Minggu, 14 Juli 2013

Perahu




 Perahu kecil itu tak salah
Jika matanya memandang ke arah cakrawala
Luas membentang menawarkan kebebasan
Sementara dirinya sendiri terikat erat

Perahu kecil itu tak salah
Jika telinganya mendengar gemuruh debur ombak
Bercampur cericit burung camar dan lumba-lumba
Seolah memanggilnya untuk kembali berpetualang

Perahu kecil itu tak salah
Jika hidungnya mencium aroma penghuni samudra
Yang dibawa oleh hembusan angin dari utara
Membuatnya ingin kembali menjadi sang penjelajah

Perahu kecil itu tak salah
Jika ia ingin kembali pada samudra
Dilamun gelombang dan menyapa karang
Tapi ia tahu semua tlah jadi kenangan

Baginya samudra adalah petualangan
Tempat raganya menghabiskan masa muda
Baginya tempatnya kini adalah di sisi dermaga
Rumah jiwanya bersemayam hingga akhir usia

Catatan; Puisi ini adalah benang merah untuk cerpen Dermaga dan Samudra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)