Minggu, 22 September 2013

Dalam Ilusi



Burung alap-alap tak pernah berharap
Untuk menjadi penghuni samudra
Menyelam ke dalam laut biru
Menyapa kerang dan udang satu-satu
Karna dalam ilusinya yang indah hanyalah langit
Tempat ia menanti mentari tenggelam dan terbit

Air di danau tak pernah berhasrat
Untuk menjadi pepohonan di darat
Tempat bersemi kuncup-kuncup bunga
Dan disambangi serangga aneka rupa
Karna dalam ilusinya yang indah hanyalah telaga
Yang memantulkan busur pelangi dan alam raya

Biarkan aku menjadi alap-alap dan air telaga
Yang tak peduli gelora samudra dan seisinya
Juga tak acuh akan dedaunan yang berubah warna
Karna dalam ilusiku yang indah hanyalah kamu
Yang bersedia menerimaku tanpa ragu
Sementara yang lain hanyalah indah yang semu

ditulis untuk lelakiku

Catatan: Puisi ini adalah benang merah untuk cerita pendek "Pintu Besi", yang sekarang sedang menunggu untuk terbit dalam buku antalagi Cerita Puisi bersama @lembarpuisi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)