Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Agustus 2013

Forum “Kasih Ibu”, Persembahan Aqua Untuk Para Ibu dan Calon Ibu



“Perut kram saat sedang hamil, normalkah?”
“Boleh tidak Ibu hamil menyetir mobil sendiri?”
“Bagaimana cara sterilisasi botol susu yang benar?”
“Kapan dan bagaimana caranya menyapih ASI?”

Kehamilan adalah sebuah proses alami yang menakjubkan. Tapi ada begitu banyak pertanyaan yang muncul saat seorang wanita menjalani proses kehamilan. Tidak hanya bagi mereka yang baru saja mendapat pengalaman pertama menjadi calon Ibu. Mereka yang tengah menjalani kehamilan yang ke sekian pun masih kerap dihantui berbagai macam pertanyaan. Sebab tiap kehamilan itu unik, bahkan kehamilan yang dialami oleh Ibu yang sama sekalipun.
Sama halnya dengan kehamilan, Tuhan telah merancang proses persalinan menjadi sangat elegan dan tak akan terlupakan. Namun masih ada lagi pengalaman yang sama menakjubkannya dan sama elegannya, yakni menyusui. Walau menyusui adalah sebuah proses alami, tapi ada banyak hal yang perlu Bunda ketahui tentang menyusui. Mulai dari inisiasi menyusui dini, posisi menyusui yang benar, prosedur memompa ASI hingga penyapihan.
Semuanya terkadang bisa menjadi sumber stress jika Bunda tidak tahu harus bagaimana atau berbuat apa. Sebab, seperti halnya kehamilan, tiap bayi terlahir dengan keunikannya masing-masing. Kebingungan Ibu akan kian bertambah ketika menerima masukan atau komentar dari orang-orang sekitar, yang kadangkala berbeda satu sama lain.
Misalnya; bidan di rumah sakit bilang kalau tidak masalah bagi bayi yang belum puput pusar untuk langsung mandi berendam di bak mandi. Sementara setibanya Ibu dari rumah sakit, mertua bilang kalau bayi yang belum puput pusar harus mandi dengan diseka. Yang mana yang benar? Sebagai ibu baru, pastilah kebingungan.
Untunglah sekarang ada Forum Kasih Ibu, one stop information portal tentang dunia kehamilan hingga menyusui. Program persembahan Aqua Danone ini bisa Bunda akses di www.kasihibu.com.


Ada banyak fitur menarik yang bisa Bunda akses di Kasih Ibu, misalnya;
1. Kumpulan Artikel dan Berita
Temukan jawaban tentang pertanyaan seputar Plasenta Previa, gatal di perut saat hamil, mual dan muntah saat hamil, juga vitamin dan suplemen yang diperlukan saat kehamilan.
Untuk artikel-artikel seputar pasca persalinan, Bunda juga bisa membaca tentang serba-serbi mekonium, perawatan bayi baru lahir, tips agar ASI bisa lancar dan lain-lain.

 
2. Forum Diskusi
Masih punya pertanyaan yang tidak terjawab karena tidak ada di artikel atau berita? Coba cari di Forum Diskusi. Forum ini adalah ajang sharing para Bunda mengenai pengalaman masing-masing dalam merawat bayi. Ada banyak hal-hal menarik yang bisa Bunda temukan di sana. Misalnya tips jika menghadapi bayi yang rewel tidak biasa.
Jika topik yang dicari tidak ada dalam daftar, Bunda bisa membuka topik baru untuk diperbincangkan di forum, cukup dengan mengklik “Tambahkan Topik”


3. Konsultasi
Masih belum puas dengan jawaban-jawaban di Forum Diskusi? Bunda bisa langsung tanyakan pada pakarnya di fitur Konsultasi. Di sini Bunda bebas bertanya apa saja dan akan dijawab oleh pakar dan ahli kesehatan.
Nah, yang lebih asyik dan mungkin tidak ada di tempat lain adalah fitur Live Chat, di mana Bunda bisa bertanya langsung dengan dokter yang selalu ready setiap saat (tentunya pada jam operasional tertentu).
Jam operasional dokter yang standby di program Live Chat ini adalah;
Hari Senin-Jumat, pukul 08:00 – 22:00
Hari Sabtu-Minggu, pukul 18:00 – 22:00

 
4. Aplikasi Menarik
Di fitur ini, Bunda bisa temukan beberapa aplikasi menarik. Ada “Kalkulator Kehamilan” untuk menghitung tanggal perkiraan kelahiran bayi. Ada juga “Nama Si Kecil” untuk membantu memilihkan nama terbaik bagi buah hati. Yang tak kalah menariknya adalah “Kalkulator Dehidrasi” yang membantu untuk menentukan apakah asupan cairan kita selama ini sudah sesuai kebutuhan atau belum. Aplikasi terakhir ini bisa dipakai oleh semua orang, baik laki-laki, perempuan, hamil atau tidak hamil.
(Saya sengaja tidak menampilkan screen capturenya di sini agar Bunda bisa langsung melihat sendiri di lokasi ^-^)

Nah Bunda, tunggu apa lagi? Ayo segera meluncur ke www.kasihibu.com dan bergabunglah dengan Forum Kasih Ibu. Caranya gampang banget kok.
1.     Klik www.kasihibu.com
2.   Pilih salah satu gambar di bagian kanan. Gambar Ibu Hamil berisi informasi seputar kehamilan. Sedangkan Gambar Ibu Menyusui berisi informasi seputar pasca persalinan, jadi tidak melulu soal menyusui aja ya Bunda.
3.    Klik Facebook Connect untuk bergabung dengan Forum Kasih Ibu, kemudian isi data diri di Form yang tersedia.


Sudah itu, berarti Bunda sudah resmi bergabung sebagai keluarga Forum Kasih Ibu dan itu artinya Bunda bebas menggunakan semua fitur Kasih Ibu. Gratis!
Ayo tunggu apalagi, jadikan Forum Kasih Ibu sebagai sahabat setia Bunda menjalani masa-masa menakjubkan selama kehamilan hingga menyusui ^-^

Kamis, 23 Mei 2013

Obat Generik Berlogo, Murah tapi Tidak Murahan


Obat Generik versus Obat Biasa

Suatu hari di ruang praktek dokter gigi, terjadilah percakapan antara Ibu dokter dan saya yang sedang meringis menahan sakit gigi.
Dokter : Saya kasih obat generik ya, Bu?
Saya     : *menggeleng cepat, Jangan dok, jangan obat generik.
Dokter : *menulis resep tanpa bicara lagi.

Agak bete juga sebenernya perasaan saya saat dokter itu menawarkan obat generik. Dipikirkannya saya nggak mampu bayar apa? Wong saya mampu beli obat berapapun harganya (toh nanti saya reimburse juga ke kantor, hehe). Ini kok malah ditawarin obat generik (baca; obat murahan/obat kelas dua). Apa saya ini kelihatan seperti orang tidak mampu? Huh, sebel.

Pembaca yang budiman, itu masa lalu. Seandainya saja, waktu itu saya paham mengenai obat generik, tentunya saya akan dengan suka hati menyambut tawaran sang dokter. Namun, karena saya sendiri kurang well informed dan sang dokter juga tidak berusaha menjelaskan lebih lanjut mengenai tawarannya tadi, akhirnya saya terpaksa merogoh dompet agak dalam demi menebus obat untuk mengobati sakit gigi saya.

Keputusan saya untuk meminta obat yang bukan obat generik sebenarnya bukannya tanpa alasan. Dari desas-desus, selentingan dan bisik-bisik burung yang saya dengar, obat generik adalah obat KW2, bahan aktif obatnya dikurangi, kualitasnya rendah, sehingga kalau minum obat generik sembuhnya akan lama, makanya harganya murah.

Di lain waktu, saya demam karena flu. Lagi-lagi saya ke dokter. Kali ini,didorong oleh rasa penasaran, ganti saya yang lebih dulu bertanya pada sang dokter.
Saya     : Obatnya generik ya, Dok?
Dokter : Iya, saya kasih yang generik aja ya.
Saya     : *diam tanda setuju, pikir saya sakit flu ini masih tertahankan daripada sakit gigi yang lalu. So, kalau memang terbukti obat generik memberikan efek sembuh yang lama, saya akan “say not to obat generik”

Ternyata, setelah mengkonsumsi obat generik tersebut, besok harinya saya sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Catat, besok lho, bukan lusa. Dari eksperimen kecil-kecilan tadi, saya menyimpulkan bahwa obat generik pun punya daya penyembuh yang sama dengan obat biasa. Padahal harganya luar biasa murah. Saya sampai malu mengklaim biaya berobat saya ke kantor, karena saking sedikitnya biaya yang harus saya keluarkan, hehe (padahal itu termasuk ongkos dokter).

Lagi-lagi, karena didorong oreh rasa penasaran, saya bertanya pada maha guru sejuta umat; google, apa sih yang dinamakan obat generik? Hasilnya saya dibuat malu, halaman pertama dan halaman kedua google menunjukkan artikel yang kesemuanya mematahkan prasangka buruk saya terhadap obat generik.

Tapi tidak mengapa, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Setidaknya sekarang saya tahu harus berbuat apa jika suatu hari nanti dapat giliran jatuh sakit; yakni meminta dokter untuk memberi saya Obat Generik Berlogo (OGB) ^-^

Macam-macam Obat
Sebelum lebih jauh menjelajah asal usul Obat Generik Berlogo, mari kita kenalan dulu dengan macam-macam obat yang ada di pasaran. Ada 3 kategori obat;
  1. Obat Paten
Contoh obat paten adalah; Panadol.
Namanya saja obat paten, artinya obat ini dilindungi hak paten. Mengapa dilindungi? Karena obat itu ditemukan melalui sebuah proses riset yang tentunya memakan biaya, waktu dan tenaga. Nah, sebagai bentuk apresiasi terhadap sang periset, perusahaan yang ingin memproduksi obat tersebut harus membayarkan sejumlah uang kepada si pemegang hak paten.
Biaya yang dibayarkan untuk membayar hak paten tersebut tentunya dimasukkan dalam production cost. Ujung-ujungnya, konsumen jugalah yang menanggung biaya hak paten tersebut. Belum lagi biaya kemasan yang dibuat semenarik mungkin dan juga biaya promosi yang tidak sedikit. Itulah yang membuat harga obat paten menjadi mahal.

  1. Obat Generik Bermerk
Contoh obat generik bermerk adalah; Pamol.
Hak paten sebuah obat ada waktunya. Sesuai UU no 14 tahun 2001, masa hak paten obat-obatan adalah 20 tahun. Masa hak paten bisa jadi lebih pendek dari 20 tahun jika obat-obatan tersebut mempengaruhi hidup manusia, misalnya obat untuk HIV/AIDS atau avian flu.
Setelah masa paten sebuah obat sudah habis, maka sebuah perusahaan farmasi biasanya akan membuat generiknya, tetapi diberi merk dagang. Misalnya, untuk zat aktif Amoxicilin, perusahaan farmasi A akan memproduksinya dengan merk Inemicilin, sedang perusahaan B akan memproduksinya dengan merk Gatoticilin.
Harga obat generik bermerk (OBM) bisa sedikit lebih murah atau bahkan sama dengan obat paten.
Ngomong-ngomong, sebenarnya definisi generik itu apa sih? Generik berasal dari bahasa Inggris, generic, yang artinya mengacu pada suatu yang umum (general). Dalam konteks biologi, generic berarti mengacu pada suatu genus tertentu. Jika diterjemahkan bebas, generic juga bisa berarti mengacu pada sebuah grup atau kelas tertentu.
Nah, yang sering disebut masyarakat sebagai obat generik bukanlah OBM ini, melainkan OBG atau Obat Generik Berlogo, yang penjelasannya bisa dibaca di bawah ini.

  1. Obat Generik Berlogo (OGB)
Contoh Obat Generik Berlogo adalah; Paracetamol.
Obat Generik Berlogo (OGB) memiliki tanda khas berupa lingkaran hijau bergaris-garis putih dengan tulisan “generik” di tengahnya.
Sama dengan Obat Generik Bermerk, Obat Generik Berlogo juga merupakan obat yang telah habis masa hak patennya. Sehingga perusahaan farmasi dapat memproduksi obat tersebut tanpa membayar biaya royalti.
Obat Generik Berlogo diperdagangkan dengan menggunakan nama zat aktifnya, misalnya Amoxicilin.

Sejarah Obat Generik Berlogo di Indonesia
Obat Generik Berlogo sebenarnya merupakan program pemerintah yang sudah digagas sejak tahun 1989. Tujuannya sudah jelas, agar obat-obatan dapat menjangkau segala lapisan masyarakat.
Sayangnya, imej Obat Benerik Berlogo yang banyak beredar di Puskesmas, di mana pengunjung Puskemas biasanya adalah kalangan masyarakat menengah ke bawah, membuat banyak orang mengasumsikan Obat Generik Berlogo adalah obat murahan dengan kualitas lebih rendah.
Oleh karena itulah, sosialisasi Obat Generik Berlogo ini perlu dilakukan untuk mengembalikan nama baik obat generik yang sudah berjasa besar memajukan level kesehatan masyarakat Indonesia.

Mengapa Harga Obat Generik Berlogo (OGB) Bisa Murah?
Barang mahal biasanya berkualitas bagus, barang murah biasanya berkualitas sebaliknya. Tapi hal ini tidak berlaku untuk Obat Benerik Berlogo (OGB). Sehingga kita tidak perlu ragu untuk memilih obat jenis ini.
Ada beberapa penyebab mengapa Obat Generik Berlogo dapat dibeli dengan harga yang jauh lebih murah. Selain ketiadaan biaya royalti yang harus dibayar produsen obat kepada pemilik hak paten, ada faktor lain yang membuat harga Obat Generik Berlogo menjadi lebih murah.
  1. Harga Obat Generik Berlogo (OGB) diatur oleh pemerintah
Tiap tahun, pemerintah akan mengeluarkan pedoman baru untuk mengatur harga Obat Generik Berlogo yang beredar di masyarakat. Peraturan ini muncul melalui SK Menteri Kesehatan. Saat tulisan ini dibuat, SK Menkes terbaru adalah Nomor 094/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Obat untuk Pengadaan Pemerintah Tahun 2012 dan Nomor 092/Menkes/SK/II/2012 tentang Harga Eceran Tertinggi Obat Generik.
Pedoman ini dikeluarkan tentu saja untuk memastikan agar Obat Generik Berlogo senantiasa terjangkau oleh masyarakat luas.

  1. Kemasan Obat Generik Berlogo dibuat sederhana
Berbeda dengan kemasan Obat Paten yang dibuat warna-warni dan lebih menarik, kemasan Obat Generik Berlogo biasanya dibuat sederhana.
Tapi jangan salah sangka dulu. Walaupun sederhana, kemasan Obat Generik Berlogo tetap dapat menjamin keamanan obat di dalamnya dari resiko kontaminasi.

  1. Produksi Obat Generik Berlogo merupakan produksi massal
Dengan memproduksi secara massal, biaya produksi Obat Generik Berlogo menjadi lebih efisien.

  1. Minim biaya promosi
Pernahkah melihat iklan di TV atau Radio atau media cetak yang mempromosikan Parsetamol? Kalau Panadol atau Pamol masih ada kan? Tahukah pembaca berapa besar biaya yang harus dikeluarkan seorang pemasang iklan di TV, terutama yang tayang di jam-jam prime time? Biaya itu belum termasuk biaya produksi iklan, semacam membayar honor bintang iklan. (Ingat saya Pamol pernah menggunakan Widyawati sebagai bintang iklannya).
Nah, jadi tanpa sadar, dengan membeli Obat Paten atau Obat Generik Bermerk, kita turut berkontribusi pada perusahaan farmasi agar bisa menyewa bintang iklan dan memasang iklan. Biaya ini tidak akan kita keluarkan seandainya kita memilih Obat Generik Berlogo yang pemasarannya sangat minim iklan atau bahkan tidak ada iklan sama sekali.


Obat Generik Berlogo, Murah bukan Berarti Murahan
Masih ingat logo Obat Generik yang berbentuk lingkaran hijau bergaris-garis putih dan bertuliskan “Generik” di tengahnya? Ngomong-ngomong, bentuk logo yang seperti kue lapis itu sebenarnya menunjukkan bahwa Obat generik Berlogo memang diadakan untuk dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Catat, seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya masyarakat miskin atau menengah saja.
Baiklah, kembali ke masalah logo. Bagi sebuah perusahaan farmasi, memproduksi obat generik mungkin bukan masalah. Yang jadi masalah adalah mendapatkan ijin untuk menempelkan logo tersebut dalam kemasan obat generiknya.
Nah, untuk mendapatkan logo tersebut, sebuah perusahaan farmasi harus sudah memiliki sertifikat CPOB sebagai bukti perusahaannya telah menerapkan Cara Pembuatan Obat yang Baik. Ini menjadi satu lagi bukti bahwa harga obat generik berlogo yang lebih murah daripada obat biasa (baca; obat paten) tidak menunjukkan kualitas obat generik yang murahan.
Apa sih CPOB itu? Hyuuk, lanjut bacanya ^_^.

Cara Produksi Obat yang Baik (CPOB)

CPOB sebenarnya adalah saudara kandung CPMB (Cara Produksi Makanan yang Baik). Keduanya diturunkan dari GMP (Good Manufacturing Practices).
Hal-hal yang detail tentang CPOB telah diatur oleh BPOM, dan bisa diakses di CPOB BPOM. Nah, berhubung dokumen CPOB ala BPOM tebalnya 300an halaman, biar bacanya nggak capek, di sini akan saya sharing sedikit poin-poin penting apa saja yang diatur di sana.

Ruang Lingkup
Ruang lingkup CPOB adalah pembuatan obat dan pembuatan bahan obat.

Persyaratan-persyaratan CPOB
Untuk mendapatkan sertifikat CPOB, sebuah perusahaan farmasi harus memenuhi persyaratan-persyaratan yang diminta oleh BPOM. Persyaratan-persyaratan tersebut sangat banyak dan sangat detil. Yang akan saya tulis di bawah ini, adalah persyaratan yang saya anggap penting, walaupun ini hanya sebagian kecil saja yang diminta oleh BPOM. Yuk, cekidot ^-^

A. Sumber Daya Manusia
·  Sumber daya manusia harus terlatih dan qualified.
·  Sumber daya manusia harus tersedia dalam jumlah yang memadai
·  Tiap personil hendaknya tidak dibebani tanggung jawab yang berlebihan untuk menghindari resiko terhadap mutu obat.
·  Kepala bagian produksi dan pengawasan mutu dan manajemen mutu hendaklah seorang apoteker yang terdaftar dan memiliki pengalaman praktis dalam bidang pembuatan obat.

B. Training / Pelatihan Personil
·  Perusahaan harus memberikan pelatihan bagi seluruh personil produksi, gudang penyimpanan atau laboratorium. Pelatihan ini meliputi teori dan praktek CPOB dan pelatihan yang sesuia dengan tugas yang diberikan.
·  Pengunjung atau personil yang tidak mendapatkan pelatihan tidak boleh masuk ke area produksi dan labortaorium qc, sebelum mendapatkan penjelasan tentang personal higiene.

C. Bangunan
·  Letak bangunan harus dihindarkan dari pencemaran lingkungan.
·  Desain bangunan dibuat sedemikian rupa agar kebal terhadap gangguan cuaca, banjir, rembesan air dari tanah serta akses masuk bagi binatang pathogen.
·  Bangunan di area produksi, lab, gudang, koridor harus selalu rapi dan bersih.

D. Fasilitas Produksi
·  Pembuatan produk racun (misal pestisida) tidak diijinkan dibuat di fasilitas pembuatan obat.
·  Area kerja harus memadai untuk penempatan peralatan dan bahan secara teratur sesuai alur proses untuk memperkecil resiko kekeliruan antara produk obat, mencegah kontaminasi silang, atau resiko salah melaksanakan tahaan produksi.
·  Area produksi harus mendapatkan penerangan yang memadai.
·  Peralatan manufaktur harus didesain sedemikian rupa agar mudah dibersihkan.
·  Alat produksi yang bersentuhan dengan produk obat tidak boleh bersifat reaktif, aditif atau absortif.

E. Personal Hygiene
·  Semua personil yang masuk ke area produksi harus menggunakan pakaian pelindung yang sesuai.
·  Pakaian atau lap kerja yang kotor harus disimpan dalam wadah tertutup hingga saat pencucian.
·  Semua personil harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala.
·  Tiap personil yang mengidap penyakit atau menderita luka terbuka yang dapat merugikan produk dilarang menangani proses yang berhubungan dengan bahan, produk dan kemasan.
·  Di area produksi, lab dan gudang, tidak diperbolehkan merokok, makan, minum, mengunyah, memelihara tanaman, menyimpan makanan, rokok atau obat pribadi.
·  Toilet harus tersedia dalam jumlah yang cukup.

F. Proses Produksi
·  Bahan baku dan produk jadi harus dikarantina secara fisik sampai dinyatakan lulus untuk dilakukan distribusi.
·  Produksi obat yang berbeda tidak boleh dilakukan secara bersamaan atau bergantian dalam ruang kerja yang sama, kecuali tidak ada resiko kontaminasi silang.
·  Produk dan bahan baku harus dilindungi dari pencemaran mikroba.
·  Semua bahan, peralatan dan mesin produksi harus diberi label.
·  Akses ke fasilitas produksi harus dibatasi hanya untuk personil yang berwenang.
·  Bahan baku hanya boleh didapat dari supplier yang sudah disetujui.

G. Pengawasan Mutu Produk
·  Tiap produk harus dilakukan pengujian sebelum diluluskan untuk didistribusi.
·  Produk yang tidak sesuai spesifikasi harus ditolak.
·  Tempat sample harus diberi label yang menjelaskan isi, nomor batch, tanggal pengambilan sampel.
·  Sebelum dan setelah dipakai, alat pengambil sampel harus dibersihkan, disterilkan dan dipisah secara terpisah dengan alat lab lainnya.
·  Metode analisis harus divalidasi apakah telah sesuai dengan metode yang telah disetujui.

Lumayan ribet juga ya persyaratan-persyaratan yang diminta oleh BPOM agar sebuah perusahaan dapat memperoleh sertifikat CPOB? Bisa dibayangkan, CPOB mengatur cara pembuatan obat secara detail, mulai dari personil, kualifikasi karyawan, pembelian bahan baku, penyimpanan bahan baku dan produk, proses produksi, bangunan, fasilitas utama produksi, peralatan, prosedur kerja dan pengawasan mutu.
Kalau melihat effort yang dikeluarkan oleh perusahaan farmasi agar bisa memproduksi obat Generik Berlogo sedemikian besar, maka kualitas dan keamanan Obat Generik Berlogo tidak perlu diragukan lagi.

Baiklah, jika kualitas dan keamanan Obat Generik Berlogo (OGB) tidak diragukan, lantas bagaimana daya penyembuh obat generik berlogo dibanding dengan obat paten?
Jawabannya adalah; sama saja. Obat generik berlogo tidak hanya memiliki bahan aktif yang sama dengan obat paten, melainkan juga dosis, kekuatan, cara kerja, cara pemakaian dan penggunaan.
Untuk menjamin bahwa obat generik berlogo memiliki khasiat yang sama dengan obat paten, hal-hal di bawah ini harus dipenuhi ketika sebuah obat generik berlogo didaftarkan;
·  Mengandung bahan aktif yang sama dengan obat patennya (bahan non aktifnya boleh tidak sama).
·  Memiliki kekuatan dan dosis penggunaan yang sama.
·  Memiliki indikasi penggunaan yang sama.
·  Bioekivalen, artinya memiliki kesetaraan dengan obat paten dalam hal jumlah zat aktif dan kecepatan zat aktif untuk diserap oleh tubuh.
·  Memenuhi persyaratan tentang kemurnian dan kualitas
·  Diproduksi secara CPOB

Daftar Obat Generik Berlogo
Memang tidak semua jenis obat ada generiknya. Obat-obat yang baru ditemukan tidak akan bisa dibuat Obat Generik Berlogo-nya karena masih dalam masa hak paten.
Sayangnya saya masih belum menemukan daftar obat generik yang telah disetujui oleh BPOM, seperti yang saya temukan untuk obat-obatan yang telah disetujui oleh FDA.
Sebagai saraa sosialisasi obat generik di luar negeri, FDA telah menyediakan sebuah sarana bagi konsumen untuk mengecek apakah obat bermerk mereka memiliki obat generiknya, yang bisa diakses di Drugs@FDA.
Cara penggunaannya adalah dengan memasukkan nama merk obat, kemudian klik submit dan nanti akan muncul keterangan apakah obat tersebut sudah ada generiknya (therapeutic equivalent), nama generik beserta dosisnya.


Masukkan nama merk obat

Jika ada obat generiknya, maka akan muncul tanda Therapeutic Equivalent

Berita baik untuk Indonesia adalah pada tanggal 18 Maret 2013, Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, SPa, MPH meluncurkan e-Catalog Obat Generik untuk Pengadaan Pemerintah. Tujuannya adalah pengadaan obat generik di sektor pemerintah dapat lebih transparan dan akuntabel.Informasi yang bisa diakses dari e-catalog ini adalah nama obat, jenis, spesifikasi teknis, harga satuan terkecil dan pabrik penyedia.
Tapi jangan khawatir, silahkan klik Daftar ObatGenerik untuk melihat daftar nama obat generik berlogo yang sudah diproduksi di Indonesia beserta indikasi penggunaannya.

Mendapatkan Obat Generik Berlogo adalah Hak Pasien
Sembuh dari sakit dan kembali sehat adalah hak tiap orang. Demikian juga untuk mendapatkan obat generik berlogo yang menjadi hak tiap pasien.
Tak perlu ragu atau gengsi untuk meminta dokter memberikan obat generik, sebab obat generik berlogo sejatinya bukan obat kelas dua atau kelas tiga. Kalau boleh saya simpulkan lagi cuap-cuap saya tentang obat generik berlogo di atas, bahwa memilih obat generik berlogo memiliki banyak keuntungan, salah satunya adalah lebih menghemat budget kesehatan tanpa kehilangan manfaat dan khasiat obat yang dibeli.
Tapi satu hal yang perlu diingat, mau obat paten atau obat generik bermerk atau obat generik berlogo, kesemuanya hanyalah sarana berikhtiar untuk menjadi sehat. Karena satu-satunya sumber penyebab kesehatan dan kesembuhan dari suatu penyakit hanyalah dari Sang Maha Pencipta.

Semoga artikel ini bermanfaat ^-^

Referensi;

Kamis, 08 Desember 2011

Rambak, Solusi Maag Yang Enak


Bukan karena saya pingin kurus atau ingin membentuk badan, saya lantas mulai jarang makan saat istirahat siang. Lha wong berat badan saya cuman 47 kg, tinggi 157 cm kok, jadi nggak mungkin kan mau saya kuruskan lagi.

Lebih tepatnya, saya mulai sering meninggalkan kantin setelah Lebaran. Alasannya, apalagi kalau bukan karena kecanduan internet? Setelah saya mulai belajar membuat blog, apalagi setelah bergabung dengan Asian Brain, saya mulai merasa waktu 24 jam sehari tidak cukup. Akhirnya, waktu makan sianglah yang menjadi korban.

Waktu yang hanya 1 jam itu saya manfaatkan untuk membaca, menulis, mencari referensi, update website, dan lain-lain. Sebulan kemudian, aktivitas saya bertambah, yakni mengkonsep usaha pembuatan coklat praline (silahkan lihat websitenya, cuman saat ini memang masih acakadul). Walhasil, makan siang semakin saya lupakan, jam tidur pun mulai jauh berkurang. Mengapa? Tentu saja karena waktu 1 jam di siang hari masih di rasa kurang, jadi saya mulai sering melekan atau bangun jauh sebelum dini hari.

Tapi saya merasa baik-baik saja, bahkan saya merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya. Saya tidak lemas, juga tidak pusing. Hari Senin-Sabtu, jam 7 pagi sampai 3 sore, saya bekerja di pabrik seperti biasa, malah dengan semangat kerja yang jauh lebih membara dibanding sebelumnya. Hari Minggu pun saya gunakan untuk bekerja, biasanya untuk membuat pesanan coklat.

Namun ternyata badan saya tidak sejalan dengan kemauan hati dan pikiran saya. Akhir Desember lalu, saya terserang Maag yang seumur hidup saya belum pernah merasakan.
Alamak, ternyata sakitnya luar biasa. Obat maag yang dibelikan suami saya pun tidak bisa mengatasi, akhirnya saya terpaksa terkapar di ranjang poliklinik. Dan yang paling menyiksa, saya terpaksa menjauhi sambal pedas favorit.

Seorang rekan kerja yang mengetahui keadaan saya menyarankan saya untuk makan kerupuk rambak (kerupuk dari kulit sapi). Awalnya tidak saya pedulikan, namun karena 3-4 teman kantor mengatakan hal yang sama, akhirnya saya coba juga. Mengingat saya sudah mulai putus asa, karena beberapa hari lagi, saya harus mengikuti jadwal training Outbound Leadership di Batu, akhirnya saya beli sebungkus rambak di Mini Market.

Dan ternyata hasilnya instan !!!!

Setelah saya makan habis sebungkus kecil kerupuk rambak, perut saya tidak lagi terasa ditusuk-tusuk. Rasa sakitnya hilang tak berbekas, sampai sekarang ....Hore.... Selamat tinggal sakit maag.

Namun sejak kejadian itu, sekarang saya insap. Apalagi setelah mengecek berat badan saya yang tinggal 42 kg, turun 5 kilo looo....

Sekarang saya mulai makan siang lagi. Jam tidur pun mulai diatur. Saya pun mulai memanjakan diri lagi di hari Minggu, satu-satunya hari libur yang saya punya. Pendek kata, saya kapok kena sakit Maag.

Bagi yang punya masalah dengan Maag, solusi kerupuk rambak bisa dicoba.
Bagi yang belum pernah punya masalah dengan Maag, walaupun kerupuk rambak itu enak, mendingan jangan pernah kena deh....


Semoga bermanfaat

Minggu, 11 September 2011

2 Alasan Mengapa Mengkonsumsi Makanan Organik


Makanan organik, banyak hal yang pro dan kontra mengenainya. Hal ini sangat wajar mengingat harga makanan organik yang bisa beberapa kali lipat dibanding makanan konvensional, yang mana membuat konsumen memikirkan benefit apa yang bisa didapatkan dengan mengkonsumsinya.

Issue yang banyak beredar adalah apakah memang makanan organik merupakan pilihan yang lebih sehat, terutama saat makanan organik mulai diperkenalkan di sekitar tahun 1990. Banyak orang yang menyikapinya dengan skeptis mengenai kelebihan makanan organik karena belum banyak penelitian mengenai kandungan nutrisi pada makanan organik. Di sisi lain, belum banyak juga penelitian yang mengungkap bahaya bahan-bahan kimia yang terkandung dalam makanan konvensional.

Inilah 2 isu penting tentang keuntunganmengkonsumsi makanan organik:
1. Kandungan nutrisi makanan organik
Menurut penelitian-penelitian mengenai kandungan vitamin, nutrisi dan mineral pada makanan organik dan non organik, ternyata ada perbedaan kandungan nutrisi yang cukup signifikan, di antaranya:
* Chromium: mencegah pengerasan pembuluh darah arteri dan diabetes tipe 2
* Calcium and Boron: membangun tulang yang kuat dan mencegah osteoporosis.
* Lithium: anti depresan.
 * Salicylic Acid: anti inflamasi yang mencegah penyakit jantung.
* Antioxidants: mencegah kerusakan sel.
 * Magnesium: membantu mencegah kematian saat serangan jantung.
* Selenium: mencegah serangan jantung dan kanker.
* Vitamin C: membangun system kekebalan tubuh.

 2. Bahan kimia beracun yang terkandung dalam makanan konvensional.
Bahan kimia bisa berasal dari residu pest control, pupuk sintetis dan food additive. Tidak hanya membawa dampak negatif pada tanah dan lingkungan sekitar, namun juga bisa membahayakan manusia. Bahan makanan organik yang diteliti ditemukan kandungan bahan kimia, logam berat, solvents dan hormon sintetis yang mana bahan-bahan tersebut diduga sebagai pemicu kondisi-kondisi di bawah ini:
* kanker
* penyakit jantung
* osteoporosis
* migrain
* hyperactivity
* penurunan kecerdasan
* gangguan pendengaran
* gangguan pertumbuhan saat masa kanak-kanak
* anemia
* Alzheimer's
* multiple sclerosis
* pubertas dini

Walau hanya ada 2 isu mengenai keuntungan mengkonsumsi makanan organik, namun bagi saya itu sudah menjadi alasan yang cukup untuk mulai beralih ke makanan organik. Minimal demi kebaikan diri sendiri dan keluarga.

Senin, 06 Juni 2011

Bagaimana Mengatasi Pilek dan Hidung Tersumbat


“Tulisan ini hanya sharing product knowledge, bukan iklan”

Pilek sebenarnya bukan penyakit yang membuat saya sampai terkapar tak berdaya hingga tidak bisa masuk kantor. Tapi terus terang, pilek membuat saya jadi ribet membuang ingus apalagi kalau pakai acara hidung tersumbat.

Untuk pekerja lapangan seperti saya, tidak mudah bekerja dalam kondisi sedang pilek. Pertama saya tidak mudah menemukan tissue karena sepanjang mata memandang hanya mesin melulu, kedua kalaupun saya membawa bekal tissue, tidak mudah menemukan tempat sampah untuk membuang tissue bekas.

Bagi yang bukan pekerja lapangan juga saya yakin pilek membuat tidak nyaman karena harus bolak-balik buang ingus. Apalagi kalau sedang meeting, pastinya harus ke toilet untuk buang ingus di sana, karena kalau kita lakukan di ruang meeting pasti akan mengganggu, sedangkan kalau tidak dibuang kita harus sedot-sedot terus yang mana aktivitas tersebut memproduksi bunyi yang tidak enak didengar.

Saat tidur pun begitu, kita tidak bisa bernafas karena hidung tersumbat, mau miring kiri, kanan, telentang atau tengkurap semua serba salah. Pakai obat gosok kadang membantu kadang juga tidak berefek. Mau bernafas pakai mulut juga sangat tidak nyaman. Paling sebel lagi jika ingus kita termasuk jenis yang kental hingga sulit dikeluarkan. Haduuh, pokoknya terserang pilek memang menyebalkan.

Nah, teman saya menyarankan untuk pakai Otrivin, obat tetes hidung yang sudah saya buktikan cepat mengatasi masalah. Informasi tentang kandungan, cara kerja dan efek samping Otrivin bisa di klik di sini.

Memang saat diteteskan, terkadang ada sebagian kecil yang masuk ke kerongkongan, rasanya sedikit aneh, agak mirip gule?. Yang jelas, efek Otrivin sudah mulai bisa dirasakan setelah 2-3 menit diteteskan. Saya benar-benar merasa tertolong. Hidung langsung plong dan ingus yang tadinya kental menjadi encer hingga gampang dikeluarkan. Kondisi ini bertahan cukup lama sekitar 10 jam, sehingga selama pilek saya menggunakan Otrivin 2 kali/hari yakni di pagi hari saat akan mulai bekerja dan malam hari saat menjelang tidur. Kalau pileknya parah, saya kombinasikan juga dengan obat pilek di malam hari dengan selang waktu 1 jam setelah pakai Otrivin. Alhamdulillah pilek saya mulai sembuh setelah 5-6 hari.

Ada juga Otrivin untuk anak. Sebaiknya kalau untuk anak-anak dikonsultasikan dulu ke dokter. Kalau saya sih biasanya cukup pakai Vicks Vaporub di dada, leher dan punggungnya. Tanyakan pada apotek terdekat dan jangan lupa perhatikan cara pemakaian, dosis dan tanggal kadaluarsanya.

Jumat, 13 Mei 2011

Tersangkanya Adalah Chikungunya


Pagi itu pagi yang biasa saja. Setelah memandikan si bungsu, saya bergegas memanggil si sulung untuk segera mandi mengingat hari itu hari Rabu, waktunya dia masuk kelas Playgroup. Jadi saya harus memastikan dia sudah mandi sebelum saya berangkat kerja. Memang sudah kebiasaan jika si sulung ini agak “sulit” jika disuruh mandi, biasanya dia akan mengemukakan puluhan alasan untuk menunda ritual mandinya. Maka dari itu saya merasa tidak curiga saat dia bilang bahwa kaki dan tangannya sakit sambil merengek-rengek tidak mau mandi.

Karena merasa waktu sudah semakin mepet dengan jam berangkat kerja, saya tidak memperdulikan rengekan dan tangisannya. Saya mandikan dia seperti biasa disertai pesan-pesan agar dia tidak bolos sekolah. Malah saya setengah memarahi dan mengatakan bahwa dia hanya mencari-cari alasan saja (Duh kalau inget-inget itu rasanya nyeseeel banget).

Pukul 9.00, ponsel saya berdering. Si Mbak mengabarkan bahwa gadis kecil saya panas dan kakinya sakit, sampai-sampai pulang sekolah minta dijemput. Bahkan waktu pipis di sekolah harus dibopong ke toilet. (Sekolahnya hanya selisih 3 rumah, dia biasa berangkat dan pulang sekolah sendiri). Tanpa mempedulikan pekerjaan yang menumpuk, saya langsung minta ijin pulang. Saya pikir percuma saja saya di kantor kalau terus kepikiran rumah, walau dokter spesialis anak langganan kami baru praktek malam harinya.

Betapa kuatirnya saya saat melihat dia sangat lemah, bahkan untuk membalikkan badan di tempat tidur dia mengeluh kesakitan seakan-akan sekujur tubuhnya didera nyeri yang luar biasa.

Kebetulan suami sedang ke luar kota, jadi saya terpaksa mengantar anak kami ke dokter sendirian (si Mbak harus menjaga adiknya yang masih bayi). Agak sulit juga karena dia hampir tidak bisa berjalan. Sungguh kasihan saya melihat gadis saya yang biasanya lincah dan ceria, kini hanya bisa duduk diam karena hanya untuk berdiri saja dia berteriak dan menangis melampiaskan sakit di sendi-sendinya. Saat itu hanya hal-hal buruk yang ada di pikiran saya melihat anak saya yang seakan-akan lumpuh.

Dokter menduga demam berdarah melihat panasnya yang tinggi dan tiba-tiba. Beliau memberi resep antibiotik dan surat pengantar ke lab jika setelah 3 hari demam tidak turun. Sayangnya saya lupa nama antibiotiknya, yang jelas harganya agak lebih mahal dibanding antibiotik yang biasa diberikan padanya saat kena radang.

Untung saja, menjelang hari ketiga panasnya mulai turun, tapi karena khawatir saya bawa ke lab untuk cek darah. Alhamdulillah hasilnya negative untuk demam berdarahnya ditunjang juga dengan trombositnya yang berada di kisaran normal. Saya memang tidak kembali untuk konsultasi ke dokter anak karena kondisinya yang kian membaik. Tapi saya masih penasaran , apa gerangan yang menyebabkan anak saya bisa sampai seperti itu. Dugaan saya adalah : CHIKUNGUNYA.

Ya, penyakit yang disebarkan oleh vektor yang sama dengan DBD itu saya curigai sebagai tersangka. Gejala-gejala yang ditimbulkan pun hampir sama, yakni: demam tinggi hingga 39 C, nyeri hebat di seluruh persendian dan muncul ruam-ruam kemerahan di permukaan kulit. Hanya saja, pada chikungunya tidak ditemukan pendarahan hebat, shock maupun kematian dan biasanya sembuh dengan sendirinya setelah 3-5 hari. Penyebab penyakit ini adalah alphavirus dan disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypty (Wikipedia)

Penyakit ini bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Pada orang dewasa, gejala nyeri pada tulang dan sendi sangat dominan hingga seakan-akan menimbulkan kelumpuhan.

Hingga kini, saya memang tidak bisa memastikan apakah memang si sulung kami terserang Chikungunya atau bukan. Yang jelas, saya jadi lebih well informed bahwa memang ada demam yang disertai nyeri tulang hebat hingga seakan-akan lumpuh.

Hanya saja wong yang namanya juga ibu-ibu, tetap saja saya selalu panik luar biasa tiap kali buah hati kami terserang demam, walaupun itu hanya demam ringan yang menyertai flu...
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)