Tampilkan postingan dengan label Menyusui. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menyusui. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

Forum “Kasih Ibu”, Persembahan Aqua Untuk Para Ibu dan Calon Ibu



“Perut kram saat sedang hamil, normalkah?”
“Boleh tidak Ibu hamil menyetir mobil sendiri?”
“Bagaimana cara sterilisasi botol susu yang benar?”
“Kapan dan bagaimana caranya menyapih ASI?”

Kehamilan adalah sebuah proses alami yang menakjubkan. Tapi ada begitu banyak pertanyaan yang muncul saat seorang wanita menjalani proses kehamilan. Tidak hanya bagi mereka yang baru saja mendapat pengalaman pertama menjadi calon Ibu. Mereka yang tengah menjalani kehamilan yang ke sekian pun masih kerap dihantui berbagai macam pertanyaan. Sebab tiap kehamilan itu unik, bahkan kehamilan yang dialami oleh Ibu yang sama sekalipun.
Sama halnya dengan kehamilan, Tuhan telah merancang proses persalinan menjadi sangat elegan dan tak akan terlupakan. Namun masih ada lagi pengalaman yang sama menakjubkannya dan sama elegannya, yakni menyusui. Walau menyusui adalah sebuah proses alami, tapi ada banyak hal yang perlu Bunda ketahui tentang menyusui. Mulai dari inisiasi menyusui dini, posisi menyusui yang benar, prosedur memompa ASI hingga penyapihan.
Semuanya terkadang bisa menjadi sumber stress jika Bunda tidak tahu harus bagaimana atau berbuat apa. Sebab, seperti halnya kehamilan, tiap bayi terlahir dengan keunikannya masing-masing. Kebingungan Ibu akan kian bertambah ketika menerima masukan atau komentar dari orang-orang sekitar, yang kadangkala berbeda satu sama lain.
Misalnya; bidan di rumah sakit bilang kalau tidak masalah bagi bayi yang belum puput pusar untuk langsung mandi berendam di bak mandi. Sementara setibanya Ibu dari rumah sakit, mertua bilang kalau bayi yang belum puput pusar harus mandi dengan diseka. Yang mana yang benar? Sebagai ibu baru, pastilah kebingungan.
Untunglah sekarang ada Forum Kasih Ibu, one stop information portal tentang dunia kehamilan hingga menyusui. Program persembahan Aqua Danone ini bisa Bunda akses di www.kasihibu.com.


Ada banyak fitur menarik yang bisa Bunda akses di Kasih Ibu, misalnya;
1. Kumpulan Artikel dan Berita
Temukan jawaban tentang pertanyaan seputar Plasenta Previa, gatal di perut saat hamil, mual dan muntah saat hamil, juga vitamin dan suplemen yang diperlukan saat kehamilan.
Untuk artikel-artikel seputar pasca persalinan, Bunda juga bisa membaca tentang serba-serbi mekonium, perawatan bayi baru lahir, tips agar ASI bisa lancar dan lain-lain.

 
2. Forum Diskusi
Masih punya pertanyaan yang tidak terjawab karena tidak ada di artikel atau berita? Coba cari di Forum Diskusi. Forum ini adalah ajang sharing para Bunda mengenai pengalaman masing-masing dalam merawat bayi. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa Bunda temukan di sana. Misalnya tips jika menghadapi bayi yang rewel tidak biasa.
Jika topik yang dicari tidak ada dalam daftar, Bunda bisa membuka topik baru untuk diperbincangkan di forum, cukup dengan mengklik “Tambahkan Topik”


3. Konsultasi
Masih belum puas dengan jawaban-jawaban di Forum Diskusi? Bunda bisa langsung tanyakan pada pakarnya di fitur Konsultasi. Di sini Bunda bebas bertanya apa saja dan akan dijawab oleh pakar dan ahli kesehatan.
Nah, yang lebih asyik dan mungkin tidak ada di tempat lain adalah fitur Live Chat, di mana Bunda bisa bertanya langsung dengan dokter yang selalu ready setiap saat (tentunya pada jam operasional tertentu).
Jam operasional dokter yang standby di program Live Chat ini adalah;
Hari Senin-Jumat, pukul 08:00 – 22:00
Hari Sabtu-Minggu, pukul 18:00 – 22:00

 
4. Aplikasi Menarik
Di fitur ini, Bunda bisa temukan beberapa aplikasi menarik. Ada “Kalkulator Kehamilan” untuk menghitung tanggal perkiraan kelahiran bayi. Ada juga “Nama Si Kecil” untuk membantu memilihkan nama terbaik bagi buah hati. Yang tak kalah menariknya adalah “Kalkulator Dehidrasi” yang membantu untuk menentukan apakah asupan cairan kita selama ini sudah sesuai kebutuhan atau belum. Aplikasi terakhir ini bisa dipakai oleh semua orang, baik laki-laki, perempuan, hamil atau tidak hamil.
(Saya sengaja tidak menampilkan screen capturenya di sini agar Bunda bisa langsung melihat sendiri di lokasi ^-^)

Nah Bunda, tunggu apa lagi? Ayo segera meluncur ke www.kasihibu.com dan bergabunglah dengan Forum Kasih Ibu. Caranya gampang banget kok.
1.     Klik www.kasihibu.com
2.   Pilih salah satu gambar di bagian kanan. Gambar Ibu Hamil berisi informasi seputar kehamilan. Sedangkan Gambar Ibu Menyusui berisi informasi seputar pasca persalinan, jadi tidak melulu soal menyusui aja ya Bunda.
3.    Klik Facebook Connect untuk bergabung dengan Forum Kasih Ibu, kemudian isi data diri di Form yang tersedia.


Sudah itu, berarti Bunda sudah resmi bergabung sebagai keluarga Forum Kasih Ibu dan itu artinya Bunda bebas menggunakan semua fitur Kasih Ibu. Gratis!
Ayo tunggu apalagi, jadikan Forum Kasih Ibu sebagai sahabat setia Bunda menjalani masa-masa menakjubkan selama kehamilan hingga menyusui ^-^

Senin, 12 September 2011

Breastfeeding Guide


Ditengah maraknya arus informasi, saya rasa para ibu menyusui membutuhkan panduan yang tepat agar tidak terjebak dalam informasi yang salah, terutama mengenai mitos dan fakta seputar menyusui. Tulisan ini adalah review singkat 2 buku mengenai panduan menyusui yang diterbitkan oleh sebuah organisasi internasional di bidang laktasi.

1. "The Womanly Art of Breastfeeding"

Manfaat menyusui sudah tidak perlu diperdebatkan lagi, menyusui adalah cara yang paling baik dan paling sehat untuk memberi nutrisi pada bayi. Untuk itulah, "La Leche League" menerbitkan sebuah panduan standard untuk mengedukasi para ibu dalam kegiatan alami demi generasi mendatang.

La Leche League sendiri adalah sebuah organisasi internasional yang bersifat nonprofit dan didedikasikan untuk menyediakan informasi dan edukasi seputar pentingnya menyusui, baik bagi Ibu dan bayi.(Leche berarti susu dalam bahasa spanyol)

Buku ini telah diperbaharui, menyesuaikan kondisi dan gaya hidup para ibu masa kini, mulai dari ibu yang tinggal di rumah, ibu bekerja, single mother dan ibu dari bayi kembar. Buku ini berisi nasehat, cerita dan informasi seputar menyusui, mulai dari persiapan menyusui saat masa kehamilan, posisi menyusui, asi perah dan penyimpanan asi perah dilengkapi dengan gambar ilustrasi dan foto.

Secara garis besar, informasi yang bisa Anda dapatkan di sini meliputi:
1. Bagaimana menyusui dengan nyaman, mulai dari menghindari puting lecet hingga bagaimana menikmati pengalaman membangun bonding antara anda dan si kecil.
2. Wawasan baru mengenai teknik "latching", serta jawaban dari pertanyaan yang sering diajukan mengenai breastfeeding.
3. Strategi bagi para ibu yang memilih menyusui dalam jangka pendek atau yang merencanakan menyusui hingga 1 tahun atau lebih.
4. Informasi mengenai menyusui setelah tindakan operasi sesar atau komplikasi saat persalinan.
5. Data ilmiah terkini mengenai manfaat menyusui jangka panjang.
6. Tips-tips untuk membangun jaringan support, di rumah atau saat bekerja.
7. Menyusui bayi berkebutuhan khusu, bayi premature atau bayi kembar.
8. Panduan seputar kesehatan payudara, kenaikan berat badan, kolik, depresi postpartum, alergi makanan dan obat-obatan.
9. Referensi lanjutan melalui internet, termasuk situs support dan grup La Leche League.

Saat Ibu melahirkan, mereka membutuhkan cara yang alami, sehat dan baik untuk tumbuh kembang sang bayi. Dan cara yang terbaik untuk mengawalinya adalah dengan menjadikan “Womanly Art of Breastfeeding” sebagai panduan.

Klik link di bawah ini untuk membeli:
The Womanly Art of Breastfeeding (La Leche League International Book)Parenting & Families Books)


2. “The Breastfeeding Mother's Guide to Making More Milk”

Banyaknya mitos dan fakta mengenai penyebab banyaknya ASI yang dihasilkan tentunya membuat sebagian Ibu kebingungan. Nah, buku ini menerangkan secara komprehensif mengenai bagaimana meningkatkan supply ASI.

Ditulis oleh 2 orang ahli yang memang telah berpengalaman dan direkomendasikan secara resmi oleh La Leche League International, buku ini membahas riset-riset dan penemuan terbaru penyebab rendahnya supply ASI, bagaimana tubuh seorang Ibu memproduksi ASI dan sejauh mana kontribusi bayi terhadap supply ASI.

Dari buku ini, Anda akan memperoleh informasi mengenai:
1. Menentukan apakah bayi sudah mendapat cukup ASI
2. Memaksimalkan produksi ASI
3. Mencari penyebab rendahnya supply ASI
4. Meningkatkan supply ASI dengan cara-cara efektif, termasuk memompa, konsumsi herbal, makanan dan terapi alternatif.
5. Menyusui eksklusif dengan pompa ASI, menyusui bayi prematur atau bayi kembar dan proses relaktasi.

Saya rasa buku ini wajib dimiliki sebagai panduan para ibu menyusui.

Klik link di bawah ini untuk membeli:
The Breastfeeding Mother's Guide to Making More Milk: Foreword by Martha Sears, RNChild Care Books)


Jumat, 05 Agustus 2011

Ternyata Menyusui Punya Dampak Negatif (Based on True Story)

Di posting sebelumnya saya menulis tentang faktor utama kelancaran ASI yang belum pernah dibahas di banyak artikel yang pernah saya baca. Nah, di posting kali ini saya ingin membahas satu hal mengenai efek samping menyusui.

Perlu digarisbawahi di sini bahwa yang saya maksudkan bukan manfaat menyusui yang sudah tidak perlu diperdebatkan lagi. Semua orang tahun banyak sekali manfaat menyusui, baik bagi ibu, si bayi maupun bagi keuangan keluarga, sehingga ASI menjadi hadiah paling berharga dari Sang Pencipta. Nah, ternyata menyusui ada nggak enaknya juga lho, itulah yang saya maksudkan dengan efek samping.

Seperti halnya saat kita mengkonsumsi obat, dalam label yang tertera pada kemasan biasanya diterangkan juga mengenai efek samping obat tersebut. Contohnya adalah salah satu merk obat batuk yang menyebutkan efek sampingnya adalah mengantuk, pusing, konstipasi dan lain-lain. Efek samping ini bisa terjadi, bisa juga tidak tergantung dari daya tahan tubuh si pengguna obat. Nah demikian juga efek samping menyusui, bisa terjadi bisa juga tidak, kebetulan saja pada saya terjadi, makanya saya bisa cerita.

Efek samping yang saya maksudkan adalah: (maaf) vagina saya menjadi kering hingga memiliki efek domino yakni sakit pada area kemaluan saat dipakai berhubungan intim.

Saya termasuk wanita yang tidak mengalami datang bulan saat menyusui. Setelah kelahiran anak pertama, saya hanya menyusui sampai masa 4 bulan saja. Makanya pada bulan kelima saya sudah mengalami datang bulan. Berbeda dengan anak kedua, saya masih menyusui hingga saat ini si kecil sudah berusia 14 bulan dan baru saja mengalami menstruasi bulan lalu.

Sebenarnya efek langsungnya (yakni vagina kering) tidak terlalu menjadi masalah. Justru malah hari-hari jadi lebih nyaman karena tidak lembab. Namun kendalanya baru terasa saat melakukan hubungan intim. Rasa sakitnya menyebabkan trauma. Saya sudah mencoba men”curhat”kan hal ini pada beberapa sahabat dan juga melalui forum diskusi di milis. Rata-rata teman saya menyarankan untuk melakukan foreplay lebih lama, menciptakan suasana yang lebih kondusif agar lebih terangsang sebelum berhubungan. Hal itu sudah saya coba dan hasilnya nihil. Entah karena memang perangsangannya belum cukup atau karena sugesti, baik bibir vagina maupun rongga di dalamnya terasa sangat pedih dan panas.

Awalnya bahkan suami kesulitan melakukan penetrasi hingga akhirnya kami mencoba “pelumas”. Cara ini lumayan menolong, suami bisa melakukan penetrasi, namun rasa perih dan terbakar dalam rongga vagina masih belum berkurang. Rasanya seperti digesek dengan kertas gosok.

Setahun berlalu sejak kelahiran anak kedua, saya tidak tahan dan akhirnya memutuskan untuk pergi ke dokter. Berharap dokter meresepkan semacam vitamin/hormon yang bisa membuat vagina saya tidak kering namun tidak punya efek menghentikan ASI. Juga agak kuatir karena seorang teman di milis menduga ada sesuatu yang tidak beres dan sebaiknya dikonsultasikan ke DSOG. Syukurlah setelah diperiksa dengan USG, tidak ada masalah di daerah rahim saya.

Menurut penjelasan dokter kandungan, menyusui memang membuat produksi hormon estrogen jadi terhambat. Nah hormon estrogen inilah yang punya andil dalam siklus menstruasi dan juga memproduksi “oli” pada vagina. Solusi instannya, jika ingin kadar hormon estrogen kembali stabil, ya tentu saja dengan berhenti menyusui. Tapi tentu saja hal itu tidak beliau sarankan. Alternatif kedua ya menunggu hingga lewat masa menyusui yakni 2 tahun. Saya jadi membayangkan bahwa saya masih harus menunggu setahun lagi agar bisa kembali menikmati hubungan seks. Akhirnya saya pulang dengan tangan hampa. Dokter tidak meresepkan vitamin atau obat-obatan sama sekali. Saya memutuskan untuk pasrah dan menunggu saja. Jika sudah lewat masa menyusui dan tidak ada perubahan juga, saya berjanji untuk menemui dokter lagi.

Ternyata saya tidak perlu menunggu terlalu lama. Tidak lama setelah kunjungan ke dokter, akhirnya saya datang bulan dan setelah itu saya bisa kembali berhubungan dengan suami seperti dulu lagi. Saya tidak tahu apakah karena faktor sugesti atau bukan, yang jelas saya merasakan area kemaluan sudah tidak kering seperti sebelumnya.

Sampai kini (Kairo 14 bulan), saya memang masih menyusui walau hanya di malam hari. Semoga saja Tuhan memberikan kesempatan untuk bisa menyusui hingga bayi saya berusia 2 tahun.

Demikianlah sharing pengalaman saya selama masa menyusui. Memang tidak semua wanita akan mengalami hal yang sama, karena dunia hormon wanita yang sedemikian unik. Semoga bermanfaat..

Tulisan yang berhubungan dengan topik ini:
1. Breast pump
2. Agar Lebih Semangat Menyusui
3. Manajemen ASI Perah Untuk Ibu Bekerja

Gambar dikopi dari sini

Kamis, 04 Agustus 2011

Faktor Kelancaran ASI Yang Tak Pernah Diungkap


Yang namanya menyusui atau bahasa sononya “Breasfeeding” sudah nggak perlu lagi dibahas manfaat dan keuntungannya. Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi yang baru lahir. ASI mencukupi kebutuhan gizi bayi hingga berusia 6 bulan. Artinya, tanpa tambahan makanan apapun, kebutuhan nutrisi bayi sudah tercukupi lewat ASI. Kekayaan gizi dan kandungan nutrisi yang terkandung didalamnya membuat ASI gencar dipromosikan dan kian naik daun.

Kurang lebih 3 dekade lalu, pemerintah Indonesia menganjurkan pemberian ASI hingga 4 bulan saja. Namun kini, di kartu KMS yang baru sudah diganti menjadi 6 bulan. Di media-media, baik cetak maupun elektronik juga tidak pernah lagi muncul iklan susu formula untuk bayi di bawah 1 tahun.

Begitu juga dengan dunia maya. Kalau dicari lewat search engine mengenai topik “menyusui”, tidak ada satu artikel pun yang menjelek-jelekkan ASI, semua bilang ASI itu bagus, baik untuk ibu maupun untuk bayi. Memang demikian adanya. Kalau boleh saya berpendapat, ASI adalah cairan yang lebih berharga dari minyak bumi, bahkan cairan paling mahal harganya yang pernah diciptakan Tuhan bagi manusia.

Itulah sebabnya, mulai banyak ibu-ibu yang sadar mengenai pentingnya ASI. Banyak di antara mereka yang menjadi fanatik dengan cairan yang satu ini. Rasanya berdosa kalau sampai tidak menyusui bayi. Saya mengenal beberapa di antaranya. Ada teman saya yang keluar dari pekerjaannya demi bisa memberikan ASI eksklusif untuk bayinya. Ada yang enggan minum jamu-jamu pasca melahirkan karena takut berpengaruh pada ASI. Ada yang giat memerah ASI demi bisa mencukupi kebutuhan ASI selama bekerja.

Saya pun termasuk satu di antara “korban” ibu-ibu yang terserang “sindrom menyusui eksklusif”. Saya sampai bela-belain beli breast pump yang harganya lumayan mahal, bangun tengah malam dan dini hari demi bisa memerah ASI, menghasilkan tetes demi tetes hingga terkumpul setengah liter per hari untuk persediaan selama bekerja. Bukannya tidak mampu beli susu formula atau ragu akan kualitas susu formula, tapi ya karena itu tadi, saya sudah termakan propaganda akan manfaat ASI.

Alangkah beruntungnya saya dan banyak wanita yang bisa menyusui bayinya. Faktor terbesar dalam keberhasilan proses menyusui ini saya yakini adalah: REJEKI. Yes, Tuhan sudah menetapkan rejeki kita bahkan semenjak sebelum kita lahir. Oleh karenanya, sebesar apapun usaha kita untuk bisa menyusui bayi tak akan ada artinya jika Tuhan tidak memberikan jatah untuk itu. Ini yang tidak pernah diungkap di banyak artikel tentang ASI dan menyusui.

Secara teori, ASI kita akan berlimpah ruah jika rajin mengkonsumsi daun katuk, kacang-kacangan atau susu kedelai. Namun jika nama kita tidak masuk dalam listnya malaikat Mikail dalam hal rejeki ASI, ya tentunya ASI yang dihasilkan juga tidak sebanyak yang dimaui. Saya bisa menuliskan ini karena sudah membuktikannya. Terkadang saya niatkan makan daun katuk dan minum susu kedelai serta mengkonsumsi sawi putih agar ASI saya banyak, ternyata ASI perah saya ya segitu-segitu aja, bahkan kadang lebih sedikit dari biasanya. Namun pernah juga saya makan menu biasa, bukan menu khusus ibu menyusui, ternyata payudara saya lebih keras dari biasanya dan otomatis ASI yang didapat juga lebih banyak. Nah, dari situlah maka saya berani menyimpulkan satu hal yang tidak pernah saya baca di banyak artikel mengenai ASI dan menyusui. Yakni faktor X yang dinamakan Rejeki.

Saya memiliki seorang kawan yang membatalkan niatnya untuk resign karena ternyata usahanya untuk menyusui bayinya tidak berhasil. Dia sudah mengikuti cara-cara yang diajarkan dalam primbonnya ibu menyusui. Salah satunya adalah teori supply and demand, yakni semakin sering menyusui maka ASI akan semakin berlimpah. Namun tetap saja belum bisa membuat bayinya kenyang. Teman saya itu sampai bersitegang dengan ibunya yang kasihan melihat cucunya rewel dan menyarankan untuk memberikan susu formula agar bayinya bisa tidur. Tapi teman saya tetap bertekad menjejalkan puting susunya ke mulut bayinya dengan harapan ASI akan terangsang keluar karena semakin sering dihisap bayi, tapi hasilnya nihil. Akhirnya karena kasihan dengan si bayi, teman saya menyerah. Dia memutuskan untuk mencabut surat pengunduran dirinya, karena dia pikir untuk apa dia berhenti kerja kalau tidak bisa menyusui. Di lain pihak, dia butuh dana untuk beli susu formula...

Lain lagi dengan cerita teman saya yang lain. ASInya berlimpah, namun dia mengalami bendungan susu sehingga dokter menyuruhnya berhenti menyusui. Bendungan susu yang dialami teman saya ini tergolong parah karena sampai meletus dan mengeluarkan ASI bercampur nanah. Dia tidak punya pilihan lain selain berhenti menyusui.

Nah, dengan melihat pengalaman teman-teman saya yang begitu gigih memperjuangkan ASI dan ternyata belum mendapatkan hasil yang diharapkan, maka saya yakin bahwa ASI adalah murni wewenang dari Allah. Kewajiban kita hanyalah berikhtiar; dengan pijat payudara atau konsumsi sayur dan kacang-kacangan, selanjutnya terserah pada Yang Di Atas. Jika memang rejeki bayi kita “hanyalah” sebatas susu formula, maka sebaiknya kita syukuri agar dalam susu formula yang diberikan pada buah hati kita pun ada keberkahan....

Rabu, 03 Agustus 2011

Puasa Saat Hamil/Menyusui, Why Not?

Ini hari kedua bulan Ramadhan 1432 Hijriyah. Jadi ingat bulan puasa tahun lalu saat sedang menyusui anak kedua, juga beberapa tahun sebelumnya saat sedang hamil anak pertama. Seharusnya saat-saat itulah kesempatan emas untuk bisa melaksanakan ibadah puasa satu bulan full, namun apa di kata, angan-angan untuk 30 hari berpuasa terpaksa “bolong”.
Tapi bagaimanapun juga hal itu harus sangat disyukuri, karena Tuhan memberi kekuatan untuk menjalani puasa selama hamil dan menyusui, walaupun pada akhirnya harus off 2-3 hari karena sakit.
Sebelumnya saya sempat juga mencari beberapa informasi mengenai kewajiban berpuasa seorang wanita yang sedang hamil atau menyusui, ternyata memang bagi mereka berhak mendapatkan “privilege” untuk tidak berpuasa selama hamil dan menyusui demi kebaikan jabang bayi atau anak yang sedang disusui.
Tapi...ada tapinya nih, yang namanya kewajiban, walaupun dapat keringanan tetep aja ada kompensasinya. Nah untuk itu ada beberapa pendapat dari para ustadz.
Ada yang bilang cukup menggantinya dengan membayar fidyah (memberi makan orang miskin sebesar biaya makan kita sehari-hari dikalikan jumlah hari puasa yang ditinggalkan). Jadi kalau kita biasa makan sehari habisnya 20 ribu, maka fidyah yang harus dibayarkan kalau kita tidak puasa sebulan penuh adalah 20 ribu kali 30 atau 600 ribu. Fidyah memang keringanan yang diberikan bagi para orang tua atau orang sakit, dan hamil atau menyusui dianggap masuk kategori sakit.
Ada yang bilang puasa 30 hari tetap harus diganti dengan berpuasa juga. Soalnya hamil atau menyusui tidak dianggap sakit.
Nah pendapat ketiga ada yang mengatakan bahwa meninggalkan puasa karena hamil atau menyusui harus diganti keduanya, yakni berpuasa dan membayar fidyah. Ini disebabkan meninggalkan puasa karena mengkhawatirkan/menolong orang lain, yakni si calon bayi dan anak yang sedang disusui. Jadi misalnya, kita menolong orang yang tenggelam dan lantas terpaksa berbuka karenanya, kita wajib menggantinya selain dengan berpuasa juga dengan membayar fidyah. (Ini hasil ikut pengajian tahun lalu di rumah tetangga).
Well, bagi saya kompensasi yang harus dibayar agak berat juga, terutama yang bagian mengganti puasanya. Habisnya, saya kok nggak pede bisa mengganti 30 hari berpuasa seorang diri dalam jangka waktu 11 bulan sebelum datang bulan Ramadhan berikutnya (itu juga kalau umur saya nyampe segitu). Bagaimanapun juga, puasa di bulan Ramadhan lebih enak karena banyak temannya, godaan pun lebih sedikit, pendeknya suasana lebih kondusif lah.
Akhirnya, setelah berkonsultasi dengan dokter dan dinyatakan kuat untuk berpuasa, atas ijin Allah saya berhasil menjalani ibadah puasa dalam kondisi hamil 5 bulan dan menyusui bayi berusia 3 bulan. Alhamdulillah selama menjalani masa kehamilan tidak ada halangan yang berarti. Pun demikian dengan saat menyusui, saya masih tetap bisa memerah ASI di kantor dengan kuantitas yang tidak jauh berbeda dengan saat tidak berpuasa. Sehingga saya berhasil juga melewati masa ASI eksklusif untuk si kecil.
Tapi saya bukan satu-satunya orang yang diberi Allah kekuatan untuk menjalani puasa dalam kondisi hamil atau menyusui. Banyak juga kenalan, saudara dan teman sekantor yang menjalani hal yang sama. Malah ada juga yang sedang hamil muda, dengan frekuensi mual dan muntah yang cukup sering, ia tetap bisa melaksanakan ibadah rukun islam keempat ini 1 bulan penuh.
Ada juga yang sedang hamil tua menjelang detik-detik kelahiran, berhasil pula puasa penuh.
Sejujurnya sih, karena saya sudah pernah mengalami keduanya. Berpuasa saat menyusui berasa lebih berat dibanding saat berpuasa dalam kondisi hamil. Namun karena ada juga teman sekantor yang kebetulan juga sedang menyusui, jadi kami sama-sama saling memotivasi agar bisa berpuasa. Hasilnya, teman saya itu sukses puasa penuh, sedang saya sempat bolong di 2 hari terakhir.

Nah, berpuasa atau berbuka saat hamil atau menyusui memang sangat tergantung dari kekuatan masing-masing Ibu. Bagi para Ibu yang tetap bertekad untuk menjalankan ibadah puasa di bulan yang penuh berkah ini, mungkin saran-saran di bawah ini bisa jadi masukan untuk menghadapi bulan Ramadhan hingga tiba hari kemenangan.

1. Niatkan untuk beribadah, insya Allah Dia akan memberikan kekuatan.
2. Tetap percaya diri bahwa Allah tetap akan memberikan rejeki pada jabang bayi atau bayi yang sedang disusui.
3. Pasrah saja jika ASI yang didapat tidak banyak, karena Allah telah menetapkan rejeki masing-masing makhlukNya. Mungkin saja hari itu Allah telah menetapkan rejeki bayi kita harus minum susu formula.
4. Ajak bicara si jabang bayi dalam kandungan atau bayi yang sedang disusui bahwa ibunya sedang berpuasa.
5. Atur jam makan agar tetap bisa makan dengan quantity yang sama dengan saat tidak puasa (jadi hanya geser jam makannya saja)
6. Kurangi kegiatan fisik agar tidak terlalu capek
7. Dan jangan lupa, hindari stress.

Nah Moms....mumpung sedang bulan baik, yuk kita cari pahala sebanyak-banyaknya dengan menunaikan ibadah puasa. Insya Allah, ini akan menjadi pondasi untuk mendidik anak-anak yang sholeh dan sholehah. Tapi kalau memang fisik tidak kuat, ya tidak perlu memaksakan diri. Karena Allah tidak akan memberatkan umatNya. (Wallahu ‘alam bissawab).

Mohon maaf lahir batin jika tulisan ini kurang berkenan.

Oya, foto ibu cantik di atas saya comot dari sini

Jumat, 13 Mei 2011

Breast Pump

Dari semua gadget abad 21 yang paling saya rasakan manfaatnya adalah alat ini: Breast Pump. Secara harfiah, breast pump adalah alat yang digunakan untuk membantu ibu menyusui memerah ASI. Ada banyak jenis breast pump sebenarnya, mulai dari yang manual hingga yang elektrik. Walaupun fungsinya sama, tapi biasanya perbedaan harga menghasilkan output susu perah yang berbeda pula.

Saya memang belum pernah menggunakan breast pump elektrik dengan alasan harga yang mahal. Namun saya pernah menggunakan 2 jenis breast pump yang berbeda untuk 2 kali masa menyusui. Yang pertama adalah jenis breast pump yang dihubungkan dengan selang dengan bulb di ujungnya. Sedang untuk anak kedua, saya ganti dengan jenis breast pump dengan handle pemompa sebagai pengganti selang dan bulb. Karena harga breast pump yang ke-2 lumayan mahal (sekitar 300 ribu perak, 6 kali lipat dari harga pompa pertama), saya sempatkan melakukan trial dengan meminjam breast pump milik seorang teman, memastikan bisa compatible dengan payudara saya.

Cara kerja pompa pertama adalah dengan menarik puting hingga ASI memancar. Sungguh menyakitkan jika dipakai berlama-lama, ditambah lagi waktu yang dibutuhkan sangat lama. Untuk menghasilkan 100 cc ASI dibutuhkan 45 menit memerah. Belum lagi cara pengoperasian breast pump yang sangat tidak praktis membuat kedua tangan dan leher saya pegal. Di samping itu, alat tersebut juga hanya bisa membuat ASI memancar jika payudara mengencang, sehingga saat sudah kurang kencang ASI sudah tidak bisa keluar walau sebenarnya masih ada. Akhirnya, saya hanya bisa bertahan memerah ASI selama 1.5 bulan saja. Bersamaan dengan berhentinya kegiatan pemerahan ASI di kantor, aktivitas menyusui pun ikut-ikutan berhenti. Jadi praktis, si sulung hanya menikmati ASI selama 4 bulan saja, itu pun hanya bisa eksklusif selama 2.5 bulan selama saya cuti melahirkan.


Gambar breast pump pertama saya

Seperti halnya harganya yang jauh berbeda, breast pump kedua memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan. Cara kerjanya mirip dengan hisapan mulut bayi (bukan dengan menarik puting), sehingga tidak menyakitkan sama sekali. Jika dalam keadaan payudara yang mengencang, hanya dibutuhkan waktu 5-10 menit untuk menghasilkan 100 cc ASI. Dalam kondisi tidak terlalu kencang, rata-rata saya bisa menghasilkan ASI 200-250 cc dalam waktu 45 menit (Jadwal memerah saya adalah pukul 11.30-12.15). Pengoperasian breast pump yang ini sangat praktis, sehingga tidak terlalu melelahkan. Paling-paling hanya jari dan pergelangan tangan yang sedikit pegal (yahh...namanya juga manual). Investasi 300 ribu saya tidak sia-sia, si bungsu bisa menikmati ASI eksklusif selama 6 bulan walaupun saya bekerja, dan hingga kini susu formulanya hanya diberikan jika saya bekerja saja, itu pun hanya 4-5 botol kecil karena saya juga masih menyediakan ASI perah walau tidak sebanyak dulu dan dia sudah mulai makan 3 kali. Tentunya jika dihitung-hitung, saya sudah balik modal (soalnya harga sufor kan rata-rata mahal), hehe...

Gadget Abad 21 Favoritku

Untung saja saya hidup di jaman modern, di mana ASI perah sudah bukan hal yang aneh, sehingga Alhamdulillah saya berhasil menebus rasa bersalah karena si sulung hanya menikmati sedikit sekali ASI dibanding adiknya.

Artikel terkait:
Manajemen ASI Perah


Review buku Breastfeeding guide di sini.

Jumat, 06 Mei 2011

Agar Lebih Semangat Menyusui




Setelah melewati masa kehamilan selama 9 bulan dan proses persalinan yang cukup melelahkan mungkin anda akan beranggapan bahwa tugas sudah usai. Jangan salah, justru ini adalah awal dari tugas baru yang tak kalah berat. Ya...Breastfeeding. Jika untuk hal mengurus bayi mungkin masih bisa Anda delegasikan pada orang lain, tetapi untuk urusan menyusui tidak bisa tidak harus Anda sendiri yang melakukannya.

Umumnya di Indonesia, seorang bayi akan disusui sendiri oleh ibu kandungnya. Ini tentunya berbeda dengan budaya masyarakat Arab jaman dulu di mana Ibunda Aminah menyerahkan penyusuan Rasulullah kepada seorang Ibu susuan (Halimatus Zakdiah).

Bagi sebagian orang, menyusui bisa jadi hal yang menjemukan, melelahkan bahkan menyakitkan sehingga tak jarang banyak Ibu memberikan sufor (susu formula) karena kurang sabar dalam proses menyusui. Padahal menyusui sangat banyak manfaat baik bagi bayi maupun bagi Ibu.

Posting kali ini tidak akan membahas manfaat menyusui yang sudah ditulis di banyak artikel melainkan mengenai sisi lain dari menyusui yang akan membuat Anda lebih bersemangat memberikan ASI untuk sang buah hati.

1. Jangan putus asa jika ASI tidak langsung keluar di hari pertama Anda melahirkan.
Tidak semua Ibu beruntung bisa mengeluarkan ASI pertama (kolostrum) di hari pertama setelah melahirkan. Saya termasuk di antaranya. Kedua anak saya lahir di hari yang sama, yaitu Sabtu dan ASI saya baru “terlihat” keluar di hari Senin (anak pertama) dan hari Selasa (anak kedua).
Tapi sebenarnya, bayi yang baru lahir sudah dibekali “cadangan” makanan, sehingga ia kuat tidak mendapatkan asupan apa-apa selama 3 hari. Hanya saja saya tidak tega hingga saya putuskan untuk memberikan sufor sambil menunggu ASI keluar.
Jangan menyerah dan tetap bantu bayi Anda merangsang keluarnya ASI.

2. Menyusui bukan berarti Anda puasa minum es
“Jangan minum es, nanti bayinya pilek”.
Ini hanya mitos. Yang benar adalah bukan esnya yang membuat bayi bisa pilek, melainkan jika Ibu kebanyakan minum es dan kemudian terkena pilek, maka bayi bisa tertular jika Ibu berdekatan dengan bayi.
Boleh saja mengkonsumsi es, asal jangan berlebihan dan hindari minuman dingin jika tubuh sudah menunjukkan tanda-tanda akan flu.

3. Menyusui tidak sama dengan menghindari makanan pedas.
Pup bayi kok ada bijinya. Ini bukan biji cabe yang keluar karena ibu mengkonsumsi sambal, melainkan tekstur kotoran bayi memang lunak dan kadangkala berbiji. Hal ini akan mulai berkurang seiring dengan bertambahnya usia bayi.
Selama hamil dan menyusui, saya tidak menghindari makanan pedas favorit saya, hanya saja kadar pedasnya memang saya kurangi untuk menghindari diare. Bagi saya, rasa pedas bisa merangsang nafsu makan, dan makan saya bisa jadi lebih banyak karena selama hamil dan menyusui saya butuh asupan ekstra.

4. ASI praktis jika bepergian
Jika bepergian dengan bayi yang masih minum ASI, tak perlu repot-repot membawa termos air panas, container susu, botol dan sikat botol kan? Cukup buka baju (sebaiknya ditutupi dengan selimut atau gendongan agar tidak terlalu vulgar jika hendak menyusui di tempat umum), maka bayi Anda sudah bisa menikmati ASI.

5. Ekonomis
Harga susu formula untuk bayi biasanya mahal. Tapi kualitas ASI masih jauh lebih baik daripada susu yang harganya mahal sekalipun, dan bayi Anda bisa mendapatkannya secara gratis asal Anda mau bersabar dan telaten untuk menyusui.

Semoga artikel ini membuat Anda tetap semangat menyusui eksklusif selama 6 bulan dan bisa dilanjutkan hingga bayi berusia 2 tahun.

Rabu, 20 April 2011

Manajemen ASI Perah Untuk Ibu Bekerja

Akhirnya masa cuti melahirkan saya akan segera berakhir. Itu artinya, tak lama lagi saya harus meninggalkan bayi kami, Kairo (1.5 bulan), selama paling tidak 10 jam untuk bekerja. Urusan penjagaan anak telah saya delegasikan pada si Mbak, tapi urusan yang satu ini tidak bisa didelegasikan pada siapapun, termasuk pada ayahnya. Ya, saya masih harus memenuhi hak bayi kami untuk mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan.

Posting kali ini adalah sharing pengalaman manajemen pemerahan ASI yang telah saya terapkan dan terbukti sukses menebus rasa bersalah karena anak pertama kami (Rosabrille, 4 tahun) hanya menikmati ASI selama 4 bulan saja.
Pukul 05.45-06.00 : susui bayi sebelum berangkat kerja
Pukul 06.00 : berangkat kerja
Pukul 11.30-12.15 : perah ASI, +/- 200 cc
Pukul 12.15-12.30 : makan siang
Pukul 15.00 : Pulang kantor
Pukul 15.00-15.30 : Perah ASI sebelum pulang, +/- 100 cc
Pukul 16.30 : Sampai di rumah, menyusui bayi seperti biasa sampai jam tidur
Pukul 20.00 : Bayi tidur, saya pun bisa istirahat
Pukul 23.00-23.30 : perah ASI, +/- 100 cc
Pukul 23.30-04.00 : Tidur, susui bayi hanya di satu payudara saja.
Pukul 04.00-04.30 : Perah ASI dari payudara yang satu lagi, +/- 100 cc
Dengan begitu saya bisa menghasilkan ASI perah rata-rata +/- 500 cc/hari. Saya membaginya menjadi 5 botol @100 cc, dan alhamdulillah itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama saya meninggalkan rumah mulai pukul 06:00-16:30.

Begitu kira-kira jadwal pemerahan ASI yang saya lakukan mulai dari Kairo berusia 1.5 bulan sampai 6 bulan. Untung saja dalam kurun waktu itu tidak ada pekerjaan yang mengharuskan saya harus kerja lembur.

Rutinitas memerah ASI masih saya lakukan hingga sekarang (Kairo berusia 11 bulan). Jumlah ASI perah yang saya hasilkan mulai menurun sedikir demi sedikit. Kini saya hanya memerah ASI satu kali pada jam 11.30 (+/- 150 cc, saya jadikan 1 botol saja), tapi saya sangat bersyukur hingga kini Kairo masih bisa menikmati ASI walaupun tidak banyak.

Bagi saya, ASI adalah anugerah yang tak terkira nilainya, sehingga saya tidak ingin menyia-nyiakannya, walaupun terkadang aktivitas memerah ASI bisa menjadi sangat melelahkan dan menjemukan. Saya yakin, walaupun saya tidak bisa bersama bayi kami sepanjang hari, tetapi dengan effort tak kenal lelah untuk menghasilkan tetes demi tetes ASI, antara saya dan Kairo tetap akan memiliki bonding yang sama kuatnya dengan ibu-ibu yang menyusui bayinya secara langsung.

Semoga bermanfaat dan selamat menyusui.

Artikel terkait:
Breast pump
Review buku Breastfeeding guide (from Amazon) 
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)