Sabtu, 11 Mei 2013

Catatan #3. Masjidil Haram, a Spot that Never Sleeps



Masjidil Haram adalah sebuah magnet. Hanya saja yang ditarik ke masjid suci ini tiap harinya bukan logam, melainkan jutaan manusia; besar, kecil, tua, muda, kaya, miskin, laki, perempuan. Dialah alasan mengapa milyaran manusia rela mengorbankan banyak hal demi bisa berziarah ke kota suci Mekkah. Aliran manusia dari segala arah menuju masjid dengan Ka’bah di tengahnya ini tiada hentinya; pagi, siang, sore, malam, dini hari. Debit aliran manusia akan semakin bertambah seiring mendekatnya waktu shalat. Itulah sebabnya, saya sudah berangkat menuju masjid satu jam sebelum adzan berkumandang, takut tidak kebagian shaf di dalam masjid.
Konon, shalat di masjid ini pahalanya 100 ribu kali dibandingkan dengan shalat di tempat lain. Maka tak heran jika milyaran umat muslim yang tersebar di berbagai belahan bumi berharap agar bisa melakukan ibadah di masjidil Haram.
Masijdil Haram adalah masjid yang unik. Jika masjid-masjid lain memiliki pintu masuk yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan, tidak demikian dengan masjid ini. Laki-laki dan perempuan bisa masuk bersama-sama melalui pintu manapun. Tidak ada pembedaan dan pemisahan lokasi untuk thawaf maupun sa’i.
Untungnya tidak demikian saat shalat. Tempat shalat untuk laki-laki dan perempuan tidak sama. Yang jelas, tidak ada tempat shalat untuk wanita di pelataran Ka’bah. Tapi jangan khawatir, masih ada tempat shalat untuk wanita di mana Ka’bah masih bisa kelihatan. Hanya saja tempat seperti ini tidak banyak saya temukan, dan biasanya tempat ini akan lebih dahulu penuh ketimbang ruang shalat di lantai 2 atau di basement.
Posisi shalat terdekat untuk perempuan yang masih bisa melihat Ka'bah
Ngomong-ngomong tentang tempat shalat di lantai 2 atau di basement. Kedua tempat ini juga akan dipenuhi dengan jamaah saat menjelang shalat, demikian juga dengan jalur sa’i dan pelataran masjid. Bahkan juga di tangga-tangga dan pintu-pintu. Semuanya penuh sesak dengan manusia yang hendak bersujud pada Sang Maha Pencipta.
Masha Allah.
Sayangnya, kami hanya 4 hari berada di Mekkah. Padatnya acara membuat saya tidak bisa banyak mengeksplor bagian-bagian Masjid selain Baitullah, bukit Safa dan Marwah serta pintu King Abdul Aziz yang menjadi pintu masuk terdekat dari arah penginapan kami.
Tapi Subhanallah, empat hari itu adalah 4 hari yang luar biasa. Empat hari paling tak terlupakan sepanjang sejarah hidup saya. Empat hari yang saya habiskan di sebuah tempat yang tak pernah tidur.

credit photo; google image dan Sisimaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)