Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Hati. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 April 2015

Loyalty Is (Not) Bullshit


“Loyalitas tanpa batas”
Demikian bunyi status BBM seorang kawan di hari Minggu. Saya tahu, tidak seperti karyawan lain, kawan saya itu adalah salah satu yang kehadirannya di hari Minggu tidak dibayar alias tidak dihitung sebagai overtime.
Tapi kehadirannya di hari Minggu bukannya tanpa kompensasi. Ia tetap mendapat ganti libur di hari kerja lain.
Pertanyaannya, apakah jika ia tidak mendapat ganti libur di hari lain, masih bersedia kah dia datang di hari Minggu?
Jujur, saya sendiri tidak berani menjawab mau. Karena itu saya belum berani mengatakan diri saya loyal. Lha iya kan? Mana mau saya kerja gratisan? Ini perusahaan swasta, Bro. Bukan lembaga sosial. Kalau saya ngga dapet uang lembur, ya ganti dong hari libur saya.
Hal yang sama juga saya yakini terhadap para atasan saya yang rela datang di hari Minggu tanpa dibayar dan tanpa mendapat ganti libur. Pertanyaannya, jika mereka digaji dengan gaji yang sama dengan para Operator atau Foreman, apakah mereka tetap bersedia datang di hari libur tanpa mendapat kompensasi apa-apa?
Well, saya tidak yakin jawabannya “Bersedia”. Karena tiap bulan mereka sudah mendapat gaji dengan jumlah digit berderet-deret, wajar jika sesekali waktu mereka mau datang di hari Minggu. Sekedar memastikan anak buahnya bekerja sesuai program lantas pulang kapan saja mereka mau.
Loyalty is bullshit! Selama loyalitas itu masih berpamrih, itu cuman loyalitas palsu. That’s why, saya sempet mikir nggak ada orang yang bener-bener loyal, apalagi hanya loyal terhadap sebuah perusahaan. Tak ada. Baik di level middle seperti saya yang mendapatkan ganti libur, atau di level bawah yang mendapatkan uang overtime, atau di level atas yang gajinya berdigit-digit.
Tapi ternyata saya salah besar! Ternyata ada orang yang membuktikan bahwa loyalty (terhadap sebuah perusahaan) is not bullshit!
Segalanya dimulai dari sebuah berita di hari Sabtu pagi; “Hari Minggu besok, Mill produksi!”
What?!
Seharusnya dalam keadaan normal, ini adalah sebuah berita gembira, setidaknya untuk golongan Foreman dan Operator. Sebab, masuk di hari Minggu berarti 7 jam extra overtime fee. Tapi yang jadi masalah adalah; 4 dari 9 crew saya keesokan harinya akan mengikuti rekreasi (program perusahaan). Rekreasi yang sudah sejak berminggu-minggu sebelumnya direncanakan dan tak mungkin dibatalkan. Baiklah, saatnya mempermainkan bidak-bidak catur agar 5 orang yang tersisa bisa memback up produksi selama 24 jam.
Dead end!
Tak ada personel yang bisa mengisi kekosongan di shift pagi! Itu berarti, hanya tersisa saya seorang. Saya. Ya, saya, yang sangat merasa keberatan masuk di hari Minggu karena satu alasan; “I don’t know how to operate this Pelletizing!”. Well, seandainya bisa mengoperasikannya seorang diri, saya akan jadi orang nomor satu yang tunjuk tangan sebagai bentuk kesediaan masuk di hari Minggu. Tapi, saya baru masuk di Pelletizing selama kurang dari 3 bulan, itu pun kurang dari sepertiga jam kerja dalam sehari.
Jujur, saya memang hanya seorang stuntman, karena aktor intelektual yang seharusnya in charge di Pelletizing sedang ditugaskan di tempat lain. Tadinya saya ditugaskan di sana hanya sekedar untuk memback up administrasi, pengaturan SDM, dan lain-lain. Selama 3 bulan, saya memang banyak belajar, termasuk operasional Pelletizing. Tapi mana cukup 3 bulan untuk mempelajari operasional dan segala troubleshootnya? Plus, masih harus in charge di seksi di mana nama saya secara de facto tertulis dalam struktur organisasi; Mill Support. Itu sebabnya saya hanya menghabiskan waktu paling lama sepertiga dari waktu kerja di Pelletizing, sementara sisanya untuk Mill Support.
Sekedar informasi, Pelletizing memang bukanlah core business di perusahaan tempat saya bekerja. Tapi ibarat sistem pencernaan, dia adalah sistem ekskresi, pembuangan akhir. Sama dengan selera makan yang akan bermasalah jika ada masalah dengan sistem ekskresi (entah mencret atau konstipasi), Pelletizing memagang kunci akhir apakah produksi bisa jalan terus atau tidak. Dan kunci itu, selama 8 jam akan berada di tangan saya yang tidak bisa apa-apa.
Tentu saja atasan saya tahu itu, dan ia telah mengupayakan segala daya upaya agar selama 8 jam di pagi hari, saya tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya memastikan semua mesin transfer byproduct dari Mill ke Silo (penampungan by product) berjalan dengan seharusnya. Sisanya, berdoa agar rencana untuk mengulur waktu operasional Pelletizing selama 8 jam bisa berhasil.
*
Hari Minggu itu, saya datang satu jam lebih awal. Tentu saja saya masih berjumpa dengan crew shift malam yang memandang saya dengan cemas ketika hendak pulang. Saya memaksa mereka agar segera pulang karena pukul 3 sore, mereka harus kembali ke pabrik untuk melanjutkan memegang kunci estafet.
Akhirnya saya seorang diri. Benar-benar seorang diri, dengan hanya ditemani deru lembut motor-motor bucket elevator dan chain conveyor .
Tiap jam, saya naik untuk memastikan segala sesuatunya masih berjalan sesuai rencana, termasuk mengecek kondisi silo.  
Pukul 9 pagi lebih sedikit, alangkah kagetnya saya ketika Foreman shift malam tiba-tiba nongol di ruangan saya.
“Kenapa belum pulang? Bapak kan harus kembali jam 3?”, tanya saya dengan panik.
“Saya tidur saja di belakang. Saya standby Bu. Jaga-jaga kalau ada apa-apa”
Puji Tuhan! Ternyata dia jawaban doa-doa saya sejak semalam, “Dear God, please don’t leave me alone”!
Tapi mengingat yang bersangkutan sudah sepuh, tak urung muncul ketidaktegaan juga. Setengah mati saya memaksanya pulang dengan memaparkan berbagai alasan. Mulai dari perhitungan aliran produk yang masih aman hingga jam 3 nanti, hingga ke kemungkinan terburuk, yakni membiarkan produksi down selama beberapa jam jika saya tidak berhasil melakukan start up Pelletizing.
Tapi intuisi sang Foreman yang sudah terasah puluhan tahun tak mungkin bisa mengalahkan segala data empiris seorang saya yang baru 3 bulan in charge di sana. Dia menolak pulang.
Saya menghela napas panjang melihat kekeraskepalaannya. Lantas saya ambil buku laporan yang ada di tangannya, membuka pintu kantor dan mempersilakannya keluar untuk segera mencari tempat istirahat yang layak agar bisa tidur nyenyak. Betapa tidak? Dia baru saja bekerja 8 jam penuh dari jam 11 malam hingga jam 7 pagi. Tugasnya seharusnya berlanjut pukul 3 sore hingga pukul 11 malam. Hari Senin keesokan harinyanya, dia harus masuk pukul 7 pagi dan pulang pukul 7 malam. Bagaimana mungkin saya tidak mengkhawatirkan kondisi fisik pria sepuh berbadan mungil ini?
Sepeninggalnya, saya kembali seorang diri dan mengerjakan hal yang sama seperti sebelumnya. Memastikan satu conveyor masih kosong yang berarti rencana kami masih berjalan baik.
Pukul setengah 12, tepat ketika jam makan siang, sang Foreman masuk ke ruangan saya dengan panik. “Saya akan start! Silo sudah penuh” ujarnya.
What?! Sejam yang lalu masih baik-baik saja, pikir saya. Tak ada yang bisa saya lakukan selain membiarkannya bergegas menuju ruang panel untuk mulai menjalankan mesin satu per satu. Tapi tiba-tiba saya teringat sesuatu.
“Tunggu, Pak!”, panggil saya. “Sudah absen belum?”
Dia menggeleng. “Kan hari ini harusnya masuk sore, Bu. Jadi absennya jam 3 nanti”
Astaga! Ternyata dia melakukan ini semua tanpa harapan kompensasi apapun. Setelah sempat bengong beberapa detik karena menyadari kenyataan yang di luar dugaan ini, saya langsung menyergah. “Tinggal dulu Pelletizingnya, Bapak absen aja dulu.”
“Memangnya tidak apa-apa, Bu?”
“Tidak apa-apa. Tolong sekalian panggil anak buah Bapak untuk membantu. Tadi dia bilang akan standby kalau dipanggil kapan saja,” pinta saya yang tiba-tiba teringat pesan salah satu crew shift malam sebelum pulang. Kebetulan juga rumahnya tidak jauh dari pabrik.
Foreman saya itu memasang wajah lega. Entah karena diijinkan absen sehingga kehadirannya siang ini di pabrik diperhitungkan atau karena diijinkan memanggil bala bantuan untuk menjalankan unit Pelletizing.
Setengah jam kemudian, lagi-lagi saya mendapat kejutan. Operator yang dipanggil sudah datang dan baru selesai berganti pakaian ketika saya datangi. “Sudah absen?”
Jawabannya sama dengan sang Foreman. “Belum. Kan belum jam 3, Bu”
O My, baru sekali ini saya bertemu operator yang dipanggil di luar jam kerja tanpa bertanya apakah dia mendapat kompensasi atau tidak. Langsung saja saya suruh dia untuk menunda pekerjaannya dan absen terlebih dahulu.
*
Nah, dari pengalaman bekerja dengan sang Foreman dan Operator Pelletizing ini, saya baru sadar. Ternyata loyalitas bukanlah omong kosong. Ada kok orang-orang yang bekerja (bukan untuk kegiatan sosial) namun menempatkan kepentingan pribadinya pada prioritas terendah. Bagi kedua crew Pelletizing itu, menjaga agar produksi tetap berjalan lancar adalah segalanya. Tidak peduli badan letih karena baru saja selesai shift malam dan harus kembali bekerja di shift sore, mereka tetap rela bekerja di shift pagi tanpa menuntut uang lembur.
Dan orang-orang yang memiliki keloyalan itu, bukan orang-orang di level saya atau level di atas saya. Melainkan mereka yang berada satu dua level di bawah saya, yang seharusnya mendapatkan kompensasi berupa uang lembur yang jumlahnya cukup menggiurkan.
Mereka lah, yang lebih pantas memasang status; “Loyalitas Tanpa Batas” J

 *
Tulisan ini didedikasikan untuk Bapak Supartono dan Mas Hasanuddin. Walau mungkin mereka tidak pernah membaca tulisan ini, tapi nyatanya mereka telah memberikan pelajaran berharga untuk saya tentang apa itu arti "Loyalitas pada pekerjaan".

Senin, 09 Februari 2015

Sepuluh Bungkus Nasi

Pagi ini, teman kerja saya menceritakan sebuah kisah yang luar biasa;
*
Minggu pagi, tanggal 8 Februari, saya terpaksa membatalkan niat untuk diam di rumah dan memanjakan diri. Saya harus segera berangkat ke pabrik tempat saya bekerja, menyelesaikan hal-hal yang hanya bisa dikerjakan di hari Minggu, ketika mesin-mesin pabrik sedang tidak beroperasi.
Karena masih terlalu pagi untuk sarapan di rumah, saya memilih untuk berhenti di sebuah warung kopi yang juga menjual nasi. Tidak mahal, cukup dengan lima ribu rupiah, saya sudah bisa menikmati nasi bungkus dengan aneka pilihan lauk. Saya mengambil sebungkus nasi dengan tulisan “Tongkol” dan mulai menyantapnya. Ketika mulai makan, saya langsung sadar betapa pagi itu sangat istimewa, sebab saya sarapan dengan ditemani alunan suara orang mengaji. Suara itu berasal dari pengeras suara Masjid yang tepat berada di sebelah warung kopi.
Satu bungkus ternyata tidak cukup. Saya mengambil lagi sebungkus nasi, kali ini dengan tulisan “Telur Dadar”. Saya sudah menghabiskan hampir separuh nasi bungkus yang kedua, ketika melihat sepasang suami istri yang sudah sepuh berjalan ke arah warung tempat saya sedang makan.
Mereka bukan suami istri biasa. Usia keduanya saya perkirakan tidak kurang dari enam puluh tahun dan sudah pantas dipanggil “Mbah”. Tubuh mereka yang kurus dengan kulit terbakar matahari itu berbalut kaus oblong berwarna kusam dan ditumpuk dengan rompi berwarna jingga khas petugas kebersihan. Sang istri mengenakan selembar kain di atas kepala dan mengikat kedua ujungnya di bawah dagu. Ia berjalan perlahan sambil mengamati tong sampah di tiap-tiap rumah, sementara sang suami menarik sebuah gerobak. Setiap melewati tempat sampah di depan rumah, mereka berhenti, lantas memindahkan isi tempat sampah ke dalam gerobak yang mereka bawa ke mana-mana.
Keduanya ternyata berhenti di warung tempat saya sedang makan. Sang istri lantas mendatangi pemilik warung dan minta untuk disiapkan sepuluh bungkus nasi. Sementara itu, suaminya menunggu agak jauh, sembari memegang gerobak sampahnya seolah takut gerobak itu akan lari jika tidak dipegangi.
Saya memperhatikan raut muka penjaga warung yang tengah melayani permintaan ibu tukang sampah itu. Ekspresinya campur baur, antara heran, bingung dan curiga. Saya menduga, pemilik warung khawatir wanita berpakaian lusuh itu tidak mampu membayar pesanannya.
Kehadiran perempuan itu rupanya juga menarik perhatian laki-laki yang juga tengah menikmati sarapan dengan saya di warung yang sama. “Mborong nasi, Bu?” tanyanya dengan wajah penasaran.
“Nggih,” jawab perempuan itu singkat, lantas membayar nasi yang dipesannya. Lima puluh ribu rupiah untuk sepuluh bungkus nasi.
Ketika kedua “Mbah” itu melanjutkan perjalanan, saya menghentikan acara sarapan dan memilih untuk memperhatikan mereka. Saya sungguh penasaran, ingin tahu hendak mereka apakan nasi bungkus sebanyak itu. Dan sungguh, saya nyaris tidak bisa menelan nasi yang ada di hadapan saya ketika melihat apa yang mereka lakukan.
Mereka berjalan ke arah Masjid yang terletak tepat di sebelah warung kopi tempat saya sedang sarapan. Nasi bungkus itu mereka berikan kepada pengurus masjid. Saya melihat  seorang lelaki berpeci dan berkain sarung menerima nasi-nasi bungkus itu. Dengan sumringah, lelaki itu mengucapkan terima kasih lantas mengucapkan sesuatu. Wanita sepuh itu mengangguk-angguk dan menjawab “Aminnn...”. Mungkin lelaki itu baru saja mendoakannya. Setelah itu, suami istri yang lebih pantas jika berada di rumah dan asyik bermain dengan cucu itu berjalan lagi, melanjutkan aktifitas yang sama seperti sebelumnya, mengambili sampah dari rumah ke rumah.
Saya tertegun melihat pemandangan yang baru saja saya saksikan. Saya tak menyangka pasangan suami istri tukang sampah itu ternyata membelikan nasi untuk orang-orang yang tengah membaca kalam Ilahi di Masjid. Itu benar-benar hal yang tak pernah terbersit dalam benak saya. Sama sekali.
Pagi itu saya sungguh malu. Saya menghabiskan dua bungkus nasi untuk memuaskan lambung saya sendiri. Sedangkan kedua orang tua tadi, yang entah mereka sendiri sudah makan atau belum, malah membeli makanan untuk orang lain.
Saya merasa tertampar. Mereka dengan mudahnya mengeluarkan uang puluhan ribu untuk berbagi dengan sesama. Sedangkan saya, yang isi dompetnya mungkin berkali-kali lipat lebih banyak daripada suami istri tukang sampah itu, terkadang masih merasa terpaksa ketika harus mengeluarkan uang untuk berbagi. Apalagi berbagi dengan cara yang mereka lakukan tadi. Mereka itu, dengan pendapatan sebagai tukang sampah yang sudah bisa dipastikan pas-pasan, dengan entengnya mengeluarkan uang lima puluh ribu untuk membelikan nasi bungkus bagi para pemakmur Masjid.
“Kok bisa ya mereka kepikiran untuk melakukan itu?” pertanyaan itu tak henti-hentinya menghantui pikiran saya.  Selama ini, kalaupun saya bersedekah, saya masih pikir-pikir dulu. Pikir-pikir berapa banyak yang bisa dikeluarkan, juga pikir-pikir apakah orang yang menjadi sasaran sedekah memang layak diberi karena tidak mampu. Nah saking banyaknya yang dipikir-pikir, kadangkala sedekahnya malah tidak jadi. Tapi kedua suami istri sederhana itu bersedekah tanpa banyak pikir. Mereka tidak melihat apakah orang-orang yang sedang mengaji itu memang layak diberi karena tidak mampu membeli makan sendiri. Suami istri itu hanya melihat bahwa di dalam Masjid itu ada saudara-saudara seiman yang sedang berjuang di jalan Allah, memakmurkan Masjid dengan membaca ayat-ayat Ilahi.
Saya terpekur agak lama di warung kopi itu, sambil memperhatikan rekan-rekan kerja saya yang melintas satu per satu, lantas saya meringis karena hati serasa teriris. Kawan-kawan saya yang baru saja lewat itu juga tak jauh berbeda dengan saya, setiap bulan pasti menerima gaji bulanan yang jumlahnya tidak sedikit jika dibanding dengan penghasilan seorang tukang sampah. Tapi apa yang seringkali kami lakukan? Mengeluh “tongpes” ketika masih pertengahan bulan, menggerutu karena kenaikan gaji yang tidak sesuai harapan, menyalahkan harga-harga yang terus mengalami kenaikan. Pokoknya tiada hari tanpa mengeluh, menggerutu dan menyalahkan. Begitu terus-menerus. Sedangkan suami istri yang sepuh tadi, alih-alih mengeluhkan gaji mereka yang tak seberapa dan di bawah standar upah minimum kota, malah dengan mudah mengeluarkan uang untuk bersedekah.
Sumpah, saya jadi merasa kalah! Kalah dari suami istri tukang sampah. Kalah dalam hal bersedekah. Kalah dalam hal berlomba-lomba menjadi lebih mulia di mata Sang Maha Rahmah :’(
*
Seperti dituturkan oleh Imron Rosyadi, karyawan swasta PT ISM bogasari flour mills, Surabaya.
*
Artikel ini diikutsertakan pada kompetisi BlogNurul Hayat : Nyala Inspirasi untuk Negeri


Selasa, 30 Desember 2014

Pak Herumanto Tanus, Sebuah Memoar

 Sabtu pagi di akhir tahun 2003, saya duduk di sebuah ruangan rapat. Ruangan dengan pendingin udara yang disetting bersuhu rendah itu membuat telapak tangan saya yang sudah dingin karena nervous, semakin dingin. Betapa tidak? Saya sedang menghadapi wawancara. Itu adalah tahap akhir dari serangkaian wawancara untuk bisa diterima di perusahaan tempat saya bekerja sekarang.

Di hadapan saya duduk tiga orang laki-laki, salah satunya adalah Bapak Herumanto Tanus (yang waktu itu saya belum tahu nama dan jabatan beliau).

Saat itu, yang banyak menanyai saya adalah lelaki yang terlihat paling sepuh di antara ketiganya. Belakangan saya tahu, pria itu menjabat sebagai VP Manufacturing. Ya sebenarnya wajar kalau beliau yang paling banyak bertanya, karena wawancara ini adalah rekrutmen untuk program Manufacturing Apprentice.

Sementara itu, Pak Herumanto, yang belakangan saya tahu menjabat sebagai VP Finance, tidak banyak bicara. Beliau hanya bertanya sedikit-sedikit (saya bahkan sudah lupa beliau bertanya apa). Tapi walaupun demikian, beliau memberikan tatapan mata bersahabat plus senyum ramah, yang sedikit banyak membuat telapak tangan saya kembali menghangat dan debar di dada perlahan mereda. Ruangan wawancara itu pun mulai terasa nyaman.

Diterima di bagian produksi membuat saya tak banyak berjumpa dengan Pak Heru (nama panggilan beliau). Wajar saja, selain karena pekerjaan kami memang tak pernah beririsan, lokasi kerja kami terpisah jauh. Pak Heru berkantor di lantai 3 gedung Gunung Bromo dan termasuk golongan orang “office”. Sedangkan saya sehari-hari beredar di Mill dan termasuk golongan orang “pabrik”. Lokasi “office” dan “pabrik” yang terpisah oleh jalan umum membuat saya hanya sesekali saja berjumpa dengan beliau. Paling-paling berpapasan saat usai makan siang, atau ketika sedang sama-sama ada acara yang melibatkan orang “office” dan orang “pabrik”.

Dan seperti saat pertama kali berjumpa, Pak Heru tidak pernah tidak menghadiahkan senyum hangat plus tatapan mata yang ramah, tiap kali kami berpapasan. Sekalipun mungkin bagi beliau, saya ini bukan siapa-siapa. Pak Heru, dengan senyum dan tatapannya yang hangat, seolah mendobrak jarak antara beliau yang menduduki posisi manajemen puncak, dengan saya yang hanya seorang staff biasa. Tak jarang, di beberapa kesempatan, beliau juga sempat mengajak saya bercanda dan berbincang santai, seolah saya ini orang yang tiap hari berjumpa dengannya.

Pernah suatu siang, saya masuk ke ruang meeting utama di lantai 6. Saat itu adalah jadwal latihan menjelang konvensi Kelompok Kerja Mutu. Saya bertugas menyiapkan ruangan, komputer dan proyektor untuk latihan presentasi. Alangkah terkejutnya saya ketika mendapati ruangan meeting itu dipakai untuk acara makan-makan.

Dua meja prasmanan tampak penuh berisi makanan. Beberapa petugas dengan logo sebuah restoran terlihat mondar-mandir. Saya baru ingat, bahwa hari itu memang tengah digelar makan siang bersama untuk mengapresiasi teman-teman yang hendak berkonvensi di Jakarta. Dengan wajah (pura-pura) cemberut, saya (pura-pura) mengomel pada salah satu rekan kerja saya; “Duh, kenapa makan-makannya mesti hari Senin sih? Kan jadi nggak bisa ikutan.” 

Rupanya kata-kata saya itu didengar oleh Pak Heru dan beliau (yang seorang Nasrani) langsung paham mengapa saya berkata demikian.

Karena sisa makanan yang cukup banyak dan hanya saya yang belum makan di ruangan itu, saya langsung disuruh membereskan sisa makanan. Maksudnya membungkus sisa makanan untuk dibawa pulang. Ketika saya sedang memasukkan makanan ke dalam plastik, Pak Heru menghampiri saya lantas “mengomel”.

“Kok sedikit sekali yang kamu bungkus? itu nasi gorengnya dibawa sekalian. Eman masih banyak.”

“Waduh, ini sudah banyak, Pak,” jawab saya.

“Ya kan nanti untuk kamu buka puasa.”

“Biar buka puasa juga nggak sebanyak ini, Pak.” Dalam hati saya bertanya-tanya, masa sih Pak Heru 
ini tidak bisa mengukur kapasitas perut saya?

“Tapi ini brengkesannya enak lho, ayamnya juga,” kata beliau sembari menunjuk-nunjuk nampan berisi lauk.

Demikianlah beliau menunggui saya membungkus semua sisa makanan hingga tandas. Sebuah kegiatan yang sama sekali tidak penting sampai seorang VP harus ikut mendampingi seorang staf membungkus makanan.

Kalau dipikir-pikir sekarang, mungkin itu adalah bentuk kerendahhatian beliau, bentuk perhatian dan kepedulian beliau terhadap orang lain.

Saya yakin, tidak hanya terhadap saya saja beliau bersikap demikian. Terbukti dari betapa banyaknya rekan-rekan yang merasa terpukul mendengar beliau ikut naik di penerbangan Air Asia QZ 8501 yang hilang di sekitar perairan Bangka Belitong. Mustahil seseorang bisa begitu dicintai jika dalam kesehariannya tidak menjalin hubungan baik dengan sesama.

Ketika tulisan ini dibuat, sudah lewat dua malam semenjak berita hilangnya burung besi yang terbang dari Surabaya menuju Singapura itu beredar luas. Pesawat itu berisi sekitar 150 penumpang, termasuk Pak Heru, istri beliau dan dua putra lelaki mereka. Menghabiskan masa liburan sekalian menjenguk putrinya yang sedang menempuh studi Singapura mungkin adalah tujuan mereka pergi ke sana.

Belum ada kepastian mengenai bagaimana nasib pesawat beserta penumpang, pilot dan para kru hingga saat ini. Harapan untuk bisa berjumpa dengan mereka dalam keadaan selamat kian menipis seiring dengan berdetiknya jarum jam. Dan para keluarga yang sedang menanti kabar berita, harus setengah mati menabahkan hati untuk segala kemungkinan terburuk.

Termasuk kami, yang harus bersiap-siap menerima kenyataan bahwa di masa-masa mendatang, kami tak kan pernah lagi menjumpai sosok ramah,  hangat dan bersahabat khas Pak Herumanto Tanus.

*

Tuhan,
Kami tahu tak ada rencanaMu yang tak sempurna
Kami tahu kelak kami semua akan kembali padaMu
Kami tahu pertemuan dan perpisahan itu seiring sejalan
Kami tahu kehendakMu tak mungkin kami tolak
Termasuk jika #MissingAirAsia menjadi misteri yang tak pernah terungkap

Tuhan,
Ampuni jika kami masih terus mengharap keajaiban
Ampuni jika kami sulit menerima kenyataan
Ampuni jika kami terus menangis untuk sesuatu yang telah Kau takdirkan
Ampuni jika kami masih sulit melihat keindahan di balik rencanaMu

Tuhan,
Kami hanyalah makhluk lemah tak berdaya
Yang membutuhkan sedikit tambahan waktu
Agar kami bisa menghadapi kehilangan ini
Yang terlalu tiba-tiba ini
Dengan senyuman....

*
Surabaya, 29 Desember 2014
10:22 PM


(atas nama kami yang merasa kehilangan)

Jumat, 17 Oktober 2014

Ketika Seorang Greenhorn Dapet Liebster Award




Saya tiba-tiba dapet Liebster Award??? Unbelievable!!! Siapa to saya ini kok ada yang perhatian banget menjadikan saya salah satu blogger yang dapet Liebster Award? Wong saya ini hanyalah seorang Greenhorn yang lagi mencari jati diri dan berjalan terseok-seok di dunia literasi.
Sebelum berpanjang lebar sama dengan luas, kayanya saya musti terangin dulu makhluk sejenis apakah Liebster Award. Ini ni definisi Liebster Award menurut Emak blogger cantik yang ngetag saya;
“Liebster award adalah award yang diberikan buat para blogger yang follower-nya kurang dari 200 followers. Tujuannya? Ya, biar followernya nambah. Hehe…. Bahasa alusnya sih, biar para blogger saling silaturrahim dan saling mengenal melalui award ini. Mungkin saat ini, kenalnya baru di dunia maya. Siapa tahu kan, bisa beneran kenal-banget-nget di dunia nyata.” 
Nah, Liebster Award ini punya beberapa rule, sebagai berikut:
1. Mengucapkan terima kasih buat orang yang menominasikan kamu
2 .Kamu harus menampilkan gambar “Liebster Award” di blog kamu
3. Jawab 11 Pertanyaan yang diperuntukkan untuk kamu dari orang yang menominasikan kamu
4. Sebutkan 11 hal tentang diri kamu
5. Kamu bisa nominasi 5-11 orang yang berhak untuk dapet nominasi ini dengan syarat harus memiliki kurang dari 200 followers
6. Buat 11 pertanyaan baru untuk orang yang kamu nominasiin
7. Tampilkan 8 rule ini didalam blog kamu
8. Beritahu orang yang kamu nominasiin kalau mereka dapet award ini, karena mereka ga akan pernah tau kalo mereka dapet award ini dan posting link blog mereka di post kamu.

OKe, begitu saya dimention via twitter bahwa blog saya dapet Liebster Award, so pasti saya langsung berterima kasih yang tiada kira untuk seseorang yang sudah ngasih saya Liebster Award. Sebenarnya beliau itu orang yang sudah sejak lama saya kagumi melalui tulisan-tulisannya yang ringan namun nohok, mengajari tapi tidak menggurui. She is Mbak @nurulrahma, penulis tetap (dan mungkin juga editor) di majalah Nurul Hayat. So kebayang nggak si betapa girangnya saya ketika itu? Saya ini lho, yang bukan siapa-siapa di dunia tulis menulis, yang blognya masih cupu unyu-unyu, yang perjalanan menulisnya baru seumur jagung, yang masih mencari jati diri, tiba-tiba dianggap pantas untuk dapat nominasi Liebster Award yang tujuannya mulia bingitt... Once again, thank you Mbak Nurul Rahma J #hugs.
Terus, ini ni 11 pertanyaan yang ternyata jawabnya butuh waktu lama dan panjang. For information, saya dikasih tau soal award ini kira-kira bulan Mei. Itu 5 bulan yang lalu bow! Oke, saya harus akui, selama kurun waktu itu lah, intensitas menulis saya menurun drastis. Bukan karena nggak suka lagi menulis, tapi saya sedang dilanda kebingungan yang teramat dahsyat saat menghadapi laptop, bak remaja galau yang lagi naksir pujaan hati tapi sang gebetan cuek bebek. #halah.
Ya disamping lagi dilanda galau tak berujung, ini 11 pertanyaan ngga ketulungan susahnya. Sumpah. Saya mendingan disuruh ngerjain soal-soal matematika atau kimia gitu deh. Haha...
Baeklah, ini lah pertanyaan super sulit dan jawaban super naif dari saya...
Voila!
1. Kalau dikasih kesempatan buat ‘reinkarnasi’, mau jadi siapa? Gak boleh jawab ‘Jadi diri sendiri’ yaa… heheheh…..
Jadi Sir Arthur Conan Doyle. O I really want to marry this man’s brain. Nanti akan saya ciptakan karakter detektif perempuan yang berjilbab tapi cerdasnya luar biasa. Detektif ini kemudian ketemu sama Sherlock Holmes dan bikin si Sherlock jatuh cinta dan jadi muallaf. Haha...

2. Kalau masuk surga, buah apa yang pertama kali ingin dimakan?
Pertanyaan yang berbau makanan adalah yang paling susah dijawab, karena pada dasarnya saya ini doyan nyaris semua jenis makanan, termasuk buah-buahan (bahasa alusnya gembul).
Tapi dari dulu, ketika guru ngaji saya yang sekarang sudah sepuh itu bilang bahwa kalau di surga maka keinginan apapun akan langsung terwujud bahkan sebelum kita mengucapkannya, saya selalu membayangkan sepiring penuh buah anggur merah nan manis dan dingin.

3. Kalau dikasih pilihan buat stay di negeri orang, mau tinggal di negara apa, kota apa dan why oh why?
Ini juga pertanyaan susah, because I love Indonesia so much. Tapi kalau dipaksa memilih, saya ingin tinggal di Appenzelle, Swiss. Tempat itu adalah tempat terindah yang pernah saya kunjungi so far. Terletak di kaki pegunungan Alpen, sepi penduduk dan bebas polusi. Akan mengasyikkan kalau bisa menghabiskan sisa umur dengan jadi peternak sapi dan hidup dari berjualan susu di sana. The only problem is probably; being minority is not always comfortable. Saya ngga kebayang harus puasa lebih dari 20 jam jika summer. Juga ketika tanda masuk waktu shalat ditandai dengan lonceng gereja, alih-alih suara adzan.
Tapi suer, hidup di Appenzelle, insya Allah akan membuat frekuensi kedekatan dengan Yang Maha Kuasa meningkat. Akan susah untuk jadi manusia sombong di sana, sebab Tuhan secara nyata sudah menunjukkan kuasanya melalui pemandangan alam yang luar biasa. Tuhan seolah berkata tiap saat; “Hei manusia, sungguh kamu tidak ada apa-apanya”.
Lagipula, dengan hidup di sana, karena jadi kaum minoritas, pastinya kalau mau naik haji nggak perlu ngantri lamaaaa...haha...

4. Kalau anak Anda (atau ntar udah punya anak) ingin jadi artis, boleh apa kagak? Dan kalau boleh, siapa artis yang jadi ‘role model’-nya?
Untung pertanyaannya adalah “artis”, bukan “selebritis”.
Kalau anak saya ingin jadi Artis, atau orang yang bekerja untuk seni (art), tentu saja boleh. Why not? Bukankah art can inspire people?
Eko Supriyanto adalah salah satu role model artis yang saya kagumi. Dia bisa mendunia dengan terus mempertahankan jati dirinya sebagai orang Indonesia, negara yang demikian kaya akan harta seni budaya tak terkira.

5. Film apa yang paling #hak jleb di mata Anda?
Filem juga pertanyaan susah, karena saya doyan banget nonton film. Yang nohok-nohok juga banyak. Tapi filem yang satu ini susah dilupakan dan kesannya dalam walo saya nonton ini sekitaran jaman kuliah dulu. “Life Is Beautiful”, mengisahkan tentang seorang Yahudi yang tertangkap tentara Jerman dan dimasukkan ke dalam Kamp Konsentrasi bersama putranya yang masih kecil. Dalam keadaan tertekan, ia membuat kehidupan di kamp konsentrasi menjadi sebuah permainan (semacam game mengumpulkan poin dengan hadiah utama boleh naik tank). Itu dia lakukan demi membuat sang putra tidak ketakutan. Bahkan di akhir hidupnya, saat dia tertangkap ketika hendak melarikan diri, ia masih bisa bertingkah ngocol, hanya beberapa detik sebelum nyawanya diakhiri timah panas. Sepanjang nonton film ini, saya ngabisin sekotak tissue untuk ngelap ingus dan air mata. #hiks.
Life is Beautiful mengajak kita untuk selalu mensyukuri kehidupan yang telah Tuhan berikan.

6. Apa lagu yang bisa jadi original soundtrack dalam hidup Anda?
“Persahabatan”, dinyanyikan Sherina, yang jadi salah satu soundtrack fim Petualangan Sherina.  Liriknya begini;
Setiap manusia di dunia
Pasti punya kesalahan
Tapi hanya yang pemberani
Yang mau mengakui

Setiap manusia di dunia
Pasti pernah sakit hati
Hanya yang berjiwa satria
Yang mau memaafkan

Betapa bahagianya
Punya banyak teman
Betapa senangnya

Betapa bahagianya
Dapat saling menyayangi
Mensyukuri karunia-Nya


7. Makanan favorit Anda, apa? Bisa masaknya tak? *heheheh, cari bolooooo*
Haduh, pertanyaan soal makanan lagi. Saya lebih gampang menjawab makanan apa yang paling tidak saya sukai ketimbang makanan apa yang saya sukai. Soalnya hampir semua jenis makanan saya suka sih. Dari yang tradisional sampe continental. Tapi baiklah, kalau disuruh milih makanan favorit, pilihannya jatuh pada...jreng jreng jreng...
Rujak Cingurrr!!! O my God, I love being Indonesian, the heavenly land of petis J
Of course saya ngga bisa bikinnya. Thanks God, hingga kini mbok-mbok Madura dengan kemampuan mengulek rujak cingur masih senantiasa lestari.

8. Siapa public figure yang gaya busananya menginspirasi Anda banget?
Almarhum Chrisye.
Lho kok? Beliaunya kan cowok? Iya memang. Saya suka gaya berbusana Chrisye yang simpel dan sangat mencerminkan kepribadiannya yang sederhana. Saya ingin orang melihat saya sebagai orang yang tidak ribet.

9. Selain blog Anda, blog apa lagi yang PERTAMA KALI selalu Anda buka setiap pagi?
Jujur saya bukan seorang blogwalker, tapi belakangan ini saya seneng banget mengunjungi blog ini; http://cerpenkompas.wordpress.com/. Soalnya lagi demen belajar cerpen yang aroma sastranya kental.

10. Apa panggilan sayang Anda kepada anak (atau yang ntar mau punya anak)? Apa artinya?
Saya ngga punya panggilan sayang yang khusus untuk anak-anak. Tapi untuk memilih nama mereka, saya cukup banyak menghabiskan waktu untuk merenung.
Nama Rosabrille (dari ungkapan berbahasa Jerman; Rosa rote brille) saya pilih karena saya ingin ia melihat segalanya serba indah.
Nama Kairo (singkatan dari kekasih Rosul) saya pilih karena saya ingin ia menjadi orang yang disayang Rasulullah.

11. Dalam skala 1 sampai 10, berapa angka yang mencerminkan rasa syukur terhadap hidup yang sekarang Anda jalani?
Kebangetan banget kalau orang kaya saya nggak jawab 10 untuk pertanyaan ini. Saya adalah orang yang memiliki segala hal yang diinginkan seorang perempuan. Keluarga yang rukun, suami yang setia, anak-anak yang lucu dan sehat, teman-teman yang baik, pekerjaan asik dengan gaji yang gurih, juga masih punya waktu untuk hepi-hepi sama anak-anak dan juga nulis cerpen. 
I have an awesome life. Orang tua saya hangat, saya ngga pernah jadi korban KDRT, anak-anak jarang sakit, nggak pernah cekcok sama teman-teman dan masih bisa vacation ke tempat-tempat asik. Saya juga punya hobi yang bikin hidup jadi seperti pelangi. Menulis. Hobi yang kemudian mempertemukan saya dengan orang-orang seperti mbak Nurul Rahma, Mas Uncle Dang Aji, pak Bos Edi Akhiles, serta penulis-penulis novel muda berbakat; Mbak Mini GK, Mbak Farrah Zaneta dan Mas Reza Nufa.
Thanks God for this beautiful life and thanks God I have You...
----
Akhirnyaaaa...kelar juga saya jawab 11 pertanyaan yang super duper sulit ini. Next, saya kudu menyebutkan 11 hal tentang diri saya. Walah, kok ternyata susah ya. But, oke saya coba deh;
1.       Saya suka rumah atau kamar yang rapi tapi termasuk malas bersih-bersih.
2.       Saya tidak bisa hidup tanpa cabe. #penggemarpedassejati
3.       Saya suka berubah pikiran (ini kata miswa). Sekarang bilang minta dibelikan bakso, sejam kemudian bilang ngga usah, tapi kalo dibeliin ya tetep aja dimakan.
4.       Saya suka nonton filem.
5.       Saya gampang nangis, bahkan nonton filem kartun Aladdin, Beauty and The Beast dan The Little Mermaid pun saya mingsek-mingsek. Apalagi nonton John Q-nya Denzel Washington.
6.       Saya sering beli buku trus nggak dibaca sampe habis.
7.       Saya suka makan tapi nggak suka masak.
8.       Saya takut sama cicak.
9.       Saya nggak suka nyuapin anak-anak. Tugas itu dengan hormat sudah saya delegasikan pada miswa tercinta.
10.   Saya merasa seperti baskom, rasanya banyak orang (even yang baru kenal) yang suka banget curhat sama saya. Kadang-kadang sampe nyeritain hal-hal yang pribadi, padahal baru kenal.
11.   Saya sering merasa minder.
Fiuuuh...akhirnya kelar juga...untuk 5-11 blog lain yang layak dapat Liebster Award, sadly I have to say, I have no one to be mentioned. Saya jarang blogwalking soalnya. Hehe...
Thank you again Mbak Nurul Rahma, very glad to know you...semoga selalu menginspirasi dengan tulisan-tulisannya. Salam cup cup untuk Mas Sidqi yang lucu J

Note: Greenhorn adalah istilah untuk inexperienced people, saya pertama kali kenal istilah ini dari novel “Winnetou” (Karl May).
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)