Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 November 2013

Skenario Terbaik




Orang-orang itu
Berhak berkata apa saja tentang kamu
Beberapa di antaranya mungkin terdengar merdu
Dan membuatmu seakan melayang ke langit ke tujuh
Sebagian lagi bisa jadi laksana sembilu
Yang mengiris dan mencacah hatimu

Biarkan mereka bicara apa yang mereka mau
Kamu pun berhak untuk tak acuh
Sebab mereka tak pernah tahu
Seberapa keras kamu menempa dirimu
Untuk sesuatu bernama IMPIAN
Jadi tak usahlah kau risau atau galau

Yang harus kamu lakukan hanya satu
Yaitu PERCAYA
Percaya pada mimpi-mimpimu
Percaya pada usaha-usahamu
Percaya bahwa Tuhan Yang Maha Tahu
Telah menyiapkan skenario terbaik, selalu

15 November 2013

Minggu, 22 September 2013

Dalam Ilusi



Burung alap-alap tak pernah berharap
Untuk menjadi penghuni samudra
Menyelam ke dalam laut biru
Menyapa kerang dan udang satu-satu
Karna dalam ilusinya yang indah hanyalah langit
Tempat ia menanti mentari tenggelam dan terbit

Air di danau tak pernah berhasrat
Untuk menjadi pepohonan di darat
Tempat bersemi kuncup-kuncup bunga
Dan disambangi serangga aneka rupa
Karna dalam ilusinya yang indah hanyalah telaga
Yang memantulkan busur pelangi dan alam raya

Biarkan aku menjadi alap-alap dan air telaga
Yang tak peduli gelora samudra dan seisinya
Juga tak acuh akan dedaunan yang berubah warna
Karna dalam ilusiku yang indah hanyalah kamu
Yang bersedia menerimaku tanpa ragu
Sementara yang lain hanyalah indah yang semu

ditulis untuk lelakiku

Catatan: Puisi ini adalah benang merah untuk cerita pendek "Pintu Besi", yang sekarang sedang menunggu untuk terbit dalam buku antalagi Cerita Puisi bersama @lembarpuisi. 

Sabtu, 21 September 2013

Lensa Merah Muda Untuk Sahabat Kecilku




Hai, makhluk mungil yang sedang bersemayam dalam kandungan
Tahukah kamu bahwa dunia yang sebentar lagi akan kau sapa
Adalah tempat yang indah sekaligus penuh angkara

Tapi tak perlu kau khawatir sahabat kecil
Karena aku sudah menyiapkan hadiah ajaib
Sebuah lensa merah muda yang kan tersemat selamanya
Agar engkau siap menghadapi hitam putih dunia

Suatu hari nanti mungkin kau akan menghadapi pekat malam
Tapi dengan lensa itu yang terlihat adalah kilau gemintang
Suatu waktu kelak kau bisa saja memandang silau mentari
Tapi lensa itu akan membuatmu melihat indah pelangi

Lensa merah muda akan membantumu melihat kebaikan yang tersembunyi
Dalam diri seseorang yang mungkin saja terbelenggu perasaan iri dan dengki
Maka bagimu tak kan ada lagi duka lara
Dan kau kan senantiasa sebarkan aroma cinta ke seantero jagad raya

Ditulis untuk sahabat kecilku, Rosabrille

Untuk event menulis puisi bertema: Merah Muda by Redaksi Meta Kata

Catatan:
Nama Rosabrille diambil dari bahasa Jerman (Rosa: merah muda, Brille: kacamata).
Di Jerman, frase ini lebih populer digunakan sebagai ungkapan: "durch die rosarote Brille sehen", atau dalam bahasa Inggris "seeing through the pink glasses".
Maksudnya, jika seseorang melihat segala sesuatu melihat melalui kacamata merah muda, maka segalanya akan terlihat lebih indah.
Nama ini saya pilih agar gadis kecil saya selalu melihat dunia dengan positive thinking, atau dalam bahasa spiritualnya; selalu ber-khusnudzon. 

Selasa, 06 Agustus 2013

Tiga Puluh Dua Tahun




Perlu tiga puluh dua tahun, Ibu
Enam enam sembilan delapan
Tuk kembalikan harum namamu
Yang terkubur busuk fitnah sang tiran

Selama tiga puluh dua tahun, Ibu
Hadirmu dilaknat sebagai sundal pencabut nyawa
Seperti hujan yang dipersalahkan saat banjir tiba
Padahal ia adalah hadiah dari Sang Maha Tahu

Selama tiga puluh dua tahun, Ibu
Adamu dihujat sebagai betina tak berperi
Bak mentari yang dipersalahkan jika terik menyengat bumi
Padahal ia adalah hidup bagi mereka, kau dan aku

Namun dalam tiga puluh dua tahun itu
Seperti hujan yang tak acuhkan gerutuan
Juga mentari yang tak pedulikan cemoohan
Kau dalam kuburmu tenang dalam senyuman

Aku iri padamu, Ibu
Karna aku butuh lebih dari tiga puluh dua tahun
Untuk lupakan duka di malam sepi bisu
Saat mereka mengambil paksa nyawamu

Mereka itu, tiga puluh dua tahun lalu
Mencabik-cabik kulit dan harga dirimu
Tepat di depan kedua mata kecilku
Hingga torehkan luka yang tak pernah sembuh

Seandainya bisa kutanya pada mereka
Bagaimana agar luka ini bisa mengering
Sebagaimana bisa kutanya pada harum bunga
Bagaimana bisa sejarah menjadikannya saksi

Kini tinggal aku sendiri
Bergulat dengan rasa sakit tak terperi
Yang hanya bisa sembuh jika ajal menghampiri
Mungkin nanti, tiga puluh dua tahun lagi.

-selesai-

(ditulis untuk lomba puisi GERWANI by @LembagaBhineka)

Minggu, 14 Juli 2013

Bisik Pada Angin

Biar kubisikkan pada angin
Rangkaian lima aksara

Cinta
Sebuah kata yang sederhana dan mudah diucap
Namun bagiku, mengucapkannya sama sulitnya dengan memasukkan benang dalam lubang jarum di ruang tanpa cahaya

Biar kubisikkan pada angin

Rangkaian lima aksara
Rindu
Sebuah kata yang tidak butuh tarikan nafas sepertiga
Namun bagiku, mengucapkannya sama beratnya dengan mengangkat sekarung beras dengan ujung jari telunjuk

Biar kubisikkan pada angin
Karena hanya padanya aku meletakkan harap
Kedua rangkaian aksara itu bisa sampai padamu
Membawa keduanya menyatu dengan nafasmu
Menyusup dalam paru-parumu dan melarutkannya dalam aliran darahmu

Aku tahu yang kau harap bukanlah angin, melainkan aku
Aku yang hadir di hadapmu sambil membawa kedua kata itu bersamaku
Mengucapkannya di sela-sela bincang-bincang kita
Tentang kamu, tentang aku, tentang mereka

Malam ini kamu bertanya; Mengapa?
Jawabannya hanya satu
Juga lima aksara
Tapi tidak sederhana
Tuhan


-selesai-

Catatan; Puisi ini adalah benang merah untuk cerpen "Bisik Pada Angin"

Perahu




 Perahu kecil itu tak salah
Jika matanya memandang ke arah cakrawala
Luas membentang menawarkan kebebasan
Sementara dirinya sendiri terikat erat

Perahu kecil itu tak salah
Jika telinganya mendengar gemuruh debur ombak
Bercampur cericit burung camar dan lumba-lumba
Seolah memanggilnya untuk kembali berpetualang

Perahu kecil itu tak salah
Jika hidungnya mencium aroma penghuni samudra
Yang dibawa oleh hembusan angin dari utara
Membuatnya ingin kembali menjadi sang penjelajah

Perahu kecil itu tak salah
Jika ia ingin kembali pada samudra
Dilamun gelombang dan menyapa karang
Tapi ia tahu semua tlah jadi kenangan

Baginya samudra adalah petualangan
Tempat raganya menghabiskan masa muda
Baginya tempatnya kini adalah di sisi dermaga
Rumah jiwanya bersemayam hingga akhir usia

Catatan; Puisi ini adalah benang merah untuk cerpen Dermaga dan Samudra.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Mimpi


Mimpiku membuatku hidup
Mimpiku membuatku rela terjaga kala yang lain terlelap.
Mimpiku menjadikanku bagian dari semesta alam raya.

Mimpiku adalah cemeti sang joki.
Yang melecut raga dan sanubari tanpa ampun.
Mimpiku membuatku menangis.
Mimpiku membuatku terjatuh dan sakit.

Mimpiku adalah tali jiwa sang pendaki.
Yang mengimbangi gravitasi.
Mimpiku membuatku bertahan.
Mimpiku membuatku kembali.

Mimpiku membuatku hidup.
Mimpiku menghadirkan senyum, tawa dan air mata.
Mimpiku membuatku setengah mati berdiri dan berlari.
Mimpiku membuatku jatuh cinta, patah hati dan jatuh cinta lagi.

Sekalipun mimpiku tak jadi nyata.
Hingga tiba saat ajal menjelma.
Tak mengapa.
Setidaknya aku akan mati sebagai manusia.
Karena aku bermimpi, maka aku hidup.
Dan kelak mimpiku akan membawaku pulang.

Aku berjanji untuk tak kan pernah berhenti bermimpi
Karena bermimpi membuatku hidup kembali

Senin, 04 Juli 2011

Anakmu Bukanlah Anakmu


Anakmu bukanlah anakmu
Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri
Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau
Dan walaupun mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu
Kau dapat memberi mereka cinta kasihmu tapi tidak pikiranmu.
Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri.
Kau bisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya
Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu.
Kau boleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu.
Sebab kehidupan tiada surut ke belakanga, pun tiada tinggal bersama hari kemarin.
Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh.
Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pencipta.
Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur yang mantap.

Kahlil Gibran
"Sang Nabi"

gambar dari sini
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)