Selasa, 18 Juni 2013

Merdeka Tanpa Huruf “L”


“Tanggal berapa hari kemerdekaan Indonesia!?”, tanyaku setengah berseru.
“17 Agustus 1945!!!”, jawab anak-anak ini tak kalah seru.
“Bu! merdeka itu opo?”, terdengar sebuah suara menginterupsi.
Glek! kenapa dia harus menanyakan itu?. “Merdeka itu artinya kita sudah bebas dari penjajah. Kita bebas bekerja dan belajar”, jawabku teoritis.
“Tapi Bu, kalau gitu, harusnya kita bebas ke sekolah to?”, bocah itu bertanya lagi.
Ho oh, kalau bebas, kenapa kita bukannya sekolah malah harus kerja?”, tukas anak yang lain lagi.
Aku termangu. Mereka memang anak-anak yang tak tersentuh program sekolah gratis atau sekolah murah. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah, bekerja membantu orang tua, dan harus puas dengan belajar bersamaku di tempat ini, bangunan semi permanen di bantaran sungai.
“Maksud Ibu, di negara kita ini sudah tidak ada lagi orang-orang asing yang seenaknya berbuat sesuka hati. Sebab, kalau belum merdeka, kita tidak mungkin bisa bebas belajar di sini”, jawabku lagi, berharap mereka berhenti bertanya.
***
Aku selesai mengajar agak terlambat sore itu. Tergopoh-gopoh aku turun dari angkot yang mengantarkanku hingga ke mulut salah satu gang di Surabaya.
“Lho, kok sore banget datengnya? Nggak siap-siap to?”, seseorang menyapaku.
Iyo Mbak, ini kudu cepet-cepet makanya”, jawabku dengan langkah bergegas.
Setelah mandi, kulakukan ritual rutinku.
Kusingkirkan kaus lengan panjang dan rok panjang yang tadi kukenakan, berganti tank top dan rok super mini. Tak kuhiraukan jilbab yang sesiangan tadi kupakai mengajar, berganti sebuah kotak make-up berisi riasan aneka warna.
Terakhir, kuusir bayangan murid-muridku yang lucu lugu, berganti wajah-wajah pria yang memandangi tubuhku dengan bola mata seakan hendak meloncat.
Jika di siang hari aku adalah Lastri, guru anak-anak putus sekolah. Sekarang, aku adalah Astri, tanpa huruf L, salah satu warga gang Dolly.
Terngiang tanya muridku siang tadi; “Bu, merdeka itu opo?”.
“Merdeka adalah ketika kamu bebas menempelkan huruf “L” pada namamu”, jawabku dalam hati sambil tersenyum getir.

-selesai-

1 komentar:

  1. jujur aku baru tahu ini flash fiction, kukira masih termasuk cerpen. hehe... 2 thumb mbak :) bikin lagi yak...

    BalasHapus

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)