Senin, 12 Agustus 2013

Biarkan Aku Menjadi Temanmu




Seharusnya kamu marah atau setidaknya memasang wajah cemberut tiap kali berjumpa denganku. Kemarahanmu dan kecemberutanmu itu sudah sewajarnya karena aku sudah melakukan hal yang tidak pantas.
Aku mencintaimu, di saat aku dan kamu tidak lagi sendiri melainkan berdua.
Tidak pantas bukan? Kurang ajar bukan?
Aku tidak selayaknya mencintaimu di saat sudah mengikatkan janji dengan seorang perempuan. Aku juga tidak selayaknya mencintaimu di saat seorang lelaki sudah mentahbiskan diri sebagai pendamping hidupmu.
Tapi aku tidak bisa mencegahnya. Sebagaimana aku tidak mampu mencegah matahari agar tidak terbit dari timur. Perasaanku merekah seperti mentari yang muncul perlahan dari balik cakrawala. Hanya bedanya, matahari bisa tenggelam jika senja tiba. Namun tidak dengan perasaanku. Ia nya terus terbit. Kian lama kian terang. Seperti bunga yang merekah dan merebakkan harum wangi cinta yang memenuhi setiap sudut hatiku.
“Jangan begitu Mas, kasihan kan istrimu kalau kamu mikirin aku terus”, katamu suatu hari ketika aku memberanikan diri menyatakan bahwa aku tidak bisa berhenti memikirkanmu.
“Dia tidak akan tahu”, jawabku.
“Bagaimana kamu tahu dia tidak tahu? Perempuan itu perasaannya kuat. Apalagi kalau itu menyangkut pasangan hidupnya. Kamu tidak kuatir nanti menyebut-nyebut namaku dalam mimpi?”
Aku terdiam. Aku memang sering sekali memimpikanmu. Dan parahnya, itu adalah mimpi yang setiap malam kuharapkan. Karena hanya lewat mimpi saja aku bisa menyentuh kulitmu dan merasakan hangat nafasmu.
“Bayangkan gimana perasaannya kalau sampai kamu mengigaukan namaku?”, tanyamu lagi dan kujawab dengan diam. Jawaban atas pertanyaanmu itu kutelan saja; Biarkan saja dia mendengar, toh aku juga kerap mendengarnya mengigaukan nama lelaki lain.
Tapi bukan karena itu, bukan karena istriku juga menyimpan nama orang lain dalam hatinya dan lantas aku menjadikanmu sebagai pelarian. Aku sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum aku tahu istriku mendua.
Aku jatuh cinta karena wajahmu yang selalu tersenyum, kecuali sedang sendiri. Begitu berpapasan dengan siapa saja, entah kamu mengenalnya atau tidak, kamu pasti menyunggingkan senyum termanismu.
Aku jatuh cinta pada wajahmu yang tidak pernah terlihat bersedih hati. Aku selalu melihat siang hari yang cerah di matamu yang berhiaskan bulu mata yang lentik. Sadarkah kamu bahwa bahagiamu itu menular padaku?
Aku jatuh cinta pada wajahmu yang nyaris tak pernah disentuh riasan, melainkan air wudhu. Pagi, siang dan sore, tiap kali kamu menunaikan shalat di masjid.
Perasaanku memang muncul perlahan, tidak tiba-tiba, seperti batu yang sedikit demi sedikit berlubang karena tetesan air. Demikian juga dengan rasa rindu yang aneh tiap kali tak melihatmu.
Aku sadar seharusnya aku tidak jatuh cinta. Sejak dulu, aku tahu kamu sudah menikah. Aku tahu keluargamu kian harmonis dengan kehadiran buah hatimu yang lucu-lucu. Tapi aku tidak sanggup mencegahnya.
Seharusnya cukup banyak alasan untuk tidak jatuh cinta padamu. Namun kenyataannya cukup banyak alasan juga untuk jatuh cinta padamu. Seperti halnya orang-orang di sekitarmu yang dengan berani menyatakan kekaguman mereka padamu.
Seandainya saja aku seperti mereka, yang bisa mengagumi tanpa melibatkan perasaan cinta. Sehingga aku tak perlu didera merasaan rindu dan cemburu yang kian menyiksa. Karena sejak awal aku tahu tak ada tempat untukku di hatimu.
Namun kamu tidak marah. Kamu tetap tersenyum ramah. Senyum di bibir manismu masih selalu kau sunggingkan padaku tiap kali berpapasan. Sadarkah kamu bahwa yang kau lakukan itu justru membuat hatiku semakin terperangkap dalam cinta tak terbalas?
Mungkin segalanya akan lebih mudah kalau kamu marah? Kalau kamu memilih untuk bersikap tidak terima dan memasang wajah tidak ramah. Mungkin jika demikian, aku akan memilih untuk pergi dari hidupmu ketimbang harus kehilangan wajah manismu yang berhias senyuman.
Namun kamu dan senyummu selalu hadir. Kamu selalu tersenyum pada siapa saja, termasuk aku, orang yang seharusnya sudah menimbulkan rasa tidak nyaman dalam hidupmu.
Tapi ada yang lain pagi ini, aku tidak melihatmu di masjid tempat kamu biasa shalat Dhuha sebelum mulai bekerja. Aku juga tidak melihatmu di sana saat waktunya shalat Dhuhur dan Ashar. Juga tak melihatmu di kantin saat makan siang. Aku yakin kamu ada di tempat ini. Aku yakin karena aku masih menjumpai kendaraanmu di tempat parkir. Orang yang seruangan denganmu pun bilang kalau kamu masuk kerja, hanya mungkin sedang tidak ada di tempat saat aku menelpon.
Kamu di mana? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang? Tahukah kamu bahwa aku sangat merindukan senyumanmu?
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, setiap hari aku menunggumu di masjid, di tempat parkir, di kantin, juga menelponmu tiap hari. Tapi jangankan melihat senyummu, mendengar suaramu aku tidak pernah. Kamu seperti lenyap ditelan bumi. Padahal pabrik ini hanya selebar daun kelor jika dibanding dengan luasan pulau Jawa. Nabi Adam saja pada akhirnya bisa berjumpa dengan Hawa di Jabal Rahmah setelah terpisah jarak jutaan kilometer. Masa berjumpa denganmu di pabrik seluas beberapa hektar ini saja aku tidak bisa?
Minggu keempat, aku tidak tahan lagi. Kerinduanku membuncah. Aku harus bertemu denganmu entah bagaimana caranya. Sebenarnya aku bisa saja segera mendatangi ruanganmu tapi aku yakin kamu tak akan mau membicarakan masalah pribadi di ruangan kantor yang hiruk pikuk. Akhirnya aku memutuskan untuk datang bermenit-menit lebih awal dan menunggu di tempat parkir.
Seperti dugaanku, kamu datang jauh lebih pagi dari yang biasanya kamu lakukan. Tapi kali ini aku lebih pagi darimu. Kamu terkejut melihatku sudah menanti di tempat parkir favoritmu.
“Kamu menghindar ya?”, tanyaku tanpa basa-basi.
“Nggak”, jawabmu, masih dengan senyuman yang membuat hatiku menjerit pilu melihatnya. Pilu karena senyuman itu bukan hanya untukku.
“Bohong. Aku selalu menunggumu di masjid, di kantin, di sini. Tapi kamu sepertinya sudah punya ilmu menghilang”, sergahku.
Senyumanmu memudar.
“Kalau tidak begitu, kamu tidak akan bisa melupakan aku”, jawabmu pelan.
Gantian aku yang terdiam.
“Kalau tidak begitu, alasanmu pergi ke masjid adalah untuk bertemu aku, bukan untuk menghadap Allah”, jawabmu lagi. Bibirmu menyungging senyum lagi, tapi kali ini tidak ada binar bahagia di matamu.
Aku masih tak tahu harus berkata apa. Kemudian kamu melangkah pergi meninggalkan tempat parkir.
“Tunggu!”, panggilku. Kamu berhenti melangkah dan menoleh. “Aku belum siap”, kataku.
“Belum siap apa?”
“Belum siap tidak ketemu kamu”
Kamu menghela napas. “Tapi kamu harus siap menghadap Allah kapan saja Mas. Jangan sampai kamu menghadapNya di saat hatimu tidak sedang mengingatNya”
Aku terhenyak. Bibirmu tidak hanya bisa memberikan senyuman yang melelehkan hatiku tapi juga bisa mengatakan kata-kata yang menghangatkan dadaku.
“Maafkan aku”, bisikku. Maafkan aku yang telah lancang mencintaimu.
Kamu mengangguk dan tersenyum samar. Kamu seolah maklum bahwa cintaku ini adalah di luar kendaliku.
“Kita masih berteman kan?”, tanyaku lirih.
Kamu tersenyum, kali ini binar matamu kembali. “Iya lah...selamanya kita teman”.
“Kamu tidak akan menghilang lagi kan?”, tanyaku lagi.
“Insha Allah”, lalu kau melambaikan tangan sebelum akhirnya benar-benar berlalu.
Mataku berkaca-kaca. Iya, selamanya kita teman. Aku tak kan pernah bisa menjadi lebih dari sekedar teman untukmu. Ada tembok tebal yang bernama pernikahan yang terbentang di antara kita.
Tapi selain itu aku sadar, aku tak kan pernah bisa memiliki hatimu karena hatimu sudah kau berikan pada orang lain. Kamu mencintai orang lain dan tidak pernah bisa mengalihkan cinta itu padaku, orang tak tahu diri yang ujug-ujug datang menyatakan cinta. Dari awal memang sudah tidak tersisa sedikit pun ruang untukku.
Tapi aku tak menyesal. Aku telah jatuh cinta pada bidadari. Aku telah jatuh hati pada sebentuk ciptaan Ilahi dan perasaan itu pun juga muncul atas seijinNya. Untuk mengujiku. Untuk mengujimu.
Mulai sekarang, rasa ini hanya akan kubagi dengan Tuhan, karena dari Dia lah rasa ini berasal. Aku berjanji untuk tidak membicarakan perasaanku lagi padamu. Menjadi temanmu sudah cukup. Karena aku tak sanggup untuk kehilanganmu lagi seperti yang sudah lalu.
Biarlah aku menjadi temanmu, karena dengan begitu lah aku bisa tetap bertemu dan memandang indah senyumanmu.

2 komentar:

  1. Kereeen....tapi kenapa jadi ikut merasa perih ya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horeee!!! berhasil...! berhasil...! bikin yang baca jadi ikutan perih ^-^

      Hapus

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)