Kamis, 11 April 2013

Ibu dan Taekwondo



Jasmine melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia merasa saat ini waktu berjalan sangat lambat, demikian juga travel yang sedang ditumpanginya dari Malang menuju kota kelahirannya, Surabaya. Sebenarnya Jasmine tidak suka naik travel. Tapi kali ini dia harus, sebab dia tidak ingin benda yang semenjak tadi didekapnya seperti mendekap bayi baru lahir, rusak karena tergencet kepadatan penumpang bis ekonomi.
Benda itu terbuat dari akrilik berwarna bening dan berbentuk figur manusia yang sedang menendang. Satu kakinya terangkat sedemikian hingga dengan kaki satunya lagi membentuk sudut nyaris 180 derajat. Itu trofi kejuaraan taekwondo yang baru saja dimenangkannya.
Bagi Jasmine, trofi itu bukan sekedar trofi biasa. Walaupun di bagian kaki patung tertulis; Juara I Kejuaraan Wilayah Taekwondo, namun sebenarnya trofi itu adalah alat bantu untuk sebuah hal yang ingin ia buktikan pada Ibunya.
Sejak dulu Ibu menentang keinginannya ikut bela diri. Ibu selalu bilang, anak perempuan tidak cocok main silat-silatan. Akhirnya saat kelas 1 SD, Ibu memasukkannya ke sanggar ballet karena tidak tahan terus-terusan mendengar rengekan Jasmine yang ingin ikut bela diri. Memang tidak sama, tapi  setidaknya bellet bisa membuat Jasmine berhenti merengek dan melupakan keinginannya berlatih bela diri.
Jasmine menekuni ballet secara konsisten hingga lulus SMA. Setelah lulus, Jasmine terpaksa berpamitan dengan pelatih balletnya. Dia harus pindah ke Malang, menempuh studi di Universitas Brawijaya.
Beberapa bulan tidak berlatih ballet, tubuh Jasmine berontak. Tubuh yang sepuluh tahun lebih ditempa di studio ballet itu sering terasa pegal, otot-otot dan persendiannya kaku. Jasmine tahu dia harus segera menemukan tempat untuk berlatih olah tubuh lagi.
Pucuk dicinta ulam tiba, hari ini ada demo UKM-UKM Unibra. Ini adalah hajatan tahunan UKM Unibra seusai hingar bingar penerimaan mahasiswa baru. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk menarik bibit-bibit baru dari mahasiswa tingkat satu.
Mata Jasmine berbinar manakala aksi UKM bela diri dimulai. Karate, Pencak Silat, Judo, semuanya menarik. Saat itulah ia ingat bahwa bela diri adalah hal yang diinginkannya sejak dia masih makan disuapi. Tapi Jasmine belum memutuskan mau memilih yang mana. Tibalah saat UKM Taekwondo beraksi. Mereka memainkan aksi memecahkan papan kayu dengan tumit kaki. Kelak Jasmine akan tahu bahwa gerakan itu dinamakan kyukpa.
Setelah kyukpa, seorang mahasiswa senior berpakaian putih dan bersabuk merah maju ke tengah, memeragakan gerakan-gerakan Taekwondo seorang diri. Dia menendang, menangkis, menyabet, seolah di hadapannya ada lawan imajiner. Gerakannya bertenaga, namun lentur, mengalir seperti orang menari. Jasmine benar-benar terpukau. Menurutnya gerakan itu sungguh indah, sama dengan saat dia melihat ballet, tapi yang ini tanpa iringan musik klasik.
Gerakan-gerakan itu, yang disebut poomsae, di mata Jasmine membuat pelakunya seolah bergerak secara harmoni dengan alam di sekitarnya. Jasmine seakan melihat aliran udara di sekitar anggota tubuh sang senior. Poomsae membuat mata Jasmine memfantasikan tempat itu bukan lagi plaza sebuah universitas, melainkan sebuah padang rumput dengan latar belakang pepohonan hijau. Detik itu juga, Jasmine memutuskan untuk bergabung dengan UKM Taekwondo.
Tapi Ibu keberatan, saat Jasmine menelfon mengabarkan telah bergabung dengan UKM Taekwondo. “Kenapa harus bela diri? Lainnya kan bisa, kamu kan bisa pilih UKM Basket atau Volley atau apalah, yang penting bukan silat-silatan”, begitu komentar Ibu.
“Ini Taekwondo Bu, bukan silat”
“Sama saja. Perempuan nggak cocok main silat, Jas”, entah kenapa Ibu seakan menghindar menyebut kata Taekwondo. Jasmine menghela napas, “Senior perempuan yang ikut Taekwondo banyak kok Bu, mereka hebat-hebat lho”.
Merasa alibi gendernya sudah runtuh, Ibu mengganti alasannya. “Olahraga silat itu berbahaya. Kamu bisa luka nanti”
Dengan sabar, Jasmine berusaha menjelaskan; “Ibu masih ingat kan waktu kaki Jasmine keseleo gara-gara latihan ballet? Jasmine bisa cedera kapan saja. Mau olahraga lainnya, basket, renang, volley juga sama aja resikonya. Namanya juga gerak tubuh. Tidur aja beresiko, apalagi olah raga”
“Iya Jas, tapi bela diri resikonya lebih tinggi. Gimana kalau gigi kamu rontok kena tendangan? Atau dada kamu memar kena pukulan?”
“Tenang aja Bu, kami kan pakai gum protector kok, terus juga pake baju pelindung. Ayolah Bu, ngga usah paranoid gitu. Jasmine kan niatnya olah raga, ini badan Jasmine kaku semua karena udah lama ngga latihan ballet”, Jasmine merajuk, tapi Ibu tetap tak bergeming.
“Kamu nggak akan bisa menguasai ilmu silat Jas, kamu ngga berbakat. Bakat kamu itu menari. Sudahlah nggak usah aneh-aneh. Pokoknya Ibu ngga setuju kamu ikut-ikutan bela diri. Sekarang juga kamu batalkan pendaftaran kamu di UKM silat itu”, titah Ibu.
“Kita lihat saja nanti Bu”, jawab Jasmine lalu menutup gagang telfon sambil menghela nafas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Ibu sedemikian benci dengan Taekwondo sampai-sampai menyebut kata “Taekwondo” saja Ibu tidak mau.  
Tadinya Jasmine ingin bercerita bahwa ada suatu perasaan aneh manakala melihat aksi senior Taekwondonya tadi. Perasaan yang tidak muncul saat melihat aksi UKM-UKM bela diri lainnya. Senior yang memeragakan poomsae seakan menjadi pusat sebuah pusaran yang semakin membesar dan menelan Jasmine bulat-bulat ke dalamnya, tanpa ia sempat mengelak. Tapi kegusaran Ibu membuatnya urung bercerita.
Kali ini Jasmine memilih untuk tidak menurut. Alih-alih membatalkan pendaftaran, dia tetap datang ke Dojang dan untuk pertama kalinya mengenakan Dobok. Rasanya aneh, karena biasanya dia menggunakan pakaian ketat menempel kulit saat latihan ballet.
Seminggu dua kali, Jasmine berlatih tendangan, pukulan, sabetan dan sikap kuda-kuda. Tubuh Jasmine yang sudah bertahun-tahun ditempa di studio ballet sama sekali tidak kesulitan menerima pelajaran-pelajaran dasar Taekwondo. Kaki dan tangannya yang lentur membuat tubuhnya mudah merekam dan mempraktekkan aneka gerakan Taekwondo. Keahliannya melakukan grand jete (lompatan besar hingga kaki membentuk posisi split di udara) saat ballet membuat gerakan sulit seperti twio ap chagi (menendang sambil melompat) menjadi sangat mudah. Sabeum nim akhirnya kerap merekomendasikannya untuk ikut ujian kenaikan tingkat tiap kali ujian diadakan. Di tahun kedua, Jasmine sudah menyandang sabuk biru strip merah dan terpilih sebagai peserta kejuaraan wilayah.
Untuk menghadapi kejuaraan, Jasmine dan sembilan rekan lainnya mengikuti Training Center. Porsi latihan ditambah berlipat-lipat. Jam latihannya pun di luar jam tubuh manusia normal. Mereka berlatih tiap hari di malam hari hingga tengah malam. Tapi Jasmine sama sekali tidak merasakan berat, walau paginya harus menghadiri kuliah. Kecintaannya akan Taekwondo membuatnya addict untuk terus datang ke Dojang, yang sayangnya tanpa sepengetahuan Ibu.
Hari kejuaraan akhirnya tiba dan suatu hal tidak terduga terjadi, Jasmine demam panggung. Sesaat sebelum dia tampil untuk pertandingan kyorugi, Jasmine dilanda ketakutan yang teramat sangat. Kata-kata Ibu saat awal dulu dia mendaftar terngiang kembali; “Kamu tidak berbakat. Kamu bisa terluka”.
“Bagaimana jika aku memang tidak berbakat? Bagaimana jika penampilanku nanti memalukan? Bagaimana jika aku nanti cedera?”, aneka pikiran buruk berkecamuk. Jasmine ketakutan dan ingin lari. Sabeum nim melihat hal itu. “Kenapa Jas?”, tanyanya.
“Maaf Sabeum Nim, saya tidak bisa bertanding”, kata Jasmine dengan muka pucat dan badan gemetar. Butir-butir keringat dingin di dahinya bermunculan. Sabeum nim tidak menjawab dengan kata-kata, hanya tangannya yang bicara. “Plak!”, Sabeum nim menampar pipi Jasmine tanpa ekspresi. Tidak terlihat tanda kemarahan atau kekecewaan atas sikap anak didiknya. Jasmine terpana, tapi perlahan kesadarannya kembali.
 “Berlatih Taekwondo bukan untuk menghilangkan rasa takut tapi untuk mengendalikannya. Rasa takut adalah karunia, jaga itu untuk menjaga agar kamu tetap rendah hati sekaligus membuatmu menunjukkan hasil latihanmu yang terbaik selama ini. Tidak hanya kamu, semua yang ada di arena ini pun takut. Bahkan semua makhluk hidup punya ketakutannya masing-masing. Kamu hanya punya dua pilihan; lari atau hadapi. Taekwondo tidak mengajarkan untuk mengalahkan lawan di arena pertarungan, melainkan ini, di sini, lawan paling berat sepanjang hayat”, Sabeum nim menunjuk dadanya sendiri.
Jasmine tersadar. Sabeum nim benar. Selama ini dia berlatih Taekwondo bukan untuk jadi jagoan. Bukan juga untuk me-knock out lawan di arena atau mencari poin sebanyak-banyaknya. Taekwondo mengajarkannya untuk mengendalikan musuh paling berat yang selalu bersemayam dalam dirinya; keraguan, ketakutan, ketidakpercayadirian. Dia bertanding di arena ini bukan untuk mengalahkan siapapun melainkan dirinya sendiri.
Jasmine melangkah ke tengah arena dengan mantap usai berterima kasih pada Sabeum nim.
###
 Sekarang Jasmine tidak sabar ingin pulang dan menunjukkan trofinya pada Ibu sebagai bukti bahwa dia bisa. Dia bukan seperti yang dibilang Ibu, hanya bisa bidang tari menari. Jasmine ingin Ibu memberikan ijin penuh atas aktivitasnya di Dojang. Akhirnya travel berhenti di depan rumah. Jasmine melompat keluar travel dan terburu-buru membuka pagar.
Tapi yang dihadapi Jasmine sungguh di luar dugaan. Ibu murka dan membanting trofi itu hingga sang figur patah jadi tiga. Trofi itu remuk bersamaan dengan remuknya hati Jasmine. Jasmine ternganga dan menatap ibunya tak mengerti.
“Kenapa kamu tidak menuruti kata-kata Ibu? Kenapa kamu masih main silat-silatan? Kamu benar-benar mengecewakan”. Kata-kata ibu bagaikan sembilu yang menyayat hatinya. Lebih sakit daripada saat melihat trofi yang telah dimenangkannya melalui perjuangan panjang itu pecah.
Jasmine marah, kecewa, tidak mengerti. Namun seluruh emosinya hanya bisa dia keluarkan melalui dua bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dengan gontai dia melangkah keluar rumah tanpa mempedulikan pecahan trofi yang bertebaran di lantai.
Jasmine mendatangi rumah Eyang. Wanita sepuh yang juga Ibu dari Ibunya itu dengan sabar mendengarkan cerita Jasmine yang bercampur dengan isak tangis. “Memangnya Jasmine salah apa Eyang?”, tanya Jasmine di setelah tangisnya mereda. Eyang menghela napas; “Mungkin kamu sudah saatnya tahu Nduk”.
Eyang masuk kamar dan tak lama keluar sambil membawa sebuah amplop coklat berukuran A4. Jasmine mengeluarkan isi amplop itu. Beberapa lembar foto yang warnanya sudah memburam. Itu adalah foto beberapa orang yang mengenakan Dobok dan medali di lehernya. Jasmine mengenali dua di antaranya. Walaupun usia foto itu setidaknya sudah lebih dari 2 dekade, Jasmine tidak mungkin salah mengenali tahi lalat di sudut mata kiri Ibunya. Dia juga tidak mungkin salah mengenali yang seorang lagi; Ayah, sekalipun Jasmine hanya tahu wajah Ayah dari foto-foto lama di rumah Ibu. Jasmine tahu dari bentuk hidung Ayah yang terlalu mancung untuk ukuran orang Jawa. “Jadi Ayah dan Ibu dulu Taekwondoin?, tapi mengapa Ibu benci dengan Taekwondo?”.
Kliping koran lama di bagian belakang foto menjawab segalanya. “Kecelakaan Bis Merenggut Nyawa Atlet Taekwondo”, demikian judul berita di koran itu. Berita itu tertanggal beberapa bulan setelah Jasmine lahir. “Itu saat Ayahmu akan berangkat ke Pelatnas”, kata Eyang seolah menjawab tanya cucunya yang tak terucap.
Jasmine tidak memindahkan pandangan matanya dari potongan koran yang lusuh itu. Ibu memang bilang bahwa Ayah meninggal karena kecelakaan semenjak dia masih bayi. Potongan koran itu telah menjawab semuanya, perasaan aneh saat melihat poomsae pertama kali, serta kebencian Ibu terhadap olah raga bela diri asal Korea itu.
Masa lalu yang tak pernah diduga secara tiba-tiba muncul seperti melihat potongan film lama. Fragmen-fragmen kehidupannya di Dojang selama 2 tahun terakhir datang silih berganti dengan bayangan Ayah dan Ibu.
Dojang sudah menjadi rumahnya, Sabeum nim telah menjadi Ayahnya, rekan-rekannya sudah menjadi kakak dan adik yang selama ini tidak pernah dia miliki. Tapi sejurus kemudian dia ingat Ibu yang bertahan untuk tidak menikah lagi dan berusaha menghapus kata Taekwondo dari koleksi perbendaharaan katanya.
Jasmine teringat Dobok dan Hugonya, latihan-latihannya dan kebersamaan yang hangat di Dojang bersama Sabeum nim dan teman-temannya. Namun lagi-lagi Jasmine teringat mata pilu Ibu yang terbungkus amarah saat membanting trofinya. Sampai  di sini Jasmine tak sanggup lagi.
Dia telah mencintai Taekwondo sejak 2 tahun lalu. Tapi Ibunya telah mencintainya sejak 20 tahun yang lalu. Diraihnya ponsel dan mengirimkan sebuah pesan singkat. Jasmine menghela napas dengan susah payah kemudian mematikan ponselnya. Malam itu Jasmine tidur sambil membayangkan Dojang dan Ibu.
Keesokan paginya, Jasmine kembali ke rumah Ibu untuk berpamitan hendak kembali ke Malang, sekaligus mengabarkan bahwa dia sudah memutuskan untuk tidak akan datang ke Dojang lagi.
Ibu sudah menunggu dengan ekspresi cemas. “Ibu berusaha menghubungi ponselmu, tapi sepertinya kamu matikan”.
“Jasmine sudah tahu semuanya. Maafkan Jasmine ya Bu. Jasmine sudah bilang ke Sabeum nim kalau akan berhenti Taekwondo”, kata Jasmine tanpa ekspresi.
Sabeum nim barusan telfon Ibu. Dia juga berusaha menghubungi ponselmu tapi tidak bisa. Dia minta tolong Ibu untuk membujuk kamu agar tidak berhenti Taekwondo. Kamu terpilih untuk ikut seleksi Kejurda”, kata Ibu. Jasmine terpana. Lebih terpana lagi manakala Ibu menunjukkan trofinya yang sudah kembali utuh.
“Maafkan Ibu, mungkin tidak bisa kembali seperti dulu, tapi setidaknya bagian yang patah sudah bisa tersambung lagi. Maafkan juga atas keegeoisan Ibu. Ibu lupa bahwa dalam pembuluh darahmu mengalir darah taekwondoin. Sebesar apapun keinginan Ibu untuk menghalangimu ikut Taekwondo, Ibu tidak akan pernah bisa melawan kenyataan bahwa darah memang lebih kental daripada air. Ibu tidak mau Ayah memarahi Ibu kelak di akhirat karena menghalangi cita-citanya untuk mengharumkan Indonesia lewat Taekwondo, putus hanya gara-gara Ibu tidak mengijinkan kamu ke Dojang. Kamu mau memaafkan Ibu kan? Kamu mau berlatih Taekwondo lagi kan?”.
Tenggorokan Jasmine tercekat. Dia menghambur ke pelukan ibunya sambil tersedu-sedu.
Setelah reda tangisnya, Jasmine menyalakan ponsel dan menghubungi seseorang; “Sabeum nim, besok malam saya akan datang ke Dojang”. Perasaannya lega luar biasa.

(ditulis untuk Lomba Taekwondoin Menulis)

Special thanks to: "Didit" Nur Hidayat, ex Taekwondoin Unibra yang rendah hati :) 

Catatan: 
Cerpen ini akan diterbitkan dalam buku Antalogi Taekwondoin Menulis Part 1, sekaligus menjadi cerpen terbaik dari 14 naskah yang akan dibukukan.
Cerpen ini adalah cerpen pertama yang diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon tinggalkan kritik, saran dan komentar untuk perbaikan konten blog ini.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)