Tampilkan postingan dengan label Catatan Peziarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Peziarah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 26 Juni 2013

Catatan #10. Persiapan Mental Sebelum ke Tanah Suci



Umrah adalah ibadah fisik. Oleh karenanya, yang disiapkan bukan hanya sekedar uang saku dan barang bawaan saja, melainkan juga mental yang kuat. Kenapa saya bilang gitu? Sebab, di tanah suci nanti bisa jadi Anda akan melihat, mendengar dan mengalami banyak hal baru yang di luar dugaan, terutama bagi yang baru pertama kali melaksanakan ibadah Umrah.
So, silahkan simak tulisan berikut ini. Harapan saya, mental Anda bisa lebih kuat selama menjalani ibadah di tanah suci. Hyuk, mari, cekidot;
1.                  Umrah bukan sekedar ke Singapura
Kalau Singapura mah, dekettt...Saya sendiri belum pernah ke sana sih, cuman kalau ke Batam pernah. Jadi saya bisa perkirakan waktu dan jarak yang harus ditempuh jika hendak ke Singapura. Lha kalau Arab?, apalagi kalau menyangkut tempat yang tidak ada lapangan terbangnya? (baca; Mekkah). Bisa dibayangkan bagaimana rasanya menghabiskan waktu menjelajah sebagian permukaan bumi menuju ke tempat dengan perbedaan waktu 4 jam.
Capek. Pake banget. Itu yang saya rasakan saat berada dalam perjalanan berangkat maupun pulang. Apalagi waktu itu kami memilih rute via Hongkong, jadi waktu yang diperlukan untuk mencapai Mekkah menjadi semakin panjang. Berikut ini perincian waktu tempuh Surabaya-Mekkah.
-          4 jam terbang ke Hongkong
-          10 jam transit di Hongkong (ditaruh di Hotel/City Tour)
-          7 jam terbang ke Dubai
-          2 jam transit di Dubai (menunggu di pesawat)
-          2 jam terbang ke Jeddah
-          1 jam transit di Jeddah (untuk makan siang dan shalat Dhuhur)
-          1 jam ke Mekkah (via Bus)
(belum termasuk acara nunggu-nunggu di Bandara dan urusan imigrasi)

Total; 27 jam. Kami berangkat hari Senin pagi jam 8 (WIB), dan tiba di Mekkah hari Selasa sore pukul 3.30 sore (WSA).
So, saran saya persiapkan mental dan fisik sebaik-baiknya. Sekalipun makanan, minuman dan sarana hiburan cukup melimpah dalam pesawat, tetap saja perjalanan menuju ke Arab Saudi adalah perjalanan yang melelahkan. Apalagi bagi para manula.
Sebaiknya pilihlah rute yang langsung direct ke Arab Saudi ketimbang seperti kami yang harus transit terlebih dahulu di Hongkong.  
Terakhir, jagalah suasana hati agar tetap gembira. Karena jika hati sedang gembira, kepenatan fisik tidak akan terlalu dirasa.

2.                  Hati-hati dengan barang bawaan
Tour leader kami sempat berpesan sebelum berangkat; “Di Mekkah, keturunan Rasulullah sangat banyak, tapi keturunan Abu Lahab juga banyak”.
Maksudnya, di tanah suci sekalipun, tidak sedikit orang-orang yang berniat buruk. Jadi, berhati-hatilah dengan barang bawaan Anda, terutama benda berharga.
Jika hanya ingin ke masjid, sebaiknya letakkan barang bawaan dalam deposit box yang tersedia di kamar hotel.
Jika ingin berbelanja (Mekkah dan Madinah adalah surga belanja bagi para peziarah), selalu letakkan tas Anda di depan badan, sehingga dia selalu berada dalam pantauan Anda.
Jangan naik taxi jika Anda tidak mengenal medan, apalagi jika Anda seorang perempuan. Saya banyak mendengar cerita yang menyeramkan seputar taxi dan perempuan. Konon, jika si perempuan naik taxi terlebih dahulu atau turun belakangan, si pengemudi taxi langsung memacu mobilnya dan membawa kabur si perempuan. Hiii...bisa dibayangkan mereka hendak dibawa ke mana.
Ada keluarga teman saya yang mengalami hal tersebut dan tidak kembali hingga kini. Ada juga yang kembali, namun tentu saja sudah mengalami hal-hal yang traumatis. Na’udzubillahimindzalik....
Salah seorang jamaah rombongan kami juga mengalami hal yang tidak mengenakkan. Dia, seorang laki-laki, bepergian sendiri dengan taxi, kemudian di tengah jalan, sopir taxi memaksanya untuk menyerahkan seluruh uangnya dan kemudian menurunkannya di tengah jalan. Syukurlah dia masih bisa kembali ke hotel walau dalam keadaan shock.
So pembaca sekalian, jangan berpikiran bahwa karena Anda sedang berada di tanah suci maka semua penduduknya adalah orang suci. Tetaplah waspada, apalagi sudah jamak diketahui bahwa para jamaah haji dan umrah biasanya membawa uang yang cukup banyak.
  
3.                  Thawaf di tengah hari
Selama di Mekkah, saya menjalani beberapa kali thawaf di waktu-waktu yang berbeda; sore (menjelang Maghrib), malam (antara Maghrib dan Isha’), dini hari (sebelum shubuh) dan siang hari (setelah shalat Zhuhur). Dan, bagi saya, yang paling nyaman adalah di siang hari.
Yes, betul, saat matahari sedang berada di titik tertingginya, saat udara sedang panas-panasnya, saat sedang silau-silaunya. Justru saat itulah saya merasa paling khusyu’ melaksanakan thawaf. Kenapa? Pertama, pelataran Ka’bah tidak terlalu padat (so, kalau mau foto-foto di depan Ka’bah masih sangat memungkinkan, hehe). Kedua, multazam (salah satu tempat yang ijabah, antara Rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah) juga tidak terlalu padat, sehingga kita masih bisa melakukan shalat sunnah dan berdoa berlama-lama di sana tanpa perlu mendengar teriakan dan bentakan para laskar.
Jika anda melakukan thawaf di siang hari, saran saya, gunakan kaca mata hitam.
Tutup kepala Anda dengan sajadah atau kain tipis untuk mencegah agar kulit tidak gosong (kecuali bagi laki-laki yang sedang berihram tidak boleh melakukannya).
Bawalah tissue atau sapu tangan untuk mengelap keringat (dan atau air mata). Kami melakukan thawaf Wada’ di siang hari, sehingga keringat dan air mata pun campur baur.

4.                  Memperjuangkan shaf
Tidak berlebihan kalau ada yang bilang, haji dan umrah sama dengan berjihad. Luasnya Masjidil Haram tidak menjamin Anda bisa mendapatkan tempat di dalam masjid jika hendak menunaikan shalat fardhu berjamaah.
Lha, siapa coba yang nggak ngiler dengan iming-iming pahala 100.000 kali untuk sekali shalat di Masjidil Haram? Jadi tidak mengherankan, kalau seluruh umat Muslim dari segala penjuru dunia tumplek blek di Masjidil Haram untuk shalat fardhu berjamaah.
Kami selalu mengusahakan agar sudah berada di dalam Masjid setidaknya setengah jam sampai satu jam sebelum adzan berkumandang. Supaya kami bisa lebih leluasa memilih tempat shalat.
Pekara shaf ini, banyak hal yang menarik. Banyak jamaah yang datang agak terlambat, sehingga harus memohon-mohon untuk diberi shaf. Ada juga yang tanpa ba bi bu, langsung main serobot. Yang diserobot ada yang mengalah, ada juga yang tidak mau mengalah. Ada juga yang langsung menggelar sajadah di depan orang yang sudah lebih dulu datang, sementara yang dibegitukan cuman bisa bengong sambil menoleh kiri kanan tanda kebingungan.
Kalau saya sih Alhamdulillah tidak pernah menyerobot, tapi kalau diserobot sering, haha... Gapapalah, soalnya yang menyerobot kan saudara-saudara saya juga sesama Muslim. Hehe...
Oya, Alhamdulillah kami mengalami shalat Jumat di Masjidil Haram. Nah, kalau untuk shalat Jumat, aturan berangkat satu jam sebelum adzan tidak berlaku. Mengapa? Karena saat shalat Jumat, yang datang ke Masjidil Haram tidak hanya para jamaah Umrah, melainkan juga warga kota Mekkah sendiri (hari Jumat adalah hari libur). Jadi bisa dipastikan Masjidil Haram akan sangat padat. Karena ingin mendapatkan tempat di dalam Masjid, kami berangkat jam 9 pagi! (padahal Adzan Zhuhur sekitar jam 12 an).

5.                  Atur pola minum dan berlatih berwudhu dengan air yang sedikit
Toilet di Masjidil Haram jumlahnya memang banyak. Anda dipastikan tidak perlu mengantri jika hendak menunaikan hajat. Cuman masalahnya tempatnya itu lo, jauhnya minta ampun. Toilet berada di pelataran luar Masjid. Jadi kalau Anda ingin buang air, lumayan juga jarak yang harus ditempuh. Apalagi jika Anda sudah terlanjur berada di dalam, biasanya akan malas untuk ke toilet. Letak toiletnya pun berada di basement dan untuk menuju ke sana, anda harus melewati eskalator.
Jadi saran saya, jika hendak shalat di Masjid, usahakan untuk tidak minum terlalu banyak.
Yang paling penting, dalam hal ini, mintalah pertolongan dari Allah untuk membantu menunda dorongan dari kandung kemih (pipis) maupun dari saluran pencernaan (pup).
Sebab saya pernah tu ngalamin, pas Masjid lagi padat-padatnya menjelang shalat Jum’at, saya kebelet pipis. Maklum, nunggunya kan dari jam 9 tuh. Selama itu kan kerjaan saya wiridan, ngaji dan ngobrol ngalor ngidul, haha. Haus kan? Makanya botol tupperware setengah literan saya sampai habis bis bis. Alhasil, kebelet pipis lah saya pas jarum jam menunjukkan pukul setengah 12 siang. Masha Allah....mustahil saya bisa keluar Masjid karena jalan masuk dan tangga sudah dipenuhi jamaah, laki-laki pula. Kalaupun saya bisa keluar, mustahil saya bisa kembali ke dalam sebelum waktu shalat dimulai.
Ya sudah akhirnya saya pasrah dan hanya bisa mengucap “Laa haula wala quwwata illa billahi” saja. Alhamdulillah, hingga shalat Jum’at selesai dan disambung Thawaf wada’, rasa kebelet pipis itu tidak lagi muncul.
Kalau hanya sekedar batal wudhu karena kentut, mulailah belajar untuk berwudhu menggunakan air zamzam. Tidak usah yang komplit, cukup kerjakan rukun wudhu sesuai QS Al Maidah ayat 6, yakni niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kaki hingga mata kaki. Semua itu bisa dilakukan dengan menggunakan air zamzam.
Jadi saran saya, selalu sediakan air dalam tas Anda. Dan, berlatihlah berwudhu menggunakan air yang terbatas tanpa membasahi tempat shalat Anda.

Kamis, 20 Juni 2013

Catatan #9. Jamaah Jalanan


 
Suasana shalat Jumat di Masjidil Haram (Photo by; Antara)
Ada hal unik yang membuat saya terpekik-pekik keheranan di menit-menit pertama kami menginjakkan kaki di kamar hotel. Saya kira wajar kalau saya sampai berteriak histeris, karena pemandangan semacam itu tidak akan saya temui di Indonesia.
Kami memang tiba di kota Mekkah saat menjelang Ashar. Adzan Ashar sudah berkumandang begitu kami masuk ke kamar masing-masing. Beruntung kami mendapat hotel yang berada di salah satu jalanan yang langsung mengarah ke pelataran Masjidil Haram (jaraknya kira-kira hanya 50 meter). Beruntung pula kami mendapat kamar di lantai atas dengan jendela yang memungkinkan kami melihat lalu lalang orang yang berjalan dari dan ke Masjidil Haram.
Sore itu rencananya kami akan langsung melaksanakan Umrah (miqat sudah kami lakukan di atas pesawat saat burung besi itu melintasi Yalamlam). Tour leader kami menginstruksikan untuk melakukan shalat Ashar di kamar masing-masing, setelah itu langsung berkumpul di lobby hotel untuk berangkat bersama-sama ke Masjidil Haram. Akhirnya kami pun melaksanakan shalat sendiri-sendiri. Sambil menunggu giliran shalat, saya melihat-lihat ke luar jendela.
Dan...alangkah takjubnya saya melihat banyak orang yang sedang berjalan ke arah Masjid tiba-tiba langsung menggelar sajadahnya di jalanan begitu iqamat berkumandang. Para pemilik toko dan kios yang berada di sepanjang jalan itu juga langsung meninggalkan dagangannya dan langsung bergabung dengan mereka yang sudah lebih dulu mengambil tempat di emperan toko. Seusai menunaikan shalat berjamaah, kelompok “jamaah emperan” ini langsung beranjak berdiri tanpa mengerjakan shalat sunnat maupun shalat jenazah. Para pemilik kios pun langsung kembali membuka gerainya dan menjalankan bisnisnya lagi.
Pemandangan ini tentu tidak biasa, karena di Indonesia, satu-satunya saat di mana orang shalat berjamaah di jalanan adalah saat shalat hari raya. Sedangkan di Mekkah, shalat di jalanan dan emperan tampaknya sudah menjadi kebiasaan.
Sekarang baru saya mengerti kenapa tempat itu dinamai tanah haram (tanah suci). Setiap jengkal tanah dalam radius tertentu dijaga kesuciannya. Secara berkala dalam sehari, ada kendaraan yang menyemprotkan air di sepanjang jalanan yang menuju ke arah Masjid.
Belakangan baru saya melihat, bahwa jalanan yang menjadi titik berkumpul para burung merpati juga digunakan untuk tempat shalat, sehingga usai sujud, tampak biji-biji makanan merpati menempel di dahi para jamaah. Terus terang saya geli melihatnya.
Tapi kegelian itu tak lama karena segera berganti takjub. Di tempat ini, di tanah suci ini, dalam satu waktu, jutaan manusia bersujud bersamaan, menghadap ke satu titik; Masjidil Haram. Di tanah suci, waktu seakan berhenti sesaat, ketika jutaan orang berhenti beraktifitas, dan secara bersamaan berdiri bersedekap menghadap ke satu titik; Baitullah. Untuk sesaat, orang-orang ini tak lagi mempedulikan apa-apa, kecuali memenuhi panggilan Allah untuk sejenak menyapaNya.
Saya jadi malu sendiri teringat gaya shalat saya di tanah air, yang masih sering melaksanakan shalat jauh setelah Adzan memanggil. Sedangkan di tanah Arab ini, panggilan Adzan dan Iqamat laksana panggilan seorang majikan pada hambanya, dan para hamba-hambanya lantas tergopoh-gopoh mendatangi majikannya, sekalipun harus bersujud di emperan toko dan di atas biji-bii makanan merpati.
Perihal shalat tepat waktunya ini tidak hanya saya temui di Mekkah dan Madinah, melainkan juga di Jeddah. Saya sempat keluar hotel di malam hari demi mencari toko obat yang menjual obat batuk. Namun saya terheran-heran karena banyak toko yang sudah tutup padahal jam belum juga menunjukkan pukul 8 malam. Seorang sopir taxi berkebangsaan Indonesia kemudian menyarankan saya untuk menunggu sejenak karena para karyawan dan pemilik toko sedang menjalankan shalat Isha’. Masha Allah...
Di tanah Arab ini saya belajar satu hal lagi; things that matter is Allah, others may also matter, but not really important.

Rabu, 19 Juni 2013

Catatan #8. Belajar Dari Sumur Zamzam



Sumur zamzam adalah sebuah mukjizat. Seharusnya sumur zamzam layak dikatakan sebagai salah satu keajaiban dunia.
Betapa tidak, dari satu sumur saja, memancarlah air yang tiada habisnya. Walau air dari sumur itu diambil terus-menerus, menjadi pemuas dahaga triliunan manusia, mulai dari sejak ia ditemukan hingga kini.
Semua orang Muslim pasti tahu sejarah yang mengawali adanya sumur zamzam. Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari cerita tentang Ibunda Nabi Ismail yang berlarian dari bukit Shofa dan Marwah demi mencari air untuk sang bayi. Cinta Ibu, kepasrahan pada Allah, kegigihan dalam berjuang dan yang pasti cinta Allah pada hambaNya yang tak kenal putus asa.
Sejarah sumur zamzam ini hingga kini terus diabadikan dalam ritual sa’i, yakni berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Pada kenyataannya, lari-lari kecil hanya dilakukan di antara 2 pilar yang ditandai dengan deretan lampu hijau terang. Jarak dua pilar ini panjangnya mungkin hanya sekitar 50 meter, hanya 10% dari jarak antara bukit Shofa dan Marwah. So, total jarak yang ditempuh kala sa’i adalah sekitar 3500 meter alias 3.5 kilo. Jauh ya? Lumayan capek pastinya. Saya jadi terbayang bagaimana beratnya perjuangan Ibunda Nabi Ismail saat harus bolak-balik dari bukit Shofa ke Marwah, dari Marwah ke Shofa, terus diulang dan diulang lagi hingga 7 kali, dengan kondisi alam Arab Saudi yang berbatu, berdebu dan panas menyengat. Subhanallah....Sementara saya yang bersa’i dalam kondisi medan yang berkeramik dan berkipas angin dengan deretan kran air zam-zam di mana-mana saja sudah merasa kelelahan. Astaghfirullah...
Oke, balik ke sumur zamzam. Saya sendiri tidak melihat bagaimana aslinya bentuk sumur zamzam. Saat sedang umrah yang lalu, kompleks Masjidil Haram sedang mengalami renovasi demi menyambut tamu-tamu agung Allah saat musim Haji nanti. Namun secara tidak sengaja, seusai sa’i, karena jalan pulang yang seharusnya kami lewati ditutup karena proyek perbaikan, kami menjumpai lokasi sumur zamzam karena kami terpaksa mengambil jalan memutar. Hanya saja, lokasi sumur zamzam tidak bisa disambangi para peziarah. Yang bisa kami lihat adalah segundukan bebatuan yang dilingkupi dengan pagar kaca. Kami tahu di situ adalah lokasi sumur zamzam karena tulisan yang tertempel di salah satu sudut pagar kaca.
Tidak bisa melihat langsung sumur yang paling terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia itu tidak lantas membuat kami kecewa. Sebab kekecewaan kami telah digelontor oleh jutaan liter air zamzam yang mengalir tiap harinya di seantero kompleks Masjidil Haram.
Lihat saja di halaman Masjid. Di sana, kita akan menemui deretan kran-kran yang sudah tersambung dengan mata air zam-zam. Untuk bisa meminumnya pun tidak perlu dirisaukan. Pemerintah Arab telah menyediakan gelas-gelas plastik untuk mereka yang ingin langsung meminum air zamzam. Bagi yang ingin membawa pulang ke penginapan, juga bisa melakukannya dengan membawa botol atau jerigen
Tak perlu kuatir saat masuk ke dalam Masjidil Haram. Di dalam masjid pun sudah disediakan puluhan dispenser yang diletakkan di banyak titik tempat shalat. Rasanya? Jangan khawatir. Dingin dan segar. Dingin? Betul, dingin seperti ada esnya, karena memang di dalamnya sudah diberi es batu yang juga dibuat dari air zamzam. Untuk mereka yang tidak suka dingin, bisa mengambil air zamzam dari dispenser yang bertuliskan NOT COLD. Saya sendiri selalu meletakkan botol ukuran 500 cc dalam tas dan selalu memastikan isinya penuh saat keluar dari Masjid. Agar selama di penginapan, air yang saya minum adalah air suci. Mumpung di Mekkah pikir saya J
Sempat sekali saya merasakan kekecewaan yang sangat sehubungan dengan air zamzam ini. Seusai thawaf Wada’, yang artinya sebentar lagi kami akan meninggalkan kota suci Mekkah, saya tidak sempat mengambil air zamzam untuk terakhir kalinya. Botol air minum saya pun saat itu sudah kering kerontang, namun muthawwif mengajak kami segera kembali ke penginapan untuk berkemas-kemas karena bis yang akan membawa kami ke Madinah sudah menunggu sejak lama. Namun betapa girangnya hati ini manakala di Masjid Nabawi, kami mendapati deretan dispenser yang sama dengan yang kami lihat di Masjidil Haram. Apalagi ketika sang guide mengatakan bahwa isi dispenser-dispenser itu juga air zamzam yang didatangkan langsung dari Mekkah dengan menggunakan truk tangki.
Alhamdulillah...terima kasih pemerintah Arab...belum pernah saya sedemikian terharu dengan hanya melihat dispenser yang berderet-deret :’)
***
Air zamzam adalah salah satu topik pembicaraan yang menarik selama kami berumrah. Bayangkan saja, jutaan manusia mengunjungi Masjidil Haram dan jutaan lainnya mengunjungi Masjid Nabawi, tiap hari. Semua manusia ini bisa dipastikan akan turut menggunakan air suci ini sebagai pelepas dahaganya selama berada di Masjid maupun saat keluar Masjid. Tak terhitung berapa banyaknya botol air minum, gelas dan jerigen yang kembung terisi air zamzam tiap harinya. Tak terhitung berapa banyaknya galon air zamzam yang diproduksi di pabrik zamzam sebagai oleh-oleh para jamaah sepulang dari tanah suci (kami masing-masing mendapat 10 liter air setibanya di tanah air). Dan itu terus berlangsung dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, hingga sekarang. Tapi nyatanya, sumur zamzam tak pernah kering.
Sumur zamzam seakan diciptakan Allah untuk mengajari manusia akan beberapa hal perihal pemberian.
Satu. Jika apa yang kita miliki kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana sumur zamzam memberikan airnya pada orang-orang yang dahaga, maka harta yang kita miliki tak akan pernah mengering. Alquran pun sudah menyebutkan hal ini di beberapa ayat.
Dua. Memberi sebaiknya tidak perlu memandang siapa yang diberi, sepanjang yang bersangkutan memang membutuhkan. Sumur zamzam tidak pernah memilih hendak memberikan airnya pada siapa. Jutaan manusia aneka rupa bebas meminum air zamzam; tua, muda, kaya, miskin, laki, perempuan, artis, dokter, buruh, tukang becak, hitam, putih, pendek, tinggi, kurus, gemuk. Tak ada pengecualian dan kriteria khusus siapa saja yang boleh meminum air zamzam. Bahkan ketika dibawa pulang ke tanah air, mereka yang bukan pemeluk agama Islam pun boleh dan bisa jadi membawa manfaat jika meminum air zamzam.
Subhanallah, masa suci Engkau yang telah menghadirkan sumur zamzam sebagai sebuah pelajaran.

Kota suci
Ingin rasanya menginjakkan kaki sekali lagi
Masjid suci
Kangen rasanya bersujud, berthawaf dan bersa’i
Air suci
Rindu rasanya mencecap segarmu usai dahaga sepanjang hari

Minggu, 12 Mei 2013

Catatan #7. Lupakan Fiqih Shalat


Gerakan shalat setelah duduk di antara dua sujud adalah sujud lagi. Tapi terkadang saya tidak bisa melakukan itu, terutama saat shalat sunnah ba’diyah, karena saya harus menunggu tidak ada kaki-kaki yang menginjak tempat saya akan sujud. Akhirnya duduk di antara dua sujud saya menjadi jauh lebih lama dari biasanya.
Banyaknya jamaah yang berharap bisa shalat di dalam masjid menyebabkan kami seringkali harus berbagi shaf dengan jamaah lain. Space yang terlalu sempit tentu saja menyebabkan posisi duduk tahiyat akhir seringkali tidak bisa sempurna.
Jika sudah dalam keadaan bersempit-sempit ria, saya seringkali membiarkan kedua jamaah di kanan kiri saya sujud terlebih dahulu baru kemudian saya menyusul sambil berusaha menciutkan tubuh agar bisa masuk di antara keduanya.
Lain lagi jika sudah berdekatan dengan jamaah yang membawa anak balita. Terkadang sang anak ini “lepas” dari ibunya dan menjelajah tempat shalat di sebelah-sebelahnya. Tak jarang salah satu dari mereka lantas duduk manis di tempat jidat saya seharusnya menempel kala sujud. Alhasil, saya harus sujud dengan posisi agak miring agar tidak ketinggalan shalat jamaah.
Pernah suatu kali seorang balita “lepas” dari Ibunya dan merangkak sendiri hingga tepat di depan saya. Dia berhenti lama sambil memainkan ID card yang tidak sengaja lepas dari leher saya saat bersujud. Bosan bermain ID card, pandangannya beralih ke tumpukan Quran di depan jamaah asal Mesir yang sedang shalat di sebelah kiri saya. Diraihnya tumpukan Quran itu dan memainkannya seakan-akan kitab suci itu adalah majalah anak-anak.
Spontang sang wanita Mesir itu berusaha mencegah sang balita memainkan kitab suci tersebut, namun si anak tidak peduli. Perlu dicatat bahwa saat itu kami sedang shalat Isya’ rakaat kedua, menjelang tahiyat awal. Pada saat duduk tahiyat awal, karena melihat sang jamaah Mesir ini kuwalahan dengan tingkah si bocah, saya segera mengambil inisiatif untuk mengangkat tumpukan Quran itu dan memindahkannya ke belakang shaf agar sang anak tidak bisa meraihnya.
Saat melihat ke belakang, saya menyadari Alquran itu harus diletakkan di atas lantai. Saya tak tega. Tanpa banyak berpikir, saya memutar tubuh lagi menghadap depan dan meraih tas tangan sang orang Mesir yang memang sejak tadi menjadi alas tumpukan Quran. Setelah menggenggam tas tersebut, kembali tubuh saya putar ke belakang untuk meletakkannya di bawah tumpukan Al Quran.
Tentu saja sang anak protes melihat “mainan”nya diambil, tapi setidaknya sang orang Mesir bisa kembali shalat dengan tenang. Saya pun tidak lagi khawatir Al Quran itu akan rusak atau sobek dan kepikiran melihat jamaah Mesir di sebelah saya yang kebingungan.
***
Saya akui, beberapa kali memang saya shalat tidak sesuai dengan panduan fiqih shalat untuk orang dewasa yang berbadan sehat. Tapi saya yakin shalat sejatinya bukan hanya masalah fiqih. Shalat adalah sebuah kegiatan yang menghubungkan seseorang dengan penciptaNya. Tidak perlu khawatir, menjaga agar kualitas sinyal konektivitas dengan sang Maha Kuasa tetap tinggi di Masjidil Haram adalah pekara yang tidak terlalu sulit.
Aura jutaan orang yang senantiasa menjaga wudhunya dan dengan khusyu’ melakukan aneka ibadah di Masjidil Haram, akan mempengaruhi gelombang pikiran kita. Terasa sekali betapa mudahnya mencapai tingkat konsentrasi beribadah yang agak sulit diraih saat sedang shalat di tanah air. Mungkin karena tempat itu adalah tanah suci, kota suci, masjid suci, rumah Allah. Wallahu a’lam.

Catatan #6. Laskar Wanita


Sebaiknya sebisa mungkin Anda tidak berurusan dengan yang namanya laskar wanita. Seram soalnya. Pertama kali berjumpa, saya sempat ngeri juga. Berjenis kelamin perempuan, bertubuh besar, berpakaian serba hitam, bercadar, bersuara keras dan bernada membentak, terutama jika kita melakukan kesalahan seumpama shalat di tempat yang salah. Tapi beberapa lama kemudian saya terbiasa dan mulai mengerti mengapa mereka melakukan itu.
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi adalah masjid yang dikunjungi jutaan orang tiap harinya. Mereka datang dari berbagai negara dengan berbagai bahasa dan budaya. Kalau tidak ada laskar, entah apa jadinya dengan ketertiban di kedua masjid suci ini. Orang mungkin seenaknya akan menggelar sajadah di anak-anak tangga, di jalan-jalan masuk atau lebih parah lagi, bercampur antara jamaah laki-laki dan perempuan. Untuk itulah para laskar ini ada. Mereka akan mengawasi sebuah blok tempat shalat dan menghalangi akses masuk ke tempat itu dengan tubuh besarnya jika dilihat sudah tidak ada lagi shaf yang kosong.
Melihat wujud laskar yang galak, jangan keburu berburuk sangka. Merekalah yang berperan menjaga kenyamanan beribadah para tamu Allah. Jika suatu saat mereka melarang untuk shalat di suatu tempat, itu karena memang tempat itu mungkin akses jalan umum. Namun jangan khawatir, mereka tidak hanya asal melarang tapi juga akan menunjukkan tempat lain yang bisa kita pakai untuk shalat.
Jangan takut Anda sampai tidak bisa melakukan shalat sunnah setelah thawaf di depan multazam. Sepenuh-penuhnya tempat tersebut, insha Allah para laskar ini tetap akan memberi kesempatan untuk shalat (walaupun tidak untuk berdoa lama-lama).
Satu lagi, segalak-galaknya laskar, mereka tidak akan berani mengganggu saat kita sedang shalat. Mereka akan menunggu hingga kita selesai salam, baru kemudian melakukan “pengusiran” jika kita shalat di tempat yang salah.
Selain mengenai tempat shalat, para laskar juga sangat ketat dengan barang bawaan. Kamera adalah contoh benda yang dilarang untuk dibawa masuk. Ponsel berkamera masih diijinkan untuk dibawa masuk selama di dalam tidak dipakai mengambil gambar secara berlebihan. Sebaiknya saat hendak masuk, usahakan ponsel berada di dalam saku untuk berjaga-jaga agar tidak menjadi masalah.
Jika ada laskar wanita, tentunya ada juga laskar laki-laki. Tapi saya lebih ngeri menghadapi yang wanita. Laskar laki-laki lebih halus. Caranya memeriksa barang bawaan juga tidak kasar. Caranya “mengusir” jamaah yang salah tempat shalat juga tidak membuat bulu kuduk merinding.
Tapi keberadaan laskar-laskar ini memang penting. Masjidil Haram mungkin akan menjadi masjid yang ruwet dan tidak nyaman digunakan untuk beribadah seandainya mereka tidak ada. Walaupun terlihat seram dan galak, sesungguhnya mereka lah yang punya peranan besar memanjakan tamu-tamu Allah agar lebih nyaman beribadah.

Catatan #5. Kebersihan Masjidil Haram



Masjidil Haram bagaikan mall 24 jam. Bedanya orang datang ke sana untuk mencari ampunan, rahmat dan syafaat.  Di malam hari, tempat ini justru ramai-ramainya. Waktu-waktu yang paling sepi adalah antara setelah shalat Shubuh dan shalat Dhuhur. So, untuk areal masjid yang sedemikian besarnya, terbayangkah bagaimana cara bersih-bersihnya jika tempat itu tidak pernah sepi pengunjung?
Untuk pelataran luar, para petugas akan membuat batas-batas area dengan menggunakan semacam tali police line. Tiga atau empat petugas akan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tiang. Sementara rekan-rekan yang lainnya akan membersihkan area yang telah dibatasi itu dengan cairan berbau karbol.
Biasanya ini dilakukan saat siang hari saat jarak antara shalat Shubuh dan Dhuhur agak panjang. Kenapa begitu? Sebab pelataran Masjidil Haram akan disulap menjadi areal shalat saat menjelang waktu shalat. Pembatas-pembatas akan dipasang sekitar satu jam menjelang waktu adzan untuk memisahkan area shalat bagi perempuan, laki-laki dan untuk jalur pejalan kaki. Sebuah karpet polimer berwarna kelabu akan dipasang sebagai penunjuk bagi jamaah yang baru menginjak pelataran masjid agar mudah menemukan arah pintu masuk.
Jika pelataran masjid sudah hampir pasti tidak akan ditempati jamaah di luar waktu-waktu shalat, lain halnya dengan di bagian dalam Masjid, terutama di lantai satu. Di tempat ini, masih banyak ditemui jamaah yang sedang shalat Dhuha, berdzikir, mengaji atau menunggu kerabatnya yang sedang thawaf atau sa’i. Golongan orang-orang yang melepas lelah juga banyak, mulai yang sekedar menikmati air zam-zam dari dispenser yang berlimpah ruah, duduk-duduk, berbaring sampai tidur lelap.
Luasnya area masjid mungkin menyebabkan acara bersih-bersih masjid tidak akan selesai di waktu Dhuha. Itu sebabnya, saat kami sedang duduk manis di shaf masing-masing menunggu waktu adzan, 2-3 orang petugas akan menyuruh kami berdiri (tapi tidak boleh jauh-jauh, agar shafnya tidak ditempati orang lain), sehingga mereka bisa membersihkan karpet dengan vacuum cleaner sementara kami berdiri.
Mengenai sampah di masjid, tidak perlu khawatir. Petugas kebersihan akan secara periodik berlalu lalang di antara baris-baris shaf sambil membawa sebuah kresek besar. Dia bertugas mengumpulkan sampah-sampah yang diproduksi oleh para jamaah, berupa gelas plastik, bungkus makanan, tissue, biji kurma dan lain-lain.
Jangan heran mengapa sampah-sampah ini ada. Kebanyakan jamaah (termasuk saya), lebih suka tinggal di Masjid di antara beberapa waktu shalat, misalnya antara shalat Maghrib-Isya, antara shalat Lail-Shubuh. Nah, di antara waktu-waktu tersebut, tak jarang jamaah akan membongkar bekal makanan kecilnya dan menikmatinya di tempat shalat. Apalagi mereka yang membawa anak kecil, biasanya jika sekedar permen saja pasti ada.
Kalaupun tidak demikian, di antara waktu-waktu tersebut, biasanya ada di antara jamaah yang membagi-bagikan makanan; kurma, buah-buahan atau kue. Jika sudah demikian, maka sudah dipastikan yang namanya sampah pastilah akan ada.
Agar tidak mengganggu kekhusyukan beribadah dan kebersihan masjid, maka petugas-petugas kebersihan akan berkeliling di antara jamaah sambil membawa tas plastik. Jamaah yang kebetulan dilewati akan langsung otomatis memungut sampah-sampah di dekatnya dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut.
Demikian juga di area tahallul. Sebuah tempat sampah besar memang sudah disediakan. Namun seorang petugas kebersihan juga sudah stand-by dengan sapu dan “cikrak” untuk menampung bekas potongan rambut para jamaah yang menutup ritual umrah atau hajinya.
Di tempat di mana deretan dispenser air zam-zam diletakkan juga demikian. Petugas kebersihan akan senantiasa waspada untuk menjaga agar area pengambilan air zam-zam selalu bersih dan kering.
Hasilnya memang patut diacungi jempol. Masjidil Haram, yang dikunjungi jutaan manusia tiap harinya, adalah tempat yang bersih. Nyaris tidak ada sampah berceceran. Karpet alas shalat pun tidak berbau apak. Lantai masjid pun tidak becek, walaupun hampir di mana-mana terdapat dispenser air zam-zam.

Sabtu, 11 Mei 2013

Catatan #4. Air Mata di Baitullah



Baitullah (a.k.a Ka’bah) adalah tempat yang menakjubkan. Padahal dia bukan bangunan yang tinggi menjulang dengan arsitektur luar biasa. Dia hanyalah sebuah bangunan berbentuk kubus yang ditutupi kiswah berwarna hitam dan bersulam rangkaian huruf-huruf Arab dengan benang emas. Tapi keberadaannyalah yang membuat milyaran umat Nabi Muhammad rela menempuh perlananan ribuan kilometer demi bisa mengunjunginya.
Konon katanya, sekeras-kerasnya hati seseorang, dia akan menangis begitu melihat Ka’bah.
Dan memang benar demikian. Saya memperhatikan beberapa anggota jamaah rombongan kami sibuk menyeka air mata ketika hari pertama kami menginjakkan kaki di Masjidil Haram. Tak ada kata yang sanggup menggambarkan bagaimana perasaan kami kala untuk pertama kalinya melihat rumah Allah. Terasa sekali kehadiran sang Maha Pencipta begitu dekat. Masha Allah. Benarlah, kami memang saat itu bisa berada di sana, tidak lain dan tidak bukan adalah karena Allah yang memanggil.
Ketika thawaf, saya menjumpai banyak orang dengan air mata berleleran di pipi. Hanya Allah yang tahu arti masing-masing air mata yang meleleh di pelataran Ka’bah. Dosa yang dimohonkan ampunan, hajat yang dipanjatkan untuk dikabulkan, atau keharuan-keharuan lain yang tidak bisa didefinisikan.

Duhai Allah,
Anak nakal ini datang
Anak manja ini memenuhi panggilanMu
Anak berlumur dosa ini menginjakkan kaki di rumahMu
Berthawaf bersama jutaan hambaMu
Sungguh bukan apa-apa yang membawaku kemari melainkan Engkau
Tidaklah kehendakku yang membawaku kemari melainkan kehendakMu
Walau diri ini merasa tidak cukup pantas menjadi tamuMu

credit photo; google image.

Catatan #3. Masjidil Haram, a Spot that Never Sleeps



Masjidil Haram adalah sebuah magnet. Hanya saja yang ditarik ke masjid suci ini tiap harinya bukan logam, melainkan jutaan manusia; besar, kecil, tua, muda, kaya, miskin, laki, perempuan. Dialah alasan mengapa milyaran manusia rela mengorbankan banyak hal demi bisa berziarah ke kota suci Mekkah. Aliran manusia dari segala arah menuju masjid dengan Ka’bah di tengahnya ini tiada hentinya; pagi, siang, sore, malam, dini hari. Debit aliran manusia akan semakin bertambah seiring mendekatnya waktu shalat. Itulah sebabnya, saya sudah berangkat menuju masjid satu jam sebelum adzan berkumandang, takut tidak kebagian shaf di dalam masjid.
Konon, shalat di masjid ini pahalanya 100 ribu kali dibandingkan dengan shalat di tempat lain. Maka tak heran jika milyaran umat muslim yang tersebar di berbagai belahan bumi berharap agar bisa melakukan ibadah di masjidil Haram.
Masijdil Haram adalah masjid yang unik. Jika masjid-masjid lain memiliki pintu masuk yang terpisah untuk laki-laki dan perempuan, tidak demikian dengan masjid ini. Laki-laki dan perempuan bisa masuk bersama-sama melalui pintu manapun. Tidak ada pembedaan dan pemisahan lokasi untuk thawaf maupun sa’i.
Untungnya tidak demikian saat shalat. Tempat shalat untuk laki-laki dan perempuan tidak sama. Yang jelas, tidak ada tempat shalat untuk wanita di pelataran Ka’bah. Tapi jangan khawatir, masih ada tempat shalat untuk wanita di mana Ka’bah masih bisa kelihatan. Hanya saja tempat seperti ini tidak banyak saya temukan, dan biasanya tempat ini akan lebih dahulu penuh ketimbang ruang shalat di lantai 2 atau di basement.
Posisi shalat terdekat untuk perempuan yang masih bisa melihat Ka'bah
Ngomong-ngomong tentang tempat shalat di lantai 2 atau di basement. Kedua tempat ini juga akan dipenuhi dengan jamaah saat menjelang shalat, demikian juga dengan jalur sa’i dan pelataran masjid. Bahkan juga di tangga-tangga dan pintu-pintu. Semuanya penuh sesak dengan manusia yang hendak bersujud pada Sang Maha Pencipta.
Masha Allah.
Sayangnya, kami hanya 4 hari berada di Mekkah. Padatnya acara membuat saya tidak bisa banyak mengeksplor bagian-bagian Masjid selain Baitullah, bukit Safa dan Marwah serta pintu King Abdul Aziz yang menjadi pintu masuk terdekat dari arah penginapan kami.
Tapi Subhanallah, empat hari itu adalah 4 hari yang luar biasa. Empat hari paling tak terlupakan sepanjang sejarah hidup saya. Empat hari yang saya habiskan di sebuah tempat yang tak pernah tidur.

credit photo; google image dan Sisimaya.

Catatan #2. Burung Dara Kota Mekkah


Mekkah, kota suci yang dirindukan oleh milyaran umat manusia, ternyata juga menjadi rumah bagi ratusan bahkan mungkin ribuan burung dara. Tidak jelas siapa pemilik burung-burung dara itu. Yang jelas, keberadaan mereka seolah pasukan penyambut tamu-tamu Allah yang baru saja menginjakkan kakinya di kota tempat Rasulullah menghabiskan masa kecil dan masa remajanya ini.
Mulai dari kami turun dari bis hingga pelataran Masjidil Haram, setidaknya ada 2 titik berkumpulnya burung-burung dara ini. Tak heran, sebab di situ ada biji-biji jagung yang menjadi santapan sang burung, terserak di atas aspal. Tampak pula beberapa orang menjajakan biji jagung dalam plastik yang diperuntukkan bagi para peziarah yang ingin merasakan bagaimana asyiknya memberi makan burung-burung dara.

Jika jalanan sedang sepi, burung-burung ini akan mendarat di tempat di mana biji-biji gandum banyak berserakan. Bagi mereka, aspal jalanan bagaikan restoran mewah yang menyajikan makanan nan lezat. Namun ketika tempat “nongkrong” burung-burung ini dilewati arus pejalan kaki yang hendak beribadah di Masjidil Haram, mereka sontak akan beterbangan menghiasi langit kota suci yang jarang tertutup awan mendung.
Ribuan burung dara dan peziarah yang berjalan kaki dari berbagai penjuru menuju sebuah masjid suci adalah pemandangan khas kota Mekkah yang tak akan pernah terlupakan.


Duhai Allah,
Gelombang debar di dada tak kunjung reda
Manakala raga ini kian merapat dengan Mekkah
Dalam hati ini masih tersimpan tak percaya
Akhirnya hambaMu tiba di sini juga
Menghirup udara dan memandang langit sebuah kota
Tempat kelahiran sang Baginda tercinta
Terpana hamba akan langitMu yang berhiaskan burung dara
Subhanallah, inilah sambutanMu terhadap kami
Para peziarah yang merindukanMu dan RasulMu

Jumat, 10 Mei 2013

Catatan #1. Miqat di Angkasa


Alih-alih mengambil rute Jeddah-Madinah-Mekkah, rombongan kami mengambil rute Jeddah-Mekkah-Madinah. Konsekuensinya, miqat harus dilakukan saat di angkasa, mana kala pesawat kami sedang melintasi salah satu titik miqat; Yalamlam.
Tidak ada masalah bagi jamaah perempuan, karena mereka hanya perlu mengenakan pakaian yang menutup aurat. Lain ceritanya dengan yang pria. Mengenakan kain ihram di ruang yang serba terbatas di kabin pesawat tentu saja menjadi sebuah kehebohan tersendiri. Apalagi, maskapai yang kami pakai adalah maskapai asing yang hampir semua krunya tidak bisa bahasa Indonesia, dan tentunya beragama bukan Islam. Tapi atas seijin Allah, acara mengenakan kain ihram berjalan dengan lancar, walaupun diwarnai dengan teriakan-teriakan histeris pramugari yang melihat beberapa jamaah tiba-tiba melepaskan pakaiannya di kabin pesawat.
Akhirnya, setelah kru mengumumkan bahwa pesawat sebentar lagi akan melintasi daerah miqat, kami segera bersiap-siap mengucapkan niat dan talbiyah. Alhamdulillah. Ibadah yang sifatnya sunnah ini kini berubah hukumnya menjadi wajib diselesaikan hingga tuntas.
Belakangan baru saya tahu mengapa banyak travel yang memilih rute Jeddah-Madinah. Mengambil miqat di darat jauh lebih mudah daripada di dalam tubuh burung besi yang sedang terbang di ketinggian puluhan ribu kaki. Itu sebabnya, banyak rombongan yang memilih melanjutkan perjalanan ke Madinah, mengunjungi Masjid Nabawi terlebih dahulu dan lantas mengambil miqat di masjid Bir Ali sebelum melaksanakan umrah di kota Mekkah.
Tapi belakangan juga baru saya sadar, memang sebaiknya kota Mekkah dikunjungi lebih dulu ketimbang Madinah. Mengapa? Nanti akan saya kasih tahu alasannya. Yang jelas, kini kami telah niat berihram, dan siap menjalani sebuah rangkaian ibadah yang hanya bisa dilakukan di satu kota saja di dunia ini; Mekkah.

Bismillahirrahmanirrahim
Duhai Allah,
Kami datang memenuhi panggilanmu
Tiadalah sekutu untukmu
Segala puji dan kuasa untukmu - Opick

credit photo: Dhita Mawardhani
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)