Minggu, 12 Mei 2013

Catatan #6. Laskar Wanita


Sebaiknya sebisa mungkin Anda tidak berurusan dengan yang namanya laskar wanita. Seram soalnya. Pertama kali berjumpa, saya sempat ngeri juga. Berjenis kelamin perempuan, bertubuh besar, berpakaian serba hitam, bercadar, bersuara keras dan bernada membentak, terutama jika kita melakukan kesalahan seumpama shalat di tempat yang salah. Tapi beberapa lama kemudian saya terbiasa dan mulai mengerti mengapa mereka melakukan itu.
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah masjid yang dikunjungi jutaan orang tiap harinya. Mereka datang dari berbagai negara dengan berbagai bahasa dan budaya. Kalau tidak ada laskar, entah apa jadinya dengan ketertiban di kedua masjid suci ini. Orang mungkin seenaknya akan menggelar sajadah di anak-anak tangga, di jalan-jalan masuk atau lebih parah lagi, bercampur antara jamaah laki-laki dan perempuan. Untuk itulah para laskar ini ada. Mereka akan mengawasi sebuah blok tempat shalat dan menghalangi akses masuk ke tempat itu dengan tubuh besarnya jika dilihat sudah tidak ada lagi shaf yang kosong.
Melihat wujud laskar yang galak, jangan keburu berburuk sangka. Merekalah yang berperan menjaga kenyamanan beribadah para tamu Allah. Jika suatu saat mereka melarang untuk shalat di suatu tempat, itu karena memang tempat itu mungkin akses jalan umum. Namun jangan khawatir, mereka tidak hanya asal melarang tapi juga akan menunjukkan tempat lain yang bisa kita pakai untuk shalat.
Jangan takut Anda sampai tidak bisa melakukan shalat sunnah setelah thawaf di depan multazam. Sepenuh-penuhnya tempat tersebut, insha Allah para laskar ini tetap akan memberi kesempatan untuk shalat (walaupun tidak untuk berdoa lama-lama).
Satu lagi, segalak-galaknya laskar, mereka tidak akan berani mengganggu saat kita sedang shalat. Mereka akan menunggu hingga kita selesai salam, baru kemudian melakukan “pengusiran” jika kita shalat di tempat yang salah.
Selain mengenai tempat shalat, para laskar juga sangat ketat dengan barang bawaan. Kamera adalah contoh benda yang dilarang untuk dibawa masuk. Ponsel berkamera masih diijinkan untuk dibawa masuk selama di dalam tidak dipakai mengambil gambar secara berlebihan. Sebaiknya saat hendak masuk, usahakan ponsel berada di dalam saku untuk berjaga-jaga agar tidak menjadi masalah.
Jika ada laskar wanita, tentunya ada juga laskar laki-laki. Tapi saya lebih ngeri menghadapi yang wanita. Laskar laki-laki lebih halus. Caranya memeriksa barang bawaan juga tidak kasar. Caranya “mengusir” jamaah yang salah tempat shalat juga tidak membuat bulu kuduk merinding.
Tapi keberadaan laskar-laskar ini memang penting. Masjidil Haram mungkin akan menjadi masjid yang ruwet dan tidak nyaman digunakan untuk beribadah seandainya mereka tidak ada. Walaupun terlihat seram dan galak, sesungguhnya mereka lah yang punya peranan besar memanjakan tamu-tamu Allah agar lebih nyaman beribadah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)