Tampilkan postingan dengan label Ibu Bekerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Bekerja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Maret 2013

Titel Ibu, Perlukah?


“Saya tidak bekerja, hanya ibu rumah tangga biasa”
“Enak ya jadi ibu rumah tangga, bisa dekat sama anak terus”
“Kasihan ya anak-anak itu, ibunya kerja sih, jadi cuma dijaga pembantu aja”
“Wah, sudah sekolah tinggi-tinggi kok cuma jadi ibu rumah tangga”
“Kalau ibunya kerja ya gitu itu, anaknya jadi ngga keurus”

Jika ada ibu-ibu yang merasa hebat karena mereka menjadi ibu bekerja, itu salah besar. Tapi jika ada ibu-ibu yang merasa paling hebat karena mereka memilih menjadi ibu rumah tangga, itu juga sama salahnya.
Semua ibu itu hebat. Catat, semua ibu, titik. Ibu, tidak perlu embel-embel “bekerja” atau “rumah tangga” untuk membuatnya menjadi hebat.
Seorang ibu rumah tangga, yang semenjak matahari belum muncul sudah bangun. Membereskan ini, menyiapkan itu, mengurus ini, membersihkan itu. Seorang ibu rumah tangga akan terus bekerja hingga anak-anak bangun, hingga mereka berangkat sekolah, hingga mereka pulang, hingga mereka berangkat les, hingga mereka pulang les, bahkan hingga mereka tidur. Pekerjaan seorang Ibu rumah tangga tidak akan pernah ada habisnya. It’s 24/7.
Lantas, bagaimana dengan golongan ibu bekerja? Apakah mereka tidak bangun di pagi buta? Apakah mereka lantas tidur sore-sore karena lelah seharian bekerja di kantor? Apakah mereka lantas sepenuhnya menyerahkan semua urusan rumah tangga pada sang asisten rumah tangga? Mungkin saja ada yang demikian, tapi yang tidak pun juga tidak kalah banyak. Sebab tidak semua ibu bekerja didampingi seorang asisten rumah tangga.
Banyak dari ibu bekerja yang juga bangun di pagi buta. Sebagian dari mereka terburu-buru ke pasar dan memasak untuk sarapan. Sebagian lagi masih menyempatkan diri untuk beres-beres rumah atau mencuci pakaian. Sepulang kerja pun, banyak dari mereka yang masih menyempatkan diri menemani anak-anaknya belajar. Dan setelah anak-anak berangkat tidur, mereka juga masih menyempatkan diri untuk setidaknya mencuci piring atau menata pakaian di lemari.
Bagi ibu bekerja pun tidak ada hari Minggu atau tanggal merah. Karena di hari-hari itulah kesempatan untuk membersihkan rumah secara paripurna, atau membuat kue atau membuat masakan istimewa untuk orang-orang tercintanya. Pada akhirnya sama saja, seorang ibu bekerja pun memiliki jam kerja yang 24/7.
Jika ada seorang Ibu bekerja yang hanya mementingkan karir dan tidak menghiraukan keluarga, maka golongan ibu rumah tangga yang lebih asyik menikmati sinetron dan ngerumpi juga banyak.
Oleh karena itu, sudahlah, kita stop saja perdebatan mana yang lebih baik; menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga.
Ibu ya ibu. Dari judulnya, sudah jelas tugasnya adalah merawat, membesarkan dan mendidik anak. Itu adalah hal yang mutlak tak bisa ditolak. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah proses perawatan dan pendidikan anak tidak butuh biaya? Bagaimana jika penghasilan sang ayah masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga? Bukankah itu juga tugas Ibu untuk membantu? Bukan demi sang ayah, tapi demi para buah hati.
Banyak ibu-ibu yang beruntung mendapatkan suami yang penghasilannya lebih dari cukup. Tapi yang tidak pun juga banyak, sehingga mereka dengan sangat berat hati, harus meninggalkan buah hatinya di rumah dan menjemput rejeki bagi keluarganya di tempat lain. Mereka dengan sangat berat hati pula terpaksa menitipkan mata pada orang lain agar tetap bisa mengawasi buah hatinya. Mereka merasa bersalah karena terpaksa mendelegasikan urusan perawatan anak-anak kepada orang lain. Tapi terkadang hidup tidak banyak memberikan pilihan.
Ketika sedang hamil, banyak Ibu-ibu yang beruntung bisa menjalani kehamilan dengan tenang di rumah. Tapi banyak juga yang harus melewati masa kehamilannya di jalanan, di kantor atau di pabrik. Namun apakah golongan yang terakhir ini lantas mengabaikan keselamatan dan kesehatan si jabang bayi dalam kandungan?
Ketika masa menyusui, banyak dari ibu yang beruntung dapat berdekatan sepanjang hari dengan buah hatinya, memberikan ASI kapan saja sang bayi meminta. Tapi banyak juga ibu-ibu yang dengan effort tak kenal lelah, melakukan pemerahan ASI  di sela-sela waktu bekerja, bahkan terkadang sampai mengorbankan waktu istirahatnya, demi memenuhi kebutuhan ASI eksklusif bagi bayinya.
Sama saja. Effort tiap ibu, mau ibu rumah tangga atau ibu bekerja, sama besarnya. Mereka akan melakukan apa saja demi yang terbaik bagi putra-putrinya.
Banyak dari ibu-ibu, yang memiliki latar belakang pendidikan tinggi, memilih tinggal di rumah untuk memastikan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang benar. Ibu-ibu ini mengabaikan cita-cita dan ambisi masa mudanya demi mendidik generasi penerus bangsa. Sementara kawan-kawan kuliahnya dulu mungkin saja telah menginjakkan kaki di banyak negara, ibu-ibu ini memilih untuk tetap tinggal di rumah, memastikan anak-anak dapat bertemu ibunya saat pulang sekolah.
Menjustifikasi ibu-ibu rumah tangga yang menyia-nyiakan pendidikan tingginya dengan hanya tinggal di rumah, sebenarnya sama kejamnya dengan menjustifikasi ibu-ibu bekerja yang menyia-nyiakan pendidikan tingginya dengan menyerahkan pendidikan anak-anaknya pada seorang pembantu rumah tangga.
Sebenarnya, masih perlukah kita memperdebatkan mana yang lebih baik? Ibu rumah tangga atau ibu bekerja? Masih perlukah kita memberikan titel “bekerja” atau “rumah tangga”?
Ibu, di manapun berada dan apapun profesinya, tetaplah seorang Ibu, yang telah Tuhan bekali naluri untuk membesarkan anak-anak. Naluri yang tidak bisa tergantikan oleh siapapun.
Ibu ya Ibu. Menjadi seorang Ibu jelas merupakan anugerah. Tapi menjadi ibu yang bekerja atau tinggal di rumah adalah sebuah pilihan. Mana yang lebih baik mungkin hanya Tuhan yang bisa menilai...

Kamis, 02 Juni 2011

Menjadi Pembicara yang Baik

Bermodalkan penguasaan terhadap materi yang akan disampaikan tidak cukup untuk membuat Anda menjadi seorang pembicara yang baik. Materi yang akan Anda bawakan akan mampu diterima dan diserap secara optimal jika Anda adalah seorang pembicara yang atraktif dan tidak membuat audience mengantuk. Di sinilah tantangannya, apalagi jika Anda menjadi pembicara dalam waktu yang lama. Walau materi Anda bagus tapi jika Anda tidak bisa membawakannya dengan baik, maka sudah bisa dipastikan Anda akan melihat peserta Anda satu per satu tertidur dan ilmu Anda tidak bisa tersampaikan.

Berikut ini hal-hal yang harus diperhatikan untuk menjadi keynote speaker yang jempolan:
1. Ice breaking
Ice breaking sangat penting untuk mendapatkan kesan pertama yang baik di hadapan audience. Ice breaking hukumnya wajib, alokasikan waktu untuk ice breaking paling tidak 5 menit karena di sinilah saat yang menentukan atensi yang akan Anda dapatkan di menit-menit selanjutnya. Jadi tidak cukup hanya dengan salam atau menyapa audience dengan kalimat: “Assalammualaikum, salam sejahtera untuk kita semua, selamat pagi, hari ini saya akan membawakan materi bertema bla bla bla....”.
Cara paling gampang untuk ice breaking adalah perkenalan diri. Walaupun moderator atau MC sudah membacakan profil Anda, audience akan tertarik jika Anda memperkenalkan diri lagi, membagi profil Anda lebih detail sehingga audience akan percaya bahwa Anda orang yang benar-benar kompeten untuk membawakan materi.
Metode lain adalah dengan cara sebaliknya, yakni meminta peserta memperkenalkan diri atau menanyakan harapan-harapan mereka mengikuti seminar atau training Anda (tentunya tidak perlu semua peserta karena waktu Anda justru akan tersita di ice breaking).
Saya malah pernah menjadi peserta sebuah seminar motivasi (keynote speakernya adalah Gobind Vashdev). Saya sempat melihat jam dan beliau menggunakan waktu hingga 10 menit untuk ice breaking, mulai dari perkenalan diri hingga mengajak senam.

2. Intonasi dan volume suara yang pas
Jangan berbicara dengan intonasi yang terlalu datar karena akan menyebabkan kebosanan. Demikian juga jaga volume suara Anda pada setelan yang sesuai. Anda harus memastikan bahwa suara Anda terdengar cukup keras hingga di barisan belakang.

3. Tidak “teks book” pada slide dan bukan slide yang “teks book”.
Ingat, slide power point hanya berfungsi Anda membantu mengingat point-point materi yang akan disampaikan dan membantu audience memperoleh gambaran visual dari hal yang Anda bicarakan. Jadi jangan menjadi pembicara yang hanya bisa membaca slide presentasi.
Demikian juga dalam hal pembuatan slide, jangan membuat slide yang seperti teks book, yakni hanya copy paste dari makalah atau karya tulis Anda. Slide dengan terlalu banyak tulisan (apalagi jika tulisannya kecil-kecil) hanya akan membuat audience bingung. Lebih baik, bagikan “reading material” dalam bentuk makalah atau buku kepada audience dan buat slide presentasi yang lebih ringkas.
Silahkan lihat perbedaan di antara kedua slide berikut. Keduanya memiliki content yang sama. Jika Anda menjadi peserta seminar atau training, manakah yang lebih menarik untuk dilihat menurut Anda?





4. Sisipkan humor dengan porsi yang pas
Tanpa humor, materi Anda pasti akan membosankan. Tetapi terlalu banyak humor juga akan membuat presentasi Anda terkesan main-main dan tidak serius. Menyisipkan humor di waktu-waktu kritis bisa mencegah peserta Anda tertidur. Misalnya saat-saat menjelang istirahat atau setelah makan siang di mana peserta biasanya mulai turun konsentrasinya.

5. Siapkan slide yang atraktif
Slide yang berwarna-warni, disertai foto, gambar dan animasi akan lebih menarik ketimbang slide yang terlalu monoton.
Sebagai catatan, jika menggunakan animasi, gunakan seperlunya saja. Jangan menggunakan animasi huruf berputar, melayang atau spiral yang terlalu berlebihan karena hanya akan membuat audience semakin pusing.

6. Hindari monolog
Jangan bermonolog. Buatlah diskusi 2 arah. Sesekali, lemparkan pertanyaan ke audience dan biarkan mereka menjawab untuk selanjutnya Anda bahas.

Menjadi pembicara butuh jam terbang. Banyak-banyaklah berlatih untuk mengasah kemampuan Anda menjadi keynote speaker yang layak diingat....


Selasa, 31 Mei 2011

Menjadi Auditor Yang Charming

Pada hakikatnya audit berbeda dengan inspeksi. Jika inspeksi lebih bersifat satu arah, proses audit berjalan 2 arah. Baik auditor maupun auditee berhak bertanya atau menjawab mengenai satu hal. Jika inspeksi lebih condong mencari suatu bentuk kesalahan, audit lebih condong memastikan bahwa suatu sistem manajemen mutu telah berjalan semestinya, jadi tidak melulu harus mendapatkan temuan kesalahan. Sekalipun begitu, kendali tetap berada di pihak auditor, karena kebanyakan auditee hanya bersifat pasif menanti pertanyaan atau permintaan data dari auditor.

Syarat mutlak menjadi auditor tentunya Anda harus menguasai ilmunya dulu kan, scope audit dan klausul-klausul yang berhubungan dengan audit yang akan dilakukan. Tapi ada beberapa hal yang juga harus Anda perhatikan agar Anda terkesan “charming” di depan auditee:
1. Pelajari dulu proses kerja instansi yang akan diaudit, minimal Anda tidak terlalu blank saat mendatangi auditee dan sudah siap dengan hal-hal yang akan Anda tanyakan. Jangan lupa periksa dulu checklist Anda sebelum Anda mengaudit. Terkadang tidak semua klausul bisa compatible dengan proses kerja di suatu tempat.
2. Sebelum memulai audit, sebaiknya lakukan ice breaking saat opening dengan pembicaraan di luar masalah audit. Dengan cairnya suasana diharapkan auditee akan lebih terbuka dan Anda bisa menggali banyak informasi yang Anda butuhkan.
3. Beri pertanyaan dengan gaya yang luwes, jangan terlalu kaku sesuai dengan kalimat-kalimat di checklist yang sudah Anda persiapkan. Di sini Anda perlu melakukan improvisasi.
4. Ingat, Anda tidak sedang menginspeksi, jadi jangan melakukan audit dengan gaya diktator. Hal seperti itu malah akan membuat auditee semakin bungkam dan pelit membagi informasi. Tanyakan berbagai hal dengan gaya seorang murid bertanya pada gurunya dan bukan sebaliknya.
5. Tidak ada salahnya mempelajari sasaran tembak dari instansi yang akan diaudit. Jadi sebelumnya Anda sudah mempelajari titik kekurangan auditee Anda, sehingga Anda bisa memfokuskan pada masalah tersebut selama proses audit. Anda bisa lihat dari record audit sebelumnya. Persiapkan juga solusi atau jawaban jika auditee meminta pendapat Anda.
6. Anda harus tahu harus memulai audit dari mana. Ada beberapa auditor yang langsung meminta beberapa dokumen terkait tanpa bertanya dulu alur prosesnya, biasanya ini terjadi pada auditor lama yang sudah terbiasa mengaudit di satu tempat. Namun jika Anda auditor baru, lebih baik tanyakan dulu proses kerja di tempat tersebut agar Anda tidak terkesan sok tahu.
7. Jangan melenceng dari scope dan jangan mudah terbawa oleh auditee. Anda harus jeli jika berhadapan dengan auditee yang membelokkan suatu permasalahan ke permasalahan lain karena dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang pertama.
8. Jangan lupa lakukan closing dengan auditee dengan memberikan kesimpulan hasil audit yang telah dilakukan saat itu juga. Ini agar auditee bisa well informed dan bisa segera melakukan tindak lanjut.

Semoga bermanfaat.

Minggu, 29 Mei 2011

5 Sisi Positif Menjadi Ibu Bekerja



Untuk para Ibu yang terpaksa bekerja,

“Tulisan ini adalah sarana penghiburan diri seorang Ibu yang tidak bisa ada di rumah mendampingi anak-anaknya karena harus bekerja di luar rumah” 

Tidak bisa melihat langkah pertama si kecil?
Tidak bisa mendengar kata pertamanya?
Tidak bisa mengantar hari pertamanya ke play group?
Tidak bisa ikut menemani saat dia lomba mewarna?
Tidak bisa datang di acara rapat guru dan murid...?

Jika Anda adalah seorang Ibu seperti saya yang “terpaksa” memutuskan meninggalkan buah hati untuk bekerja di luar rumah, maka ada harga yang cukup mahal yang harus dibayar dengan keputusan itu. Ya, akan banyak momen emas si kecil yang Anda lewatkan. That’s fine! Sakit hati memang, tapi tenang saja Bunda. Jangan hanya melihat sisi ruginya saja. Yuk lihat sisi positifnya, karena memang nggak semua Ibu lo bisa beruntung menikmati hari-harinya di rumah bersama anak-anak.

Sisi positif menjadi ibu bekerja:
1. Melatih anak mandiri
Kedua anak Om saya terpaksa dititipkan di tempat penitipan anak (mulai dari bayi), karena Tante saya harus kuliah. Hasilnya keduanya sekarang jadi sangat mandiri. Mereka tidak terlalu tergantung pada keberadaan orang tua, walau hubungannya juga masih dekat si. Mereka tidak manja dan mudah bergaul dengan anak yang baru dikenal. Itu karena di tempat penitipan mereka biasa bermain dengan anak-anak orang lain yang belum mereka kenal.
Melatih anak mandiri sejak dini menurut saya sangat penting. Kita tidak tahu sampai berapa lama kita bisa terus mendampingi mereka kan (karena umur kita tidak ikut punya). Dengan melatih mereka mandiri sejak kecil, kita tidak akan kebingungan lagi jika sewaktu-waktu harus meninggalkan mereka dalam waktu yang lama (misalnya ke luar kota). Sifat mandiri ini juga akan mereka bawa hingga mereka dewasa nantinya.

2. Melatih kecerdasan Ibu
Yang namanya ibu, walaupun punya label wanita karir atau ibu bekerja, tetap saja memiliki tanggung jawab penuh mengatur rumah tangga, termasuk menyediakan makan untuk seluruh keluarga, memastikan anak siap ke sekolah, menyiapkan kebutuhan suami, de el el. Pekerjaan ibu rumah tangga itu justru nggak ada matinya. Nah, dengan tanggung jawab memanage rumah tangga disambi dengan bekerja, dibutuhkan kecerdasan yang cukup tinggi agar kedua kegiatan itu bisa terlaksana dengan baik. Akhirnya mau nggak mau kita harus pintar-pintar memanage waktu, menciptakan resep-resep makanan yang praktis, menata perabotan agar kegiatan pembersihan tidak makan waktu lama, dan lain-lain. Lihat, kini Anda semakin bertambah cerdas kan?

3. Sebagai sekoci penyelamat
Tiba-tiba suami kena PHK, atau bisnisnya sedang berjalan tidak bagus. Anda tidak perlu khawatir biduk keuangan rumah tangga akan karam, karena ada sekoci penyelamat, yaitu: Anda. Bukankah demikian fungsi istri? Sebagai back up suami kan? Ibu saya menopang kebutuhan keluarga hampir selama 10 tahun karena usaha ayah saya belum menunjukkan kemajuan. Tapi jangan salah, Ibu saya adalah ibu rumah tangga jempolan. Pintar menata rumah, mendampingi saya belajar, bisa masak dan bikin kue, dan masih sempat mengajari saya ilmu jahit menjahit.

4. Lebih bebas beli-beli
Senang sekali jika kita bisa memberikan hadiah untuk teman-teman atau saudara yang berulang tahun, kawinan, punya bayi atau pindahan rumah. Maksudnya kalau kita punya dana sendiri, kita nggak akan sungkan pada suami jika ingin beli ini-itu. Kita pun bisa memberikan yang lebih baik untuk anak-anak (mulai dari kebutuhan dasarnya hingga pendidikannya).(Bukankah gaji suami milik bersama, sedangkan gaji istri milik istri?, haha...just joking).

5. Banyak teman=banyak sodara=banyak rejeki
Dengan bekerja di luar rumah, otomatis kita jadi banyak teman. Teman adalah sodara kita juga (jangan lupa, kita berjumpa dengan teman-teman kita di tempat kerja jauh lebih lama daripada berjumpa keluarga kita sendiri di rumah, coba saja hitung kalau nggak percaya). Nah, kalo banyak sodara berarti banyak rejeki. Kok bisa? Semakin banyak sodara, berarti network kita makin bertambah. Jika kita punya masalah, banyak yang bisa membantu. Jika kita punya barang dagangan, mudah pemasarannya karena kita punya link yang menggurita.

Memang sedih si melewatkan masa-masa emas anak-anak kita tapi semua akan terbayar pada waktunya kok. Memang kalau boleh memilih, saya lebih suka di rumah atau mencari pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah, tapi jikalau jalan rizkinya memang di tempat lain bagaimana? Bagaimana jika rizki yang didapat suami belum cukup untuk segala kebutuhan ini itu?
Mendampingi anak-anak memang penting, tapi kebutuhan finansial juga penting. Karena alasan kita bekerja mencari uang untuk siapa sih kalau bukan untuk anak?
Jangan kuatir juga anak kita jadi lebih dekat pada orang lain dibanding pada kita. Sembilan bulan di kandungan dan dilanjutkan masa menyusui adalah fondasi yang kuat untuk membangun bonding yang kuat antara kita dan anak-anak kita.

Sekali lagi tulisan ini dibuat untuk menghibur diri (setengah curhat maksudnya). Ibu tetaplah seorang Ibu, apapun kemasannya, apapun labelnya. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi seorang Ibu, bagaimanapun ia...

Perlu dibaca juga:
 Menghadapi dilema menjadi Ibu Bekerja

Sabtu, 21 Mei 2011

Agar Bisa Cuti Hamil Dengan Tenang

Cuti hamil (maternity leave) umumnya berlangsung selama 2-3 bulan, namun tak jarang lo ada beberapa wanita yang masih harus menyelesaikan urusan kantor walaupun sedang masa cuti panjang. Alasannya tentu saja karena tuntutan profesionalisme dan loyalitas (pengalaman pribadi). Mungkin tidak terlalu masalah jika hanya perlu menyelesaikan pekerjaan yang sifatnya sangat urgent dan tidak makan waktu terlalu banyak (misalnya menghadapi auditor dari lembaga independen), tapi jika setiap hari saat cuti hamil kita masih saja dihubungi kantor untuk urusan ini itu, berarti ada yang kurang kita persiapkan sebelum memasuki masa cuti.

Agar cuti hamil bisa dinikmati semaksimal mungkin, berikut ini adalah hal-hal yang harus dilakukan:
1. Informasikan ke Atasan
Beritahukan atasan Anda begitu Anda dinyatakan positif hamil. Gunanya agar beliau juga turut memikirkan antisipasi dan menyiapkan strategi jika Anda meninggalkan posisi di tim selama 3 bulan. Mungkin saja ada beberapa jenis pekerjaan yang harus dilimpahkan pada atasan berkaitan dengan masalah wewenang, sehingga tidak bisa digantikan oleh bawahan Anda.

2. Delegasikan tugas dan tanggung jawab
Rekan kerja Anda sudah pasti harus menggantikan pekerjaan Anda selama masa cuti hamil. Untuk itu Anda juga harus memikirkan sejak awal masalah pendelegasian tugas dan tanggung jawab pada rekan atau bawahan Anda.

3. Buat checklist atau note sedetil mungkin
Checklist ini akan memudahkan rekan kerja Anda mengingat detil-detil pekerjaan yang bisa terlupakan jika hanya mengandalkan dokumen Instruksi Kerja atau Prosedur Kerja Standard. Letakkan checklist ini di tempat yang mudah terlihat dengan tampilan yang eye-catching.

4. Lakukan alih pengetahuan atau training sedini mungkin
Jika pekerjaan Anda bersifat teknis, lakukan training atau alih pengetahuan. Pastikan rekan kerja Anda sanggup mengerjakan pekerjaan Anda dengan baik sebelum Anda tinggalkan. Anda tentunya tidak ingin diganggu hanya untuk ditanya bagaimana cara menjalankan mesin ini atau bagaimana membuat dokumen itu itu kan?

5. Percaya Pada kekuatan tim
Mempercayai kekuatan tim akan membuat Anda menjalani cuti hamil dengan tenang.

6. Keep updated
Jangan menghindar jika ada telefon dari kantor. Dengan tidak menjawan telefon malah akan membuat Anda penasaran dan kepikiran apa yang sedang terjadi di kantor. Memang Anda sedang menikmati cuti, tapi bukan berarti Anda betul-betul menghilang dari peredaran kan? Mengetahui kabar-kabar terkini di perusahaan Anda akan membuat Anda lebih siap menghadapi akhir masa cuti melahirkan, minimal Anda tidak “blank” jika harus bekerja kembali.

Cuti hamil memang hak setiap karyawan wanita dan bayi yang ia lahirkan. Oleh karenanya persiapkan dari sejak awal untuk meminimalkan “gangguan” dari kantor selama masa cuti. Walau begitu, tetap in touch dengan kantor pun perlu juga, minimal agar kita tetap update isu-isu terkini.

Selamat menikmati masa cuti hamil dan melahirkan....

Rabu, 20 April 2011

Manajemen ASI Perah Untuk Ibu Bekerja

Akhirnya masa cuti melahirkan saya akan segera berakhir. Itu artinya, tak lama lagi saya harus meninggalkan bayi kami, Kairo (1.5 bulan), selama paling tidak 10 jam untuk bekerja. Urusan penjagaan anak telah saya delegasikan pada si Mbak, tapi urusan yang satu ini tidak bisa didelegasikan pada siapapun, termasuk pada ayahnya. Ya, saya masih harus memenuhi hak bayi kami untuk mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan.

Posting kali ini adalah sharing pengalaman manajemen pemerahan ASI yang telah saya terapkan dan terbukti sukses menebus rasa bersalah karena anak pertama kami (Rosabrille, 4 tahun) hanya menikmati ASI selama 4 bulan saja.
Pukul 05.45-06.00 : susui bayi sebelum berangkat kerja
Pukul 06.00 : berangkat kerja
Pukul 11.30-12.15 : perah ASI, +/- 200 cc
Pukul 12.15-12.30 : makan siang
Pukul 15.00 : Pulang kantor
Pukul 15.00-15.30 : Perah ASI sebelum pulang, +/- 100 cc
Pukul 16.30 : Sampai di rumah, menyusui bayi seperti biasa sampai jam tidur
Pukul 20.00 : Bayi tidur, saya pun bisa istirahat
Pukul 23.00-23.30 : perah ASI, +/- 100 cc
Pukul 23.30-04.00 : Tidur, susui bayi hanya di satu payudara saja.
Pukul 04.00-04.30 : Perah ASI dari payudara yang satu lagi, +/- 100 cc
Dengan begitu saya bisa menghasilkan ASI perah rata-rata +/- 500 cc/hari. Saya membaginya menjadi 5 botol @100 cc, dan alhamdulillah itu cukup untuk memenuhi kebutuhannya selama saya meninggalkan rumah mulai pukul 06:00-16:30.

Begitu kira-kira jadwal pemerahan ASI yang saya lakukan mulai dari Kairo berusia 1.5 bulan sampai 6 bulan. Untung saja dalam kurun waktu itu tidak ada pekerjaan yang mengharuskan saya harus kerja lembur.

Rutinitas memerah ASI masih saya lakukan hingga sekarang (Kairo berusia 11 bulan). Jumlah ASI perah yang saya hasilkan mulai menurun sedikir demi sedikit. Kini saya hanya memerah ASI satu kali pada jam 11.30 (+/- 150 cc, saya jadikan 1 botol saja), tapi saya sangat bersyukur hingga kini Kairo masih bisa menikmati ASI walaupun tidak banyak.

Bagi saya, ASI adalah anugerah yang tak terkira nilainya, sehingga saya tidak ingin menyia-nyiakannya, walaupun terkadang aktivitas memerah ASI bisa menjadi sangat melelahkan dan menjemukan. Saya yakin, walaupun saya tidak bisa bersama bayi kami sepanjang hari, tetapi dengan effort tak kenal lelah untuk menghasilkan tetes demi tetes ASI, antara saya dan Kairo tetap akan memiliki bonding yang sama kuatnya dengan ibu-ibu yang menyusui bayinya secara langsung.

Semoga bermanfaat dan selamat menyusui.

Artikel terkait:
Breast pump
Review buku Breastfeeding guide (from Amazon) 

Selasa, 19 April 2011

Menghadapi Dilema Menjadi Ibu Bekerja


Setiap Ibu pasti senantiasa ingin bersama buah hatinya sepanjang waktu untuk mendampingi dan memantau tumbuh kembangnya. Namun banyak pula Ibu-Ibu yang harus bekerja di luar rumah sehingga terpaksa mendelegasikan pengurusan anak-anak mereka pada orang lain.

Sebagian dari mereka mungkin merasa hal tersebut bukan masalah, tapi sebagian besar beranggapan bahwa mereka tidak seharusnya meninggalkan buah hatinya di rumah bersama orang lain untuk mencari uang. Tak jarang para wanita itu bagaikan dihadapkan pada dua sisi mata pisau yang tajam. Di satu sisi mereka merasa bersalah karena tidak bisa full time menjaga anak tetapi di sisi lain mereka harus keluar rumah membantu perekonomian keluarga.

Apabila Anda termasuk golongan yang terakhir ini, janganlah bersedih dan terlalu merasa bersalah, apalagi jika si kecil sudah mulai bisa protes dan memohon agar Anda di rumah saja. Berikut ini tips untuk membantu Anda bisa berpikir lebih positif menghadapi dilema menjadi Ibu yang harus bekerja di luar rumah.

- Anggaplah protes si kecil itu sebagai bukti keterikatannya dengan Anda. Berarti yang dia harapkan adalah Anda dan bukan orang lain yang biasa mengasuhnya. Sebagai kopensasi, luangkan waktu untuk menciptakan Exclusive moment antara Anda dan si kecil setiap hari walaupun singkat. Sekedar membaca cerita, menonton TV bersama atau main gelitikan akan memperkuat bonding antara kalian.
- Berada di rumah memang penting, tapi bukankan support materi juga penting agar Anda bisa memberikan yang terbaik untuk si kecil, mulai dari kebutuhan dasar sampai pendidikan. Bayangkan saja bagaimana jika tidak ada biaya, tentunya si kecil akan lebih sedih lagi seandainya dia melihat kawan-kawannya pergi sekolah sedangkan dia tidak bisa.
- Menjadi Ibu bekerja itu tidak salah. Terkadang hidup memang tidak memberikan banyak pilihan. Seandainya bisa, mungkin secara naluriah kita lebih memilih untuk lebih dekat dengan anak, sayangnya kondisilah yang mengharuskan kita ikut berpartisipasi membantu keuangan keluarga. Pandai-pandailah memberi pengertian pada si kecil bahwa yang Anda lakukan adalah demi kebaikannya juga.

Jika jalan menjadi Ibu bekerja adalah sebuah pilihan yang tidak bisa terhindarkan, janganlah bersedih dan merasa bersalah. Di manapun dan kapan pun, sebagai Ibu yakinlah Anda akan selalu memiliki cinta kasih yang berbatas pada anak-anak Anda. Cinta kasih yang tulus ikhlas dan tak menuntut balas......

Perlu dibaca juga:
5 Sisi Positif Menjadi Ibu Bekerja
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)