Kamis, 04 Juni 2015

[Cerpen] Kala Rau


Jika ada yang menyamai badai amuk yang menggelora dalam dada Ni Luh Abhilasha saat ini, mungkin itu adalah amarah yang dirasakan Kala Rau ketika mendapat hukuman dari Dewa Wisnu.
Abhilasha sadar dia tidak sepenuhnya benar. Dia tahu ia telah melakukan sebuah kesalahan. Tapi kesalahannya itu terlalu kecil dibanding hukuman yang kini harus diterimanya. Sama dengan Kala Rau, yang harus menanggung konsekuensi berat karena ingin mencicipi tirta amerta.
Tragedi yang dialami Kala Rau itu bermula saat Dewa Wisnu tengah membagi-bagikan Tirta Amerta bagi para dewa. Nyaris tak ada seorang pun mengetahui bahwa di antara barisan dewa-dewa yang menunggu pembagian Tirta Amerta adalah Kala Rau yang menyamar. Sialnya, ada seseorang yang menyadari hal itu. Dia lah Dewi Ratih, yang langsung mengadu pada Dewa Wisnu. Akibatnya, Kala Rau harus menerima konsekuensi yang sangat berat. Cakram Dewa Wisnu memenggal lehernya tepat ketika Tirta Amerta sempat mengaliri tenggorokannya. Tubuh bagian bawah Kala Rau pun mati, namun kepalanya tetap hidup dan terus melayang-layang di angkasa.
Alangkah kesalnya Kala Rau. Ia tak mengerti mengapa para dewa itu bisa begitu arogan dan merasa mereka lebih mulia ketimbang golongan raksasa seperti dirinya.
Apakah para dewa itu sudah lupa dari mana asal tirta amerta? Apakah mereka lupa bahwa berkat bantuan para raksasa, tirta amerta beserta harta karun yang bersemayam dalam lautan susu di Sangkadwipa akhirnya muncul di permukaan? Apakah mereka tidak ingat ketika mereka bekerja sama memindahkan Gunung Mandara dan mengikatnya pada tubuh Naga Besuki demi mengaduk lautan susu? Apakah mereka lupa bahwa harta karun yang ada dalam perut lautan juga telah mereka kuasai tanpa sedikit pun menyisakannya untuk para raksasa? Kini, setelah tirta amerta berhasil mereka dapatkan, mengapa hanya para dewa yang boleh menikmati air keabadian tersebut? Apakah karena para dewa memiliki derajat yang lebih tinggi, yang membuat para raksasa seperti Kala Rau tidak boleh menikmati segala keistimewaan yang dimiliki para dewa?
Ketidakmengertian Kala Rau itu sama dengan yang dialami Ni Luh Abhilasha saat ini. Apakah karena terlahir di tingkatan kasta yang berbeda, maka ia tidak boleh sedikit saja merasakan kesenangan seperti yang dirasakan oleh Gusti Amita?
Abhilasha sering bertanya-tanya dalam hati, sekalipun segala kemewahan yang ada di sekitarnya ini bukanlah haknya, apakah ia tidak boleh mencicipi sedikit saja? Bukankah ia dan Gusti Amita sama-sama perempuan Bali yang hidup jauh dari kampung halaman? Apakah Gusti Amita yang dipersunting pengusaha kaya ibukota membuatnya menjadi lebih mulia ketimbang Abhilasha yang terpaksa menerima pinangan lelaki yang dahulu pernah berusaha memperkosanya di tepian Danau Kintamani?
Dulu, ketika hendak dinikahkan dengan lelaki itu, Abhilasha sudah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa lelaki itu bukan lelaki yang baik. “Dia laki-laki bajingan yang hendak memperkosaku!” serunya dengan bulir air mata yang terus menganak sungai di pipinya.
Tapi mana ada yang percaya padanya? Demikian juga dengan orang tuanya. Mana mungkin anak lelaki pemilik kebun jeruk paling luas di desa mereka itu hendak memperkosa anak buruh tani miskin seperti Abhilasha? Alih-alih melindungi putri mereka, kedua orang tua Abhilasha malah memarahinya karena merasa Abhilasha telah menggoda anak lelaki orang. Tak ada satu pun yang percaya bahwa sekalipun lelaki itu rajin pergi ke Pura, sesungguhnya ia tidak sesaleh penampilannya. Sayangnya, ketika kata-kata Abhilasha terbukti benar, semuanya sudah terlambat.
Setelah keduanya menikah, lelaki itu ternyata kerap menyiksanya dan lantas pergi entah kemana, meninggalkan Abhilasha yang tengah hamil muda.
Demi para dewa di nirwana, wanita mana yang sudi melahirkan bayi tanpa suami? Apalagi anak itu adalah anak dari lelaki yang dibencinya setengah mati. Sungguh, Abhilasa tidak sudi. Maka dari itu, segala jenis ramuan dan jamu dia tenggak, berharap Dewa Brahma mengambil kembali bayi dalam rahimnya. Tapi rupanya Dewa Brahma berkehendak lain. Bayi itu lahir dengan satu daun telinga yang tak sempurna.
Namun bayi itu dikaruniai mata cantik yang bersinar laksana kejora di langit malam, membuat Abhilasha yang remuk raga dan hatinya tidak bisa tidak jatuh hati pada bayi yang dulu hendak dibuangnya itu. Ia memberinya nama Luh Putu Dewi Swastika.
Abhilasha baru saja bertekad untuk membuka lembaran baru dengan berjuang menjadi ibu yang baik bagi Swastika, ketika lagi-lagi orang tuanya berniat menikahkannya lagi dengan pria lain.
Trauma. Kesengsaraan yang dialaminya di pernikahan sebelumnya menorehkan bekas luka yang tak pernah tersembuhkan. Abhilasha yang tak mampu menolak kehendak orang tuanya memilih melarikan diri dengan sebelumnya meletakkan Swastika yang masih berusia beberapa bulan di depan pintu panti Asuhan. Ia berjanji dalam hati, kelak jika mempunyai bekal yang cukup untuk hidup mandiri, ia akan kembali untuk menjemput Swastika.
Tahun-tahun berlalu. Kehidupan yang penuh cahaya terang tak pernah mendekati Abhilasha. Setelah berganti-ganti pekerjaan, mulai dari berdagang jeruk Bali sampai menjadi tukang pijat di Legian, perempuan yang kecantikannya mulai memudar tergerus kejamnya hidup itu kini terdampar di ibukota. Di sebuah rumah mewah di bilangan Kelapa Gading. Di rumah milik seorang pengusaha mebel dan ukir-ukiran khas Bali itu lah, untuk pertama kalinya Abhilasha berjumpa dengan Gusti Amita, sang nyonya rumah.
Dulu Abhilasha berpikir, dengan bekerja di rumah orang yang dimiliki orang yang sekampung dengannya, ia akan mendapat perlakuan lebih baik. Nyatanya tidak begitu. Bagi Gusti Amita, Abhilasha tetaplah seorang babu.
*
Alangkah beruntungnya perempuan itu, batin Abhilasha tiap kali melihat nyonya rumahnya yang setiap hari selalu berpenampilan layaknya artis-artis sinetron yang kerap ia lihat di televisi. Ia tahu, jika ditotal, benda-benda yang dikenakan Gusti Amita bisa bernilai puluhan juta rupiah. Sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan pakaian seadanya yang sudah tidak jelas warna aslinya.
Abhilasha juga selalu iri melihat bagaimana mesranya hubungan Gusti Amita dan suaminya. Sungguh, Abhilasha juga seorang perempuan. Ia juga ingin ditatap dengan pandangan penuh cinta oleh lelaki yang juga menghujaninya dengan kemewahan, layaknya suami Amita yang selalu menggamit mesra lengan istrinya setelah mereka makan malam.
Di kamarnya yang lembab dan sempit, Abhilasha kerap membayangkan apa yang keduanya lakukan di kamar mereka yang luas dan berpendingin udara setelah makan malam. Gusti Amita pastilah mendapatkan sentuhan penuh cinta dan kenikmatan tiada tara dari suaminya yang tampan dan gagah.
Sungguh, Abhilasha juga menginginkan itu. Ia juga perempuan biasa yang seumur hidup tidak pernah merasakan sentuhan lelaki yang memandangnya dengan pandangan seolah ia adalah seorang Dewi. Yang ada, adalah sentuhan beringas mantan suaminya yang hanya sekedar menitipkan benih di rahimnya lantas pergi. Atau sentuhan lelaki-lelaki nakal di pasar yang meremas payudaranya ketika ia berjualan jeruk Bali. Atau tindihan lelaki-lelaki di panti pijat yang disertai dengan hembusan napas serupa banteng jantan yang tengah birahi.
Abhilasha tak mengerti, mengapa nasib manusia bisa sedemikian berbeda? Bukankah ia dan Gusti Amita diciptakan oleh Tuhan yang sama? Bukankah ia dan Gusti Amita sama-sama pergi ke Pura untuk menyembah Tuhan yang sama?
Apakah ia telah berbuat dosa yang membuat murka para Dewa? Ataukah ia terkena karma akibat dosa yang telah diperbuat oleh leluhurnya? Atau apakah memang ia telah ditakdirkan menjadi manusia yang tak pernah bergelimang cahaya seperti yang dirasakan Gusti Amita?
Ah, betapa bahagianya menjadi perempuan yang memiliki segalanya seperti Gusti Amita. Perempuan itu cantik, bahkan tanpa pulasan make up dan benda-benda mahal yang menempel di tubuhnya. Perempuan itu hidup enak, bermandikan kemewahan dan tak pernah merasakan panas dan bersimbah keringat karena bekerja keras sepanjang hari seperti Abhilasha. Perempuan itu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan dengan mudah, tidak seperti Abhilasha yang harus banting tulang sepanjang hari demi kehidupan yang lebih baik dan modal untuk membawa kembali Swastika ke pelukannya.
Begitu teringat Swastika, lagi-lagi hati Abhilasha didera rasa iri. Tidak seperti dirinya yang harus rela berjauhan dengan putri kecilnya, alangkah beruntungnya Gusti Amita bisa berdekatan sepanjang hari dengan gadis kecilnya yang juga bermata serupa kejora di langit malam, Salila.
Perempuan mana yang tidak ingin menjadi Gusti Amita? Abhilasha pun ingin. Tapi ia tahu diri. Di rumah ini, ia tak lebih dari seorang babu. Maka dari itu ia, selama ini tak berani menyentuh barang-barang milik Gusti Amita, sekalipun ia ingin sekali mencoba mengenakan lingerie seksi seperti yang dijemurnya pagi ini, sembari membayangkan bagaimana jika ia mengenakannya di hadapan lelaki yang memandangnya seperti memandang seorang bidadari. Abhilasha juga setengah mati menahan diri untuk tidak mencoba mengenakan kebaya mahal yang semalam baru saja dipakai Gusti Amita ke resepsi pernikahan. Ia hanya bisa mengaguminya sejenak, sebelum dengan hati-hati melipatnya dan memasukkannya ke dalam plastik untuk di-dry clean di laundry.
Tapi hari ini, ia ingin sekali, mencicipi kebahagiaan yang dimiliki Gusti Amita. Walaupun sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak melakukan itu. Bukan, Abhilasha tidak ingin macam-macam. Ia toh tidak menginginkan perhiasan bertatahkan batu-batu mulia yang membuat kecantikan Gusti Amita kian bersinar. Ia juga tidak menginginkan memakai pakaian bagus dan make up mahal milik Gusti Amita.
Ayolah, tidak apa-apa. Ini hanya beberapa tetes minyak wangi. Abhilasha tidak bisa melawan dorongan dari dalam dirinya untuk meraih botol eau de perfume di atas meja rias sang nyonya rumah. Botol kristal berbentuk bulat berisi minyak wangi beraroma melati dan jeruk itu membuat Abhilasha ingin mencoba menyeprotkannya ke tubuhnya sendiri, berharap aroma tubuhnya yang didominasi aroma keringat, detergent dan obat pel desinfektan itu menjadi lebih mendingan.
Abhilasha menggenggam botol kristal itu dengan tangan gemetaran. Seumur hidupnya, itu lah benda termahal yang pernah dipegangnya. Dengan ragu tapi penuh rasa ingin tahu, dicobanya menyemprotkan minyak wangi itu di balik telinganya, seperti yang sering ia lihat di televisi. Seumur-umur, Abhilasha tidak pernah menyemprotkan minyak wangi. Tawas murahan yang dibelinya di toko kelontong adalah satu-satunya andalannya untuk mencegah bau badan. Bedak talk saja ia tidak pernah menggunakan, apalagi minyak wangi mahal yang hanya bisa diperoleh di luar negeri.
Kemudian ia juga menyemprotkan satu semprotan lagi di bawah telapak tangannya dan menggosokkannya dengan bawah telapak tangan yang satunya. Dihirupnya dalam-dalam lembutnya melati bercampur segarnya citrus.
Untuk sesaat, aroma itu seolah menghipnotisnya. Untuk sesaat, ia merasa bukan menjadi Abilasha yang seorang babu. Ia perempuan gedongan yang bergelimang perhiasan dan kemewahan.
Khayalannya itu membuat Abilasha tak sadar bahwa Gusti Amita sudah berdiri di depan pintu. Memandangnya dengan tatapan jijik.
“Berani-beraninya kamu menyentuh barang-barang saya!” bentak Gusti Amita, membuat Abhilasha terkesiap dan tak sadar menjatuhkan botol minyak wangi yang harganya bisa dipakai untuk membeli beras selama setahun.
Pyar! Seluruh isi botol kristal itu berhamburan dan menguarkan aroma pewangi ke seluruh penjuru kamar. Bau yang harum itu membuat perut Abhilasha mual. Bukan karena harumnya terlalu tajam mencucuk hidungnya, namun karena bau itu seolah menghipnotis Gusti Amita menjadi seperti seorang raksasa yang murka. Abhilasha tak kuasa memandang Gusti Amita yang memandangnya dengan ekspresi seperti raksasa yang hendak menelannya bulat-bulat.
Sang nyonya rumah murka luar biasa. Bukan karena ia harus merelakan minyak wanginya pecah berantakan. Bukan itu, karena toh dia bisa mendapatkan berbotol-botol minyak wangi yang sama hanya dengan menggesekkan kartu plastik di pusat perbelanjaan. Yang membuat Gusti Amita meradang adalah karena ia tidak rela kehormatannya sebagai nyonya rumah ternoda oleh ulah pembantunya. Sebab nyonya rumah mana yang rela jika penampilannya disamai oleh si pembantu rumah tangga?
“Kamu harus ganti itu. Sebagai hukuman, gaji kamu tiga bulan lalu tidak akan saya bayar dan tiga bulan ke depan, kamu tidak dibayar!” bentak Gusti Amita lagi, membuat tubuh Abhilasha yang tadinya gemetar ketakutan luruh ke lantai seolah kehilangan tulang-tulang penyangga tubuh. Ketakutannya berubah menjadi kesedihan. Dan kesedihannya perlahan menjadi amarah.
Alangkah teganya Nyonya Gusti Amita. Alangkah tidak adilnya para Dewa.
Mendadak Abhilasha merasa ia seperti kisah Kala Rau yang harus merelakan tubuh dan kepalanya terpisah karena terkena cakra Dewa Wisnu. Hanya karena ia ingin mencicipi Tirta Amerta, Kala Rau harus mendapat murka Dewa Wisnu. Sungguh tak sebanding.
Menurut cerita yang didengar Abhilasha saat masih kanak-kanak, sebagai bentuk balas dendam, Kala Rau tak henti-hentinya mengejar Dewi Ratih, Dewi yang ia anggap sebagai biang keladi terpisahnya tubuh dan kepalanya. Ketika Dewi Ratih sang dewi bulan itu tertangkap, Kala Rau segera menelannya bulat-bulat. Walau Dewi Ratih selalu dapat meloloskan diri karena perut dan kepala Kala Rau yang sudah terpisah, namun momen saat Kala Rau menelan Dewi Ratih itu dipercaya sebagai penyebab terjadinya gerhana bulan.
Kini Abhilasha paham, mengapa Kala Rau sedemikian murka, sebab ia pun saat ini merasakan hal yang sama. Hukuman yang ia terima sama sekali tak sebanding dengan kesalahan yang ia lakukan. Padahal ia tadi hanya ingin mencoba setetes dua tetes minyak wangi. Hanya itu. Tidak lebih. Sungguh kelakuannya tadi seharusnya tidak membuat nyonya rumahnya merugi. Hanya setetes dua tetes minyak wangi, apakah itu artinya dibanding dengan tumpukan berlian yang ada dalam lemari besi yang selalu terkunci? Ah, seandainya Gusti Amita tidak tiba-tiba muncul dan mengagetkannya, pastilah botol minyak wangi itu masih utuh hingga kini.
Abhilasha tak bisa mencegah dendam yang mulai membara di hatinya. Ia tak terima diperlakukan seperti itu dan untuk itu, Gusti Amita harus mendapat balasannya.
Gusti Amita harus merasakan seperti apa rasanya gerhana. Dia harus tahu bagaimana rasanya jika cahaya yang di sekitarnya diambil secara paksa. Dan Abhilasha tahu, salah satu cahaya yang dimiliki Gusti Amita adalah Salila, gadis kecil bermata laksana kejora yang bersinar di langit malam.
Abhilasha bukannya membenci Salila. Ia pun sangat menyayangi gadis kecil itu, karena gadis itu mengingatkannya akan Swastika. Namun hari ini amarahnya sungguh tak terkendali. Ia tahu, ia terlalu lemah untuk melawan Gusti Amita. Dan satu-satu cara untuk menyakiti nyonya rumahnya itu adalah melalui orang-orang yang dicintainya. Salila salah satunya.
Malam itu, ketika membuatkan segelas susu untuk Salila, Abhilasha membubuhkan racun ke dalamnya. Ia tak perlu menunggu terlalu lama ketika Salila roboh dan kejang-kejang dengan mulut berbusa. Senyum puas tersungging di bibirnya.
Ia mungkin tak akan bisa lepas dari kecurigaan jika ketahuan bahwa kejadian yang menimpa Salila adalah akibat racun. Tapi setidaknya ia sudah puas, karena apa yang menimpa Salila hari ini sudah pasti akan merenggut cahaya yang dimiliki Gusti Amita.
Lagi-lagi, Abhilasha dapat merasakan kepuasan yang dirasakan Kala Rau ketika berhasil menelan Dewi Ratih.
Ketika Salila roboh, rambutnya tersingkap dan Abhilasha bisa melihat jelas telinga dan tengkuk Salila yang selama ini tertutup rambut.  Ia melihat sesuatu yang sukar dipercaya. Senyum puas di wajahnya menghilang, berganti cemas dan pias.
Salila yang cantik dan bermata jernih seperti bintang kejora itu ternyata memiliki daun telinga yang sama tak sempurnanya dengan daun telinga bayi kecilnya dulu. Tapi bukan hanya itu yang membuat Abhilasha tertegun. Salila juga mempunyai tanda lahir dengan bentuk yang unik tepat di tengah tengkuknya. Ya, Abhilasha tak mungkin salah, itu tanda lahir dengan bentuk dan posisi yang sama dengan yang dimiliki bayi perempuannya. Tanda lahir berbentuk swastika dan membuat Abhilasha memilih nama simbol itu untuk menamai bayi mungil yang dulu ia letakkan di panti asuhan.


-selesai-

Minggu, 17 Mei 2015

[Cerpen] Gadis Kecil Dalam Tumpukan Sayur


“Neneng sudah terlambat, Kang. Dua bulan,” bisik istriku lirih, seraya memilin ujung kaus dengan kedua tangannya. Dia tahu, berita ini pasti akan membuatku shock.
Kalau saja Neneng mengatakan hal itu sepuluh tahun yang lalu, saat kami baru saja menikah dan harap-harap cemas menanti anak pertama, pastilah reaksiku akan berbeda. Masalahnya, jika memang keterlambatan yang dikatakan Neneng adalah karena dia betul-betul hamil, maka ini akan menjadi kehamilannya yang keempat!
“Masa masih bisa telat? Kamu teh bukannya sudah minum pil KB?” seruku dengan nada setengah menyalahkan.
Ya asal tahu saja, tadinya kami memang penganut paham “banyak anak banyak rejeki”. Malah kalau perlu, kami buat anak sebanyak-banyaknya sampai bisa bikin satu regu basket atau sepak bola. Tapi setelah kelahiran Dadang, Deden dan Entin dalam jarak waktu yang berdekatan, baru aku paham bahwa memiliki anak itu mahal. Apalagi dengan penghasilanku yang hanya jadi pengangkut sayuran dari Pasar Lembang ke pasar-pasar lain di daerah Bandung utara, ditambah harga kebutuhan pokok yang kian melambung, anak benar-benar menjadi barang mewah. Maka dari itu, setelah kelahiran Entin empat tahun yang lalu, kami sepakat untuk ber-KB.
“Anu, Kang...anu...uang yang untuk beli pil KB bulan lalu, Neneng pakai buat beli keperluan dapur...”ujarnya takut-takut.
Aku melongo. Bagaimana mungkin pil KB yang hanya seharga lima ribu perak itu sampai tidak terbeli?
“Soalnya semua harga barang teh pada naik. Uang belanja dari Akang tidak cukup. Mana kemarin harus bayar tunggakan uang sekolah si Dadang,” nada suaranya mendadak memelas, membuat siapa pun pasti akan jatuh kasihan mendengarnya. Termasuk aku.
*
“Jadi bagaimana, Cep? Jadi tidak kita menjalankan rencana itu?” tanyaku dengan nada tidak sabar.
“Sabar lah, Din. Kamu pikir cuma kamu saja teh yang butuh uang?” jawab Cecep, sejawatku yang sama-sama jadi tukang angkut sayuran. “Kita harus pikirkan dulu masak-masak, atuh. Masuk ke rumah Pak Ardiwilaga memang tidak sulit. Apalagi Pak Endang, si penjaga rumah itu teh pasti sudah ngorok sejak sore. Tapi mencuri perhiasan istri Pak Ardiwilaga? Nah, itu bukan perkara mudah. Kita harus pastikan rencana kita tidak akan gagal.”
“Apalagi yang kamu pikirkan? Rencana kita sudah sempurna. Tak akan ada yang tahu kalau kita masuk ke rumah itu dan mengambil sedikit saja perhiasan Bu Ardiwilaga,” ujarku sambil menaikkan sekeranjang kembang kol ke dalam bak mobil pick-up.
“Sedikit? Kalau ternyata ada banyak bagaimana? Yakin kamu tidak tergoda?” Giliran Cecep menaikkan puluhan ikat sawi.
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. “Ya pokoknya aku cuma mau ambil secukupnya saja untuk biaya melahirkan si Neneng...” kalimatku terputus karena aku membayangkan tumpukan perhiasan yang mungkin bisa kami temukan di rumah orang yang paling kaya di daerah ini. “Ah sudahlah Cep. Jangan kebanyakan mikir, atuh. Nanti malah ragu, lantas malah tidak jadi. Ayo segera kita laksanakan malam ini. Si Neneng bisa melahirkan kapan saja, dan aku sama sekali tidak punya uang untuk membawanya ke bidan!” desakku.
Sumpah, hanya karena terdesak saja, aku akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah yang dibenci Tuhan Yang Maha Esa. Mencuri. Habis mau bagaimana lagi? Hutangku sudah menumpuk di sana-sini. Tak ada lagi yang mau meminjamiku uang karena memang aku belum sempat mengembalikan pinjaman-pinjaman sebelumnya. Jadi, aku memutuskan untuk “meminjam” dari orang terkaya di daerah sini. Pak Ardiwilaga, pemilik perkebunan sayur paling luas di daerah Bandung utara.
Sebenarnya keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah. Aku dan Cecep sama-sama berat hati untuk mencuri di rumah Pak Ardiwilaga yang terkenal baik dengan siapa saja itu. Tapi rasanya, hanya itu satu-satunya jalan yang rasanya bisa kami ambil untuk mendapatkan uang banyak dalam waktu singkat. Oleh karenanya, aku berniat untuk mengambil secukupnya saja dan berjanji dalam hati untuk mengembalikannya kelak jika aku sudah punya rejeki. Pokoknya yang penting, sekarang Neneng bisa melahirkan dengan tenang.
“Okelah kalau begitu, Din. Malam ini kita ke rumah Pak Ardiwilaga,” kata Cecep akhirnya, membuatku lega. “Sekarang, kita ke pasar dulu. Cari rejeki yang banyak biar nanti malam tidak perlu ambil banyak-banyak” ujarnya terkekeh, sembari duduk di kursi penumpang mobil pick up yang sudah penuh dengan sayuran.
Mobil kami bergerak perlahan meninggalkan Pasar Lembang yang sepagi ini sudah ramai dengan kegiatan jual beli. Dengung ibu-ibu yang saling tawar-menawar perlahan menghilang ketika mobil pick-up yang kukemudikan mulai memasuki jalan makadam menuju ke arah hutan.
Aku dan Cecep tak banyak berbincang. Pikiran kami disibukkan dengan rencana nanti malam. Kami sedang melintasi jalan tanah dengan pepohonan tinggi di kiri dan kanan ketika Cecep tiba-tiba bertanya, “Eh Din, denger-denger di sini banyak Kuntilanak?”
Aku diam tidak menanggapi, walau dalam hati merasa geli. Kalaupun ada, mana mungkin ada Kuntilanak muncul pagi-pagi begini? Namun ketika aku melihat pantulan tumpukan sayur mayur di bak belakang pick up melalui kaca spion, tak urung aku berpikir bahwa Cecep mungkin benar.
“Kuntilanaaaak!!!” jeritku sembari menekan rem dan langsung keluar dari mobil, diikuti Cecep.
Kami segera memeriksa bak pick up dan mendapati bahwa ternyata kami membawa penumpang gelap yang syukurlah bukan Kuntilanak, melainkan seorang gadis kecil berusia sekitar 10 tahun. Kami tak tahu bahwa selama ini ia sembunyi di bawah tumpukan sawi, kembang kol, tomat, dan daun bawang.
“Eh, adik teh saha, Neng?” tanyaku pada gadis berambut panjang itu.
“Saya Sherina temennya Sadam,” jawabnya dengan panik. Napasnya terengah. “Kemarin kita jadi korban penculikan. Makanya saya harus cepat-cepat pulang ke rumah Pak Ardiwilaga,” sambungnya.
Aku dan Cecep berpandangan. “Penculikan? Pak Ardiwilaga?”
Sebuah ide tiba-tiba terlintas di pikiranku. “Neng, kalau Neng beneran diculik. Jangan langsung pulang, atuh.”
“Jadi...? Kemana...?” tanyanya.
*
Aku tak begitu memahami apa yang sesungguhnya telah terjadi. Segalanya terasa begitu membingungkan, karena ternyata peristiwa yang dialami Sherina dan Sadam bukanlah penculikan biasa. Aku mendengar ada yang menyebut-nyebut nama Natasha, konglomerat Kertarejasa dan Pasundan Valley. Hanya saja, saat itu aku tak melihat apa benang merah yang menghubungkan nama-nama itu dengan penculikan dua anak SD yang salah satunya ternyata adalah putra bungsu Pak Ardiwilaga.
Tapi yang pasti, keluarga Pak Ardiwilaga sangat berterima kasih padaku dan Cecep karena inisiatif kami langsung membawa Sherina ke kantor polisi. Menurut Pak Ardiwilaga, kedatangan kami ke rumah beliau dengan membawa polisi benar-benar tepat waktu.
Dan yang pasti juga, malam itu kami terhindar dari berbuat maksiat, sebab Pak Ardiwilaga memberikan sejumlah “ucapan terima kasih” yang jumlahnya lebih dari cukup untuk biaya Neneng melahirkan.
-selesai-
Diikutkan dalam tantangan @KampusFiksi #CeritaSherina #InMemoriamDidiPetet


Jumat, 01 Mei 2015

[Cerpen] Nina Bobo

“Nisa bobo...O...o...Nisa bobo. Kalau tidak bobo digigit nyamuk...” aku menatap bayi 6 bulan kami yang sudah mulai tidur dengan perasaan lega luar biasa. Setelah seharian menjaga bayi super aktif yang tidak bisa diam ini, akhirnya aku bisa istirahat juga, pikirku.
“Tidak ada gunanya lagu itu dinyanyikan kalau syairnya kamu ganti-ganti, Nduk!” Suara teguran Eyang membuat mata bayiku yang sudah tiga per empat terpejam itu kembali terbuka lebar.
Duuuh...Eyang, jadi bangun lagi kan babynya? keluhku dalam hati.
“Kan Eyang sudah bilang, kalau kamu ganti syairnya, nggak bakalan bisa bikin anakmu lelap.” Kali ini nada suara Eyang setengah menegur. “Nah, benar to? Bayimu masih melek kan?”
Itu kan meleknya gara-gara kaget sama suara Eyang. Lagi-lagi aku hanya bisa mengomel dalam hati tanpa berani menjelaskan alasan aku mengubah syair lagu pengantar tidur itu dengan nama bayiku sendiri.
“Sini, biar Eyang yang menidurkan bayimu. Kamu makan dulu sana. Ibu menyusui harus banyak makan, terutama sayur dan kacang-kacangan. Biar air susunya bancar,” titah Eyang, yang kali ini kujawab dengan geming dan tatapan menantang.
Biasanya, aku akan memilih untuk segera meninggalkan Eyang sebelum ia mulai berceramah lagi. Bukan karena aku keberatan mendengar nasihat-nasihat Eyang, tapi karena aku tahu pasti sebagian besar ocehan Eyang itu hanyalah mitos belaka. Sialnya, kepercayaannya terhadap mitos-mitos itu lah yang menjadi dasar bagi Eyang untuk mengatur hidupku. Tanpa bisa dibantah oleh siapa pun.
Dulu, usai memperkenalkan calon suamiku pada keluarga besar, Eyang langsung bertanya apa wetonnya. Karena kujawab tidak tahu, Eyang ganti bertanya kapan tanggal lahirnya. Setelah aku menyebutkan satu tanggal, ibu kandung mama itu langsung membuka semacam buku kecil bersampul plastik. Setelah membolak-balik buku yang warna kertasnya mirip perkamen era Mesir kuno itu, Eyang langsung mengajukan sebuah saran, yang sayangnya lebih terdengar sebagai sebuah titah yang tidak bisa dibantah.
“Nduk, karena calon suamimu punya weton Selasa Pon dan kamu Sabtu Wage, maka kalian harus menikah di hari Selasa Wage. Ini hari terbaik menurut hitungan Jawa.”
Tentu saja aku langsung memprotes. “Kok Selasa sih Eyang? Itu kan hari kerja.”
“Lha wong menurut perhitungan weton, hari baik pernikahanmu ya hari itu kok,” kilah Eyang. “Apa kamu tidak ingin pernikahan kalian berjalan lancar?”
“Tapi kelancaran pernikahan kan bukan ditentukan hari pasaran kelahiran, Eyang. Lagipula...” rengekku.
Aku sudah hendak melancarkan protes dan sederet alasan logis yang menjadi penyebab lancar atau tidaknya sebuah hajatan, namun Mama menepuk pundakku sembari menggeleng. Seolah berkata; “Percuma saja. Tidak ada seorang pun yang bisa menolak kehendak Eyang Putri.”
Akhirnya aku pun menunduk pasrah.
Benar saja, ketika menyebarkan undangan, aku harus setengah mati menebalkan telinga demi mendengar komentar-komentar semacam “Wah, kok hajatannya pas hari kerja?” Atau “Ini pasti hasil hitung-hitungan primbon Jawa ya?”Atau “Ternyata walau sekolah di luar negeri tetap saja kamu percaya yang beginian ya?”
Saat itu juga, satu benih kebencian terhadap terhadap mitos orang Jawa pun mulai tertanam di hatiku.
Tidak cukup sampai di situ. Eyang bahkan mengatur semua prosesi pernikahanku. Aku yang menghendaki sebuah pernikahan yang sederhana namun elegan terpaksa menurut ketika Eyang menunjukkan rentetan upacara adat yang harus kujalani. Mulai dari upacara siraman, midodareni, tukar menukar kembar mayang, lempar sirih, injak telur, timbangan, kacar-kucur, dulangan, dan masih banyak lagi istilah-istilah adat yang aku tak mengerti. Kepalaku sampai tak sanggup mengingat banyaknya urutan tata cara pernikahan adat Jawa dan tetek bengeknya.
“Astaga, apakah harus seribet ini, Eyang? Tidak bisa kah kita membuat acara pernikahan yang simpel saja? Yang penting akad nikahnya sah kan?” protesku lagi sembari melirik ke arah Papa dan Mama yang sedari tadi diam saja.
“Nduk. Kamu ini keturunan orang Jawa. Biar kamu lahir dan besar di negeri orang, kamu tetap orang Jawa yang harus menghormati adat istiadatnya,” jawab Eyang setengah menyindir.
Aku memang lahir dan besar di Belanda. Begitu aku menginjak bangku kuliah, Papa yang sejak bujang sudah mulai merintis karir di Negara Kincir Angin itu memutuskan untuk kembali ke tanah air.
“Nah, kalau bukan orang Jawa sendiri yang mempertahankan adat istiadatnya, lantas siapa?” sambung nenekku disertai pandangan mata yang membuatku paham mengapa kedua orang tuaku tak ada yang berani menentang kehendak Eyang putri.
Aku mendengus sebal. Hilang sudah angan-angan mengenakan busana pengantin yang simpel dan anggun ala Kate Middleton. Lenyap sudah keinginan untuk membuat acara resepsi pernikahan di sebuah taman di pinggir kolam renang. Berganti dengan pernikahan adat Jawa dengan pelaminan gebyok kayu jati dan baju pengantin dari beludru berwarna hitam plus segala ritual adat yang bagiku tak lebih dari sekedar perlambang dan mitos belaka.
Saat itu, benih kebencian terhadap mitos-mitos tanah kelahiranku sendiri mulai tumbuh dan siap mendesak keluar seperti bom waktu.
Ketika aku dan suamiku sudah resmi menikah, Eyang putri kerap datang ke rumah kami sembari membawa bedak bayi. Katanya itu bedak bayi yang baru saja dipakai bayi lain. Ia menyuruhku melaburkan bedak itu di perutku supaya cepat ketularan punya momongan.
Duh Eyang, mana bisa mengoleskan bedak bayi di perut bisa membuatku cepat hamil? Rupanya Eyang harus lebih banyak membaca artikel-artikel kedokteran ketimbang mempercayai mitos-mitos yang tidak jelas landasan teorinya.
Tapi kenyataannya, aku memang tak perlu menunggu waktu lama untuk hamil. Dan lagi-lagi, Eyang kembali memberikan sederet pantangan dan larangan supaya kehamilanku berjalan lancar. Beberapa hal memang masuk akal, tapi lebih banyak yang tidak.
Eyang mewanti-wanti agar aku tidak melilitkan handuk di leher, katanya nanti bayiku bisa terlilit tali pusat. Eyang juga melarangku minum air es, supaya bayiku tidak tumbuh terlalu besar.
“Nanti susah melahirkan kalau bayinya terlalu besar. Lebih enak besarnya di luar saja setelah lahir,” ujar Eyang.
Itu hanya segelintir contoh larangan-larangan tak masuk akal lainnya, seperti tidak boleh makan pisang dempet agar anaknya tidak kembar siam. Juga tidak boleh makan ikan laut, supaya anaknya tidak amis. Juga tidak boleh lupa membawa gunting kecil atau senjata tajam lain dalam saku agar jabang bayi terhindar dari mara bahaya.
Karena takut diomeli, aku memilih untuk menurut. Tapi itu hanya berlaku di depan Eyang saja. Jika Eyang sudah meninggalkan rumah kami, lain lagi ceritanya. Aku akan kembali meneguk bergelas-gelas air dingin dan menikmati masakan berbahan ikan laut kegemaranku.
Ketika Nisa lahir, Eyang semakin sering berkunjung ke rumah kami. Bahkan hampir tiap hari dan seringnya malah ikut menginap. Maklum, Nisa adalah cicit pertama Eyang. Sebenarnya kami tidak keberatan ada Eyang Putri di rumah. Lumayan ada yang membantuku mengurus Nisa. Tapi ya itu tadi, kepercayaan Eyang terhadap berbagai macam mitos membuat pekerjaan mengurus bayi menjadi ribet.
Eyang mengharuskan memasang gurita di perut mungil Nisa, padahal dunia kebidanan jaman sekaran sudah lama tidak menganjurkannya lagi. Kemudian ia selalu meletakkan koin di atas pusar. Biar tidak bodong katanya. Eyang juga kerap terlihat menarik-narik cuping hidung Nisa supaya lebih mancung. Di pagi hari, Eyang sering mengoleskan cairan embun di lutut Nisa agar bayi kami cepat bisa berjalan. Sebenarnya aku tidak keberatan dengan segala hal yang dilakukan Eyang, kecuali satu hal. Eyang memaksaku mencukur habis rambut Nisa.
Oh Nooo!!! Rambut Nisa kan hitam dan tebal. Sayang banget kan kalau dicukur? Bagaimana jika nanti tumbuhnya tidak selebat dan sehitam rambutnya yang sekarang? Awalnya aku ngotot menolak, tapi Eyang bilang, rambut Nisa itu rambut kotor yang berasal dari alam rahim, makanya harus dihabiskan. Akhirnya dengan air mata berlinang, aku terpaksa merelakan Eyang yang dengan hati-hati mencukur rambut Nisa.
Saat itu lah, benih kebencian terhadap mitos-mitos Jawa sempurna berubah menjadi bom waktu yang siap meledak. Dan pemicunya adalah lagu Nina Bobo yang baru saja kunyanyikan.
Tanpa alasan yang jelas, Eyang mempermasalahkan lagu Nina Bobo yang kurubah sedikit syairnya. Padahal maksudku simpel saja. Nama anakku Nisa, bukan Nina. Kupikir tetap menggunakan syair “Nina” akan membuat bayi kami terlambat menyadari namanya sendiri. Itu sebabnya syair Nina Bobo kuganti dengan Nisa Bobo.  Tapi kata Eyang, jika lagu itu diganti syairnya, maka tak kan ampuh untuk membuat bayi kami terlelap.
Cukup sudah! Aku sudah muak dengan mitos-mitos tak masuk akal yang mengusik ketenanganku. Itu sebabnya hari ini aku memutuskan untuk bertanya, alih-alih menurut tak membantah.
“Kenapa sih Eyang? Ini kan cuma lagu pengantar tidur?” tanyaku dengan wajah sebal.
“Kamu tidak tahu sejarahnya sih, Nduk. Duduk sini, biar Eyang kasih tahu.”
Dengan mendengus kesal, aku pun mengambil posisi duduk di dekatnya.
“Kamu tahu mengapa lagu itu memakai nama Nina?”
Aku menggeleng malas.
“Karena Nina memang benar-benar ada. Dia bahkan pernah ratusan tahun yang lalu. Di sini. Di Indonesia.”
Lantas berceritalah Eyang Putri sebuah cerita yang sulit kupercaya.
Kata Eyang, Nina adalah putri keluarga Belanda yang pindah ke Indonesia saat masa penjajahan dulu. Suatu hari, tiba-tiba Nina bertingkah aneh. Ia berteriak-teriak dan berjalan dengan posisi punggung melengkung dan bertumpu pada kedua tangan dan kakinya. Ia kesurupan dan orang tuanya tidak menyadari hal itu. Mereka mengira Nina terjangkit suatu penyakit aneh. Karena tidak tahan dengan perubahan sikap Nina, orang tuanya pun memasungnya. Lantas sang ayah meninggalkan Indonesia untuk kembali ke negara asalnya. Tinggallah sang ibu dan Nina di rumah besar yang kian tak terurus. Dengan penuh kasih sayang, sang ibu mengurus Nina seorang diri hingga suatu hari Nina bisa bicara dan bersikap layaknya orang biasa. Alangkah gembira hati ibundanya karena mengira Nina sudah sembuh. Nina berkata bahwa dia capai sekali dan meminta ibunya menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur. Lagu “Nina Bobo” itu lah yang dinyanyikan ibu Nina. Ternyata, ketika lagu itu selesai, Nina benar-benar tertidur dan tak pernah bangun lagi untuk selamanya.
Masih menurut Eyang, jika kita menyanyikan lagu itu untuk menidurkan bayi, maka roh gadis kecil bernama Nina itu akan datang dan menjaga agar si bayi bisa tidur lelap hingga pagi.
“Astaga, Eyang. Itu kan hanya dongeng. Belum tentu benar. Lagipula, kenapa sih Eyang terlalu percaya dengan mitos-mitos yang tidak jelas sumbernya seperti itu?” komentarku setelah Eyang selesai bercerita.
Eyang menghela napas panjang lantas balik bertanya, “Kenapa sih, kamu selalu menganggap omongan Eyang hanya sebagai mitos?”
Aku mengangkat bahu. “Sebab terkadang hal-hal yang Eyang katakan sama sekali tidak masuk akal,” jawabku tanpa sadar telah menancapkan duri pertama di hati Eyang.
“Masuk akal atau tidak. Segala mitos yang diwariskan turun temurun dari jaman nenek moyang pasti tujuannya untuk kebaikan to?” kilah Eyang.
“Baik menurut siapa Eyang. Menurut Eyang mungkin iya. Tapi belum tentu menurut aku kan?” Duri kedua tertancap di hati Eyang, membuat Eyang sesaat tertegun.
“Maksudmu?”
“Selama ini Eyang terlalu percaya terhadap mitos sehingga tidak mau mendengar pendapat dan keinginan-keinginanku. Mulai dari memilih tanggal pernikahan, memilih baju pengantin, memilih dekorasi untuk resepsi sampai mengurus bayi. Semuanya sesuai keinginan Eyang. Apakah selama ini Eyang pernah bertanya apakah aku suka dengan konsep pernikahan yang seharusnya menjadi momen istimewaku sekali seumur hidup itu? Apakah Eyang pernah bertanya apa aku tidak keberatan rambut lebat Nisa dicukur habis?” cerocosku tiba-tiba tanpa terkontrol.
Eyang bergeming dengan ekspresi tak percaya mendengar rentetan kata-kataku.
“Eyang mungkin lupa. Jaman sudah berubah. Aku bukan lagi generasi yang mudah dibohongi dengan mitos-mitos dan dongeng-dongeng seperti yang Eyang katakan!” seruku tanpa pernah sadar jika duri ketiga, keempat dan kelima tertanam begitu dalam di hati Eyang.
Lama Eyang terdiam sementara aku sibuk mengatur napas. Aku menatap Eyang dengan perasaan campur baur. Antara lega karena sudah mengeluarkan uneg-unegku selama ini, tapi juga khawatir Eyang Putri akan marah. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
“Maafkan Eyang, Nduk. Selama ini Eyang tidak tahu kalau kamu tidak suka dengan kemauan Eyang,” bisiknya lirih. “Mulai hari ini, Eyang janji tidak akan mengatur-ngatur kamu lagi. Eyang percaya kamu bisa jadi ibu yang baik. Maafkan Eyang yang masih mengira kamu sebagai cucu kecil Eyang yang tidak mengerti apa-apa,” sambungnya. Kali ini dengan suara gemetar.
*
Sejak hari itu, Eyang tidak pernah bertandang lagi ke rumah.
Melalui telepon, Mama bilang jika Eyang menyesal telah membuatku bersedih soal pesta pernikahanku yang sudah lalu dan Eyang bingung harus bagaimana menebusnya. Tidak mungkin kami bisa mengulangi momen pernikahan yang hanya terjadi sekali seumur hidup kan? Mama juga sempat menegurku atas keberanianku membantah kemauan Eyang. Katanya, apa sih ruginya menuruti saran Eyang?
“Tapi keyakinan Eyang terhadap mitos-mitos itu keterlaluan, Ma,” seruku. “Mama lihat sendiri rambut Nisa yang tebal dulu itu tidak juga tumbuh, kan?” sambungku masih dengan nada emosional.
“Memang mitos-mitos yang dipercaya Eyang itu terdengar berlebihan. Tapi mereka ada dan dan tetap lestari sampai sekarang di tengah-tengah masyarakat karena sebuah tujuan yang mengarah pada kebaikan. Coba ingat mitos tentang anak perawan yang dilarang duduk di depan pintu karena khawatir tidak segera dapat jodoh. Kalau dilogika, mana mungkin urusan jodoh bisa berhubungan dengan posisi duduk. Tapi yang sudah pasti adala, duduk di depan pintu itu membahayakan karena bisa membuat orang yang lewat jadi tersandung. Iya kan?”
Aku terdiam.
“Percayalah. Eyang itu selalu berharap anak dan cucunya mendapatkan yang terbaik dan jauh dari hal-hal yang buruk. Hanya itu saja kok tujuan Eyang.”
Aku tertegun. Aku memang masih kesal dengan sikap Eyang yang suka mengatur tanpa mau diajak kompromi itu. Tapi dalam hati kecil, aku juga membenarkan kata-kata Mama. Eyang memang bermaksud baik. Seberkas rasa bersalah terbersit di benakku.
Beberapa waktu berlalu tanpa kehadiran Eyang tak urung membuatku merasa kehilangan juga. Selama ini Eyang tidak hanya rajin menghujaniku dengan omelan dan ceramah seputar menjadi perempuan, istri dan ibu yang benar. Tapi Eyang juga rajin membawakanku masakan dan hadiah untuk Nisa. Eyang yang senang berkebun juga kerap menghabiskan waktu menata taman kecil di rumah kami menjadi lebih cantik. Eyang juga sangat telaten menjaga dan merawat Nisa. Ingin rasanya aku mendatangi Eyang untuk minta maaf dan memintanya kembali mengunjungi kami. Tapi nyatanya, aku masih dikuasai rasa gengsi.
Suatu hari, entah karena terdesak oleh rasa kangen pada Eyang, ketika menidurkan Nisa, aku menyanyikan lagu yang menjadi ujung perselisihanku dengan Eyang. Nina Bobo. Kali ini dengan syair aslinya.
“Nina bobo. O...o...Nina bobo. Kalau tidak bobo digigit nyamuk.”
Tak lama kemudian, Nisa tertidur dan aku pun ikut berbaring di sebelahnya. Aku tak sadar sejak kapan aku juga ikut tertidur. Ketika tengah malam aku terbangun, aku tertegun, nyaris tak mempercayai penglihatanku.
Seorang gadis kecil berambut pirang dengan rok berenda dan berpita berdiri tepat di samping Nisa!



-selesai-

Minggu, 19 April 2015

[Cerpen] Angel's Trumpet

Senyum puas terukir di bibir lelaki itu ketika memandangi butiran kristal putih di dasar cawan porselen. Ia sudah memutuskan, butiran kristal itu akan bekerja malam ini.  
*
Beberapa sudut di Universitas itu memang masih terang walau malam mulai beranjak tua. Itu bukan pemandangan aneh. Hampir setiap hari, beberapa mahasiswa memilih tinggal di lab-lab Universitas untuk menyelesaikan penelitian tugas akhir.
“Hffft...! Ini akan jadi malam yang panjang” keluh salah satu mahasiswa penghuni Laboratorium Kimia Organik seraya menguap. Matanya memindai deretan data-data penelitian pada selembar spreadsheet. Diraihnya mug berisi kopi pahit yang menjadi andalannya untuk melawan kantuk. Lantas seperti biasa, ia menghabiskan isinya dalam sekali tenggak.
Sejenak mahasiswa berparas tampan itu tertegun. Lidahnya merasa kopinya malam ini tidak biasa. Tapi ia tak sempat berpikir lebih jauh, karena tiba-tiba dia merasa seakan sebuah palu godam menghantam kepalanya. Dia pun ambruk dengan mata terbelalak dan pupil mata membesar.
“Ya Tuhan! Renooo....!!!” rekan-rekannya berteriak panik. Mahasiswa dari laboratorium lain mendengar teriakan itu dan berhamburan ke arah sumber kehebohan. Kejadian yang terlalu tiba-tiba itu membuat mereka hanya bisa berteriak panik, tak tahu apa yang harus dilakukan demi menolong Reno yang tengah meregang nyawa.
*
Empat hari yang lalu, lelaki itu sudah menggerus biji-biji bunga Angel’s Trumpet, dalam mortar porselen. Ia melarutkan hasil gerusan itu dengan methyl alcohol untuk mengekstrak senyawa atropine di dalam biji bunga berbentuk terompet yang banyak tumbuh di halaman Universitas.
Hari ini, sebagian besar atropine pasti telah larut dalam methyl alcohol. Lelaki itu kini tinggal menguapkannya untuk mendapatkan butiran kristal atropine yang tertinggal di dasar cawan. Hanya 50 miligram. Tidak banyak memang. Tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seorang pria dewasa kehilangan nyawa.
Sebagai seseorang yang banyak menghabiskan waktu di Laboratorium Kimia Organik, mudah baginya untuk mengamati kebiasaan para mahasiswa di sana. Termasuk kebiasaan “si korban”.
Korbannya itu, seperti halnya mahasiswa lain, sudah menganggap lab-lab untuk penelitian tugas akhir sebagai rumah kedua. Itu sebabnya selama melakukan penelitian, mereka menginvetaris beberapa barang pribadi, semisal cangkir kopi atau sikat gigi. Semua di laboratorium itu tahu, cangkir milik calon korban adalah sebuah mug porselen putih bergambar sapi perah dengan tutup bergambar sama.
Sore itu, ketika lab sedang sepi, lelaki itu meletakkan 50 miligram kristal atropine di dasar mug. Ia tinggal berharap, malam ini “si korban” akan menggunakan mug itu untuk menyeduh kopi seperti biasa.
Sepanjang sore hingga malam, ia terus mengawasi mug tersebut dengan gelisah. Ia khawatir jika ada orang lain yang menggunakan mug itu tanpa sengaja. Ketika dilihatnya “si korban” mengambil mug, menuangkan bubuk kopi hitam dan air panas, barulah ia merasa lega. Selanjutnya ia sudah bisa menebak, korbannya akan mendiamkan cangkirnya selama beberapa menit lantas meminum habis isinya dalam sekali tenggak.
Ia memutuskan untuk meninggalkan laboratorium ketika dilihatnya “si korban” sudah mulai mengaduk kopi lantas meletakkannya di meja, menunggu suhu kopi agak dingin.
Lelaki itu sudah berada di dalam mobil ketika para mahasiswa seketika berhamburan keluar demi mendengar teriakan panik yang bersumber dari Laboratorium Kimia Organis. Ia menyeringai ketika beberapa mahasiswa meneriakkan nama korbannya. Reno. Rencananya berhasil. Racun itu tepat sasaran. Dengan perasaan puas, ia segera menyalakan mesin mobil dan memacunya membelah kegelapan malam.
*
Seminggu sebelumnya
“Jadi kamu benar-benar berhubungan dengan Bella, Ren?” tanya Robert serius.
Reno nyengir lebar. “Kalau iya, memangnya kenapa?”
“Gadis itu kan pendiam. Kutu buku pula. Beda sekali dengan tipe gadis-gadis yang selama ini kamu kencani. Lagipula penampilannya jauh dari standard minimal seleramu.” Robert mengangkat bahu.
Reno terbahak. “Biarpun begitu, dia anak owner perusahaan besar, Rob. Dekat dengannya akan mempermudah aku untuk mendapatkan posisi di perusahaan ayahnya” lanjut Reno dengan senyum culas.
“Sinting kamu, Ren...” sergah Robert sembari meninju lengan Reno. Tentu saja tinjunya tidak membuat Reno kesakitan melainkan membuatnya terbahak semakin keras.
Ketika itu keduanya tidak menyadari, jika sepasang telinga mendengar pembicaraan mereka.
Profesor Adrian menahan geram dengan tangan terkepal. Kurang ajar! Berani-beraninya dia mempermainkan Bella!” batinnya. Terbayang di matanya, sosok Bella, mahasiswa tingkat tiga yang kerap ditemuinya di Perpustakaan.
Bella memiliki rasa ingin tahu yang besar dan daya analisa yang luar biasa. Gadis berkacamata tebal itu sering bertanya berbagai hal padanya. Itu sebabnya, ia dan Bella kerap terlibat diskusi panjang.
Dengan semakin bertambahnya frekuensi pertemuan dengana Bella, Profesor termuda di Universitas itu merasa ada yang tidak biasa dengan perasaannya. Perasaan aneh itu belum pernah ia rasakan selama ini. Ia bahkan kerap membayangkan jari manisnya dan jari manis Bella mengenakan cincin yang sama. Tidak butuh waktu lama bagi Profesor yang menjadi kepala Laboratorium Kimia Organik itu untuk menyadari, bahwa untuk pertama kali dalam hidupnya, ia jatuh cinta. 
Ini tidak bisa dibiarkan!” rahang Profesor Adrian mengeras.  
Profesor Adrian berjalan ke arah perpustakaan seraya berpikir keras. Sebuah rencana seketika muncul di kepalanya ketika melihat deretan bunga Angel’s Trumpet di pintu masuk perpustakaan. Tak banyak yang tahu jika seluruh bagian bunga putih berbentuk terompet itu mengandung atropine, racun yang bisa membahayakan nyawa manuasia hanya dengan dosis 16 miligram saja.
Ia menyeringai ketika teringat mug putih milik Reno yang selalu tertutup. Itu akan memudahkannya menempatkan racun di dalamnya tanpa disadari sang pemilik. Seringainya kian lebar ketika ingat kebiasaan Reno meminum kopi pahit. Itu akan sangat membantu menyamarkan rasa atropine yang agak pahit.
Sejenak ia ragu. Apa yang akan dia lakukan akan mengancam kehidupan dan nama baiknya. Namun bayangan wajah Bella seketika berkelebat dalam pikirannya dan tanpa ampun menepis segala keraguan. Seperti kuda pacu yang dicambuk sang joki, semangat membunuhnya terbit.
Profesor Adrian melangkah mantap mendekati salah satu pohon Angel’s Trumpet. Ya, tak lama lagi, bunga itu akan mengundang malaikat pencabut nyawa ke Laboratoriumnya.



-selesai-


Diikutkan dalam tantangan Kampus Fiksi #FiksiRacun.

Cerpen ini adalah cerpen dengan ide lama yang ditulis ulang, versi pertamanya juga ada di blog ini dengan judul yang sama.

Sabtu, 18 April 2015

Loyalty Is (Not) Bullshit


“Loyalitas tanpa batas”
Demikian bunyi status BBM seorang kawan di hari Minggu. Saya tahu, tidak seperti karyawan lain, kawan saya itu adalah salah satu yang kehadirannya di hari Minggu tidak dibayar alias tidak dihitung sebagai overtime.
Tapi kehadirannya di hari Minggu bukannya tanpa kompensasi. Ia tetap mendapat ganti libur di hari kerja lain.
Pertanyaannya, apakah jika ia tidak mendapat ganti libur di hari lain, masih bersedia kah dia datang di hari Minggu?
Jujur, saya sendiri tidak berani menjawab mau. Karena itu saya belum berani mengatakan diri saya loyal. Lha iya kan? Mana mau saya kerja gratisan? Ini perusahaan swasta, Bro. Bukan lembaga sosial. Kalau saya ngga dapet uang lembur, ya ganti dong hari libur saya.
Hal yang sama juga saya yakini terhadap para atasan saya yang rela datang di hari Minggu tanpa dibayar dan tanpa mendapat ganti libur. Pertanyaannya, jika mereka digaji dengan gaji yang sama dengan para Operator atau Foreman, apakah mereka tetap bersedia datang di hari libur tanpa mendapat kompensasi apa-apa?
Well, saya tidak yakin jawabannya “Bersedia”. Karena tiap bulan mereka sudah mendapat gaji dengan jumlah digit berderet-deret, wajar jika sesekali waktu mereka mau datang di hari Minggu. Sekedar memastikan anak buahnya bekerja sesuai program lantas pulang kapan saja mereka mau.
Loyalty is bullshit! Selama loyalitas itu masih berpamrih, itu cuman loyalitas palsu. That’s why, saya sempet mikir nggak ada orang yang bener-bener loyal, apalagi hanya loyal terhadap sebuah perusahaan. Tak ada. Baik di level middle seperti saya yang mendapatkan ganti libur, atau di level bawah yang mendapatkan uang overtime, atau di level atas yang gajinya berdigit-digit.
Tapi ternyata saya salah besar! Ternyata ada orang yang membuktikan bahwa loyalty (terhadap sebuah perusahaan) is not bullshit!
Segalanya dimulai dari sebuah berita di hari Sabtu pagi; “Hari Minggu besok, Mill produksi!”
What?!
Seharusnya dalam keadaan normal, ini adalah sebuah berita gembira, setidaknya untuk golongan Foreman dan Operator. Sebab, masuk di hari Minggu berarti 7 jam extra overtime fee. Tapi yang jadi masalah adalah; 4 dari 9 crew saya keesokan harinya akan mengikuti rekreasi (program perusahaan). Rekreasi yang sudah sejak berminggu-minggu sebelumnya direncanakan dan tak mungkin dibatalkan. Baiklah, saatnya mempermainkan bidak-bidak catur agar 5 orang yang tersisa bisa memback up produksi selama 24 jam.
Dead end!
Tak ada personel yang bisa mengisi kekosongan di shift pagi! Itu berarti, hanya tersisa saya seorang. Saya. Ya, saya, yang sangat merasa keberatan masuk di hari Minggu karena satu alasan; “I don’t know how to operate this Pelletizing!”. Well, seandainya bisa mengoperasikannya seorang diri, saya akan jadi orang nomor satu yang tunjuk tangan sebagai bentuk kesediaan masuk di hari Minggu. Tapi, saya baru masuk di Pelletizing selama kurang dari 3 bulan, itu pun kurang dari sepertiga jam kerja dalam sehari.
Jujur, saya memang hanya seorang stuntman, karena aktor intelektual yang seharusnya in charge di Pelletizing sedang ditugaskan di tempat lain. Tadinya saya ditugaskan di sana hanya sekedar untuk memback up administrasi, pengaturan SDM, dan lain-lain. Selama 3 bulan, saya memang banyak belajar, termasuk operasional Pelletizing. Tapi mana cukup 3 bulan untuk mempelajari operasional dan segala troubleshootnya? Plus, masih harus in charge di seksi di mana nama saya secara de facto tertulis dalam struktur organisasi; Mill Support. Itu sebabnya saya hanya menghabiskan waktu paling lama sepertiga dari waktu kerja di Pelletizing, sementara sisanya untuk Mill Support.
Sekedar informasi, Pelletizing memang bukanlah core business di perusahaan tempat saya bekerja. Tapi ibarat sistem pencernaan, dia adalah sistem ekskresi, pembuangan akhir. Sama dengan selera makan yang akan bermasalah jika ada masalah dengan sistem ekskresi (entah mencret atau konstipasi), Pelletizing memagang kunci akhir apakah produksi bisa jalan terus atau tidak. Dan kunci itu, selama 8 jam akan berada di tangan saya yang tidak bisa apa-apa.
Tentu saja atasan saya tahu itu, dan ia telah mengupayakan segala daya upaya agar selama 8 jam di pagi hari, saya tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya memastikan semua mesin transfer byproduct dari Mill ke Silo (penampungan by product) berjalan dengan seharusnya. Sisanya, berdoa agar rencana untuk mengulur waktu operasional Pelletizing selama 8 jam bisa berhasil.
*
Hari Minggu itu, saya datang satu jam lebih awal. Tentu saja saya masih berjumpa dengan crew shift malam yang memandang saya dengan cemas ketika hendak pulang. Saya memaksa mereka agar segera pulang karena pukul 3 sore, mereka harus kembali ke pabrik untuk melanjutkan memegang kunci estafet.
Akhirnya saya seorang diri. Benar-benar seorang diri, dengan hanya ditemani deru lembut motor-motor bucket elevator dan chain conveyor .
Tiap jam, saya naik untuk memastikan segala sesuatunya masih berjalan sesuai rencana, termasuk mengecek kondisi silo.  
Pukul 9 pagi lebih sedikit, alangkah kagetnya saya ketika Foreman shift malam tiba-tiba nongol di ruangan saya.
“Kenapa belum pulang? Bapak kan harus kembali jam 3?”, tanya saya dengan panik.
“Saya tidur saja di belakang. Saya standby Bu. Jaga-jaga kalau ada apa-apa”
Puji Tuhan! Ternyata dia jawaban doa-doa saya sejak semalam, “Dear God, please don’t leave me alone”!
Tapi mengingat yang bersangkutan sudah sepuh, tak urung muncul ketidaktegaan juga. Setengah mati saya memaksanya pulang dengan memaparkan berbagai alasan. Mulai dari perhitungan aliran produk yang masih aman hingga jam 3 nanti, hingga ke kemungkinan terburuk, yakni membiarkan produksi down selama beberapa jam jika saya tidak berhasil melakukan start up Pelletizing.
Tapi intuisi sang Foreman yang sudah terasah puluhan tahun tak mungkin bisa mengalahkan segala data empiris seorang saya yang baru 3 bulan in charge di sana. Dia menolak pulang.
Saya menghela napas panjang melihat kekeraskepalaannya. Lantas saya ambil buku laporan yang ada di tangannya, membuka pintu kantor dan mempersilakannya keluar untuk segera mencari tempat istirahat yang layak agar bisa tidur nyenyak. Betapa tidak? Dia baru saja bekerja 8 jam penuh dari jam 11 malam hingga jam 7 pagi. Tugasnya seharusnya berlanjut pukul 3 sore hingga pukul 11 malam. Hari Senin keesokan harinyanya, dia harus masuk pukul 7 pagi dan pulang pukul 7 malam. Bagaimana mungkin saya tidak mengkhawatirkan kondisi fisik pria sepuh berbadan mungil ini?
Sepeninggalnya, saya kembali seorang diri dan mengerjakan hal yang sama seperti sebelumnya. Memastikan satu conveyor masih kosong yang berarti rencana kami masih berjalan baik.
Pukul setengah 12, tepat ketika jam makan siang, sang Foreman masuk ke ruangan saya dengan panik. “Saya akan start! Silo sudah penuh” ujarnya.
What?! Sejam yang lalu masih baik-baik saja, pikir saya. Tak ada yang bisa saya lakukan selain membiarkannya bergegas menuju ruang panel untuk mulai menjalankan mesin satu per satu. Tapi tiba-tiba saya teringat sesuatu.
“Tunggu, Pak!”, panggil saya. “Sudah absen belum?”
Dia menggeleng. “Kan hari ini harusnya masuk sore, Bu. Jadi absennya jam 3 nanti”
Astaga! Ternyata dia melakukan ini semua tanpa harapan kompensasi apapun. Setelah sempat bengong beberapa detik karena menyadari kenyataan yang di luar dugaan ini, saya langsung menyergah. “Tinggal dulu Pelletizingnya, Bapak absen aja dulu.”
“Memangnya tidak apa-apa, Bu?”
“Tidak apa-apa. Tolong sekalian panggil anak buah Bapak untuk membantu. Tadi dia bilang akan standby kalau dipanggil kapan saja,” pinta saya yang tiba-tiba teringat pesan salah satu crew shift malam sebelum pulang. Kebetulan juga rumahnya tidak jauh dari pabrik.
Foreman saya itu memasang wajah lega. Entah karena diijinkan absen sehingga kehadirannya siang ini di pabrik diperhitungkan atau karena diijinkan memanggil bala bantuan untuk menjalankan unit Pelletizing.
Setengah jam kemudian, lagi-lagi saya mendapat kejutan. Operator yang dipanggil sudah datang dan baru selesai berganti pakaian ketika saya datangi. “Sudah absen?”
Jawabannya sama dengan sang Foreman. “Belum. Kan belum jam 3, Bu”
O My, baru sekali ini saya bertemu operator yang dipanggil di luar jam kerja tanpa bertanya apakah dia mendapat kompensasi atau tidak. Langsung saja saya suruh dia untuk menunda pekerjaannya dan absen terlebih dahulu.
*
Nah, dari pengalaman bekerja dengan sang Foreman dan Operator Pelletizing ini, saya baru sadar. Ternyata loyalitas bukanlah omong kosong. Ada kok orang-orang yang bekerja (bukan untuk kegiatan sosial) namun menempatkan kepentingan pribadinya pada prioritas terendah. Bagi kedua crew Pelletizing itu, menjaga agar produksi tetap berjalan lancar adalah segalanya. Tidak peduli badan letih karena baru saja selesai shift malam dan harus kembali bekerja di shift sore, mereka tetap rela bekerja di shift pagi tanpa menuntut uang lembur.
Dan orang-orang yang memiliki keloyalan itu, bukan orang-orang di level saya atau level di atas saya. Melainkan mereka yang berada satu dua level di bawah saya, yang seharusnya mendapatkan kompensasi berupa uang lembur yang jumlahnya cukup menggiurkan.
Mereka lah, yang lebih pantas memasang status; “Loyalitas Tanpa Batas” J

 *
Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Supartono dan Mas Hasanuddin. Walau mungkin mereka tidak pernah membaca tulisan ini, tapi nyatanya mereka telah memberikan pelajaran berharga untuk saya tentang apa itu arti "Loyalitas pada pekerjaan".
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)