Tampilkan postingan dengan label Belajar Menulis Flash Fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Belajar Menulis Flash Fiction. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Maret 2016

[Flash Fiction] Hadiah Untuk Ibu


Bingkisan mungil yang sudah kubeli beberapa bulan lalu itu masih tergeletak di tempat yang sama. Itu bingkisan untuk ibuku. Hadiah ulang tahunnya yang sudah lewat tiga bulan lalu.

Alasan klise yang membuat bingkisan itu hingga saat ini masih ada bersamaku dan bukan bersama ibu adalah karena aku sibuk. Karir di kota besar ini menelanku bulat-bulat. Jangankan untuk pulang kampung di hari ulang tahun ibu, untuk menyenangkan diri sendiri saja aku nyaris tak punya waktu.

Untunglah hari ini akhirnya aku bisa pulang, tentu saja dengan membawa bingkisan untuk ibu. Kudekap erat bingkisan yang di dalamnya ada sesuatu yang pasti membuat ibu senang.

Dugaanku tidak salah, ibu menyambutku dengan senyum mengembang. Dengan riang, ia membuka bingkisan yang sudah sejak lama kusiapkan.

Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Wajah ibu perlahan memburam. Awalnya kukira mataku kelelahan, tapi semakin lama ibu semakin memudar dan akhirnya menghilang. Aku berteriak-teriak memanggil ibu.

Dalam kebingungan yang sangat, seseorang memanggil namaku dan mengguncang bahuku. Dengan napas tertahan, aku merasa tubuhku menembus selapis kabut. Dalam hitungan detik, sebersit kesadaran akan apa yang sesungguhnya terjadi membuat hatiku ngilu.

Aku memang pulang ke rumah ibu, tapi yang menyambutku bukan senyum ibu, melainkan jasadnya yang membujur kaku.

(selesai)


Sabtu, 05 Maret 2016

[Flash Fiction] Ramalan Langit Malam


Selarik cahaya membelah langit malam. Aku tertegun. Kamu terpekik tertahan. Kita berdua tahu, seperti halnya semua orang tahu, bahwa langit malam di dusun ini bisa meramal. Jika ada selarik cahaya yang membelah langit malam, itu artinya akan ada penduduk dusun yang pergi. Entah meninggal, atau pergi meninggalkan dusun dan tak pernah kembali.
“Mungkin itu ramalan untuk kamu,” bisikku lirih. “Besok kamu pergi kan?”
“Tapi aku pasti kembali.”
Aku tersenyum ragu. Siapa pun tahu, tawaran bekerja di ibukota bagi seorang gadis desa sepertimu tak ubahnya seperti mendapat lotere berhadiah milyaran rupiah. Aku tak menyalahkanmu yang memutuskan untuk menerima tawaran itu. Yang berarti meninggalkan dusun ini. Meninggalkan aku.
“Aku janji, aku pasti kembali. Ramalan itu pasti bukan untuk aku,” tegasmu berusaha meyakinkanku.
Usahamu gagal. Aku yakin ibukota akan merubahmu, seperti ia merubah gadis-gadis lain yang sudah lebih dulu pergi dan tak pernah kembali.
*
Ternyata kamu benar. Ramalan itu bukan untukmu. Kamu bahkan tidak pernah pergi meninggalkan kampung halaman kita. Kamu berubah pikiran, dengan alasan yang hanya kamu yang tahu.
Namun ramalan langit kemarin malam juga tidak salah. Sore ini aku melihatmu, tergugu di depan sebuah batu nisan yang masih baru. Nisan yang bertuliskan Muhammad Iman. Namaku.

(selesai)

Senin, 19 Januari 2015

[Flash Fiction] Sebuah Nama

Ibu jariku sudah nyaris menyentuh satu nama di layar ponsel, ketika sebongkah ragu tiba-tiba muncul. Seharusnya ini tidak sulit, desahku sembari melepaskan ponsel dari genggaman.

Terlintas lagi ucapan sahabatku tadi siang, “Adrian masih menunggumu, Almira. Perasaannya tidak berubah.”

“Tidak mungkin. Bukankah dia sudah...”

“Dia terpaksa. Tapi kamu masih bisa meralatnya.”

“Caranya?”

“Dia bilang, jika kamu bersedia kembali, dia bersumpah akan membatalkan pertunangannya.”

Aku meraih ponselku lagi dan menatap nama itu. Adrian Perwira. Ya, aku masih mencintainya. Tapi aku tahu diri. Dia penghuni langit dan aku penduduk bumi.

Air mataku mengambang ketika ibu jariku menekan nama itu agak lama. Kalimat “Hapus kontak terpilih?” muncul di layar ponsel ketika aku menyentuh icon tempat sampah.

Dua bulir air sempurna jatuh membasahi pipi ketika aku memilih; “OK”.



(diikutsertakan dalam #FiksiLaguku, berdasarkan lagu "Tahu Diri" by Maudy Ayunda)

Sabtu, 21 Desember 2013

Tiga Jam Menunggumu



Kamu melirik arloji untuk yang ke sekian kali dalam tiga jam terakhir. Selama kurun waktu itu pula kamu sudah duduk di sini dengan hanya ditemani beberapa cangkir teh melati. Tadinya kamu datang ke tempat ini sambil membawa sebongkah rindu yang melesak dalam relung jiwamu.  Aku tahu kamu kangen padaku yang seharusnya sudah menemuimu tiga jam yang lalu. 
Kulihat kamu mendesah pertanda kamu menyerah. Dengan gontai kamu bangkit berdiri dan berjalan sendiri menembus malam yang kelam. Aku tak kuasa menahan jatuhnya air mata melihatmu meninggalkan tempat ini tanpa pernah menyadari satu hal. 
Sedari tadi aku pun ada di sini, begitu dekat denganmu hingga aku bisa mencium aroma colognemu. Aku bahkan sudah ada di sini lebih dari tiga jam yang lalu, tepat setelah sebuah mobil menghantam ragaku. Raga yang berjalan terburu-buru karena jiwaku begitu ingin segera menemuimu.

Rabu, 02 Oktober 2013

Percaya Diri Yang Terlambat

"Buset, keren amat kamu Ton. Tumben!", seru Romi, teman sekosku.

Wajar kalau dia heran. Dandananku malam ini memang termasuk ukuran heboh mengingat betapa payahnya cara berbusanaku selama ini.

Kemeja lengan panjang yang disetlika licin, lantas digulung hingga sebatas siku. Plus celana katun. Ditambah percikan eau de cologne yang maskulin. Jauh berbeda dengan penampakanku selama ini yang tak jauh-jauh dari kaos polo dan celana jeans.

"Ini hari istimewa Rom. Doain aku ya", jawabku dengan wajah sumringah.

"Pasti ke tempat cewek ya. Dia?", sahut Romi lagi. Dan aku mengangguk.

Dengan gugup aku mengendarai motorku menuju ke rumah Sinta. Malam ini aku sudah bertekad. Aku akan menyatakan perasaan yang sudah sekian lama kupendam.

Sudah setengah tahun aku mengenal Sinta. Waktu itu kami sama-sama baru lulus kuliah dan sama-sama menjadi kandidat karyawan di sebuah bank swasta. Hasilnya Sinta diterima dan aku tidak. Tapi kami masih sempat bertukar nomor ponsel, hingga hubungan kami masih terus berlanjut.

Sinta tak pernah sadar jika dari awal mula aku sudah jatuh hati padanya. Hanya saja, karena aku tak kunjung mendapatkan pekerjaan, membuatku tak punya cukup percaya diri untuk mendekatinya.

Namun kini beda. Minggu lalu aku baru saja direkrut oleh sebuah perusahaan multinasional. Sebuah modal yang cukup untuk mendekati perempuan smart seperti Sinta.

Motorku sampai di rumahnya. Aku mengetuk pintu. Tak lama pintu itu terbuka. Seorang anak perempuan kira-kira berusia 3 tahun tersenyum lebar. "Cali syapa Om?", tanyanya.

"Nggg...Mbak Sintanya ada?", tanyaku balik.

"Oooo...cebental ya Om. Mama Sinta....ada tamuuuu!!!!", teriaknya yang kontan membuatku lidahku kelu.

ditulis untuk FF2in1 by @nulisbuku

Seperti Kemarin


Hari ini seperti kemarin, kemarinnya lagi dan lusinan kemarin sebelumnya. Aku masih menunggu perempuan itu di sini. Di tempat yang sama. Perempuan yang merebut hatiku tanpa bertanya-tanya dulu. Tapi masalahnya aku tak bisa memprotesnya karena tindakannya yang seolah semena-mena itu. Sebab dia toh tak pernah bermaksud melakukannya?

Bagaimana mungkin dia bisa bermaksud merebut hatiku? Dia bahkan tidak mengenalku. Aku lah yang mengenalnya. Lewat langkah kakinya yang anggun. Lewat senyum dan sapaan lembutnya pada orang-orang yang dikenalnya. Juga lewat lantunan ayat suci yang kerap dia bacakan di sini. Di tempat aku menunggunya ini. Di dalam musholla.

Aku hanya orang lewat yang kebetulan melihatnya dan kebetulan jatuh hati. Sejak pertama melihatnya di rumah Tuhan ini, aku tak bisa tidak kembali lagi kemari untuk melihatnya. Untuk mendengar suara mengajinya. Untuk membiarkan hatiku direbut tanpa dia pernah bermaksud merebut.

Tapi aku hanya mampu melihatnya dari jauh.Hanya dengan cara ini aku mencintainya. Dengan tidak menyapanya sama sekali. Karena aku tahu, jika aku melakukannya, maka baginya akan hadir ketidakbahagiaan.

Aku hanya mampu mencintainya dengan cara seperti ini. Menunggunya dan menatapnya dalam keremangan cahaya Musholla yang temaram. Penyebabnya hanya satu; Cincin polos yang melingkari jari manisnya. Pertanda ada benang merah tak kasat mata yang menghubungkannya dengan seseorang yang memiliki cincin yang sama.

ditulis untuk FF2in1 by @nulisbuku

Rabu, 04 September 2013

Dan Aku Memang Sempurna



“Arden sudah makan?”
Aku menoleh ke arah sumber suara. Ternyata dia lagi. Gadis berpipi kemerahan seperti apel yang matanya bulat dan bening. Aku mengangguk, namun detik berikutnya langsung menyesal melakukannya. “Belum”, jawabku.
“Kita makan sama-sama ya”, ajaknya.
“Boleh”, jawabku lagi. Matanya menatapku. Aku melihat binar senang di matanya yang indah. Dua sudut bibirnya tertarik membentuk segaris senyum tipis.
Ternyata dia cantik. Selama ini aku tidak benar-benar memperhatikannya  sampai...well...sampai aku terpaksa harus memperhatikannya karena belakangan ini sering berjumpa dengannya di tempat ini.
Kami berdua, dan beberapa puluh orang lainnya, sama-sama berada di sini dengan satu tujuan; beradaptasi dengan kondisi yang baru.
Kami sampai di kantin dan langsung mengambil makanan yang sudah disediakan di atas nampan-nampan. Menu hari ini; nasi goreng Cina, lengkap dengan acar mentimun dan cabe hijau di pinggirnya. Kami membawa nampan dengan hati-hati dan mencari tempat duduk.
Entah di suapan ke berapa, mau tidak mau aku terpekik. “Awas, cabe!”, teriakku saat melihat sebuah cabe hijau gemuk nangkring di atas nasi goreng di sendoknya. Aku tahu lidah dan perutnya tidak dapat menerima kehadiran buah eksotis yang pedas tersebut.
“Aduh hampir saja, terima kasih ya”, katanya, lagi-lagi sambil menatapku dengan bola matanya yang bening dan senyuman yang menawan. Ah, tatapan dan senyuman itu lagi. Diam-diam aku bersyukur karena di tempat ini aku bertemu bidadari. Jika tidak, aku tidak tahu apakah aku bisa segera bangkit dari keputusasaan akibat kejadian yang mengharuskan aku berada di sini.
Aku tersenyum dan lagi-lagi menyesalinya. Tentu saja dia tidak akan pernah melihat senyumanku. Dia hanya bisa mendengar suaraku dan aku tahu dia suka mendengar suaraku.
“Sama-sama”, jawabku.
Lantas bola mata itu memandangku lagi. Bola mata yang kehilangan fungsinya karena kecelakaan lalu lintas yang menimpanya.
Aku melihat binar di bola mata itu tiap kali gendang telinganya menangkap frekuensi suaraku. Binar mata yang menantapku seolah aku perjaka surga yang sempurna, padahal aku sendiri baru saja kehilangan sebelah lengan, juga karena kecelakaan.
Di tempat ini, di panti rehabilitasi penyandang cacat ini, aku masih bertemu seseorang yang menatapku dalam ketidaksempurnaannya. Ketidaksempuranaan yang justru menyempurnakan aku. 

ditulis untuk tema kedua FF 2 in 1 by @nulisbuku (tapi sayang sudah 10 menit lewat dari deadline). 
FF 2 in 1 adalah event mingguan yang diadakan @nulisbuku berupa kompetisi menulis Flash Fiction yang hanya diberi waktu 30 menit sejak dilemparkan tema hingga dipostkan di blog hingga memasang link via twitter. 

Minggu, 01 September 2013

Dua Amplop Putih



Anggan masuk ke dalam rumah sambil membawa amplop putih. Tak sabar ia ingin menunjukkan isi amplop itu pada Rima, istrinya.
Namun yang didapatinya adalah Rima yang tengah terbaring dengan wajah pucat di ranjang. Di sampingnya, terdapat sebotol pil-pil kekuningan dan sebuah amplop putih.
Tergesa, Anggan membuka amplop tersebut. Isinya dua lembar. Yang pertama berisi istilah kedokteran yang ia tak mengerti maksudnya. Yang kedua berisi tulisan tangan istrinya.
“Maafkan aku Mas. Dokter bilang aku tidak mungkin bisa punya anak. Jadi sekarang aku memilih pergi. Supaya Mas bisa mencari perempuan lain yang bisa kasih cucu buat Bapak dan Ibu. Rima”
Anggan terduduk lemas di samping tubuh kaku istrinya. Dengan air mata meleleh, dibukanya amplop yang sedari tadi digenggamnya. Apa yang ada dalam amplop itu sudah tak ada gunanya karena semua sudah terlambat.
Isinya hanya selembar, juga berisi istilah kedokteran. Di sana tertulis: Azoospermia.

-selesai-

*Azoospermia: kondisi di mana cairan sperma tidak mengandung sel sperma (spermatozoid/spermatozoa)

Jumat, 02 Agustus 2013

Hanya Seharusnya



 Seharusnya aku berada di kereta ekonomi yang berhenti di setiap stasiun, termasuk stasiun kecil yang letaknya tak jauh dari rumahku.
Seharusnya kemarin aku berkemas, mencuci SARUNG berbau apak yang teronggok di atas tikarku, dan memadukannya dengan peci yang hilang entah ke mana.
Seharusnya besok aku sudah di rumah dan menikmati KETUPAT sayur buatan istriku usai bersalam-salaman dengan tetangga.
Seharusnya isi dompetku sudah penuh sesak dengan tunjangan hari raya, jika saja banting tulangku setahun terakhir ini sebanding dengan penghasilanku di ibukota.
Seharusnya aku pulang saja, melepas lelah dan berserah pada Tuhan.
Seharusnya aku tidak malah memanggil sebuah TAXI, membuka pintu dan duduk tepat di belakang sang sopir.
Seharusnya aku tidak menempelkan pisau lipat dengan tangan berkeringat sambil mengancamnya agar menyerahkan dompetnya.
Seharusnya aku memilih tempat yang lebih sepi untuk turun dan lari ketika dia sudah menuruti perintahku.
Seharusnya sopir itu ketakutan dan bukannya berteriak-teriak minta tolong ketika aku tengah melangkah tergesa.
Seharusnya orang-orang di sekitarku kini sedang lemas karena berpuasa dan bukannya mengejarku dan memukuliku sepenuh tenaga.
Seharusnya hidupku tidak berakhir tragis seperti seekor tikus yang dibuang di atas aspal dan digilas puluhan roda.
Seharusnya, ketika menyambut hari kemenangan, hidupku tidak hanya sekedar seharusnya.

-selesai-

Senin, 01 Juli 2013

Alex


 
“Ana, aku punya kejutan”, Alex berbisik.
Mata Liliana berbinar. “Apa itu?”.
Alex mengeluarkan sebentuk cincin dari saku celananya. “Kamu mau kan hidup berdua sama aku?”. Matanya memandang Liliana dengan tatapan sayang.
Binar di mata Liliana menghilang. Sejenis cairan tampak mengambang di matanya. Dia menggeleng lemah.
 “Kenapa An? Kita sudah bertahun-tahun jalan bersama. Menjalani tawa, tangis, duka dan canda sama-sama. Kurasa sudah saatnya hubungan kita maju selangkah”. Alex menatap kekasihnya heran. Bukankah seharusnya sebuah lamaran dari orang yang dicintai adalah hal yang ditunggu-tunggu semua perempuan?
“Iya, tapi tidak semudah itu Lex”
“Apanya yang sulit? Kita punya mimpi yang sama untuk bahagia bersama selamanya kan?”
“Tapi aku punya Bapak Ibu Lex, punya saudara, punya keluarga besar seperti halnya kamu. Sebuah pernikahan itu bukan saja ikatan antara kita, tapi juga antara mereka”.
Alex terdiam, berusaha mencerna kata-kata Liliana. “Aku tahu An, tapi bukankah kita berdua sudah sama-sama dewasa untuk memutuskan segalanya sendiri. Toh yang menjalaninya nanti kita juga kan?”
Liliana menarik nafas panjang. “Lex, seandainya saja nama lengkapmu Alexander...”. Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Masalahnya, namamu Alexandra...”

-selesai-

Rabu, 26 Juni 2013

Copet dan Dompet


Jamal melompat turun dari bis kota berbarengan dengan puluhan penumpang lain. Hatinya langsung dilingkupi amarah saat meraba saku celananya.
“Sial, kecopetan!”. Jamal menoleh kiri kanan dan mendapati seorang laki-laki tengah membuka dompet berwarna coklat dengan ornamen rantai. “Itu dia!”.
“Copet!! Copet!!”, Jamal berteriak sambil menuding-nuding lelaki itu.
Terkejut lelaki itu melihat banyak orang tiba-tiba mengejarnya. Spontan dia berbalik dan lari. Tapi dia kurang cepat. Lelaki itu merasa lengan bajunya ditarik dan badannya terbanting ke atas aspal.
“Bag! Bug! Bag! Bug!”, lelaki itu menerima pukulan dan tendangan di sekujur tubuhnya, berkali-kali. Teriakan kesakitannya tenggelam oleh amuk massa.
Lelaki itu meringkuk menahan sakit dan sudah hampir tak sadarkan diri tatkala samar-samar ia melihat Jamal, lelaki yang fotonya ada dalam dompet coklat yang tadi dipegangnya.
“Dompetnya...Mas...tadi jatuh...di sana...”, bisiknya, sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

-selesai-

Senin, 24 Juni 2013

Kakus



“Alhamdulillah Mak, sudah datang!!!”
“Apa ne Le?”, Emak bingung melihat kehebohanku.
“Keramik, bak mandi, jamban. Sebentar lagi desa kita punya kakus, dibuatkan Pak Broto. Emak ndak usah lagi jauh-jauh ke kali”. Emak mendengar penjelasanku dengan wajah sumringah. Tangannya mengelus-elus kakinya yang sering terserang rematik.
Senyum Emak membuatku membayangkan senyum Yu Minah yang baru saja melahirkan bayi kembar tiga. Juga senyum Mbah Sri yang baru kena stroke dan lumpuh separuh.
“O ya Mak, Pak RW bilang, nanti waktu pemilu, contreng Pak Broto yo”. Emak manggut-manggut.
###$$$###
Jarum jam terus berputar. Euforia pesta demokrasi sudah usai berbulan-bulan yang lalu. Namun material pembuat kakus yang dulu datang masih tertumpuk di halaman balai RW tanpa sempat tersentuh pasir dan semen. Yu Minah juga sampai sekarang harus bangun pagi buta dan tidur tengah malam demi memenuhi tempayan-tempayan airnya. Pun Emak dan Mbah Sri sampai sekarang harus tertatih-tatih merambati batang-batang bambu demi menuju kali, setiap ingin buang air.
Hari ini, tak sengaja aku mendengar bincang-bincang warga di depan balai RW.
“Kabarnya, Pak Broto masuk rumah sakit jiwa”.
“Iya, stress katanya, sudah habis uang semilyar, tapi gagal jadi anggota dewan”.
-selesai-

Minggu, 23 Juni 2013

Kolam Renang



“Byuurr..!!!”, anak lelaki itu, kira-kira kelas 3 SD, melompat ke kolam renang untuk dewasa.
Aku terpekik ngeri, tapi kemudian berubah menjadi lega melihat dia dengan santainya berenang kembali ke pinggir. “Pantesan Ibunya nggak nungguin”, batinku, lantas menoleh pada anak-anakku sendiri.
“Ayo Nak, mentas dulu, sudah sore, kolamnya juga udah sepi”
Anak-anakku yang sudah berenang sejak pagi, tidak membantah karena mereka memang jelas sudah kecapekan. Maklumlah, jarang-jarang kami menghabiskan akhir pekan di sebuah resort di atas gunung semacam ini.
Sempat aku menoleh ke arah anak laki-laki itu saat berjalan kembali ke bungallow kami. Dia sedang berkecipak-kecipak sambil melambai-lambai. “Berenang gaya baru rupanya dia”, batinku lagi, lantas melangkah pergi.
***
Kami sedang menuju restoran untuk makan malam, ketika tak sengaja mendengar kehebohan.
“Kami sudah cari ke mana-mana tapi dia nggak ada Pak”, kepanikan perempuan seusiaku itu tidak bisa disembunyikan.
“Tenang Bu, kami akan bantu cari anak laki-laki Ibu, di kolam renang sudah sempat dicari?”
“Kami nggak cari ke sana Pak, nggak mungkin Pak dia ke sana, saya sudah wanti-wanti agar dia tidak ke kolam renang. Soalnya dia belum bisa berenang jauh”
Deg! Tadi sore, anak lelaki, kolam dewasa, lambaian tangan....

Selasa, 18 Juni 2013

Merdeka Tanpa Huruf “L”


“Tanggal berapa hari kemerdekaan Indonesia!?”, tanyaku setengah berseru.
“17 Agustus 1945!!!”, jawab anak-anak ini tak kalah seru.
“Bu! merdeka itu opo?”, terdengar sebuah suara menginterupsi.
Glek! kenapa dia harus menanyakan itu?. “Merdeka itu artinya kita sudah bebas dari penjajah. Kita bebas bekerja dan belajar”, jawabku teoritis.
“Tapi Bu, kalau gitu, harusnya kita bebas ke sekolah to?”, bocah itu bertanya lagi.
“Ho oh, kalau bebas, kenapa kita bukannya sekolah malah harus kerja?”, tukas anak yang lain lagi.
Aku termangu. Mereka memang anak-anak yang tak tersentuh program sekolah gratis atau sekolah murah. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah, bekerja membantu orang tua, dan harus puas dengan belajar bersamaku di tempat ini, bangunan semi permanen di bantaran sungai.
“Maksud Ibu, di negara kita ini sudah tidak ada lagi orang-orang asing yang seenaknya berbuat sesuka hati. Sebab, kalau belum merdeka, kita tidak mungkin bisa bebas belajar di sini”, jawabku lagi, berharap mereka berhenti bertanya.
***
Aku selesai mengajar agak terlambat sore itu. Tergopoh-gopoh aku turun dari angkot yang mengantarkanku hingga ke mulut salah satu gang di Surabaya.
“Lho, kok sore banget datengnya? Nggak siap-siap to?”, seseorang menyapaku.
“Iyo Mbak, ini kudu cepet-cepet makanya”, jawabku dengan langkah bergegas.
Setelah mandi, kulakukan ritual rutinku.
Kusingkirkan kaus lengan panjang dan rok panjang yang tadi kukenakan, berganti tank top dan rok super mini. Tak kuhiraukan jilbab yang sesiangan tadi kupakai mengajar, berganti sebuah kotak make-up berisi riasan aneka warna.
Terakhir, kuusir bayangan murid-muridku yang lucu lugu, berganti wajah-wajah pria yang memandangi tubuhku dengan bola mata seakan hendak meloncat.
Jika di siang hari aku adalah Lastri, guru anak-anak putus sekolah. Sekarang, aku adalah Astri, tanpa huruf L, salah satu warga gang Dolly.
Terngiang tanya muridku siang tadi; “Bu, merdeka itu opo?”.
“Merdeka adalah ketika kamu bebas menempelkan huruf “L” pada namamu”, jawabku dalam hati sambil tersenyum getir.

-selesai-
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)