saya mulai memahami apa yang diinginkan hati nurani saya. Tidak mudah mengenyahkan sifat zombie yang takut akan rasa lapar. Mimpi saya sempat memudar beberapa kali dan berniat untuk menjalani saja hidup ala zombie yang nyatanya sangat nyaman ini.
Tapi karena fase tersulit pencarian mimpi sudah saya lalui. Mengalahkan rasa takut terasa jauh lebih mudah. Saya mulai belajar untuk mengambil keputusan-keputusan spontan. Terkadang memang salah. Tapi tak mengapa. Ini sama saja dengan sifat anti takut anak-anak yang membuat mereka sesekali jatuh, tersandung atau terbentur. Tapi toh, mereka itu tidak akan membuat mereka takut untuk bermain di tempat yang sama atau memainkan permainan yang sama bukan?
Saya mulai belajar mendengarkan apa yang dibisikkan hati saya. Dan perlahan tapi pasti, ketakutan saya memudar dan keinginan mewujudkan impian semakin mantap. Dan itu semua karena anak saya yang berani meloncat lepas dari ayunan saat sedang berayun di titik tertinggi.

  1. Memulai segalanya dari kertas kosong
Gadis kecil saya senang menggambar. Untuk hobinya itu saya harus menyediakan berlembar-lembar kertas kosong untuk dia gambari (Saya kerap membawa kertas bekas dari kantor). Bukan apa-apa. Karena dia tidak suka menggambar tema yang berbeda di kertas yang sama, walau di kertas sebelumnya masih cukup ruang untuk digambari yang baru. Dia selalu ingin memulai segalanya dari kertas kosong.
Memang sih, anak saya itu senang mempelajari tokoh kartun Spongebob untuk dia gambar. Dan hasilnya adalah dia menggambar Spongebob berkaki panjang dan Squidword berkepala besar. Dia tidak peduli walau apa yang dia lakukan melenceng dari pakem dan dia tampak bangga dengan yang dia lakukan.
Melihatnya, saya jadi sadar betapa asyiknya menemukan kesenangan tanpa harus latah terhadap apa yang dilakukan orang lain.
Tadinya saya memang senang ikut-ikutan. Mulai dari gaya berpakaian, berhijab sampai mencari ide-ide usaha. Saya pernah menjalani beberapa hal hanya karena orang lain sukses melakukannya. Saya tidak pernah berpikir apakah saya bakal senang hati menjalaninya atau tidak. Sekarang anak saya telah mengajarkan saya betapa asyiknya menjalani hal-hal yang kita senangi dan itu tidak harus sama dengan yang dilakukan orang lain.
Saya tetap bisa bersuka hati dengan gaya berpakaian atau berhijab saya yang lama tanpa harus mengikuti trend. Karena memang itulah jati diri saya.
Saya tetap bisa bersuka hati menjalani kesenangan saya untuk blogging tanpa harus mengikuti trend kawan-kawan saya yang getol berjualan online. Karena memang itulah passion saya.
Memang tidak ada satu pun di dunia ini yang orisinil. Namun, perbedaan tetap bisa diciptakan jika kita mau mengawali segalanya dari kertas kosong. Tanpa template yang sudah dibuat orang lain. Tanpa meng-copy paste- dari apa yang sudah dikerjakan orang lain.

Proses berpikir, mencari hal baru, akhirnya membuang sosok zombie dalam diri saya sejauh-jauhnya. Dan itu semua berkat guru-guru kecil saya yang tanpa mereka sadari telah mengajarkan 3 hal penting tentang kehidupan sekaligus menjawab pertanyaan-pertanyaan saya.
“Apa yang salah?”, kesalahan saya adalah selama ini saya takut untuk bermimpi.
“Apa yang harus saya lakukan?”, bermimpilah, sekalipun itu tampak “edan” dan “tak masuk akal”, tak perlu takut apa pendapat orang lain.
“Bagaimana caranya?”, mulailah dari kertas kosong karena di situlah jati diri kita yang asli berada.

I love you both; Rosabrille and Kairo <3
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)