Tampilkan postingan dengan label Balita dan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Balita dan Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 November 2012

Trik Mengajari Anak Menghafal


Pagi itu sebelum berangkat kerja, saya sempatkan melihat buku penghubung Jasmine (TK B). Mana tahu ada catatan-catatan dari Ustadzahnya (yang jujur aja sering terlewatkan, hehe). Ternyata benar, Ustadzah memberikan informasi bahwa saat ini Jasmine sedang menghafal Surat Al Ma’uun dan mohon dibantu di rumah.
Sorenya begitu pulang kerja, dengan semangat 45 saya ajak Jasmine untuk menghafal. Metodenya standar, saya membacakan surat Al Ma’uun mulai dari ayat pertama dan saya suruh dia menirukannya: “Ara aytalladzii yukad dzibu biddiin”. Awalnya saya membaca sendiri dan dia mendengarkan, kemudian saya ajak dia membaca bersama-sama, kami mengulang-ulang hingga beberapa kali. Namun anehnya, tiap kali dia saya suruh mengulang hafalan sendiri, dia tidak bisa. Kami tidak membuat kemajuan sama sekali. Satu ayat pun Jasmine tidak sanggup menghafalnya. Padahal sudah saya pancing-pancing: “Ara...ara...ara...”.
Merasa sudah terlalu lama kami mencoba dan tidak juga membuahkan hasil, saya mulai emosi dan menyudahi acara belajar malam itu. Daripada emosi saya berubah menjadi amarah, lebih baik saya biarkan Jasmine beristirahat. Saya pun bisa menenangkan pikiran sambil mencari tahu mengapa Jasmine sulit sekali mengingat kata-kata yang sedemikian pendek, padahal sudah diulang berkali-kali.
Rupanya saya tidak perlu waktu lama untuk menyadari di mana masalahnya. Dan saya menyadarinya tepat keesokan harinya saat bermobil menuju kantor.
Supaya tidak sepi, saya biasa menyalakan radio yang memutar lagu-lagu Indonesia. Saya lupa waktu itu lagu apa, pokoknya lagu itu cukup populer dan hampir tiap hari selalu diputar di radio. Saya berusaha mengikuti syairnya, tapi tidak bisa sama persis dengan penyanyi aslinya (Bukan kualitas suaranya, kalau masalah kualitas sih tidak bisa dibandingkan karena saya spesialis penyanyi kamar mandi, haha...). Yang saya maksud adalah saya tidak bisa mengikuti syairnya persis, walaupun sudah mendengarkan berkali-kali.
Lantas ingatan saya melayang-layang ke masa puluhan tahun lalu, sewaktu saya masih SD, sewaktu saya masih belum bisa berbahasa Inggris, tapi kok bisa waktu itu saya hafal hampir semua lagu-lagunya New Kids On the Block? Saya coba mengingat-ingat lagi metode menghafal saya dulu. Yes, ternyata saya berhasil menghafal semua lagu dalam 1 album “Step by Step” karena saya mendengarkan lagunya sambil membaca teks lagu yang ada di sampul kaset. Mengingat masa kecil saya, saya lantas bersorak. Aha, mungkin ini bisa diterapkan pada Jasmine. Mungkin masalah Jasmine adalah dia kesulitan menyimpan inputan yang harus direkam secara auditori. Sama seperti saya yang harus membaca teks dahulu baru bisa hafal. Mungkin dengan membaca, Jasmine bisa lebih mudah menghafal. Hanya masalahnya, Jasmine belum lancar membaca. Tapi saya tidak kehabisa akal.
Begitu sampai di kantor, hal yang pertama saya lakukan adalah membuka Microsoft Word dan mengetik kalimat-kalimat berikut dengan ukuran font yang cukup besar:
Al Ma un
Aro aytal lazi yukad dibu bidin
Fada likal lazi yaduk ul yatim
Wala yahud du ala to amil miskin
Faway lul lil musolin
Alazi nahum an solat tihim sahun
Alazi nahum yuro un
Wayam na unal maun
Tidak lupa saya tambahkan warna yang berbeda untuk masing-masing kalimat agar lebih menarik. Seorang kawan saya melihat apa yang saya kerjakan dan memprotes tindakan saya. Mengapa saya menuliskannya tidak sesuai dengan makhraj? Mengapa tidak ada panjang pendeknya?
Saya bilang karena inilah cara agar Jasmine bisa menghafal, karena rupanya dia punya style belajar visual seperti saya. Cuma masalahnya, Jasmine belum bisa membaca huruf hijaiyah, dan dia juga belum lancar membaca huruf latin. Jadi saya harap dia bisa membaca kalimat-kalimat sederhana yang saya tuliskan dan memasukkannya dalam memori.
Alhamdulillah cara saya boleh dibilang berhasil. Pertama saya menyuruh Jasmine membaca kalimat tersebut satu per satu. Walau terbata-bata tapi toh dia bisa juga. Kemudian saya ulangi cara membacanya, tentu saja dengan cara membaca yang benar menurut ilmu tajwid, panjang pendek dan makhraj. Saya hanya perlu mengulang beberapa kali dan Jasmine pun bisa mengingatnya sendiri.
Saya merasa sangat lega. Bukan karena Jasmine bisa menghafal. Tapi karena berhasil memahami gaya belajar Jasmine, yang ternyata tidak jauh berbeda dengan saya. Gaya belajar Visual.
Semoga pengalaman menghafal ini bisa saya jadikan pelajaran untuk di kemudian hari menemani Jasmine mempelajari hal-hal yang lain. 

Note: Oiya, foto ibu dan anak di atas bukan foto saya, saya nyomot dari internet (hasil karya Gareth Brown)

Sabtu, 10 September 2011

Surat Untuk Gadis Kecilku

Gadis kecilku sayang,

Melihatmu yang mengenakan seragam sekolah TK barumu hari ini membuat ingatan Mama melayang-layang melakukan kilas balik ke lebih dari 4 tahun lalu saat kelahiranmu.

Semenjak engkau hadir di antara pernikahan kami, kehidupan Mama dan Papa berubah total. Tentu saja Mama dan Papa tidak bisa lagi sebebas dulu, bekerja hingga larut malam, kongkow-kongkow bersama kawan-kawan, berwisata kuliner atau sekedar nonton film di bioskop. Kami juga tidak bisa lagi seenaknya membelanjakan uang karena harus lebih hati-hati merencanakan keuangan demi masa depanmu.

Namun apa yang kami rasakan saat itu justru kebahagiaan yang tiada terkira. Tidak semua pasangan suami istri diberikan karunia oleh Allah untuk melihat seorang bayi mungil, sehat nan cantik bak malaikat terbaring di antara kami.

Kamu yang masih bayi dulu begitu tergantungnya pada kami, terutama pada Mama karena kamu masih menyusu. Kamu yang mungil dan begitu tak berdaya membuat Mama tidak berani memejamkan mata jika kamu sedang terjaga. Itulah makanya mengapa berat badan Mama cepat kembali normal setelah melahirkan, salah satunya karena sering melekan menjagamu.

Namun sekali lagi, beratnya melekan tiap malam tidak sebanding dengan kesenangan yang Mama rasakan selama menjadi ibumu. Mama senang sekali menggendongmu di bahu, kalaupun melorot, kepalamu pas sekali berada di antara leher dan tulang belikat. Mama senang mencium aroma keringat di leher dan tengkukmu, terutama kalau menjelang mandi. Mama senang melihat telapak tangan mungilmu yang bak bintang laut. Mama juga senang mendekatkan hidung Mama ke mulutmu yang menguap, menikmati harumnya aroma rongga mulutmu.

Itu dulu sayang,

Waktu kamu masih bayi. Kini bayi mungil itu sudah bukan bayi lagi. Sudah beranjak besar dan tanpa Mama sadari, kamu sudah menjadi seorang gadis kecil. Kamu memang masih berpegang pada tangan Mama, tapi itu sesekali. Karena kamu mulai bersosialisasi dan bergaul dengan teman-teman sebayamu, kamu mulai lebih senang bermain bersama mereka ketimbang bersama Mama.

Terkadang ada rasa kangen, dan juga cemburu melihatmu yang mulai mandiri. Kangen pada momen-momen eksklusif kita berdua. Juga cemburu pada kawan-kawanmu yang lebih bisa membuatmu tertawa riang dibanding dengan Mama.

Tapi Mama sadar, Mama hanya seekor induk burung yang sedang mengajari anaknya terbang. Dan kamu adalah anak burung itu. Mama tahu suatu saat Mama harus melepasmu terbang dengan sayapmu yang indah. Menantang langit menuju cakrawala yang tak berbatas.

Kini Mama kembali ke saat ini, saat engkau mencium punggung tangan Mama dan berjalan mantap menuju sekolah TK-mu seorang diri. Tak sekalipun engkau menoleh lagi, matamu yang bulat dihiasi bulu mata yang lentik menatap sosok lain di ujung sana, guru-gurumu dan kawan-kawanmu. Mama kini bukan satu-satunya orang yang berarti dalam hidupmu.

Namun jangan salah pengertian sayang,

Mama tidak sedih. Sebagaimana bahagianya Mama saat perjumpaan pertama kali denganmu, kini Mama malah semakin bahagia. Melihat bayi kecil itu tumbuh sehat, riang dan cantik menjadikan Mama merasa menjadi orang yang paling beruntung di dunia.

Momen hari pertamamu di TK menyadarkan Mama akan bebasnya jiwamu. Mama sadar kamu bukanlah sekedar anak Mama, melainkan seorang manusia yang utuh. Mama sadar, yang bisa Mama lakukan hanya mengajarkanmu terbang, tapi Mama tidak bisa menentukan ke mana arah terbangmu. Engkau pribadi yang berbeda, ciptaan Tuhan yang unik, yang punya keinginan dan mimpi sendiri akan kehidupan. Karenanya, Mama yakin akan sangat berbahagia saat tiba waktunya Mama berkata: “Terbanglah burung kecilku, terbanglah yang jauh dan tinggi menggapai semua mimpimu...”

Dan jika setelah terbang, engkau butuh tempat untuk kembali, maka Mama akan selalu berada di sini, di sarang kecil kita, menunggumu...seperti saat awal-awal kehidupanmu.

(Dipersembahkan untuk semua ibu yang luar biasa tabah membesarkan dan mendidik anak-anaknya, walau banyak duri dan batu yang menghadang).

Senin, 08 Agustus 2011

Mengenang Kekejamanku Mengajari Anak Membaca


Jujur saja nih, dulu saya agak cemas memikirkan anak perempuan saya yang sedang duduk di bangku Play Group. Penyebabnya sepele, karena dia belum juga bisa membaca bahkan mengenali abjad masih suka salah-salah. Sulit sekali menanamkan pemahaman bahwa “b” yang berdempetan dengan “a” dibacanya “ba”. Sedangkan anak-anak teman saya, sudah mulai bisa mambaca bahkan semenjak di Play Group. Salah satu teman sekolahnya juga sudah mulai bisa membaca huruf Hijaiyah yang sambung-sambung. Anak yang umurnya lebih kecil dari anak saya sudah bisa menghafal ayat kursi dan bagian awal surat Yasin. Sedangkan anak saya, membedakan “Ta” dan “Tsa” masih belum bisa. Jadi progress membaca buku iqra’nya berhenti di huruf “Tsa”.

Mengenali angka juga demikian. Entah kenapa anak saya kesulitan mengidentifikasi angka 6, 8 dan 9. Saya sampai stress dan seringkali memarahinya kalau dia lagi-lagi tidak bisa menyebutkan angka yang tertulis di smart card. Tak jarang, hingga berujung pada tangisannya.

Nah Moms, perilaku saya di atas saya anjurkan untuk tidak ditiru. Apalagi pada bagian “memarahi”. Wah, itu adalah hal yang paling saya sesalkan hingga sekarang. Saat ini saya hanya bisa berharap bahwa kelakukan saya itu tidak menyebabkan dampak buruk pada perkembangan mentalnya kelak.

Oke kita kembali ke pokok masalah. Untunglah saya cepat sadar sehingga saya tak lantas melanjutkan “kekejaman” yang saya lakukan pada anak saya. Saya tak ingin merenggut kegembiraan masa kecilnya yang seharusnya diisi dengan bermain. Akhirnya saya hanya mengajarinya membaca, mengaji atau berhitung jika dia yang minta. Dan kalaupun ada yang salah, saya tidak lagi memaksakan untuk dia langsung mengerti saat itu juga. Kalau dia sudah bilang capek atau ngantuk, maka buku pelajarannya langsung saya tutup. Saya pikir lebih baik saya mengajarkan hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah, seperti masalah Tuhan, akhirat, agama, tata krama pada orang tua, kejujuran, kasih sayang pada alam dan sesama serta arti kegembiraan masa kecil. Ini saya lakukan dengan mendongeng atau bercakap-cakap dengannya sambil tiduran.

Satu hal yang menarik adalah adanya mindset para guru dan orang tua bahwa anak-anak TK harus sudah bisa membaca. Nah, ternyata ini pendapat yang keliru, setidaknya menurut Yayasan Sekolah Alam Insan Mulia. Saya sempat terkejut saat iseng-iseng datang ke sekolah tersebut dan menanyakan apakah calon siswa harus dites membaca? Dan jawaban mereka adalah untuk calon murid tidak ada tes membaca, yang ada hanya tes kematangan emosional saja. Membaca dan menulis baru akan diajarkan di bangku kelas 1 SD. Prinsip mereka adalah mengajarkan anak-anak sesuai dengan usianya. Tujuannya agar anak-anak tidak kehilangan rasa ingin tahu. Inilah satu hal yang membuat saya sadar untuk tidak lagi memaksakan ambisi saya agar anak saya bisa seperti kawan-kawannya yang bisa membaca atau mengaji di usia sangat dini.

Bagi saya yang penting adalah merangsang keinginannya untuk belajar dengan suka hati, mengaji dengan ikhlas dan tidak menganggap berhitung sebagai momok. Itulah mengapa saya senang jika anak saya mendatangi saya dengan buku di dua tangan mungilnya dan berkata: “Ma, aku mau belajar menghubungkan”. Yang dia maksud menghubungkan adalah menghubungkan gambar dengan angka (untuk soalnya saya gambar sendiri). Atau: “Ma, aku mau ngaji sama Mama”. Tentu saja yang dia maksudkan adalah membaca buku Iqro-nya, bukan Alquran. Saya senang jika dia yang mengajak saya belajar dan bukan sebaliknya. Namun jangan salah, ini tidak tiap hari, kalau dia mengantuk atau lebih senang nonton video kartun favoritnya ya nggak ada acara belajar. Kalau dihitung-hitung, lebih banyak main atau nonton TV daripada belajarnya, hehe. Nah, proses ini berlangsung kira-kira selama 6-10 bulan selama dia duduk di Playgroup. Pokoknya saya biarkan dia sebebas-bebasnya melakukan apa yang diinginkan.

Ternyata hasilnya juga tidak buruk. Guru sekolahnya melaporkan hasil belajarnya cukup memuaskan dan yang penting dia bisa mengikuti pelajaran dengan baik alias nggak ketinggalan sama teman-temannya yang lain.

Yang lebih mengejutkan lagi: Ketika dia masuk TK, tiba-tiba dia mudah sekali memahami buku belajar membaca-nya. Padahal sebelumnya dia tidak hafal alfabet. Buku yang dipakai berjudul “Anak Islam Senang Membaca”. Isinya mirip buku Iqra’ gitu, tapi versi huruf latinnya. Di halaman pertama diajarkan “a” dan “ba”, halaman selanjutnya “ca” yang dirangkai-rangkai dengan “a” dan “ba”, begitu seterusnya sampai “za”. Dan lagi, semenjak masuk TK, entah kenapa dia seakan mewajibkan diri untuk menambah huruf baru sebelum tidur, padahal saya tidak pernah mengajaknya belajar.

Tapi kalaupun sekarang di sekolahnya sudah diajarkan membaca, bagi saya itu juga bukan masalah. Toh anak saya juga tetap exciting dan saya tak lagi memaksakan kehendak. Kini saya sadar bahwa anak saya unik, dia berbeda dengan anak-anak yang sudah lebih dulu bisa membaca, berhitung atau mengaji. Saya yakin dia punya kelebihan sendiri, bukankah Tuhan selalu menciptakan manusia komplit dengan kelebihan dan kekurangannya?

Saya akan melakukan apa saja agar ia faham artinya kebahagiaan masa kecil. Agar kelak dia tidak menjeritkan isi hatinya seperti almarhum Michael Jackson: “Have you seen my childhood...???”.

Sabtu, 02 Juli 2011

2 Dosa(ku) Sebagai Seorang Ibu

Orang tua manapun pasti menginginkan punya anak yang penurut (bahasa Jawanya: manut) alias mau mengikuti apa yang diinginkan orang tua. Alangkah mudah kalau anak-anak kita (minimal anak-anak saya) tidak banyak membantah, tidak banyak merengek, diminta melakukan ini itu mau-mau saja dan tidak banyak protes. Potret anak-anak seperti itu, kata Ibu saya, banyak dimiliki oleh anak-anak produk keluaran lama. Termasuk generasi saya.

Bukannya mencap saya sebagai anak yang penurut, tapi kalau diingat-ingat sih saya memang mendekati ciri-ciri anak yang saya sebutkan di atas. Memang saya nggak baik-baik amat, sedikit nakal juga si, tapi kalau sudah dimarahi biasanya langsung kapok. Hehe...

Oke, sebelum kita berlarut-larut membahas masalah masa kecil saya, mari kita kembali ke topik bahasan utama, yakni masalah dosa. Jujur saya pilih kata yang sedemikian hiperbolik agar 2 hal yang akan saya tulis ini menjadi pengingat, paling tidak bagi saya sendiri, agar saya terhindar dari kesalahan fatal sebagai orang tua. Ya, karena anak-anak keluaran terbaru cenderung lebih banyak protes dan punya banyak kemauan hingga jika tidak di-handle with care, saya kuatir akibatnya akan jadi salah asuhan. Nah, ujung-ujungnya kita sebagai orang tua akan gagal mengemban amanat yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, yakni mendidik dan membina anak-anak. Itulah juga salah satu alasan mengapa saya memilih kata “dosa” dan bukan kata “kesalahan”.

Dosa sebagai Ibu yang saya maksudkan bukan karena Ibu tidak bisa masak, tidak bagus menata rumah, atau Ibu yang terlalu sibuk bekerja, tidak bisa mengantar ke sekolah atau tidak bisa tidak bisa lainnya. Dosa ini sepele, namun sering terlupakan dan fatal jika kita lalai dan menganggapnya remeh, yaitu:

1. Tidak mau menunggu
“Bril, ayo mandi!”
“Sebentar Ma”
“Ayo cepet udah jam brapa ini, nanti terlambat”
“Sebentar Ma”
“Udah to, jangan nonton TV terus, ayo mandi”, sambil saya mematikan TV.
“Huaaaa.....!!!!, aku masih mau nonton....!!!”
Selanjutnya bisa ditebak, saya akan langsung nyerocos mengomeli Abril bahwa dia harus disiplin waktu dan Abril akan memprotes tindakan saya yang langsung mematikan TV. Kejadian itu akan bermuara menjadi serangkaian kata-kata amarah yang keluar dari mulut saya, tangisan Abril yang semakin keras dan yang paling parah bisa-bisa saya menampar pipinya (walau tidak terlalu keras). Akhirnya keinginan saya agar dia segera mandi tidak tercapai serta yang saya sesalkan, bisa jadi saya telah menggoreskan luka di hatinya dengan amarah dan tamparan saya.
Kejadian di atas tidak perlu terjadi seandainya saya mau sebentar saja menunggu barang sejenak. Maksudnya di sini bukan menunggu hingga acara TV kesukaannnya selesai, melainkan menunggu hingga mendapat timing yang pas. Saya bisa saja melihat apa yang dia tonton dan bernegosiasi bahwa dia harus segera mandi setelah jeda iklan, atau saya beri waktu menonton 5 menit lagi baru kemudian dia harus mandi. Ternyata sebenarnya dia mau kok mematuhi kesepakatan yang dibuat, asalkan kita sendiri juga konsisten.
Itulah problemnya. Terkadang saya (atau mungkin kita) begitu tidak sabaran sehingga tidak mau mengerti kepentingan mereka. Sebagai Ibu, saya seringkali punya kemauan agar anak melakukan perintah saat itu juga, dan tatkala mereka tidak mau melakukan, saya langsung menganggapnya tidak patuh padahal sebenarnya yang dia inginkan adalah “sedikit penundaan”. Bukankah kita sendiri juga seringkali seperti itu? Kita pun juga tidak suka jika diperintah melakukan sesuatu saat sedang berkutat dengan suatu hal. Paling tidak kita juga ingin diberi waktu sejenak untuk menswitch tenaga dan pikiran dari satu job ke job yang lain.

2. Tidak mau mendengar
Kalau saya sedang berbicara atau menasehati anak dan dia cuek saja, tentu saja saya akan marah dan sudah dipastikan saya akan mulai mencerewetinya dengan omelan.
Saya akan menganggapnya nakal karena tidak mau mendengar.
Padahal jika yang terjadi adalah sebaliknya, jika dia sedang berbicara, saya pun seringkali menganggapnya sebagai angin lalu. Ya, karena yang dibicarakan olehnya saya anggap hal yang sepele dan tidak penting.
Ya, satu lagi dosa sebagai orang tua adalah selalu menganggap omongan kita penting untuk dia dengar dan omongan anak tidak penting untuk kita dengar. Padahal anak juga butuh didengar, walaupun itu hanya sekedar pertanyaan yang menurut kita konyol atau cerita tentang teman sepermainannya. Bagi dia, ulah temannya di sekolah adalah hal super penting yang kita harus tahu.
Anak berbicara atau bertanya pada kita karena dia menghargai kita sebagai teman berbagi (sebaiknya poin ini jangan sampai dilupakan). Fatal akibatnya jika kita terlalu sering cuek terhadap ocehannya. Dia akan menganggap kita bukan lagi sebagai teman sharingnya dan dia akan mencari teman lain yang bisa dianggapnya lebih mau mendengar. Apakah dengan begitu tidak akan membuat kita semakin nelongso? Bahwa anak kita lebih memilih orang lain ketimbang orang tuanya sendiri untuk berbagi? Belum lagi kemungkinan dampak negatifnya jika dia memilih teman yang salah?

Hal yang saya tulis di atas lebih merupakan refleksi diri selama lebih dari 4 tahun menjalani peran sebagai orang tua. Mohon maaf kalau salah karena waktu 4 tahun memang masih usia kanak-kanak, jadi belum pantas kiranya kalau saya sudah menuliskan hal-hal berbau parenting advice. Syukur-syukur tulisan ini bisa bermanfaat bagi para ibu untuk kembali mengintrospeksi diri agar bisa menjadi orang tua, teman dan sahabat yang lebih baik bagi anak-anak.

Gambar diambil dari sini

Sabtu, 11 Juni 2011

Mengatasi Anak(ku) Yang Tantrum

Duh Gusti, bolak-balik aku musti nyebut sambil mengelus dada menghadapi tingkah gadis kecilku yang tiba-tiba punya hobi teriak-teriak (bahasa kerennya tantrum). Nggak jelas kapan dan bagaimana tepatnya dia mulai punya kebiasaan seperti itu, yang jelas tiap kali keinginannya tidak dituruti atau menghadapi hal yang tidak cocok di hatinya, maka mulailah dia menangis sambil teriak-teriak. Dan teriakannya itu bisa terdengar hingga seantero kompleks perumahan. Bayangkan bagaimana malunya dan bayangkan pula betapa keras volume teriakannya seandainya dia teriak di dalam rumah? Pastinya setiap gendang telinga yang terpapar suara teriakannya akan langsung berdenging, “Nginggg...”.

Ya sebenarnya aku tidak sepenuhnya menyalahkan putriku atas tabiatnya yang seperti itu karena sepertinya sifat itu diwarisinya dari aku. Aku seperti berkaca melihat kelakuannya karena sedikit banyak sifatnya itu mirip dengan ibunya yang memang suka meledak-ledak emosinya (terutama jika sedang marah). Hanya saja di usiaku yang sudah 30 sekian ini, sudah barang tentu aku telah banyak belajar bagaimana mengendalikan diri. Hoho...

Oke balik ke masalah putriku. Segala macam cara sudah kucoba untuk menghilangkan kebiasaannya itu. Mulai dari cara yang selembut tepung terigu sampai sekasar kertas gosok. Mulai dari menasehatinya baik-baik, memberi hadiah, mengancam, menguncinya di kamar sampai menampar. Memang beberapa saat cara-caraku berhasil, tapi beberapa hari kemudian, kebiasaan itu mulai muncul lagi. Aku jadi semakin bingung, belum lagi hilang rasa bersalahku karena menyakiti fisik putriku karena aku pernah menamparnya, aku sudah dibuat pusing dengan tantrumnya yang tersu menerus berulang.

Aku mulai putus asa, hingga aku teringat isi sebuah buku parenting tentang bagaimana mendisiplinkan anak-anak. Caranya adalah dengan mencabut hak mereka atas hal yang mereka sukai. Biar aku ceritakan sepintas bagaimana metode yang diajarkan penulis buku itu. Setiap anak pasti punya suatu hal yang menjadi kesukaannya, bisa dalam bentuk mainan kesukaan, buku kesukaan atau snack favorit. Nah, setiap kali sang anak melanggar suatu aturan yang sudah disepakati bersama antara orang tua dan anak, maka si anak akan kehilangan haknya untuk menikmati hal yang disukainya itu. Jadi misalnya si anak melewatkan kewajibannya membantu orang tua membuang sampah dengan sengaja, maka dia akan kehilangan hak untuk main video game.

Aku mulai berpikir untuk menerapkan metode itu untuk mengatasi tantrumnya putri sulungku. Hanya ada satu masalah, aku kebingungan menentukan apa yang disukai anakku. Apa ya kira-kira privilege yang bisa kujadikan alat tawar menawar agar putriku mau menghentikan kebiasaan tantrumnya? Aha, aku tahu...memang butuh waktu agak lama untuk menyadarinya, putriku sangat suka dikeloni. Ya, akan sangat menyakitkan baginya jika aku menolak menidurkannya sebagai hukuman karena dia berteriak.

Kesempatan untuk mempraktekkannya datang tidak lama. Saat si Mbak melaporkan bahwa hari itu dia berteriak di lapangan bermain, malam itu juga aku membiarkannya tidur sendiri. Aku menolak tidur satu kasur dengannya dan lebih memilih tidur di bawah bersama si adik. Aku berjanji untuk kembali tidur dengannya esok hari jika esok dia tidak lagi berteriak. Sebelumnya, anakku memang minta maaf dan aku bilang aku memaafkannya, tapi itu tidak bisa menghapus hukumannya, malam itu dia harus tidur sendiri tanpa dikeloni. Sebenarnya tidak tega juga melihat dia tampak begitu terpukul atas keputusanku. Butuh waktu lama baginya untuk bisa tertidur karena dia tidak biasa tidur tanpa ditemani. Setelah aku yakin dia nyenyak, aku yang sedari tadi menahan perasaan tidak tega kemudian memeluk dan menciumnya sambil membisikkan betapa aku sangat mencintainya (tentu saja dia tidak sadar karena dia sudah di alam mimpi).

Di hari lain di minggu yang sama, aku mengulangi metode tersebut sekali lagi. Dan hasilnya sekarang tantrumnya sembuh. Dia tidak lagi gemar berteriak dan bersikap jauh lebih manis. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan kebiasaan buruknya menghilang sebagaimana aku tidak tahu bagaimana dia muncul. Bisa juga karena putriku mulai bisa mengendalikan diri atau karena dia tidak mau kehilangan hak untuk dikeloni ibunya. Yang jelas, aku tidak perlu menghukumnya dengan hukuman fisik, membentaknya, mengancamnya atau menguncinya di kamar sebagaimana metode Nanny 911 yang pernah kulihat di Metro TV.

Walaupun melakukan itu (mengambil hak anakku untuk dikeloni) adalah hal yang sangat berat sebenarnya, tapi aku harus melakukannya demi menyembuhkan kebiasaan buruknya. Kupikir akan lebih sulit menghilangkan kebiasaannya jika dia sudah lebih dewasa kelak.

Sebelum kebiasaannya hilang, ada satu hal yang tetap menjadi pedomanku setiap kali harus menghadapi tantrumnya yang sedang kumat. :”She’s doing that because of a reason”, makanya aku harus cari tahu dulu mengapa dia melakukan itu, apa yang dia rasakan sehingga aku tidak terburu-buru mengecapnya sebagai anak yang nakal. Dengan demikian aku terbantu untuk mengelola emosi agar tidak ikut berteriak dan menambah runyam keadaan.

Gambar diambil dari sini
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)