Rabu, 14 Agustus 2013

Tentang Mata, Telinga dan Hati




Saya baru saja menemukan bahwa kata “pendengaran”, “penglihatan” dan “hati” disebutkan setidaknya 10 kali dalam AlQuran secara bersamaan? Seperti misalnya di QS AnNahl:78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”. Juga dalam QS. AlMulk:23, “Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur”.
Ketiga kata yang disebutkan secara bersamaan itu juga bisa ditemukan di QS. Al Ahqaaf:26, QS. Al Baqaraah:7, QS. Al An'aam:46, QS An Nahl:108, QS Al Israa:36, QS Al Mu'minuun:78, QS As Sajdah:9 dan QS Al Jaatsiyah:23. Beberapa surat mungkin tidak persis sama seperti kedua ayat di atas, seperti misalnya yang tercantum dalam QS. AlJaatsiyah:23, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Dari sekian banyak anugerah yang telah Allah berikan kepada manusia, sedemikian pentingnyakah ketiga anugerah ini sehingga Allah sampai menyebutkannya berkali-kali? Saya bertanya-tanya, mengapa Allah tidak menyebutkan “lisan dan pikiran” alih-alih menyebutkan “pendengaran, penglihatan dan hati”?
Bukankah kita seringkali terkagum-kagum pada orang-orang yang cerdas, yang pintar menyampaikan argumentasi maupun yang pintar berpidato maupun berorasi?
Kenyataan ini kemudian membuat saya menyadari satu hal. Jika diumpamakan sebagai sebuah pohon, maka pendengaran, penglihatan dan hati nurani adalah akar. Akar memiliki peranan yang penting dalam proses sintesa makanan sehingga pohon tersebut nantinya bisa menghasilkan buah yang baik. Proses sintesa makanan bisa dianalogikan sebagai proses berpikir, sedangkan buah dianalogikan sebagai output proses berpikir. Buah pikiran bisa disampaikan dalam bentuk apa saja; artikel, pidato, dakwah, makalah, film atau buku.
Proses mendengar dan melihat akan memberikan input-input informasi yang menjadi bahan baku dalam proses analisa berpikir. Namun, bahan baku yang baik belum tentu menghasilkan output yang baik jika ada hal yang salah dalam prosesnya. Di sinilah hati nurani memegang kendali. Tanpa hati nurani, proses berpikir akan sepenuhnya dikendalikan oleh pikiran yang biasanya berpikir secara eksak; hitam putih, kalah menang, untung rugi, satu ditambah satu sama dengan dua, dan lain-lain. Hati nurani lah yang membuat kita senantiasa ingat tentang hakikat penciptaan umat manusia. Yakni diciptakan oleh Allah dan nantinya akan kembali pada Allah. Jika kita senantiasa ingat bahwa suatu saat kelak akan kembali pada Allah dan mempertanggungjawabkan semuanya, maka tidak akan kita mengeluarkan perkataan yang menyakiti orang lain. Kita pun juga terhindar dari berpikiran untuk melakukan perbuatan yang akan merugikan orang lain.
Begitu pentingnya pendengaran, penglihatan dan hati nurani dalam penciptaan manusia. Dan kita kerap lalai untuk mensyukurinya. Kita seringkali lupa bahwa bahwa dibalik kepandaian kita berpikir, kepiawaian kita berbicara atau menulis, adalah karena anugerah Allah akan pendengaran, penglihatan dan hati nurani.
Tidak mensyukuri adalah hal yang tidak baik, tapi itu tidak seberapa dibandingkan jika menggunakan ketiganya untuk hal-hal yang dibenci oleh Allah. Misalnya mendengarkan sebuah pergunjingan atau melihat hal-hal yang tidak membawa manfaat. Pada awalnya mungkin hati nurani yang berfungsi sebagai pengontrol akan memberi alarm pada pikiran kita bahwa itu adalah hal-hal yang akan menyebabkan murka Allah. Namun jika kita terus menerus mengabaikan apa yang dikatakan oleh hati nurani, lama kelamaan Allah akan menutup mata hati kita dan membiarkan proses berpikir kita menjadi kacau tak tentu arah.  Jika sudah demikian, bisa kita tebak bagaimana ending hidup kita kelak, kecuali Allah yang Maha Penyayang memberikan hidayahNya.

Note: Ayat-ayat yang mencantumkan kata "pendengaran", "penglihatan" dan "hati" secara bersamaan.




1. Dan sesungguhnya Kami telah meneguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah meneguhkan kedudukanmu dalam hal itu dan Kami telah memberikan kepada mereka pendengaran, penglihatan dan hati; tetapi pendengaran, penglihatan dan hati mereka itu tidak berguna sedikit juapun bagi mereka, karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan mereka telah diliputi oleh siksa yang dahulu selalu mereka memperolok-olokkannya.
(QS. Al Ahqaaf 26)

2. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.
(QS. Al Baqaraah 7)

3. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?" Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).
(QS. Al An'aam 46)

4. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
(QS. An Nahl 78)

5. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
(QS An Nahl 108)

6. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
(Qs Al Israa 36)

7. Dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur.
(QS Al Mu'minuun 78)

8. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
(QS As Sajdah 9)

9. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(QS Al Jaatsiyah 23)

10. Katakanlah: "Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati." (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.
(QS. Al Mulk:23)

Allah Maha Besar
Thank you to let me bors as a Moslem

2 komentar:

  1. Salam kenal Mbak...
    Terima kasih sudah berbagi ilmu, saya juga bertanya-tanya mengapa dalam Al Quran yang disebutkan hati, pendengaran, dan pengelihatan tidak yang lain. Artikelnya cukup menjawab pertanyaan saya tentang hal itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal juga, terima kasih sudah mampir baca :)

      Hapus

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)