Rabu, 19 Juni 2013

Catatan #8. Belajar Dari Sumur Zamzam



Sumur zamzam adalah sebuah mukjizat. Seharusnya sumur zamzam layak dikatakan sebagai salah satu keajaiban dunia.
Betapa tidak, dari satu sumur saja, memancarlah air yang tiada habisnya. Walau air dari sumur itu diambil terus-menerus, menjadi pemuas dahaga triliunan manusia, mulai dari sejak ia ditemukan hingga kini.
Semua orang Muslim pasti tahu sejarah yang mengawali adanya sumur zamzam. Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari cerita tentang Ibunda Nabi Ismail yang berlarian dari bukit Shofa dan Marwah demi mencari air untuk sang bayi. Cinta Ibu, kepasrahan pada Allah, kegigihan dalam berjuang dan yang pasti cinta Allah pada hambaNya yang tak kenal putus asa.
Sejarah sumur zamzam ini hingga kini terus diabadikan dalam ritual sa’i, yakni berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Pada kenyataannya, lari-lari kecil hanya dilakukan di antara 2 pilar yang ditandai dengan deretan lampu hijau terang. Jarak dua pilar ini panjangnya mungkin hanya sekitar 50 meter, hanya 10% dari jarak antara bukit Shofa dan Marwah. So, total jarak yang ditempuh kala sa’i adalah sekitar 3500 meter alias 3.5 kilo. Jauh ya? Lumayan capek pastinya. Saya jadi terbayang bagaimana beratnya perjuangan Ibunda Nabi Ismail saat harus bolak-balik dari bukit Shofa ke Marwah, dari Marwah ke Shofa, terus diulang dan diulang lagi hingga 7 kali, dengan kondisi alam Arab Saudi yang berbatu, berdebu dan panas menyengat. Subhanallah....Sementara saya yang bersa’i dalam kondisi medan yang berkeramik dan berkipas angin dengan deretan kran air zam-zam di mana-mana saja sudah merasa kelelahan. Astaghfirullah...
Oke, balik ke sumur zamzam. Saya sendiri tidak melihat bagaimana aslinya bentuk sumur zamzam. Saat sedang umrah yang lalu, kompleks Masjidil Haram sedang mengalami renovasi demi menyambut tamu-tamu agung Allah saat musim Haji nanti. Namun secara tidak sengaja, seusai sa’i, karena jalan pulang yang seharusnya kami lewati ditutup karena proyek perbaikan, kami menjumpai lokasi sumur zamzam karena kami terpaksa mengambil jalan memutar. Hanya saja, lokasi sumur zamzam tidak bisa disambangi para peziarah. Yang bisa kami lihat adalah segundukan bebatuan yang dilingkupi dengan pagar kaca. Kami tahu di situ adalah lokasi sumur zamzam karena tulisan yang tertempel di salah satu sudut pagar kaca.
Tidak bisa melihat langsung sumur yang paling terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia itu tidak lantas membuat kami kecewa. Sebab kekecewaan kami telah digelontor oleh jutaan liter air zamzam yang mengalir tiap harinya di seantero kompleks Masjidil Haram.
Lihat saja di halaman Masjid. Di sana, kita akan menemui deretan kran-kran yang sudah tersambung dengan mata air zam-zam. Untuk bisa meminumnya pun tidak perlu dirisaukan. Pemerintah Arab telah menyediakan gelas-gelas plastik untuk mereka yang ingin langsung meminum air zamzam. Bagi yang ingin membawa pulang ke penginapan, juga bisa melakukannya dengan membawa botol atau jerigen
Tak perlu kuatir saat masuk ke dalam Masjidil Haram. Di dalam masjid pun sudah disediakan puluhan dispenser yang diletakkan di banyak titik tempat shalat. Rasanya? Jangan khawatir. Dingin dan segar. Dingin? Betul, dingin seperti ada esnya, karena memang di dalamnya sudah diberi es batu yang juga dibuat dari air zamzam. Untuk mereka yang tidak suka dingin, bisa mengambil air zamzam dari dispenser yang bertuliskan NOT COLD. Saya sendiri selalu meletakkan botol ukuran 500 cc dalam tas dan selalu memastikan isinya penuh saat keluar dari Masjid. Agar selama di penginapan, air yang saya minum adalah air suci. Mumpung di Mekkah pikir saya J
Sempat sekali saya merasakan kekecewaan yang sangat sehubungan dengan air zamzam ini. Seusai thawaf Wada’, yang artinya sebentar lagi kami akan meninggalkan kota suci Mekkah, saya tidak sempat mengambil air zamzam untuk terakhir kalinya. Botol air minum saya pun saat itu sudah kering kerontang, namun muthawwif mengajak kami segera kembali ke penginapan untuk berkemas-kemas karena bis yang akan membawa kami ke Madinah sudah menunggu sejak lama. Namun betapa girangnya hati ini manakala di Masjid Nabawi, kami mendapati deretan dispenser yang sama dengan yang kami lihat di Masjidil Haram. Apalagi ketika sang guide mengatakan bahwa isi dispenser-dispenser itu juga air zamzam yang didatangkan langsung dari Mekkah dengan menggunakan truk tangki.
Alhamdulillah...terima kasih pemerintah Arab...belum pernah saya sedemikian terharu dengan hanya melihat dispenser yang berderet-deret :’)
***
Air zamzam adalah salah satu topik pembicaraan yang menarik selama kami berumrah. Bayangkan saja, jutaan manusia mengunjungi Masjidil Haram dan jutaan lainnya mengunjungi Masjid Nabawi, tiap hari. Semua manusia ini bisa dipastikan akan turut menggunakan air suci ini sebagai pelepas dahaganya selama berada di Masjid maupun saat keluar Masjid. Tak terhitung berapa banyaknya botol air minum, gelas dan jerigen yang kembung terisi air zamzam tiap harinya. Tak terhitung berapa banyaknya galon air zamzam yang diproduksi di pabrik zamzam sebagai oleh-oleh para jamaah sepulang dari tanah suci (kami masing-masing mendapat 10 liter air setibanya di tanah air). Dan itu terus berlangsung dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, hingga sekarang. Tapi nyatanya, sumur zamzam tak pernah kering.
Sumur zamzam seakan diciptakan Allah untuk mengajari manusia akan beberapa hal perihal pemberian.
Satu. Jika apa yang kita miliki kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana sumur zamzam memberikan airnya pada orang-orang yang dahaga, maka harta yang kita miliki tak akan pernah mengering. Alquran pun sudah menyebutkan hal ini di beberapa ayat.
Dua. Memberi sebaiknya tidak perlu memandang siapa yang diberi, sepanjang yang bersangkutan memang membutuhkan. Sumur zamzam tidak pernah memilih hendak memberikan airnya pada siapa. Jutaan manusia aneka rupa bebas meminum air zamzam; tua, muda, kaya, miskin, laki, perempuan, artis, dokter, buruh, tukang becak, hitam, putih, pendek, tinggi, kurus, gemuk. Tak ada pengecualian dan kriteria khusus siapa saja yang boleh meminum air zamzam. Bahkan ketika dibawa pulang ke tanah air, mereka yang bukan pemeluk agama Islam pun boleh dan bisa jadi membawa manfaat jika meminum air zamzam.
Subhanallah, masa suci Engkau yang telah menghadirkan sumur zamzam sebagai sebuah pelajaran.

Kota suci
Ingin rasanya menginjakkan kaki sekali lagi
Masjid suci
Kangen rasanya bersujud, berthawaf dan bersa’i
Air suci
Rindu rasanya mencecap segarmu usai dahaga sepanjang hari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)