Tampilkan postingan dengan label Rekam Jejakku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rekam Jejakku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Mei 2017

Pulau Tabuhan, Sepercik Eksotika Ujung Timur Pulau Jawa


Perjalanan kami ke Pulau Tabuhan, Banyuwangi memang termasuk mendadak. Tapi untuk urusan jalan-jalan memang kami seringkali begitu, spontan. Saya masih ingat ketika kami memutuskan pergi berlibur 4H3M di Bali tanpa ada rundown yang pasti hendak ke mana aja. Pokoknya pergi aja ke Bali. Waktu itu spontanitas kami membawa kami sampai ke Trunyan, sebuah desa kuno dengan adat purbakala yang masih bertahan hingga kini. Tempatnya eksotis dan mempesona. Eits, tapi postingan kali ini bukan mau cerita tentang Bali, melainkan tentang tetangganya, Pulau Tabuhan.

Yups, dari Pulau Tabuhan ini memang Pulau Bali kelihatan jelas. Betapa tidak, Pulau kecil yang tak berpenghuni ini memang masuk wilayah Banyuwangi, kota di ujung timur Pulau Jawa.
Ada beberapa alasan mengapa kami memilih Pulau Tabuhan untuk liburan. Satu, kami memang mencari jalur liburan yang tidak terlalu padat. Dua, pengalaman snorkling di Gili Labak minggu sebelumnya masih belum memuaskan karena terkendala arus yang deras. Tiga, untuk menebus rasa bersalah karena kami pergi ke Gili Labak tanpa mengajak anak-anak. Empat, karena kami sudah mendapatkan informasi dari temen-temen yang sudah lebih dulu ke sini bahwa Pulau Tabuhan sangat anakable banget ;D
So, hari Sabtu siang sepulang kerja, kami langsung berangkat ke Banyuwangi. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 8 jam. Kami cuma sempat berhenti dua kali, di masjid dan di Indomaret untuk beli kopi. Saran saya kalau bawa mobil sendiri, apalagi kalau berangkatnya tepat setelah pulang kerja, sebaiknya ada dua orang atau lebih yang bisa nyetir. Supaya bisa gantian nyetirnya. Nah, kami sampai di hotel sekitar jam 10 malam. Kami nginep di Baru Dua Beach Hotel yang lokasinya pas banget di pinggir pantai. Jadi di pagi harinya selepas sholat Subuh, kami sudah nongkrong di belakang hotel demi menunggu matahari terbit.

Hari Minggu jam 6 pagi kami sudah berangkat menuju Bangsring Underwater. Search aja di google map; “Bunder-Bangsring Underwater”. Petunjuk jalannya juga cukup jelas, dan ada semacam tugu selamat datang di pintu masuknya. Tulisannya kalau nggak salah Wisata Pulau Tabuhan (sori saya lupa nggak motret). Kami sampai di loket sebelum jam setengah tujuh pagi. Ini memang kami sengaja karena teman kami sudah wanti-wanti agar tiba di loket sebelum buka supaya bisa segera dapat perahu. Sebenarnya jam buka loket adalah jam 7, namun entah karena hari itu hari libur panjang atau karena masnya ngga tega ngeliat muka saya yang memelas di depan pintu loket, akhirnya kami sudah dilayani tepat pukul setengah tujuh. Alhamdulillah kami bisa langsung berangkat, mengingat hari itu ternyata bookingan perahu menuju Tabuhan dan Menjangan cukup banyak. Ada sekitar 40 bookingan katanya.

Oke, ini yang terpenting, biaya menuju ke Pulau Tabuhan sudah fix. Jadi kita ngga perlu nego-nego lagi sama pemilik perahu seperti yang pernah saya alami di Bali atau Pantai Pasir Putih. So, biaya untuk paket snorkling di Tabuhan adalah sebagai berikut:
Perahu Rp 500 ribu (max 10 orang, kalau 10 orang lebih dikit gimana? Kalau lebihannya ngga banyak (semisal lebih 2-3 orang, maka per orang kena tambahan charge 50 ribu)
Sewa alat snorkling 30 ribu/orang
Guide 50 ribu
Dokumentasi underwater 150 ribu
Kalau yang ingin ke Pulau Menjangan, biayanya sekitar 2.3 juta untuk 10 orang (include makan siang).

Perjalanan menuju ke Tabuhan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari sana, Pulau Menjangan bisa kelihatan dari kejauhan. Duh yaaa....aslinya kepengen banget sekalian ke sana. Apalagi guide kami bilang di sana terumbu karangnya jauh lebih bagus dan ikan-ikannya lebih berwarna dan besar-besar. Tuh bikin ngiler kan? Secara mumpung udah sampai sana gitu lho. Tapi berhubung ini kan masih trial ngajak anak-anak snorkling, dan lagi kok rasanya rugi kalau ke sana cuma berempat, akhirnya kami putuskan untuk ke Menjangan lain kali aja.
So, back to Pulau Tabuhan yah. Daya tarik Pulau Tabuhan ada pada airnya lautnya yang jernih dan tenang. Berbeda dengan di Gili Labak, start snorkling di sini dimulai dari pinggir pantai, bukan nyemplung dari atas perahu. Nah jadi ini aman banget untuk anak-anak. Terumbu karang di area snorkling kami tidak banyak. Tapi kami tetap bisa melihat aneka hewan laut di sini. Selain ikan dan ubur-ubur, kami sempat berjumpa dengan bintang laut biru yang cantik ama cacing laut yang tekstur kulitnya squishy bangett. Hal yang agak di luar dugaan adalah cukup banyak plankton di sini. Akibatnya belum semenit saya kena air laut, kulit yang terpapar langsung sama air laut langsung terasa gatal cenderung pedih. Agak panik awalnya, tapi lama-lama biasa juga. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di Pulau Tabuhan.



Oya, di Tabuhan ini ngga ada rest area yaa. Kalaupun ada warung jam bukanya ngga jelas. So saran saya, jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Karena kalau snorkling itu sudah pasti haus dan laper. Trus...sampah makanan dan minumannya bawa balik lagi ya. Jangan dibuang di Tabuhan meski di situ ada tempat sampahnya juga. Karena saya kok ngga ngeliat ada petugas yang buang sampah. Jadi meski ada tempat sampah tapi isinya ngga pernah diangkut ya sama aja boong.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Bangsring, kami mampir ke Rumah Apung Bangsring (ini memang sudah termasuk paket wisatanya). Di sini lagi-lagi kami diajak snorkling melihat terumbu karang. Cuma kali ini lokasi terumbu karangnya agak dalam. Sekitar 4 meteran. Meski dalam, terumbu karang di sini lebih bagus dan besar-besar. Ikan-ikannya juga banyak. Lokasi ini juga dijadikan pembibitan terumbu karang. Puas melihat terumbu karang, kami ngasih makan ikan yang jumlahnya buanyak dan ukurannya cukup besar di sekitar Rumah Apung. Caranya dengan menggenggam roti yang kemudian akan dikerubuti oleh ikan-ikan laut. Seru seru ngeri gitu deh, hehe. Apalagi jari saya sempet digigit. Tapi tenang aja, ikan-ikannya bukan ikan karnivora kok. Kalaupun sampai kegigit, rasanya Cuma kaget sedikit, ngga sakit sama sekali.



Atraksi utama Rumah Apung adalah penangkaran hiu. Kami sempat nyemplung ke kandang anak hiu dan foto-foto di situ. Rasanya ngeri-ngeri pengen tau, hehe.

Nah, sekarang giliran cerita sisi negatifnya wisata Bangsring-Tabuhan yah.
Guys, ini serius bangett. Plisss....jangan pernah buang sampah di laut yaaa. Apapun alasannya. Kasian itu makhluk-makhluk laut terkotori ruang hidupnya. Bisa kebayang nggak kalau tiba-tiba ada orang yang buang sampah di ruang tamu rumahmu? Mangkel nggak? Mangkel kan? Nah, begitu juga dengan laut. Laut itu sejatinya adalah rumah bagi buanyak makhluk hidup. Namun nyatanya, sampah di Bangsring Tabuhan tuh buanyak banget. Kalau saya perhatiin foto-foto underwater kami, hampir semuanya pasti ada sampah yang ketimpul-ketimpul. Duuuhhh...sedih banget. Mulai dari plastik mie instan, plastik pembalut, plastik minyak goreng sampai botol henbodi.

Memang si, kalau mau nyalahin bisa aja kita nyalahin pengelola tempat wisata Bangsring Tabuhan, kenapa kok mereka ngga ada program cleaningnya. Tapi ya ngga bisa gitu juga dong. Seandainya pengunjung, baik yang cuma bentar kaya kami atau yang sampai kemping di sana, memiliki kesadaran yang tinggi untuk tidak buang sampah di laut, pastinya akumulasi sampah nggak akan sampai segitu banyaknya walaupun tanpa adanya program pembersihan.     
Oke, sampai sini dulu yah ceritanya.

Kalau saya ditanya, apakah pengen balik lagi ke Tabuhan. So pasti pengen banget. Malah kami sudah merencanakan untuk ke Menjangan di kesempatan berikutnya. 

Rabu, 19 April 2017

Exploring Gili Labak via Gili Genting


Akhirnyaaaa….setelah mengalami drama yang serunya ngalah-ngalahin drama Korea atau sinetron Indonesia, kita berangkat juga ke Gili Labak, sebuah pulau dengan pantai bintang lima di ujung perairan Madura. Oke, abaikan soal drama karena itu sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Nggak usah kepo juga nanya-nanya dramanya soal apa ya. Yang penting pada akhirnya kami semua bisa pergi ke Gili Labak dan pulang kembali dengan sehat dan selamat, untuk kemudian bisa kembali nulis di blog yang sudah banyak sarang laba-labanya ini (soalnya jarang ditengokin, hihi).
Langsung saja yah, ini buat referensi temen-temen, ibu-ibu, bapak-bapak, kakak adik, om dan tante yang pengen juga mengunjungi pulau kecil nan indah ini.
Oya, sebelumnya terima kasih yang tak terhingga untuk menejemen bogasari flour mills yang telah mengadakan program rekreasi karyawan, yang membebaskan kami untuk memilih destinasi wisata sesuai selera, sehingga kami bisa bener-bener feel so refresh dan ready to rock the flour mills again :D (Sori bahasanya nyampur-nyampur akibat terlalu excited)
Nah balik lagi ke soal rekreasi yah. Berhubung kami tergolong nggak suka ribet, terutama kalau urusan happy-happy, maka kami memilih untuk menggunakan jasa tour organizer. Biayanya Rp. 250 ribu untuk trip 1H1M ke Gili Genting-Gili Labak. Enak siy, Cuma tinggal bawa badan ke meeting point, bawa perlengkapan pribadi dan uang secukupnya, lantas duduk manis aja udah sampe ke tujuan. So, ini lah rundown trip kami tanggal 16 April lalu.

Sabtu, 23:30-24:00. Persiapan Berangkat
Meeting point ada di Stasiun Gubeng Baru. Saat saya datang, sudah menanti 3 Elf yang siap membawa kami ke Sumenep.

Minggu 24:00-03.30. Perjalanan ke Sumenep
Travel yang kami pakai cukup on time kok. Cuman ya gitu, berhubung jalanan sepi, akhirnya kecepatan laju sang Elf ini lumayan juga. Niat hati ingin tidur selama perjalanan pun buyar karena ngeri dengan speed kendaraan. Ya tapi bagi yang sudah biasa mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi macam mas bojo di sebelah saya ya bisa tidur nyenyak sampai ngorok-ngorok segala.

Minggu 03:30-05:00. Istirahat di Wisma Tamu
Yang dimaksud istirahat sebenarnya bukan berarti istirahat di kamar gitu. Rumah singgah yang dimaksud ini punya teras yang cukup luas dan bersih untuk kami baring-baring sebentar sambil menunggu Shubuh. Persis di sebelah rumah ada surau dan beberapa kamar mandi. Jangan lupa tapi, masuk kamar mandi ada ongkosnya lhoo. Siapkan saja uang receh 2000an dan 1000an, karena kalau nggak masukin uang ke kotak, sudah ada umi-umi yang nungguin di depan kamar mandi dan siap negur siapa aja yang nggak bayar.



Minggu 05:00-06:00. Perjalanan ke Gili Genting
Tepat pukul lima pagi, kami mulai berjalan menuju dermaga. Letaknya kira-kira cuma 300 meter dari wisma. Kami naik perahu nelayan berkapasitas 60 Ton. Dari perahu ini lah kami bisa menikmati matahari terbit. Ini sebenernya agak beda dengan scenario awal. Jadi mestinya, kami sudah naik perahu sejak jam 3 pagi, lantas menikmati matahari terbitnya di Gili Genting. Tapi berhubung (menurut informasti guide), laut sedang surut, akhirnya kami harus nunggu air pasang dulu untuk bisa berangkat. Tapi nggak masalah, melihat matahari terbit dari sebuah perahu nelayan pun juga tetap terasa sensasional kok. Apalagi diselingi dengan pemandangan perahu-perahu nelayan yang lalu lalang, keramba-keramba dan siluet pulau-pulau lain dengan background warna langit yang merah jingga. Duh….betapa yaaa….Allahu akbar….
Perjalanan laut menuju Gili Genting ini memakan waktu sekitar 30 sampai 45 menit.


Minggu 06:00-07:00. Sarapan di Gili Genting
Nah begitu sampai di Pulau Gili Genting, sebaiknya siap-siaplah untuk basah, karena tidak ada dermaga semacam di Sumenep tadi. Jadi perahu langsung merapat sedekat mungkin dengan bibir pantai. Saat kami turun dari perahu, sudah disambut dengan air laut setinggi lutut. Jadi kalau yang mau pakai rok, sebaiknya pakai daleman celana panjang yah.
Di pulau ini, kami sudah disambut sama spot-spot foto yang emang sudah disediakan pengelola. Pantainya sepi, hanya ada beberapa grup wisatawan yang sudah lebih dulu bermalam di sana. Jadi di Pantai Sembilan ini, selain bisa menginap di tenda, juga bisa menginap di semacam rumah kayu yang posisinya tepat menghadap laut.
Nah, begitu kami sampai di sini, langsung lah kami foto-foto buat dokumentasi LPJ kantor, hehe. Habis gitu, sebagian masih lanjut foto-foto, sebagian lagi sarapan (sudah disediakan nasi box oleh travel) dan sebagian lagi langsung lepas kaos dan nyemplung laut. Airnya jernih, tenang dan renangable banget. Saya aja nyaris tergoda untuk ikutan nyemplung kalau ngga inget bahwa kami masih harus menempuh perjalanan laut lagi menuju Gili Labak dan baju ganti yang saya bawa terbatas.
So, saran saya buat yang suka renang, usahakan bawa baju ganti lebih ya.

Minggu 07:00-08:30. Perjalanan ke Gili Labak
Perjalanan ke Gili Labak memakan waktu sekitar 90 menit. Saat itu (kelihatannya) air laut cukup tenang, tapi ketika di atas perahu goyangannya lumayan juga. Tapi mungkin karena kami perginya ramai-ramai, maka perjalanan panjang yang cukup memualkan (bagi sebagian orang ini) jadi nggak terasa.
Pas udah keliatan pulaunya, huwiii seneng banget rasanya. Apalagi ketika Gili Labak tuh ternyata semakin dekat semakin keliatan cuantik. Buat saya yang jarang mbolang ke remote area karena masih punya anak kecil-kecil, rasanya itu pantai subhanallah buanget cakepnya. Kombinasi warna biru langit, pepohonan hijau, pasir putih dan warna laut yang berlapir-lapis biru hijau tosca sungguh membuat nafas tertahan.
Oke, here we go! Mari menikmati surga dunia!!

Minggu 09:00-11:00. Snorkling
Ini dia momen yang ditunggu-tunggu. Buat saya ini pengalaman perdana, jadi rasanya ya so pasti excited banget. Rombongan tamu hari itu dibagi jadi dua batch bergantian karena keterbatasan peralatan. Kami memilih batch pertama. Jadi tak lama setelah tiba, kami langsung kembali naik perahu untuk berangkat ke tempat snorkeling.
Peralatan snorkeling berupa life vest dan goggles sudah disiapkan. Cuman karena saya tahu bahwa pakai snorkeling goggles itu nggak nyaman, saya memilih untuk pakai kacamata renang biasa. Dan tentu saja dengan sok pedenya saya nggak mau pakai life vest. Ternyata….di sinilah saya baru tahu asal muasal peribahasa “air tenang itu menghanyutkan”. Saya kaget ketika ternyata arus dalam laut di lokasi snorkeling kami cukup deras juga. Tahu-tahu saya sudah berada di posisi yang cukup jauh dari perahu. Duh pantas aja itu si mas-mas guide pada pakai sepatu katak semua. Untung saja di lokasi snorkeling sudah disediakan tali. Jadi saya tinggal menarik diri saya sendiri pakai tali untuk kembali ke perahu.
Mengenai lokasi snorklingnya sendiri menurut saya tidak terlalu bagus. Ya mungkin ini kebetulan saja karena memang sejak berangkat saya sudah mendapat info yang berbeda-beda mengenai snorkeling area di Gili Labak. Ada yang bilang kalau snorkeling di Gili Labak biasa-biasa aja, ada yang bilang bagus banget. Nah kalau menurut saya si biasa-biasa aja. Soalnya airnya kebetulan agak keruh, terumbu karangnya juga tidak terlhat terlalu warna-warni dan ikannya tidak terlalu banyak. Jadi kesimpulan saya, mengenai spot snorkeling ini tergantung amal ibadah J. Jika beruntung ya bisa dapat spot bagus. Tapi…terlepas dari bagus tidaknya lokasi snorkeling, saya tetep enjoy menikmati acara snorkeling ini, apalagi ketika momen pemotretan bawah air, cieee….
Oya, untuk underwater shoot, saya kudu acungkan jempol untuk mas-mas guide yang bener-bener support. Jadi gini, kalau kita tidak cukup pede untuk lepas life vest dan goggles, kita boleh kok dipotret dari permukaan saja. Hasilnya bagus karena cahaya di permukaan cukup, tapi kurang epic. Nah, kalau kita cukup pede untuk menyelam, mas-mas guide ini akan bantu supaya kita bisa masuk ke dalam hingga menyentuh karang. Kedalamannya kurang lebih antara 1.5 sampai 2 meter. Saya sendiri aslinya dalam kondisi biasa, maksudnya kalau di kolam renang, bisa-bisa aja nyelem sampai kedalaman segitu. Tapi berhubung di sana arusnya kenceng banget, saya Cuma bisa menyelam hingga semeteran aja. Awalnya mas Musa (nama guide kami), menawarkan untuk membantu biar saya bisa nyelam hingga ke bawah. Caranya dengan menarik tangan saya lantas dipotret sama dia. Tapi ternyata nafas saya yang nggak kuat karena saya nyemplung tanpa pakai pelampung. Akhirnya saya minta jeda sejenak untuk atur nafas dan pindah ke lokasi yang lebih dangkal. Di sini saya lebih beruntung. Lagi-lagi saya dibantu untuk bisa lebih cepat sampai ke dasar laut hingga menyentuh terumbu karang. Kali ini caranya dengan didorong bukan ditarik. Dan voila…akhirnya dapet lah foto bawah air yang epic, hehe… Cuma belakangan saya jadi nyesel, kenapa ngga minta diulang untuk didorong lagi yak? Asik ternyata nyelem sampai bawah sampai bisa pegang karang :D

Minggu 11:00-13:00. Bebas, ishoma, bersih diri
Setelah kembali ke pantai, kami lantas jalan-jalan keliling pulau. Jangan berharap ada wahana-wahana semacam banana boat, jetski atau kano di sana. Satu-satunya wahana selain terumbu karang di Gili Labak ya pantai itu sendiri. Pulau Gili Labak itu ternyata sangatlah kecil hingga seluruh bagian pulau itu adalah pantai. Kalau berjalan kaki keliling pulau mungkin hanya makan waktu setengah jam saja. Kami menghabiskan waktu bebas selama dua jam untuk berjalan-jalan dan berenang di air yang jernih. Duh yaaa…itu laut rasanya kaya ada tangan yang narik-narik gitu. Jadi tiap kali mentas, rasanya pengen nyebur lagi nyebur lagi. Pokoknya ketika lagi berendem di laut, rasanya nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Dannn….di Gili Labak itu sepertinya sejam bukan lagi enam puluh menit deh. Sepertinya jarum jam berputar lebih cepat dari biasanya. Tahu-tahu udah mendekati jam 1 siang, waktunya kembali ke Sumenep L
Oya, untuk makan nggak usah khawatir. Di Gili Labak ada warung-warung yang jual kelapa muda dan ikan bakar. Tapi karena saya saat itu lagi kepengen kuah-kuah, akhirnya cuma pesen indomie rebus sama telor. Nah menurut temen saya yang pesen ikan bakar, rasanya enak, apalagi sambelnya.
Terus untuk mandi, juga ada kamar mandinya kok. Hanya saja pakai air payau. Kalau mau tambah air tawar untuk bilas bisa juga, Cuma bayar lagi 10 ribu per gallon.

Minggu 13:00-15:00. Perjalanan Kembali ke Sumenep
Nah, cerita bagian ini agak bikin sebel. Pertama karena kita udah harus ninggalin pulau cantik nan mempesona ini. Kedua, karena baju dan celana saya basah gara-gara keburu-buru naik perahu (mana bawa baju ganti Cuma 1 stel pula -_-“). Padahal kalau saya mau sabar sebentar aja, pak tukang perahunya bakal narik perahu lebih dekat ke bibir pantai supaya kita tidak terlalu basah. So, saran saya, jika ketika meninggalkan Gili Labak sudah dalam keadaan rapi jali, sebaiknya sabar dulu yaa. Insya Allah dibantuin kok sama tukang perahunya. Soalnya saya liat ada rombongan ibu-ibu yang bergamis syari pun bisa kok naik ke perahu tanpa harus berbasah-basahan.
Akhirnya, dalam keadaan basah kuyup sampai ke perut itu lah, saya menempuh perjalanan selama 2 jam kembali ke Sumenep. Alhamdulillah tapi, lagi-lagi perjalanan kami diberkahi Allah dengan cuaca yang cerah, malah cenderung tidak berangin. Jadi goyangan perahu tidak separah saat berangkat.

Minggu 15:00-16:00. Istirahat di wisma tamu
Back to wisma tamu. Di sini kami istirahat lagi untuk memberi kesempatan anggota rombongan yang belum sempat ishoma di Gili Labak. Terus sebelum pulang kami juga disuguhi nasi soto (yang sudah masuk dalam paket tournya).

Minggu 16:00-21:00. Perjalanan ke Surabaya
Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama ketimbang berangkatnya. Karena kami sempat mampir sebentar ke tempat toko oleh-oleh. Sampai di Stasiun Gubeng Baru, arloji saya menunjukkan waktu jam 9 malam kurang dikit.

Nah, itu tadi cerita lengkapnya sesuai janji saya ke temen-temen yang tempo hari sempet nanya-nanya di fesbuk. Oya, kalau yang mau bawa anak-anak si sebenernya ngga papa. Asalkan usianya udah nggak balita kali ya. Terus juga yang bisa tahan sama gelombang laut. Terus kalau emang mau diajak snorkeling, pastikan dulu apakah akan diajak snorkeling di tempat yang berarus kuat. Jika memang semua spot snorkeling di Gili Labak berarus kuat, sebaiknya nggak usah diajak kali yaa. Cukup liat-liat situasi aja dari atas kapal, atau berenang-renang di pinggir pantai. Soalnya untuk ukuran orang dewasa yang bisa berenang kaya saya, rasanya capek banget lho mempertahankan diri agar nggak keseret arus.
But trust me, main-main di pantainya yang indah aja udah pasti bikin anak-anak seneng. Saya dan suami sudah kepikiran kelak ingin ngajak anak-anak kemping di Gili Labak, supaya kita bisa renang-renang sepuasnya. Huwiiii…!!!!

Oya hampir lupa, untuk informasi lebih detil soal trip dan destinasi lainnya, silakan kontak @AtJava ya, monggo langsung meluncur ke instagramnya mereka. 

Oke deh, see you again soon, Gili Labak J

Video Kompilasi Dokumentasi Gili Labak

Rabu, 06 Januari 2016

Serpihan Surga Dan Negeri Di Atas Awan

Berlibur saat long weekend adalah hal yang paling saya hindari. Dengan naiknya volume kendaraan setiap tahun dan tidak bertambahnya ruas jalan membuat saya berpikiran bahwa liburan sama dengan macet. Belum lagi nanti begitu sampai di area wisata. Bukannya malah melihat obyek wisata, yang kita lihat malah pengunjung yang jumlahnya seabrek hingga menyerupai dawet. Itu sebabnya saya langsung menolak mentah-mentah ketika suami meminta saya untuk mengambil cuti sehari di hari Sabtu tanggal 26 Desember 2015 agar kami bisa pergi berlibur.
Tapi melihat argumen-argumen suami, mulai dari kesempatan tanggal merah yang jarang ada, liburan sekolah anak-anak, sampai para bosnya yang saat itu juga sedang menghabiskan natal bersama keluarga, saya menangkap adanya keinginan di matanya untuk melepaskan ketegangan kerja yang selama ini membelenggu teman hidup saya itu. Akhirnya saya pun mengalah. Saya bersedia cuti, namun dengan syarat; saya tidak mau berlibur ke tempat-tempat yang lazim didatangi, semisal Bandung, Jakarta, Batu atau Jogja, apalagi Bali.
Akhirnya suami menyebut satu lokasi; B29 Lumajang!
Oke, itu nama yang asing. Setidaknya bagi saya dan beberapa teman dekat saya. Karena kebanyakan dari mereka belum pernah mendengar nama B29, akhirnya feeling saya mengatakan inilah tempat liburan yang pas. Hanya saja, saya melakukan satu kesalahan kecil sebelum berangkat ke B29; saya tidak sempat membaca review mengenai tempat tersebut. 
Suami saya hanya memberi tahu bahwa untuk naik ke puncak B29 nanti kami akan naik ojek yang akan langsung membawa kami ke lokasi. Tanpa jalan kaki lagi. Pikir saya, berarti perjalanan ke B29 ini tidak seberat saat kami ke Penanjakan (Gunung Bromo) tempo hari. Maka saya pun memutuskan untuk tidak memakai sandal gunung (oke, ini ternyata kelak menjadi kesalahan kecil nomor 2).
Akhirnya hari Jumat pagi tanggal 24 Desember, kami pun berangkat dari Surabaya. Sempat mampir sarapan di Rawon Nguling (Probolinggo) sebelum sampai di Lumajang kurang lebih pukul sepuluh pagi. Kami langsung menuju rumah guide yang ditemukan suami saya melalui sebuah blog. Sebelum melanjutkan perjalanan ke B29, beliau menawarkan dua alternatif lokasi wisata; yakni Kebun Teh atau Air Terjun Tumpak Sewu.
Begitu saya mendengar nama air terjun, saya langsung membayangkan medan yang naik turun. Maka saya pun memilih kebun teh saja. Namun karena suami saya cenderung memilih air terjun dan si bapak guide bilang medannya bisa kok ditempuh oleh anak balita, maka saya pun tidak keberatan. Hanya saja, bapak guide tadi bilang bahwa nanti di lokasi kami akan butuh dua orang guide untuk membantu menuntun dua anak kami melewati sungai sebatas dengkul. Beliau bilang tarif guide adalah 50 ribu per orang, tapi terserah kami kalau mau menambahi sendiri.
Akhirnya kami pun berangkatlah ke lokasi air terjun Tumpak Sewu, dengan berbekal denah sederhana yang digambarkan sang guide.
Kami tiba di lokasi kurang lebih pukul satu siang (karena kami sempat mampir untuk solat Jumat dulu). Setelah membayar tiket masuk sebesar 5 ribu per orang, kami pun mulai diantar menyusuri jalan makadam menurun yang di kiri kanannya adalah kebun kopi, salak dan kelapa milik warga. Kami berjalan dengan sedikit susah payah (karena saking terjal dan curamnya. Di situlah saya merasa menyesal mengapa saya tidak memakai sandal gunung). Sambil berjalan, kami membayangkan betapa susahnya perjalanan kembalinya nanti (karena kami harus mendaki). Namun ternyata perjalanannya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 400 m kami sudah bisa melihat panorama air terjun yang di banner selamat datang tertulis: Serpihan Surga Itu Memang Ada.
Saya rasa tulisan di banner itu tidak berlebihan. Pemandangan yang kami lihat memang sungguh luar biasa indahnya. Puluhan air terjun yang berderet-deret menyerupai tirai yang membungkus tebing-tebing berbatu, membuat saya sejenak menahan napas. Cantik. Menawan. Misterius. Duhai, inikah caranya Sang Maha Perupa menjadikan bumi ini sebagai media menunjukkan ke-Maha Indahan-Nya?  

Dari tempat kami melihat air terjun tersebut (mereka menyebut lokasi tersebut  dengan "Panorama"), kami bisa melihat di kejauhan, deretan bambu yang disusun memanjang dari atas tebing menuju ke bawah air terjun. Ternyata itu lah akses masuk menuju air terjun jika pengunjung datang dari arah Malang. Saat itu saya belum sadar bahwa jalur yang sama dengan deretan bambu juga telah menanti kami tak jauh dari lokasi kami berdiri.

Tangga Bambu di kejauhan tampak di belakang kami (kiri)

Ngomong-ngomong, kami sempat mengira bahwa titik Panorama adalah akhir kunjungan kami ke Tumpak Sewu. Hingga kami sempat berpikiran untuk apa menyewa dua orang guide dengan tarif 50 ribu per orang hanya untuk mengantar kami sejauh 400 meter dari tempat parkir yang petunjuk arahnya sudah jelas. Tapi rupanya, Panorama bukanlah akhir perjalanan. Setelah puas mengambil foto dan mengagumi keindahan air terjun Tumpak Sewu, kami pun diajak turun menuju sungai, yang berarti kami harus melalui medan yang lumayan ekstrim, yang membuat saya kian menyesal meninggalkan sandal gunung saya di rumah.
Dari hasil bincang-bincang dengan bapak guide yang sudah setengah baya dan berwajah ramah itu, tempat wisata ini memang baru dibuka lima bulan terakhir. (Kalau yang dari arah Malang sepertinya sudah lebih lama). Jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya medan yang kami lalui karena masih berupa tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga dengan pagar pengaman darurat dari jalinan bambu. Di beberapa tanjakan bahkan kami harus menuruni tangga-tangga bambu dengan tali-tali tampar yang disediakan untuk membantu kami berpegangan. Di beberapa jalur, kami bahkan harus berjalan bergantian dengan pengunjung yang datang dari arah berlawanan, karena jalannya hanya cukup untuk satu orang saja.

Salah satu medan menuju sungai di bawah air terjun
Akhirnya kami tahu mengapa kami disarankan untuk minta disediakan dua orang guide. Bukan untuk menunjukkan jalan (karena petunjuk jalannya sudah sangat jelas), melainkan untuk menggendong anak-anak kami. Adik bahkan harus digendong ketika perjalanan turun, sedangkan Kakak masih bisa berjalan sendiri hingga nyaris ke bibir sungai, walaupun mulut mungilnya mengeluarkan keluhan dan omelan akibat jalanan yang memang berat untuk ukuran anak SD kelas 3.
Saya tidak tahu dan tidak sempat bertanya berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk menuruni punggung bukit hingga sampai ke sungai. Yang jelas perjalanan menuruni punggung bukit itu sangat melelahkan hingga membuat lutut kami gemetaran. Untunglah sebelum turun tadi kami sempat makan dulu.
Jika perjalanan turunnya saja sedemikian melelahkan, bisa dibayangkan bagaimana perjalanan naiknya bukan? Saya menyebutnya jalur pemecah jantung. Karena begitu kita sampai di ujunng salah satu tanjakan, tanjakan berikutnya sudah menanti dan rasanya tanjakan-tanjakan itu tiada habisnya. Duhai, sedemikian susahnya kah ternyata memasuki surga? Walaupun itu hanya serpihannya saja?
Tapi saya tidak boleh mengeluh dong. Lha mau mengeluh bagaimana wong di depan mata saya ada yang jauh lebih sengsara. Siapa? Ya dua orang guide yang kami minta bantuan tenaganya untuk membopong Kakak dan Adik di punggungnya sembari melintasi jalur mendaki tanpa alas kaki! Akhirnya mana tega kami hanya memberi 50 ribu rupiah sebagai pengganti jasa mereka?
Walaupun perjalannya sedemikian melelahkan, percayalah pada saya wahai pembaca yang budiman, semua jerih payah itu terbayar lunas kok. Baik ketika di titik panorama, juga ketika naik turun menyusuri punggung bukit. Lihatlah pemandangan yang mempesona, tirai air dipadu hijaunya pepohonan. Dengarlah suara gemericik air berpadu dengan nyanyian serangga yang entah apa namanya. Rasakan belaian hawa sejuk khas pegunungan dan sejuknya air gunung yang menyapu kulit. Serta keramahan penduduk lokal yang dengan sabar menuntun dan memandu pengunjung. Semua itu nyaris tidak kita dapatkan di kota besar bukan?

Menikmati kesejukan air sungai setelah berlelah-lelah menyusuri punggung bukit
Oh ya, anak-anak bahkan sempat merasakan sensasi mandi di kebun salak di belakang rumah bapak guide berwajah ramah yang memandu kami, karena air di kamar mandi umum kebetulan habis.
Saya sendiri terus terang sama sekali tidak merasa kapok berkunjung ke Tumpak Sewu. Kelak, saya ingin kembali ke sana lagi. Tentu saja dengan persiapan yang lebih matang, semisal melakukan stretching dan jogging dulu biar badan lebih fit :D
*
 Selepas dari air terjun Tumpak Sewu, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan kami semula; B29, Negeri di Atas Awan! Sebenarnya kami cukup percaya diri bahwa kami bisa menemukan lokasi B29. Wong sudah biasa ngebolang dan nyasar-nyasar. Tapi sang guide menyarankan agar kami memakai jasa pemandu begitu kami sampai di Senduro. Sebab beliau khawatir kami tidak bisa menemukan jalanan menuju ke desa selepas dari jalan utama. Akhirnya kami menurut saja. Tak ada salahnya memakai pemandu walau itu berarti ada additional cost untuk jasa penunjuk jalan.
Keputusan untuk memakai jasa pemandu ternyata tidak salah. Jalanan menuju desa B29 cukup meragukan, walau kami yakin kami bisa menemukannya dengan bantuan papan penunjuk jalan dan Google Map. Kami melewati jalanan perbukitan yang beberapa di antaranya cukup terjal dan curam. Dengan adanya pemandu, kami jadi lebih yakin bahwa kami tidak salah jalan dan tidak takut bertemu jalan buntu dan harus putar balik di jalanan yang berada persis di bibir jurang.
Kami sampai di desa B29 tepat ketika adzan Magrib berkumandang dan langsung diantar menuju penginapan. Yang dimaksud penginapan sebenarnya adalah rumah penduduk yang dijadikan guest house. Tempatnya cukup nyaman. Terletak di antara kebun-kebun sayur dengan fasilitas yang cukup memadai. Ada kamar mandi dan dapur. Biaya menginap juga tidak terlalu mahal. Hanya sekitar 60 ribu per kepala. Namun karena rumah tersebut terdiri dari 3 kamar dan kami harus bersedia sharing dengan penyewa lain jika ada, maka suami memutuskan untuk membooking satu rumah tersebut untuk kami sendiri saja (dengan biaya 400 ribu per malam).

Suasana Pagi Di Depan Rumah Penginapan

Kenapa kami tidak memilih menginap di hotel saja? Ya karena di sana memang belum ada hotel.
Tapi rumah sederhana itu menurut kami sudah lebih dari cukup untuk melepas lelah setelah sesiangan berjibaku di sepanjang punggung bukit nan curam demi melihat air terjun Tumpak Sewu. Hanya beberapa menit setelah menjalankan shalat Isya, makan malam seadanya dengan lauk pecel dan mie instan, kami semua sudah terlelap.
Oh ya, mengenai suhu udara di desa B29, memang tidak lebih dingin daripada suhu udara di Bromo. Setidaknya saya tidak sampai harus bertayamum atau memakai alas kaki saat ke kamar mandi, seperti yang saya lakukan di Bromo tempo hari. Tapi tetap saja, walaupun dinginnya suhu udara di B29 masih bisa tertahankan, saya masih harus mengenakan kaus kaki dan sarung tangan saat tidur.
Pukul empat lebih lima belas menit dini hari, setelah shalat Shubuh, kami sudah dijemput rombongan ojek yang akan mengantar kami ke puncak B29. Perjalanan ke sana kira-kira memakan waktu sekitar 30 menit, melalui jalanan yang curam dan terjal. Mobil pribadi sudah dipastikan tidak bisa melalui jalur ini. Jadi jika tidak ingin kelelahan, untuk menuju puncak B29, pengunjung bisa menggunakan ojek seperti kami dengan tarif 90 ribu rupiah/per ojek (untuk perjalanan pergi pulang kembali ke penginapan).
Matahari mulai terbit ketika kami masih di atas ojek. Langit yang semula gelap bergemintang perlahan mulai dihiasi semburat warna oranye di sebelah timur. Saat itu lah kami mulai bisa melihat pemandangan sekeliling yang ternyata ngeri-ngeri memukau. Kami baru sadar bahwa jalanan yang sedari tadi kami lalui tidak hanya berbatu dan terjal, namun juga hanya berjarak beberapa puluh senti dari bibir jurang. Namun punggung bebukitan yang hijau serta ladang-ladang sayur yang tampak dalam keremangan cahaya pagi membuat suasana pagi itu terasa misterius. Untuk sesaat saya seakan berada di dunia lain. Hingga suara mas Slamet, sang supir ojek, yang mengingatkan agar saya duduknya tidak miring-miring karena saat itu angin bertiup cukup kencang, membuyarkan lamunan saya. Demi mendengar suara peringatannya dan jurang yang berada tak jauh dari telapak kaki saya membuat saya kembali berkonsentrasi pada bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang sedari tadi saya gumamkan dalam hati. Aneka perasaan semacam pasrah, takjub dan excited bercampur baur.
Sampai di puncak B29, rupanya kami kurang beruntung. Gumpalan awan menutupi puncak B29 sehingga kami nyaris tidak bisa melihat apa-apa. Lantas suami memutuskan agar kami melanjutkan ke P30. Dari namanya, sudah bisa diduga bahwa P30 berlokasi di tempat yang lebih tinggi lagi.
Oya, nama B29 berarti desa di atas Bukit dengan ketinggian 2900 meter di atas permukaan air laut. So, P30 berarti berlokasi 100 meter lebih tinggi lagi. Untuk menuju ke sana, lagi-lagi kami harus menaiki ojek sejauh 2.5 kilometer (sekitar 15 menit perjalanan). Medannya sudah lebih landai ketimbang saat menuju puncak B29, hanya saja sudah tidak ada lagi jalanan beraspal atau berpaving seperti sebelumnya. Jalan yang kami lewati benar-benar hanya cukup dilewati satu sepeda motor melewati gerumbulan tanaman gunung yang daun dan rantingnya menampar-nampar tubuh kami ketika kami melintas. Karena jalan yang cukup sempit itu, jika kebetulan ada sepeda motor lain yang datang dari arah berlawanan, maka salah satu motor harus rela menunggu sembari meminggirkan motornya ke arah rerimbunan tumbuhan.
Saat kami ke sana, Gunung Bromo sedang "batuk". Itu sebabnya area di sekitarnya (termasuk B29) pun terpapar abu gunung. Kami cukup beruntung karena saat kami ke sana, angin sedang berbaik hati untuk tidak meniupkan gumpalan abu vulkanis Bromo ke arah B29 dan P30. Kami juga beruntung selama di sana, hujan tidak turun, sehingga medan yang kami lalui tidak licin.
Nah, begitu kami sampai di P30, rupanya cuaca pagi masih belum mau bersahabat. Sepanjang mata memandang, kami hanya bisa melihat kabut putih. Kami tak berlama-lama berada di sana karena Kakak tiba-tiba menggigil kedinginan. Setelah mengambil foto sebentar, kami segera turun kembali ke puncak B29 dengan harapan cuaca di sana segera membaik sehingga kami bisa melihat pemandangan. Di sana juga ada beberapa warung agar Kakak bisa menghangatkan diri dengan menghirup teh hangat.
P30 dan kabut yang menyelimutinya
Alhamdulillah. Setelah beberapa menit menunggu di warung kopi sembari menghangatkan diri. Kabut pun mulai sirna dan pemandangan Gunung Bromo dan sekitarnya mulai tampak. Dari Puncak B29 kami bisa melihat dengan jelas erupsi Gunung Bromo dengan gumpalan abu vulkanis yang terus menerus merangsek keluar dari dalam perut gunung.
Erupsi Gunung Bromo
Puncak B29 Ketika Kabut Mulai Tersingkap



Kami kembali dimanjakan oleh pemandangan yang mempesona ketika dalam perjalanan kembali ke penginapan. Pemandangan yang membuat kami enggan meninggalkan Negeri Di Atas Awan.
Tapi kami tahu diri kok. Walau tempat ini sedemikian cantiknya, we are not belong to this place. Tumpukan tanggung jawab dan tugas-tugas sudah menanti kami di Surabaya.
Tapi setidaknya, kami telah membawa beberapa potong kenangan. Tentang serpihan surga dan segala tantangannya untuk menuju ke sana. Tentang negeri di atas awan dan penduduknya yang ramah. Tentang tangan Tuhan yang menjadikan semesta ini menjadi kanvas yang dilukis dengan indah.
Potongan-potongan memori itu akan selalu membuat kami ingat, ke mana kami harus pergi, jika kelak di Surabaya, kami mulai jenuh oleh segala rutinitas.
Panorama Desa B29




Gunung Semeru Tampak di Belakang


Nah, untuk temen-temen yang ingin berkunjung ke Negeri Di Atas Awan, silahkan menghubungi nomor-nomor di bawah ini untuk mendapatkan informasi seputar B29. Mulai dari arah-arah menuju ke sana, penginapan sampai penyediaan tenda untuk berkemah jika seandainya temen-temen berniat camping di sana.

Mas Slamet, ia penduduk B29 sekaligus pemandu kami selama di sana. Bisa dihubungi di 0822-3086-9122.


Pak Mashudi, beliau adalah guide yang ditemukan suami saya melalui sebuah blog. Bisa dihubungi di 081234-92918.

Happy Vacation, teman-teman...!!! ^-^

Selasa, 14 April 2015

Aplikasi 5S Tidak Sesulit Membuat Roket

Kalau ada yang bilang menerapkan 5S di tempat kerja itu sulit, apalagi jika tempat kerjanya sudah terlanjur berantakan bin chaos tak karuan, saya berani bilang bahwa itu tidak benar. Soalnya saya sudah buktikan sendiri, bahwa 5S tidak sesulit membuat roket, walau memang tidak semudah membalik telapak tangan.
Nah, di postingan kali ini, untuk pertama kalinya sejak saya mengenal blogging, saya ingin sharing tentang hal-hal yang berbau pekerjaan, yakni langkah-langkah penerapan 5S yang sudah dan sedang kami terapkan di tempat kerja. 
Tujuan saya hanya satu, mematahkan pemahaman bahwa aplikasi 5S di tempat kerja itu sulit.
*
Saya bekerja di bogasari flour mills, sebuah pabrik penggiling gandum menjadi terigu yang berlokasi tepat di tepi pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Saya bertanggung jawab mengelola sebuah workshop yang bernaung di bawah Departemen Produksi, bernama Mill Support.
Akan memakan waktu yang lama dan panjang untuk menceritakan apa sesungguhnya yang saya kerjakan di Mill Support. Pokoknya dari namanya, sudah jelas tugas seksi kami adalah memberikan support untuk Mill (Penggilingan). Support apa? Apa saja selama kedua tangan dan kaki-kaki kecil kami sanggup mengerjakan. #halah. Oke bercanda. Kami punya jobdes (job description) kok. Tentu saja, jika datang pekerjaan yang di luar jobdes, kami berwenang untuk menolak.  Tapi seringnya, karena saking multi taskingnya para anggota tim Mill Support, yang ada kami lebih sering menerima job daripada menolaknya. Hihi...
Bengkel Mill Support berukuran kurang lebih 20 x 8 meter dengan 9 orang karyawan (termasuk saya). Saya membaginya menjadi 5 area, dengan mempertimbangkan jenis dan sifat pekerjaan;
1.       Area Outdoor (untuk pekerjaan-pekerjaan yang menimbulkan debu)
2.       Area Sewing (untuk pekerjaan dengan mesin jahit)
3.       Area Mesin Press (untuk pekerjaan pembuatan ayakan tepung)
4.       Area Pneumatic (untuk pekerjaan servis pneumatic Roll)
5.       Area Carpentry (untuk pekerjaan pertukangan).
Ups lupa, ada tambahan satu area lagi yakni Area Meeting (yang menjadi tempat saya menerima teman-teman, dan bahkan calon supplier, yang lagi pengen curhat, hehe).
Nah, sebelum saya cerita lebih jauh, mungkin ada pembaca yang belum mengerti apa itu 5S. Jadi kita tinggalkan sejenak workshop Mill Support untuk membahas selayang pandang tentang 5S.
5S sebenarnya berakar dari Jepang, dengan singkatan Seiri, Seiso, Seiton, Seiketsu, Shitsuke, merupakan metode pengorganisasian lokasi kerja. Tujuannya membuat area kerja menjadi lebih teratur, tidak berantakan, segala sesuatu mudah ditemukan dan membuat pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Konon, dengan Metode 5S ini lah, Jepang yang di tahun 1945 menjadi negara yang mengalami kehancuran karena tragedi Hiroshima dan Nagasaki, kini bisa menjadi salah satu negara maju. Konsep 5S ini pertama kali digagas di Toyota.
Sesuai namanya, ada 5 langkah dalam 5S (atau ada juga yang menyebut 5R dalam versi bahasa Indonesia);
1.       Seiri/ Ringkas, adalah kegiatan pemilahan. Yakni menyimpan barang-barang yang diperlukan dan menyingkirkan sisanya.
2.       Seiton/Rapi, adalah kegiatan penataan material sehingga tempat kerja menjadi lebih rapi, material mudah ditemukan dan jumlah stok lebih terkontrol. Contoh aplikasi Seiton ini ada di film Big Hero Six, saat adegan Hiro berkunjung ke Lab di kampus Tadashi. Di sana, ada seorang tokoh bernama Wasabi yang begitu telitinya menata alat-alat kerjanya. Dia bahkan berkata; “There are place for everything and everything in its place” (ya sort of that lah, maap kalau salah).
3.       Seiso/ Resik, adalah kegiatan pembersihan. Yakni membersihkan lokasi kerja agar bebas dari kotoran, sampah, debu, sawang, ceceran oli, genangan air dan lain-lain.
4.       Seiketsu/Rawat, adalah sebuah usaha agar 3S yang sudah dijalankan sebelumnya senantiasa terjaga keistiqomahannya.  Jangan sampai, area kerja yang sudah dirapikan dan dibersihkan kembali berantakan.
5.       Shitsuke/Rajin adalah menjadikan 5S sebagai sebuah budaya.
Nah, kenapa sih 5S ini begitu penting untuk diterapkan di sebuah organisasi? Bahkan untuk organisasi kecil semacam sebuah rumah tangga? Coba deh, bayangkan sebuah toko alat tulis yang tidak terorganisir, dimana buku, bolpoin, penggaris, kertas krep bercampur baur. Apa akibatnya? Pembeli akan sulit menemukan barang yang dicari, beberapa item barang akan terakumulasi secara berlebihan dan beberapa lainnya akan stock out tanpa ketahuan. Dan yang sudah pasti, melihat segala sesuatu yang berantakan sudah pasti membuat mood jadi turun. Belum apa-apa, pembeli udah kabur duluan melihat penampilan toko yang acakadul. Jadi, sebenarnya kalau mau ditarik benang merah, 5S itu erat sekali kaitannya dengan duit! Masih nggak paham, saya kasih contoh lagi yah;
a.       Karena akumulasi barang yang berlebihan, sebuah perusahaan sampai harus membeli lemari atau kontainer baru atau bahkan menyewa gudang baru. Padahal, belum tentu barang-barang yang ada memang harus disimpan.
b.      Sebuah bengkel sepeda motor yang seharusnya bisa melayani pelanggan dalam waktu singkat membutuhkan waktu lebih lama karena alat kerja yang berantakan dan sulit ditemukan. Akibatnya, jumlah pelanggan pun berkurang.
c.       Sebuah perusahaan pengolah makanan ditinggalkan pelanggannya karena menganggap perusahaan tersebut tidak menerapkan program kebersihan sebagaimana mestinya.
Nah balik lagi ke Mill Support. Bangunan workshop Mill Support boleh dibilang punya kisah seperti Cinderella. #halah.
Dulu, sekitar tahun 2007 sampai sekitar awal 2011, bangunan workshop kami hanya berupa dinding-dinding kayu dan papan-papan bekas mengangkut mesin dari Swiss. Beberapa bagian yang bocor kami tambal dengan kardus. Duh, mirip banget kaya bangunan stren kali. Melas banget. Sungguh tak sepadan dengan bangunan-bangunan Mill di kanan kirinya yang berdiri megah. 



Gambar-gambar Kondisi Workshop Mill Support era Gubug Derita

Akhirnya, setelah merengek-rengek (bahasa alaynya negosiasi) pada atasan, akhirnya pembangunan workshop Mill Support dengan dinding permanen dimulai. Sekarang, Mill Support menjadi bangunan pertama di bogasari yang warna catnya boleh pilih sendiri (sehingga sempet bikin beberapa orang jadi iri, hihi). Saya pilih kombinasi warna peach dan orange untuk warna dinding workshop. Sebab konon, nuansa warna orange merangsang kreatifitas. 


Workshop Mill Support Sekarang

Pokoknya, bangunan seksi kami kini sudah jauh lebih cantik ketimbang beberapa tahun sebelumnya. Namun sayang, kecantikan bangunan Mill Support tidak diikuti dengan keelokan pengorganisasian alat-alat di dalamnya.
Saya masih sering mendapati alat-alat kerja yang berserakan, kain-kain majun berklimbrukan dan sering juga ditegur atasan karena rak-rak yang berdebu dan ditumbuhi sawang. Bahkan atasan dari atasan saya kerap menyindir; “Kapan Mill Support mau dijadikan percontohan untuk 5S?”
Oh my dear Sir, tidakkah kau lihat anak buahmu ini banyak pekerjaan? Begitu sering saya menjawab dalam hati. Mana sempet saya menata workshop kalau tiap hari dihajar pekerjaan tiada henti?. Namun akhirnya saya sadar, pekerjaan di Mill Support tidak akan pernah ada habisnya dan 5S tidak akan pernah teraplikasikan jika saya tidak memulai melakukan sesuatu. Maka dari situ lah, saya bulatkan tekad untuk mulai ber-5S, tak peduli saat itu pekerjaan saya luar biasa bejibun.
Nah, saat-saat bersejarah itu dimulai di hari Senin. Kira-kira Senin sebulan yang lalu. Itu adalah hari Senin yang sudah saya niatkan untuk menjadi titik balik Mill Support dalam hal 5S. Sialnya, Senin itu tim Mill Support hanya berlima termasuk saya L Tapi saya sudah meniatkan itu jauh-jauh hari sehingga saya tidak mau mundur. So, dengan tekad membara, saya mulai menerapkan sebuah siklus; Motret-Briefing-Evaluasi.
Detailnya adalah begindang;
1.       Di hari pertama, saya pilih satu sudut workshop yang ingin saya benahi. Sebab kalau tidak begitu, jujur saya bingung harus mulai berbenah dari mana karena hampir seluruh sudut workshop dalam keadaan berantakan (termasuk meja kerja saya). Sebagai permulaan, satu sisi di Area Carpentry menjadi sasaran.
2.       Saat briefing pagi (berdoa dan briefing memang sudah secara rutin kami lakukan tiap pagi), saya intruksikan pada tim Carpentry untuk tidak menerima job order apa pun hari itu. Kecuali order yang sangat urgent. Saya minta mereka untuk memilah barang-barang di workshop, menyimpan yang masih dipakai dan membuang sisanya. Tentu saja saya juga menjelaskan kriteria barang seperti apa yang boleh disimpan dan tidak. Saya menggunakan foto-foto yang saya ambil untuk menjelaskan rencana saya.
3.       Di hari pertama itu, saya sendiri melakukan pemilahan dokumen di Ruang Meeting. Hasilnya, lebih dari 3 kardus besar akhirnya berakhir di TPS ^-^ (Oh my God, ternyata selama ini saya hidup berdampingan dengan sampah).
4.       Hari berikutnya, saya mengevaluasi hasil pekerjaan kemarin. Lumayan, tempat penyimpanan terlihat lebih lega. Tapi alat-alat kerja, mur, baut, paku dan kawan-kawan masih campur baur. Lagi-lagi saya mengambil foto. Kali ini saya juga membuka seluruh lemari dan laci kerja.
5.       Saat briefing, saya menggunakan foto-foto itu untuk meminta mereka melakukan penataan alat-alat kerja. Saya terangkan di mana peralatan harus diletakkan dan meminta mereka memasang label pada tiap laci dan memberi tanda untuk penempatan alat kerja.
6.       Secara bersamaan, hari itu saya melanjutkan melakukan pemilahan dan penataan ruang meeting. Kali ini sasaran saya adalah lemari peralatan dan spare part. Hasilnya, lagi-lagi berkardus-kardus sampah berakhir dengan manis di TPS.
7.       Begitulah saya mengawali hari selama 2 minggu berikutnya. Pagi-pagi sebelum briefing, saya memotret. Lantas menerangkan rencana saya saat briefing. Memberi kesempatan pada tim untuk mengeksekusi tanpa membebani mereka dengan pekerjaan rutin. Setelah selesai di bagian Carpentry, pekerjaan itu terus merambat ke arah Area Pneumatic, Mesin Press, Sewing hingga ke Outdoor.
Di hari pertama minggu ketiga, saya merasa sudah cukup puas dengan kegiatan Pemilahan dan Penataan. Tibalah saatnya melakukan Seiso, kegiatan pembersihan ekstrim!
Kami melipatgandakan jumlah anggota tim untuk melakukan Seiso (Pembersihan). Kegiatan pembersihan yang biasanya dilakukan tiap hari Senin oleh 2 orang itu saya tambah menjadi 4 orang. Demi kegiatan pembersihan yang ekstrim, besar-besaran dan paripurna, saya tunda satu agenda yang sudah menjadi kegiatan rutin kami tiap Senin; distribusi ayakan ke semua Mill.
Hasilnya memuaskan!
Setidaknya beberapa orang yang bertandang ke Mill Support sempat berkomentar; “Kok sekarang Mill Support jadi beda ya?”. Saya sendiri sempat merasa agak surprise ketika sekitar minggu ketiga saya datang ke workshop. Saya merasa ruangan kami terasa begitu lega, begitu terang, begitu luas. 
Berikut ini dokumentasi kegiatan Seiri, Seiton dan Seiso di Mill Support

Area penempatan plat, acrylic dan teflon sheet



Area Carpentry

Lemari Alat

Oke, tapi kami masih belum boleh berpuas diri. Masih ada S yang ke-4 dan ke-5. Dua S yang terakhir ini menjamin agar lokasi kerja kami tidak kembali amburadul, sekaligus membangun sebuah habit baru yang lebih baik dalam memperlakukan tempat kerja menjadi rumah kedua bagi para karyawannya.
Jadi, demi menjaga konsistensi Seiri, Seiton dan Seiso, setiap hari saya datang lebih pagi. Dengan bekal kamera hape, saya menginspeksi tiap sudut dan area kerja, lantas mengambil foto jika diperlukan. Ketika briefing, setelah Foreman selesai membagi jobdes, giliran saya yang bicara. Selain tambahan-tambahan detil tentang pekerjaan, saya juga menambahkan poin-poin terkait kegiatan 5S. Yang paling sering adalah membicarakan finding dari inspeksi pagi yang saya lakukan di hari itu.
Agak geli kalau melihat ekspresi anggota tim ketika saya mulai membuka HP. Sebab, foto yang akan saya tunjukkan secara tidak langsung akan menunjukkan personel yang bertanggung jawab terhadap area kerja yang menurut saya tidak benar. Misalnya; peralatan kerja yang tidak dikembalikan ke tempatnya atau jika masih ada sampah yang tidak masuk di tempat sampah.
Awalnya, setiap hari pasti saya masih menemukan sesuatu. Kaleng thinner yang masih di atas meja, celemek yang diselipkan di rak kawat, kain majun di bawah kursi, slang air bergelantungan di wastafel, sapu laba-laba yang disandarkan di dinding, kabel-kabel jigsaw dan gerinda bergelantungan, tempat alat yang tidak sesuai penempatannya, seal-seal bekas di lantai, mesin gerinda yang berdebu tebal, bahkan lap bekas oli di tempat spon cuci gelas milik saya! #hadeeeh. 
Tapi belakangan ini, jujur saya mulai kesulitan mendapatkan temuan. Mungkin karena anggota tim tidak ingin "dipermalukan” saat briefing karena lokasi kerjanya berantakan. 
Sejalan dengan bergulirnya waktu, temuan pagi saya kian "ngaco". Saya mulai mempermasalahkan hal-hal kecil yang dulu dengan mudah saya tolerir. Misalnya; prosedur mencuci tangan yang salah, yakni dengan mencipratkan air bekas cuci tangan di lantai, atau juga habit mengaduk kopi dengan plastik sachet yang digulung kemudian dibuang begitu saja ke tempat sampah sehingga menyebabkan tutup tempat sampah di dekat meja kerja saya bernoda. #duh
Setelah kurang lebih sebulan berlalu sejak hari Senin yang menjadi turning point itu, saya belajar beberapa hal terkait penerapan 5S;
1.       Bahwa 5S tidak akan pernah bisa dijalankan jika tidak ada komitmen dari pimpinan.
2.       Bahwa 5S memang tidak bisa dijalankan seorang diri.
3.       Bahwa 5S memerlukan konsistensi pimpinan untuk menjaga budaya kerja yang baik.
Jika satu saja dari ketiganya tidak ada, maka 5S hanya akan menjadi sebuah kegiatan yang hangat-hangat pisang goreng, hanya ramai jika akan kedatangan tamu atau auditor saja, hanya akan menjadi materi in class training yang menguap begitu kelas usai, hanya menjadi sebuah teori belaka.
Sekarang, setelah 5S mulai teraplikasi di Mill Support, saya merasa jauh lebih berbahagia dibanding sebelumnya. Dan semoga demikian juga yang dirasakan anggota tim Mill Support yang lainnya J

Because we never rest, for 5S!
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)