Sabtu, 27 Juli 2013

Pulang




Dini hari. Seperti kemarin, kemarinnya lagi dan kemarin-kemarin sebelumnya, aku terjaga sebelum alarm penanda waktu Shubuh menyalak. Kelopak mata ini sulit terpejam lagi, padahal mentari belum juga muncul menyinari bumi Hong Kong. Ya, Hong Kong, bukan di Indonesia, bukan di pulau Jawa, bukan di Blitar, bukan di desa kecil tempat lima buah hatiku sekarang berada.
Hampir dua tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman. Waktu itu, Firdaus, si sulung baru kelas 3 SD. Adik bungsunya, Azimat, baru 1 tahun lebih sedikit.
Waktu itu memang banyak orang yang mencela keputusanku untuk meninggalkan seorang bayi yang masih menyusu. Tapi tahukah mereka apa yang kualami? Tahukah mereka bagaimana rasanya ketika tumpuan hidupmu tiada? Terlebih lagi, ketiadaannya itu meninggalkan 5 jiwa berusia muda, dengan hanya aku satu-satunya bentuk organisme dewasa yang menjadi harapan mereka. Sementara aku sendiri, belum pernah merasakan arti frasa “mencari-uang”.
Aku memang bukan orang yang tidak pernah mencicipi sekolah. Ketika menamatkan SMA, angka 10 bulat untuk Matematika dan Bahasa Inggris bertengger di surat tanda kelulusanku. Sayangnya, surat lulus itu tidak pernah dipakai untuk mendaftar ke jenjang pendidikan berikutnya.
Takdir telah menempatkan aku menjadi anak sepasang petani miskin di sebuah desa kecil di kabupaten Blitar, Jawa Timur. Seperti kebanyakan anak-anak gadis seusiaku di desa kecil itu, aku dijodohkan dengan seorang pemuda, anak orang yang cukup berada, dari kabupaten tetangga, Jombang.
Doktrin agama yang sudah dicokolkan dalam kepalaku untuk selalu patuh pada orang tua membuatku tidak punya pilhan lain selain menyetujui rencana perjodohan itu. Walau itu berarti aku harus mengubur dalam-dalam impianku untuk menjadi guru.
Dengan menikah, orang tuaku berharap kehidupanku bisa lebih baik. Namun keinginan itu nyatanya hanyalah tinggal impian yang dibawa ke dalam kubur. Cakram kehidupan yang terus berputar menempatkan kondisi ekonomi rumah tangga kami di titik terbawah. Usaha keluarga suamiku di bidang pertanian dan perkebunan bangkrut. Suamiku berhutang sana-sini dan akhirnya meninggal karena kecelakaan saat lari menghindari penagih hutang, tepat ketika anak kelima kami melihat dunia untuk pertama kalinya. Tak tahan melihat kenyataan yang menimpa putri mereka, orang tuaku pun akhirnya meninggal tak lama kemudian.
Selama satu tahun berikutnya, aku bagaikan ikut mati. Ingin rasanya menyusul ke alam baka sehingga aku tidak perlu bingung memikirkan bagaimana caranya aku dan kelima anak kecil ini bertahan hidup. Tapi nyatanya aku tidak mati-mati juga, sehingga mau tidak mau aku mulai berpikir untuk berbuat sesuatu. Sayangnya, perempuan seusiaku,  yang hanya berbekal ijazah SMA dan tidak punya pengalaman kerja, tidak punya banyak pilihan.
Melihat Firdaus dan Rara yang terancam putus sekolah serta tubuh adik-adik mereka yang kurus kering karena kurang gizi membuat aku memutuskan untuk menjadi TKW. Aku melihat Hong Kong sebagai sebuah pintu harapan yang masih terbuka. Roda nasib akhirnya membawaku ke sini, di sebuah apartemen di jantung pulau Hong Kong. Aku menjadi pembantu rumah tangga merangkap pengasuh di sebuah keluarga kecil dengan dua anak berusia 9 dan 5 tahun.
Keberuntungan mulai berpihak padaku. Aku bekerja pada sepasang suami istri yang taat beragama. Sungguh bersyukur rasanya mendapat majikan seperti mereka. Walaupun ritual ibadah dan keyakinan kami berbeda, namun mereka bersikap baik pada orang asing seperti aku. Mereka tidak pernah melarang aku mengerjakan shalat. Tidak pernah melarang aku berjilbab. Tidak pernah melarang aku berpuasa.
Anak-anak mereka pun adalah anak yang baik. Andrew dan Raymond. Mereka menjadi pelarian rasa rinduku terhadap buah hatiku yang tidak bisa kupeluk dan kupandangi tiap hari. Andrew, si kakak yang waktu pertama kali bertemu masih berusia 7 tahun bahkan kemudian sangat senang belajar bersamaku. Dia bilang pada ibunya bahwa aku pintar matematika dan setiap hari selalu minta ditemani belajar.
Majikanku tampak senang karena aku tidak pernah bertingkah aneh-aneh. Alih-alih keluar rumah, waktu liburku kupakai untuk ikut membaca buku-buku bacaaan anak-anak yang berbahasa Inggris (aku belum bisa membaca huruf Cina). Melihat itu, majikanku meminjamkanku buku-buku bacaan untuk kubaca di waktu libur. Sesekali, waktu liburku juga kupakai untuk mengunjungi Islamic Center, karena di tempat itu biasanya kerap menjadi tempat pengajian saat libur nasional.
Hong Kong mulai menjadi titik harapan. Setiap bulan aku bisa mengirim 3-4 juta rupiah ke rumah bapak ibu mertuaku. Memang tidak banyak, tapi itu lumayan untuk membantu biaya hidup mereka ber-7 dan biaya sekolah anak-anak. Jauh lebih mendingan daripada jika menjadi pembantu rumah tangga di tanah air yang hanya dibayar paling banyak 800 ribu-1 juta rupiah.
Namun uang itu bukannya tanpa pengorbanan. Aku melewatkan momen tumbuh kembang dan masa kecil anak-anakku. Aku terpaksa menyerahkan pengasuhan mereka di tangan kakek nenek yang sudah mulai renta. Aku terpaksa kehilangan kesempatan untuk mengukir kenangan di awal-awal kehidupan mereka.
Namun aku harus memilih; melihat anak-anakku tumbuh menjadi anak yang kurang gizi dan putus sekolah atau melintasi Borneo dan Laut Cina Selatan demi menjadikan mereka anak-anak yang berani punya impian. Aku memilih yang kedua, agar anak-anakku tidak berakhir seperti aku, menjalani hidup di jalur yang tidak sesuai dengan panggilan hati.
Kini aku di sini, menatap kosong pada jam dinding yang baru menunjukkan pukul 4 dini hari. Sudah beberapa hari ini begini, bangun di pagi buta dengan perasaan gelisah. Sebongkah resah memang menggelayut di pikiranku akhir-akhir ini. Beberapa minggu lagi kontrak kerjaku akan berakhir. Aku harus segera memutuskan untuk melanjutkan kontrak atau berhenti bekerja.
Sejujurnya aku ingin...kata ini seolah menjadi hantu bergentayangan di kepalaku selama dua tahun ini...pulang. Seluruh jengkal kulit dan setiap serabut sarafku merindukan anak-anak yang selama ini hanya bisa kutemui lewat mimpi. Seperti apa Azimat sekarang? Apakah Rara, satu-satunya anak perempuanku, sudah bisa membantu menjaga adik-adiknya?
Tapi jika aku pulang ke desa, lantas apa yang bisa kukerjakan? Menjadi pembantu lagi? Menjadi guru les privat? Opsi kedua tampak lebih masuk akal. Aku bisa berhijrah ke Surabaya untuk mencari murid sekolah dasar yang membutuhkan les privat Matematika dan Bahasa Inggris. Surabaya dan kampungku hanya terpisah 6 jam perjalanan darat. Tidak dekat memang, tapi setidaknya aku tidak perlu menyeberang laut.
Ah, tapi itu berarti aku harus memulai dari nol lagi. Sedangkan di sini penghasilanku sudah lumayan. Majikanku bahkan berkata akan menambah gajiku karena melihat aku rutin menjadi guru bagi kedua anak mereka, juga bagi sepupu mereka yang kerap dititipkan di apartemen untuk belajar bersama Andrew dan Raymond.
Bayangan Firdaus, Rara, Iqbal, Ibrahim dan Azimat bersliweran di kepalaku. Ibu mertuaku jelas-jelas memohon agar aku jangan pulang dulu. Permohonannya beralasan. Selama dua tahun ini, kehidupan mereka sudah sinambung berkat uang kirimanku tiap bulan, walau tidak bisa dibilang hidup berlebih.
Aku menghela napas dengan susah payah. Kerinduan akan kampung halaman sudah seperti sebongkah bisul yang siap meletus. Tak tertahankan. Namun, mana tahan juga aku melihat mereka menderita karena suplai biaya hidup mereka terpaksa terhambat karena aku berhenti bekerja?
Aku berhenti melamun dan melirik kalender. Hari ini adalah hari libur nasional, sekaligus hari libur bagi kami para TKI. Sejurus kemudian aku ingat hari ini ada pengajian di Islamic Center. Mungkin pergi ke sana bisa membuatku mendapatkan pencerahan dan akhirnya bisa memutuskan harus berbuat apa.
***
Ada pemandangan yang tidak biasa di Islamic Center hari ini. Sekelompok orang tampak mengerubuti seorang pria berwajah oriental sambil memberi ucapan selamat. Bisik-bisik di sekitarku menyebutkan bahwa orang itu baru saja menjadi muallaf hari ini.
Ternyata muallaf itu adalah orang yang kukenal, Richard Yuen Ming-fai, ayah Susie. Susie adalah sepupu anak majikanku yang selama ini juga ikut belajar bersama Andrew dan Raymond. Richard adalah single parent dengan satu anak berusia 5 tahun ketika bercerai dengan istrinya 4 tahun yang lalu. Selama ini kami jarang berbicara, hanya sepintas menyapa saat dia mengantar atau menjemput anaknya di apartemen majikanku.
“Dewi!”, panggilnya begitu dia menyadari kehadiranku. “Aku sudah menduga kamu bakal ke sini hari ini”, ujarnya riang.
Aku pun menghampirinya, “Alhamdulillah, kabarnya hari ini sudah jadi muallaf”
“Alhamdulillah, aku sudah pikirkan ini sejak lama. Aku punya beberapa teman muslim. Dari mereka saya banyak belajar. Tapi sesungguhnya pemicunya adalah kamu”
“Saya?”, rahangku melorot tanda heran.
“Aku kagum padamu. Aku tahu hidupmu tidak mudah. Ada 5 anak yang kamu tinggalkan jauh di seberang lautan sana. Tapi aku melihatmu tabah luar biasa, padahal kamu tidak punya siapa-siapa di sini. Aku bertanya-tanya apa yang membuatmu bisa sekuat itu. Uang? Kekasih? Saudara? Sepertinya bukan itu semua. Lantas aku sadar kamu hanya punya Tuhan, yang biasa kau sebut Allah. Kamu membuatku ingin mengenal Sang Penguatmu lebih jauh. Aku banyak berdiskusi dengan teman-temanku yang muslim dan lantas memantapkan hati untuk bersyahadat di sini”. Penjelasan Richard membuat sebersit keharuan menyusup dalam hatiku.
“Kamu jadi kembali ke Indonesia?”, tanyanya tiba-tiba. “Kontrakmu sebentar lagi habis kan? Lily bilang sebenarnya dia berat melepas kamu”. Lily Tam Kam-lan adalah nama majikanku, kakak Richard.
“Iya, saya masih belum memutuskan. Sebenarnya saya rindu anak-anak, tapi...”, aku terdiam berusaha mencari kata-kata yang pas untuk melanjutkan.
“Tidak hanya Lily, aku juga berat melepas kamu”, tanpa permisi dia melanjutkan kalimatku. Bola mataku membulat, tanda tak percaya pada apa yang kudengar. Belum juga aku bertanya, dia sudah melanjutkan.
“Pulanglah ke Indonesia untuk beberapa minggu. Setelah itu kembalilah ke sini dan tinggallah 2 tahun lagi. Kemudian, aku akan ikut kamu kembali ke Indonesia menemui anak-anakmu. Aku hendak minta ijin pada mereka”.
“Minta ijin anak-anak saya? Untuk apa?”, aku menatapnya tak mengerti.
“Untuk menjadi ayah baru mereka”, jawabnya cepat.
Rahangku yang semenjak tadi melorot kini jatuh hingga ke lantai. Menjadi ayah anak-anakku? Orang ini bicara apa sih sebenarnya? Kok bisa seenaknya dia membuat rencana yang melibatkan hidup dan masa depanku?
“Maaf, sebenarnya belum waktunya aku berkata begitu. Semakin aku yakin hendak bersyahadat, semakin aku tidak bisa berhenti memikirkan kamu. Aku yakin kamu pasti tidak akan percaya. Seharusnya aku mengatakan ini nanti, saat aku sudah berkesempatan untuk menunjukkan kesungguhanku. Tapi Lily bilang kontrakmu akan berakhir sebentar lagi dan aku takut kamu memutuskan untuk pulang”
Ah, pulang, kata itu kembali menusuk ulu hati, terus menembus kerongkongan dan membuatku tak bisa menahan air mata. Sungguh, aku ingin pulang. Aku kangen. Tapi rentetan kata-kata dari mulut seorang lelaki yang selama ini jarang bertegur sapa denganku membuat aku samar-samar melihat sebuah kata lain, keluarga. Lelaki ini membuatku mengangankan dua kata itu bisa melebur bersatu.
“Tapi saya hanya seorang pembantu”, aku berbisik lirih di sela isak yang sekuat hati kutahan. Aku tak mengira dia mendengar bisikanku.
 “Kamu berbeda Dewi. Kamu istimewa”, katanya singkat, membuat isakku tak lagi terbendung. “Kuharap kamu mau kembali untuk membuktikan bahwa aku tidak main-main”, kalimat itu mengakhiri perbincangan kami hari itu. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan pada Richard selain berterima kasih.
Di dalam bis kota, aku memandangi jalan-jalan pulau Hong Kong dengan pikiran melayang-layang.  Kejadian hari ini terlalu too good to be true. Segala hal yang too good to be true hanya ada di film-film. Tapi bukankah hidup ini memang sebuah film hasil besutan Sang Sutradara yang Maha Agung?
Kejadian barusan memang seperti mimpi kanak-kanak yang muncul dari dalam buku-buku fantasi. Tapi bukankah Tuhan menciptakan dua kaki agar satu kaki bisa berdiri di negeri impian dan satunya lagi menapak di negeri realita? Seimbang antara mimpi dan kenyataan.
Aku menyadari selama ini aku terlalu terpaku pada segenap kenyataan pahit yang kualami. Lebih dari 3 dekade masa hidupku kuhabiskan dengan menelan pil pahit satu demi satu hingga tak lagi berani berharap bisa menelan gula-gula. Selama ini aku hanya mengikuti ke mana arus membawaku tanpa berani memilih sungai mana yang kelak akan membawaku ke samudra bebas.
Kembali di kamar mungilku di apartemen, aku membuka sebuah buku yang kupakai untuk merekam sejarah hidupku. Aku menuliskan sebuah tanggal, sebuah nama bulan dan bertahun 2 tahun setelah tahun ini, hanya satu kata yang kutulis di sana dengan huruf kapital; PULANG.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)