Sabtu, 11 Juni 2011

Mengatasi Anak(ku) Yang Tantrum

Duh Gusti, bolak-balik aku musti nyebut sambil mengelus dada menghadapi tingkah gadis kecilku yang tiba-tiba punya hobi teriak-teriak (bahasa kerennya tantrum). Nggak jelas kapan dan bagaimana tepatnya dia mulai punya kebiasaan seperti itu, yang jelas tiap kali keinginannya tidak dituruti atau menghadapi hal yang tidak cocok di hatinya, maka mulailah dia menangis sambil teriak-teriak. Dan teriakannya itu bisa terdengar hingga seantero kompleks perumahan. Bayangkan bagaimana malunya dan bayangkan pula betapa keras volume teriakannya seandainya dia teriak di dalam rumah? Pastinya setiap gendang telinga yang terpapar suara teriakannya akan langsung berdenging, “Nginggg...”.

Ya sebenarnya aku tidak sepenuhnya menyalahkan putriku atas tabiatnya yang seperti itu karena sepertinya sifat itu diwarisinya dari aku. Aku seperti berkaca melihat kelakuannya karena sedikit banyak sifatnya itu mirip dengan ibunya yang memang suka meledak-ledak emosinya (terutama jika sedang marah). Hanya saja di usiaku yang sudah 30 sekian ini, sudah barang tentu aku telah banyak belajar bagaimana mengendalikan diri. Hoho...

Oke balik ke masalah putriku. Segala macam cara sudah kucoba untuk menghilangkan kebiasaannya itu. Mulai dari cara yang selembut tepung terigu sampai sekasar kertas gosok. Mulai dari menasehatinya baik-baik, memberi hadiah, mengancam, menguncinya di kamar sampai menampar. Memang beberapa saat cara-caraku berhasil, tapi beberapa hari kemudian, kebiasaan itu mulai muncul lagi. Aku jadi semakin bingung, belum lagi hilang rasa bersalahku karena menyakiti fisik putriku karena aku pernah menamparnya, aku sudah dibuat pusing dengan tantrumnya yang tersu menerus berulang.

Aku mulai putus asa, hingga aku teringat isi sebuah buku parenting tentang bagaimana mendisiplinkan anak-anak. Caranya adalah dengan mencabut hak mereka atas hal yang mereka sukai. Biar aku ceritakan sepintas bagaimana metode yang diajarkan penulis buku itu. Setiap anak pasti punya suatu hal yang menjadi kesukaannya, bisa dalam bentuk mainan kesukaan, buku kesukaan atau snack favorit. Nah, setiap kali sang anak melanggar suatu aturan yang sudah disepakati bersama antara orang tua dan anak, maka si anak akan kehilangan haknya untuk menikmati hal yang disukainya itu. Jadi misalnya si anak melewatkan kewajibannya membantu orang tua membuang sampah dengan sengaja, maka dia akan kehilangan hak untuk main video game.

Aku mulai berpikir untuk menerapkan metode itu untuk mengatasi tantrumnya putri sulungku. Hanya ada satu masalah, aku kebingungan menentukan apa yang disukai anakku. Apa ya kira-kira privilege yang bisa kujadikan alat tawar menawar agar putriku mau menghentikan kebiasaan tantrumnya? Aha, aku tahu...memang butuh waktu agak lama untuk menyadarinya, putriku sangat suka dikeloni. Ya, akan sangat menyakitkan baginya jika aku menolak menidurkannya sebagai hukuman karena dia berteriak.

Kesempatan untuk mempraktekkannya datang tidak lama. Saat si Mbak melaporkan bahwa hari itu dia berteriak di lapangan bermain, malam itu juga aku membiarkannya tidur sendiri. Aku menolak tidur satu kasur dengannya dan lebih memilih tidur di bawah bersama si adik. Aku berjanji untuk kembali tidur dengannya esok hari jika esok dia tidak lagi berteriak. Sebelumnya, anakku memang minta maaf dan aku bilang aku memaafkannya, tapi itu tidak bisa menghapus hukumannya, malam itu dia harus tidur sendiri tanpa dikeloni. Sebenarnya tidak tega juga melihat dia tampak begitu terpukul atas keputusanku. Butuh waktu lama baginya untuk bisa tertidur karena dia tidak biasa tidur tanpa ditemani. Setelah aku yakin dia nyenyak, aku yang sedari tadi menahan perasaan tidak tega kemudian memeluk dan menciumnya sambil membisikkan betapa aku sangat mencintainya (tentu saja dia tidak sadar karena dia sudah di alam mimpi).

Di hari lain di minggu yang sama, aku mengulangi metode tersebut sekali lagi. Dan hasilnya sekarang tantrumnya sembuh. Dia tidak lagi gemar berteriak dan bersikap jauh lebih manis. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kebiasaan buruknya menghilang sebagaimana aku tidak tahu bagaimana dia muncul. Bisa juga karena putriku mulai bisa mengendalikan diri atau karena dia tidak mau kehilangan hak untuk dikeloni ibunya. Yang jelas, aku tidak perlu menghukumnya dengan hukuman fisik, membentaknya, mengancamnya atau menguncinya di kamar sebagaimana metode Nanny 911 yang pernah kulihat di Metro TV.

Walaupun melakukan itu (mengambil hak anakku untuk dikeloni) adalah hal yang sangat berat sebenarnya, tapi aku harus melakukannya demi menyembuhkan kebiasaan buruknya. Kupikir akan lebih sulit menghilangkan kebiasaannya jika dia sudah lebih dewasa kelak.

Sebelum kebiasaannya hilang, ada satu hal yang tetap menjadi pedomanku setiap kali harus menghadapi tantrumnya yang sedang kumat. :”She’s doing that because of a reason”, makanya aku harus cari tahu dulu mengapa dia melakukan itu, apa yang dia rasakan sehingga aku tidak terburu-buru mengecapnya sebagai anak yang nakal. Dengan demikian aku terbantu untuk mengelola emosi agar tidak ikut berteriak dan menambah runyam keadaan.

Gambar diambil dari sini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)