Sabtu, 15 Maret 2014

Ketika Letih Berbuat Baik

Tulisan ini Insya Allah akan diikutkan dalam event nulis #BerguruPadaTokohMuslim by Diva Press.
Happy reading ^-^

---




Ketika Letih Berbuat Baik
@Psisimaya


“Ketika kau merasa letih dalam melakukan kebaikan, maka sungguh keletihan akan segera sirna dan kebaikannya abadi. Namun ketika kau merasa bahagia melakukan dosa dan maksiat, ketahuilah bahwa kebahagiannya akan segera sirna sedangkan dosa dan kemaksiatannya akan abadi”. (Ali bin Abi Thalib)
---
Mei (bukan nama sebenarnya) menggenggam selembar kertas dengan gemetar. Matanya merah.  Entah menahan amarah, entah menahan air mata, entah dua-duanya. Ia melirik Sinta (juga bukan nama sebenarnya), yang tengah bersuka cita memandangi kertas hasil ujian Fisika yang baru saja dibagikan. Mata Mei tertumbuk pada angka 90 di sudut kanan atas kertas ujian teman sebangkunya itu. Lalu matanya beralih pada kertasnya sendiri yang hanya mendapat nilai 60. Mei tak tahan lagi. Dia segera lari ke toilet sebelum air matanya tumpah.
Sakit hati yang dirasakan Mei cukup beralasan. Beberapa hari menjelang ujian, Mei belajar keras, agar tidak mendapat angka merah lagi seperti sebelumnya. Ketika ujian, Mei melihat sendiri Sinta menempatkan kertas berisi rumus-rumus tentang lensa dan cahaya di bawah bangkunya. Dengan keliahaiannya, Pak Guru tidak bisa mendeteksi gerak-gerik Sinta saat memindahkan rumus-rumus itu di kertas ujiannya. Kini, begitu nilai ujian dibagikan, ternyata nilai yang diperoleh Mei melalui upaya belajar keras dan jujur malah lebih jelek daripada nilai Sinta.
Itu sebabnya, di dalam toilet sekolah yang lengang karena masih jam belajar, Mei terisak pelan. Inikah hasilnya orang yang sudah capek-capek belajar dan berbuat jujur? Kenapa orang yang curang malah mendapatkan hasil lebih baik?, pikirnya dengan air mata berlinang.
Sobat, mungkin bukan hanya Mei yang punya pengalaman semacam itu. Yakni ketika hal-hal baik yang kita lakukan ternyata tidak mendatangkan hasil yang diharapkan. Sudah capek-capek belajar, masih juga dapat nilai jelek. Sudah capek-capek berlatih, tetep juga kalah bertanding. Sudah capek-capek mengurusi acara amal, tetap saja ada yang mengkritik. Sudah capek-capek senyum dan bersikap ramah, malah dibalas dengan muka masa bodoh. Sudah capek-capek menolong orang, eh boro-boro dapet balasan, dapat ucapan terima kasih aja enggak!
Nah lho, kalau sudah begini, apakah lantas kita akan berhenti berbuat baik? Atau lebih parah lagi, putar haluan dengan berbuat dosa dan maksiat? Misalnya;  mengambil jalan pintas dengan mencontek, atau dengan bermalas-malasan, atau tak mau lagi terlibat dalam kegiatan amal, ogah bersedekah dan enggan menolong sesama. Na’udzubillah…Jangan sampai ya Sob...
Sayidina Ali bin Abu Thalib pernah menasehatkan agar kita tidak lelah berbuat kebaikan. Sebab, rasa letih karena berbuat kebajikan akan segera sirna, sementara kebaikannya akan abadi. Ibaratnya, kebaikan yang kita lakukan kelak akan menjadi investasi yang menjanjikan kelak di kemudian hari. Bukankah itu sudah cukup jadi alasan untuk senantiasa berbuat baik, apapun yang terjadi?
Lagi pula, Allah juga sudah berjanji bahwa kebaikan sekecil biji sawi pun akan mendapatkan balasan. Allah nggak mungkin bohong kan? Jadi yakinlah Sob, tak ada kebaikan yang sia-sia. Sekecil apa pun itu.
Tidak akan sia-sia perjuangan kita untuk belajar dan berbuat jujur. Tidak akan sia-sia tiap keping uang yang kita sedekahkan. Tidak akan sia-sia tiap tarikan bibir yang kita pakai untuk tersenyum. Tidak akan sia-sia rasa letih kita untuk selalu berbuat baik.
Memang sih, terkadang Allah memberi balasan atas kebaikan-kebaikan itu dengan caraNya, yang mungkin tidak kita sadari. Ini nih yang kemudian membuat kita merasa apa yang sudah kita lakukan sia-sia saja.
Misalnya pada kasus Mei. Dia kan sudah belajar sungguh-sungguh, kenapa dia nilainya malah lebih rendah daripada temannya yang nyata-nyata tidak jujur dalam ujian? Mana balasan yang dijanjikan Allah?
Once again, Allah tak mungkin mengingkari janjiNya. Semangat belajar dan kejujuran Mei tetap mendapatkan balasan. Cuman ya itu tadi, Allah kan tidak bilang akan memberikan balasan seperti apa? Apakah dengan hasil ujian yang bagus atau dengan tambahan nilai pahala dalam catatan amalnya atau dengan hal-hal baik yang terjadi pada Mei di kemudian hari. Misalnya dengan kesehatan, terhindar dari musibah dan menghadirkan orang-orang soleh yang sayang dan peduli pada Mei.
Mungkin juga Allah punya maksud lain dibalik nilai Mei yang tidak memuaskan itu. Bisa jadi Allah hendak melatihnya untuk menjadi pribadi yang pantang menyerah dengan menguji Mei sejauh mana ia bisa berlaku jujur. Siapa tahu Allah sedang membentuk Mei menjadi karakter yang tangguh? Bukankah itu jauh lebih berharga daripada nilai ujian yang masih bisa diperbaiki?
So, apa pun yang terjadi, jangan takut capek berbuat baik ya Sob, walau mungkin kita tidak atau belum mendapatkan hasil yang kita harapkan. Allah tahu pasti kok apa yang terbaik untuk kita. Jadi, jangan sampai kita menyimpan prasangka buruk terhadapNya.Yakinlah, Allah pasti memiliki skenario terbaik untuk hambaNya yang tak pernah letih berbuat baik. Insya Allah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)