Rabu, 03 Mei 2017

Pulau Tabuhan, Sepercik Eksotika Ujung Timur Pulau Jawa


Perjalanan kami ke Pulau Tabuhan, Banyuwangi memang termasuk mendadak. Tapi untuk urusan jalan-jalan memang kami seringkali begitu, spontan. Saya masih ingat ketika kami memutuskan pergi berlibur 4H3M di Bali tanpa ada rundown yang pasti hendak ke mana aja. Pokoknya pergi aja ke Bali. Waktu itu spontanitas kami membawa kami sampai ke Trunyan, sebuah desa kuno dengan adat purbakala yang masih bertahan hingga kini. Tempatnya eksotis dan mempesona. Eits, tapi postingan kali ini bukan mau cerita tentang Bali, melainkan tentang tetangganya, Pulau Tabuhan.

Yups, dari Pulau Tabuhan ini memang Pulau Bali kelihatan jelas. Betapa tidak, Pulau kecil yang tak berpenghuni ini memang masuk wilayah Banyuwangi, kota di ujung timur Pulau Jawa.
Ada beberapa alasan mengapa kami memilih Pulau Tabuhan untuk liburan. Satu, kami memang mencari jalur liburan yang tidak terlalu padat. Dua, pengalaman snorkling di Gili Labak minggu sebelumnya masih belum memuaskan karena terkendala arus yang deras. Tiga, untuk menebus rasa bersalah karena kami pergi ke Gili Labak tanpa mengajak anak-anak. Empat, karena kami sudah mendapatkan informasi dari temen-temen yang sudah lebih dulu ke sini bahwa Pulau Tabuhan sangat anakable banget ;D
So, hari Sabtu siang sepulang kerja, kami langsung berangkat ke Banyuwangi. Perjalanan dengan mobil memakan waktu sekitar 8 jam. Kami cuma sempat berhenti dua kali, di masjid dan di Indomaret untuk beli kopi. Saran saya kalau bawa mobil sendiri, apalagi kalau berangkatnya tepat setelah pulang kerja, sebaiknya ada dua orang atau lebih yang bisa nyetir. Supaya bisa gantian nyetirnya. Nah, kami sampai di hotel sekitar jam 10 malam. Kami nginep di Baru Dua Beach Hotel yang lokasinya pas banget di pinggir pantai. Jadi di pagi harinya selepas sholat Subuh, kami sudah nongkrong di belakang hotel demi menunggu matahari terbit.

Hari Minggu jam 6 pagi kami sudah berangkat menuju Bangsring Underwater. Search aja di google map; “Bunder-Bangsring Underwater”. Petunjuk jalannya juga cukup jelas, dan ada semacam tugu selamat datang di pintu masuknya. Tulisannya kalau nggak salah Wisata Pulau Tabuhan (sori saya lupa nggak motret). Kami sampai di loket sebelum jam setengah tujuh pagi. Ini memang kami sengaja karena teman kami sudah wanti-wanti agar tiba di loket sebelum buka supaya bisa segera dapat perahu. Sebenarnya jam buka loket adalah jam 7, namun entah karena hari itu hari libur panjang atau karena masnya ngga tega ngeliat muka saya yang memelas di depan pintu loket, akhirnya kami sudah dilayani tepat pukul setengah tujuh. Alhamdulillah kami bisa langsung berangkat, mengingat hari itu ternyata bookingan perahu menuju Tabuhan dan Menjangan cukup banyak. Ada sekitar 40 bookingan katanya.

Oke, ini yang terpenting, biaya menuju ke Pulau Tabuhan sudah fix. Jadi kita ngga perlu nego-nego lagi sama pemilik perahu seperti yang pernah saya alami di Bali atau Pantai Pasir Putih. So, biaya untuk paket snorkling di Tabuhan adalah sebagai berikut:
Perahu Rp 500 ribu (max 10 orang, kalau 10 orang lebih dikit gimana? Kalau lebihannya ngga banyak (semisal lebih 2-3 orang, maka per orang kena tambahan charge 50 ribu)
Sewa alat snorkling 30 ribu/orang
Guide 50 ribu
Dokumentasi underwater 150 ribu
Kalau yang ingin ke Pulau Menjangan, biayanya sekitar 2.3 juta untuk 10 orang (include makan siang).

Perjalanan menuju ke Tabuhan memakan waktu sekitar 20 menit. Dari sana, Pulau Menjangan bisa kelihatan dari kejauhan. Duh yaaa....aslinya kepengen banget sekalian ke sana. Apalagi guide kami bilang di sana terumbu karangnya jauh lebih bagus dan ikan-ikannya lebih berwarna dan besar-besar. Tuh bikin ngiler kan? Secara mumpung udah sampai sana gitu lho. Tapi berhubung ini kan masih trial ngajak anak-anak snorkling, dan lagi kok rasanya rugi kalau ke sana cuma berempat, akhirnya kami putuskan untuk ke Menjangan lain kali aja.
So, back to Pulau Tabuhan yah. Daya tarik Pulau Tabuhan ada pada airnya lautnya yang jernih dan tenang. Berbeda dengan di Gili Labak, start snorkling di sini dimulai dari pinggir pantai, bukan nyemplung dari atas perahu. Nah jadi ini aman banget untuk anak-anak. Terumbu karang di area snorkling kami tidak banyak. Tapi kami tetap bisa melihat aneka hewan laut di sini. Selain ikan dan ubur-ubur, kami sempat berjumpa dengan bintang laut biru yang cantik ama cacing laut yang tekstur kulitnya squishy bangett. Hal yang agak di luar dugaan adalah cukup banyak plankton di sini. Akibatnya belum semenit saya kena air laut, kulit yang terpapar langsung sama air laut langsung terasa gatal cenderung pedih. Agak panik awalnya, tapi lama-lama biasa juga. Kami menghabiskan waktu sekitar satu jam di Pulau Tabuhan.



Oya, di Tabuhan ini ngga ada rest area yaa. Kalaupun ada warung jam bukanya ngga jelas. So saran saya, jangan lupa bawa bekal makanan dan minuman secukupnya. Karena kalau snorkling itu sudah pasti haus dan laper. Trus...sampah makanan dan minumannya bawa balik lagi ya. Jangan dibuang di Tabuhan meski di situ ada tempat sampahnya juga. Karena saya kok ngga ngeliat ada petugas yang buang sampah. Jadi meski ada tempat sampah tapi isinya ngga pernah diangkut ya sama aja boong.
Dalam perjalanan pulang kembali ke Bangsring, kami mampir ke Rumah Apung Bangsring (ini memang sudah termasuk paket wisatanya). Di sini lagi-lagi kami diajak snorkling melihat terumbu karang. Cuma kali ini lokasi terumbu karangnya agak dalam. Sekitar 4 meteran. Meski dalam, terumbu karang di sini lebih bagus dan besar-besar. Ikan-ikannya juga banyak. Lokasi ini juga dijadikan pembibitan terumbu karang. Puas melihat terumbu karang, kami ngasih makan ikan yang jumlahnya buanyak dan ukurannya cukup besar di sekitar Rumah Apung. Caranya dengan menggenggam roti yang kemudian akan dikerubuti oleh ikan-ikan laut. Seru seru ngeri gitu deh, hehe. Apalagi jari saya sempet digigit. Tapi tenang aja, ikan-ikannya bukan ikan karnivora kok. Kalaupun sampai kegigit, rasanya Cuma kaget sedikit, ngga sakit sama sekali.



Atraksi utama Rumah Apung adalah penangkaran hiu. Kami sempat nyemplung ke kandang anak hiu dan foto-foto di situ. Rasanya ngeri-ngeri pengen tau, hehe.

Nah, sekarang giliran cerita sisi negatifnya wisata Bangsring-Tabuhan yah.
Guys, ini serius bangett. Plisss....jangan pernah buang sampah di laut yaaa. Apapun alasannya. Kasian itu makhluk-makhluk laut terkotori ruang hidupnya. Bisa kebayang nggak kalau tiba-tiba ada orang yang buang sampah di ruang tamu rumahmu? Mangkel nggak? Mangkel kan? Nah, begitu juga dengan laut. Laut itu sejatinya adalah rumah bagi buanyak makhluk hidup. Namun nyatanya, sampah di Bangsring Tabuhan tuh buanyak banget. Kalau saya perhatiin foto-foto underwater kami, hampir semuanya pasti ada sampah yang ketimpul-ketimpul. Duuuhhh...sedih banget. Mulai dari plastik mie instan, plastik pembalut, plastik minyak goreng sampai botol henbodi.

Memang si, kalau mau nyalahin bisa aja kita nyalahin pengelola tempat wisata Bangsring Tabuhan, kenapa kok mereka ngga ada program cleaningnya. Tapi ya ngga bisa gitu juga dong. Seandainya pengunjung, baik yang cuma bentar kaya kami atau yang sampai kemping di sana, memiliki kesadaran yang tinggi untuk tidak buang sampah di laut, pastinya akumulasi sampah nggak akan sampai segitu banyaknya walaupun tanpa adanya program pembersihan.     
Oke, sampai sini dulu yah ceritanya.

Kalau saya ditanya, apakah pengen balik lagi ke Tabuhan. So pasti pengen banget. Malah kami sudah merencanakan untuk ke Menjangan di kesempatan berikutnya. 

Rabu, 19 April 2017

Exploring Gili Labak via Gili Genting


Akhirnyaaaa….setelah mengalami drama yang serunya ngalah-ngalahin drama Korea atau sinetron Indonesia, kita berangkat juga ke Gili Labak, sebuah pulau dengan pantai bintang lima di ujung perairan Madura. Oke, abaikan soal drama karena itu sudah tidak penting lagi untuk dibahas. Nggak usah kepo juga nanya-nanya dramanya soal apa ya. Yang penting pada akhirnya kami semua bisa pergi ke Gili Labak dan pulang kembali dengan sehat dan selamat, untuk kemudian bisa kembali nulis di blog yang sudah banyak sarang laba-labanya ini (soalnya jarang ditengokin, hihi).
Langsung saja yah, ini buat referensi temen-temen, ibu-ibu, bapak-bapak, kakak adik, om dan tante yang pengen juga mengunjungi pulau kecil nan indah ini.
Oya, sebelumnya terima kasih yang tak terhingga untuk menejemen bogasari flour mills yang telah mengadakan program rekreasi karyawan, yang membebaskan kami untuk memilih destinasi wisata sesuai selera, sehingga kami bisa bener-bener feel so refresh dan ready to rock the flour mills again :D (Sori bahasanya nyampur-nyampur akibat terlalu excited)
Nah balik lagi ke soal rekreasi yah. Berhubung kami tergolong nggak suka ribet, terutama kalau urusan happy-happy, maka kami memilih untuk menggunakan jasa tour organizer. Biayanya Rp. 250 ribu untuk trip 1H1M ke Gili Genting-Gili Labak. Enak siy, Cuma tinggal bawa badan ke meeting point, bawa perlengkapan pribadi dan uang secukupnya, lantas duduk manis aja udah sampe ke tujuan. So, ini lah rundown trip kami tanggal 16 April lalu.

Sabtu, 23:30-24:00. Persiapan Berangkat
Meeting point ada di Stasiun Gubeng Baru. Saat saya datang, sudah menanti 3 Elf yang siap membawa kami ke Sumenep.

Minggu 24:00-03.30. Perjalanan ke Sumenep
Travel yang kami pakai cukup on time kok. Cuman ya gitu, berhubung jalanan sepi, akhirnya kecepatan laju sang Elf ini lumayan juga. Niat hati ingin tidur selama perjalanan pun buyar karena ngeri dengan speed kendaraan. Ya tapi bagi yang sudah biasa mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi macam mas bojo di sebelah saya ya bisa tidur nyenyak sampai ngorok-ngorok segala.

Minggu 03:30-05:00. Istirahat di Wisma Tamu
Yang dimaksud istirahat sebenarnya bukan berarti istirahat di kamar gitu. Rumah singgah yang dimaksud ini punya teras yang cukup luas dan bersih untuk kami baring-baring sebentar sambil menunggu Shubuh. Persis di sebelah rumah ada surau dan beberapa kamar mandi. Jangan lupa tapi, masuk kamar mandi ada ongkosnya lhoo. Siapkan saja uang receh 2000an dan 1000an, karena kalau nggak masukin uang ke kotak, sudah ada umi-umi yang nungguin di depan kamar mandi dan siap negur siapa aja yang nggak bayar.



Minggu 05:00-06:00. Perjalanan ke Gili Genting
Tepat pukul lima pagi, kami mulai berjalan menuju dermaga. Letaknya kira-kira cuma 300 meter dari wisma. Kami naik perahu nelayan berkapasitas 60 Ton. Dari perahu ini lah kami bisa menikmati matahari terbit. Ini sebenernya agak beda dengan scenario awal. Jadi mestinya, kami sudah naik perahu sejak jam 3 pagi, lantas menikmati matahari terbitnya di Gili Genting. Tapi berhubung (menurut informasti guide), laut sedang surut, akhirnya kami harus nunggu air pasang dulu untuk bisa berangkat. Tapi nggak masalah, melihat matahari terbit dari sebuah perahu nelayan pun juga tetap terasa sensasional kok. Apalagi diselingi dengan pemandangan perahu-perahu nelayan yang lalu lalang, keramba-keramba dan siluet pulau-pulau lain dengan background warna langit yang merah jingga. Duh….betapa yaaa….Allahu akbar….
Perjalanan laut menuju Gili Genting ini memakan waktu sekitar 30 sampai 45 menit.


Minggu 06:00-07:00. Sarapan di Gili Genting
Nah begitu sampai di Pulau Gili Genting, sebaiknya siap-siaplah untuk basah, karena tidak ada dermaga semacam di Sumenep tadi. Jadi perahu langsung merapat sedekat mungkin dengan bibir pantai. Saat kami turun dari perahu, sudah disambut dengan air laut setinggi lutut. Jadi kalau yang mau pakai rok, sebaiknya pakai daleman celana panjang yah.
Di pulau ini, kami sudah disambut sama spot-spot foto yang emang sudah disediakan pengelola. Pantainya sepi, hanya ada beberapa grup wisatawan yang sudah lebih dulu bermalam di sana. Jadi di Pantai Sembilan ini, selain bisa menginap di tenda, juga bisa menginap di semacam rumah kayu yang posisinya tepat menghadap laut.
Nah, begitu kami sampai di sini, langsung lah kami foto-foto buat dokumentasi LPJ kantor, hehe. Habis gitu, sebagian masih lanjut foto-foto, sebagian lagi sarapan (sudah disediakan nasi box oleh travel) dan sebagian lagi langsung lepas kaos dan nyemplung laut. Airnya jernih, tenang dan renangable banget. Saya aja nyaris tergoda untuk ikutan nyemplung kalau ngga inget bahwa kami masih harus menempuh perjalanan laut lagi menuju Gili Labak dan baju ganti yang saya bawa terbatas.
So, saran saya buat yang suka renang, usahakan bawa baju ganti lebih ya.

Minggu 07:00-08:30. Perjalanan ke Gili Labak
Perjalanan ke Gili Labak memakan waktu sekitar 90 menit. Saat itu (kelihatannya) air laut cukup tenang, tapi ketika di atas perahu goyangannya lumayan juga. Tapi mungkin karena kami perginya ramai-ramai, maka perjalanan panjang yang cukup memualkan (bagi sebagian orang ini) jadi nggak terasa.
Pas udah keliatan pulaunya, huwiii seneng banget rasanya. Apalagi ketika Gili Labak tuh ternyata semakin dekat semakin keliatan cuantik. Buat saya yang jarang mbolang ke remote area karena masih punya anak kecil-kecil, rasanya itu pantai subhanallah buanget cakepnya. Kombinasi warna biru langit, pepohonan hijau, pasir putih dan warna laut yang berlapir-lapis biru hijau tosca sungguh membuat nafas tertahan.
Oke, here we go! Mari menikmati surga dunia!!

Minggu 09:00-11:00. Snorkling
Ini dia momen yang ditunggu-tunggu. Buat saya ini pengalaman perdana, jadi rasanya ya so pasti excited banget. Rombongan tamu hari itu dibagi jadi dua batch bergantian karena keterbatasan peralatan. Kami memilih batch pertama. Jadi tak lama setelah tiba, kami langsung kembali naik perahu untuk berangkat ke tempat snorkeling.
Peralatan snorkeling berupa life vest dan goggles sudah disiapkan. Cuman karena saya tahu bahwa pakai snorkeling goggles itu nggak nyaman, saya memilih untuk pakai kacamata renang biasa. Dan tentu saja dengan sok pedenya saya nggak mau pakai life vest. Ternyata….di sinilah saya baru tahu asal muasal peribahasa “air tenang itu menghanyutkan”. Saya kaget ketika ternyata arus dalam laut di lokasi snorkeling kami cukup deras juga. Tahu-tahu saya sudah berada di posisi yang cukup jauh dari perahu. Duh pantas aja itu si mas-mas guide pada pakai sepatu katak semua. Untung saja di lokasi snorkeling sudah disediakan tali. Jadi saya tinggal menarik diri saya sendiri pakai tali untuk kembali ke perahu.
Mengenai lokasi snorklingnya sendiri menurut saya tidak terlalu bagus. Ya mungkin ini kebetulan saja karena memang sejak berangkat saya sudah mendapat info yang berbeda-beda mengenai snorkeling area di Gili Labak. Ada yang bilang kalau snorkeling di Gili Labak biasa-biasa aja, ada yang bilang bagus banget. Nah kalau menurut saya si biasa-biasa aja. Soalnya airnya kebetulan agak keruh, terumbu karangnya juga tidak terlhat terlalu warna-warni dan ikannya tidak terlalu banyak. Jadi kesimpulan saya, mengenai spot snorkeling ini tergantung amal ibadah J. Jika beruntung ya bisa dapat spot bagus. Tapi…terlepas dari bagus tidaknya lokasi snorkeling, saya tetep enjoy menikmati acara snorkeling ini, apalagi ketika momen pemotretan bawah air, cieee….
Oya, untuk underwater shoot, saya kudu acungkan jempol untuk mas-mas guide yang bener-bener support. Jadi gini, kalau kita tidak cukup pede untuk lepas life vest dan goggles, kita boleh kok dipotret dari permukaan saja. Hasilnya bagus karena cahaya di permukaan cukup, tapi kurang epic. Nah, kalau kita cukup pede untuk menyelam, mas-mas guide ini akan bantu supaya kita bisa masuk ke dalam hingga menyentuh karang. Kedalamannya kurang lebih antara 1.5 sampai 2 meter. Saya sendiri aslinya dalam kondisi biasa, maksudnya kalau di kolam renang, bisa-bisa aja nyelem sampai kedalaman segitu. Tapi berhubung di sana arusnya kenceng banget, saya Cuma bisa menyelam hingga semeteran aja. Awalnya mas Musa (nama guide kami), menawarkan untuk membantu biar saya bisa nyelam hingga ke bawah. Caranya dengan menarik tangan saya lantas dipotret sama dia. Tapi ternyata nafas saya yang nggak kuat karena saya nyemplung tanpa pakai pelampung. Akhirnya saya minta jeda sejenak untuk atur nafas dan pindah ke lokasi yang lebih dangkal. Di sini saya lebih beruntung. Lagi-lagi saya dibantu untuk bisa lebih cepat sampai ke dasar laut hingga menyentuh terumbu karang. Kali ini caranya dengan didorong bukan ditarik. Dan voila…akhirnya dapet lah foto bawah air yang epic, hehe… Cuma belakangan saya jadi nyesel, kenapa ngga minta diulang untuk didorong lagi yak? Asik ternyata nyelem sampai bawah sampai bisa pegang karang :D

Minggu 11:00-13:00. Bebas, ishoma, bersih diri
Setelah kembali ke pantai, kami lantas jalan-jalan keliling pulau. Jangan berharap ada wahana-wahana semacam banana boat, jetski atau kano di sana. Satu-satunya wahana selain terumbu karang di Gili Labak ya pantai itu sendiri. Pulau Gili Labak itu ternyata sangatlah kecil hingga seluruh bagian pulau itu adalah pantai. Kalau berjalan kaki keliling pulau mungkin hanya makan waktu setengah jam saja. Kami menghabiskan waktu bebas selama dua jam untuk berjalan-jalan dan berenang di air yang jernih. Duh yaaa…itu laut rasanya kaya ada tangan yang narik-narik gitu. Jadi tiap kali mentas, rasanya pengen nyebur lagi nyebur lagi. Pokoknya ketika lagi berendem di laut, rasanya nggak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Dannn….di Gili Labak itu sepertinya sejam bukan lagi enam puluh menit deh. Sepertinya jarum jam berputar lebih cepat dari biasanya. Tahu-tahu udah mendekati jam 1 siang, waktunya kembali ke Sumenep L
Oya, untuk makan nggak usah khawatir. Di Gili Labak ada warung-warung yang jual kelapa muda dan ikan bakar. Tapi karena saya saat itu lagi kepengen kuah-kuah, akhirnya cuma pesen indomie rebus sama telor. Nah menurut temen saya yang pesen ikan bakar, rasanya enak, apalagi sambelnya.
Terus untuk mandi, juga ada kamar mandinya kok. Hanya saja pakai air payau. Kalau mau tambah air tawar untuk bilas bisa juga, Cuma bayar lagi 10 ribu per gallon.

Minggu 13:00-15:00. Perjalanan Kembali ke Sumenep
Nah, cerita bagian ini agak bikin sebel. Pertama karena kita udah harus ninggalin pulau cantik nan mempesona ini. Kedua, karena baju dan celana saya basah gara-gara keburu-buru naik perahu (mana bawa baju ganti Cuma 1 stel pula -_-“). Padahal kalau saya mau sabar sebentar aja, pak tukang perahunya bakal narik perahu lebih dekat ke bibir pantai supaya kita tidak terlalu basah. So, saran saya, jika ketika meninggalkan Gili Labak sudah dalam keadaan rapi jali, sebaiknya sabar dulu yaa. Insya Allah dibantuin kok sama tukang perahunya. Soalnya saya liat ada rombongan ibu-ibu yang bergamis syari pun bisa kok naik ke perahu tanpa harus berbasah-basahan.
Akhirnya, dalam keadaan basah kuyup sampai ke perut itu lah, saya menempuh perjalanan selama 2 jam kembali ke Sumenep. Alhamdulillah tapi, lagi-lagi perjalanan kami diberkahi Allah dengan cuaca yang cerah, malah cenderung tidak berangin. Jadi goyangan perahu tidak separah saat berangkat.

Minggu 15:00-16:00. Istirahat di wisma tamu
Back to wisma tamu. Di sini kami istirahat lagi untuk memberi kesempatan anggota rombongan yang belum sempat ishoma di Gili Labak. Terus sebelum pulang kami juga disuguhi nasi soto (yang sudah masuk dalam paket tournya).

Minggu 16:00-21:00. Perjalanan ke Surabaya
Perjalanan pulang memakan waktu lebih lama ketimbang berangkatnya. Karena kami sempat mampir sebentar ke tempat toko oleh-oleh. Sampai di Stasiun Gubeng Baru, arloji saya menunjukkan waktu jam 9 malam kurang dikit.

Nah, itu tadi cerita lengkapnya sesuai janji saya ke temen-temen yang tempo hari sempet nanya-nanya di fesbuk. Oya, kalau yang mau bawa anak-anak si sebenernya ngga papa. Asalkan usianya udah nggak balita kali ya. Terus juga yang bisa tahan sama gelombang laut. Terus kalau emang mau diajak snorkeling, pastikan dulu apakah akan diajak snorkeling di tempat yang berarus kuat. Jika memang semua spot snorkeling di Gili Labak berarus kuat, sebaiknya nggak usah diajak kali yaa. Cukup liat-liat situasi aja dari atas kapal, atau berenang-renang di pinggir pantai. Soalnya untuk ukuran orang dewasa yang bisa berenang kaya saya, rasanya capek banget lho mempertahankan diri agar nggak keseret arus.
But trust me, main-main di pantainya yang indah aja udah pasti bikin anak-anak seneng. Saya dan suami sudah kepikiran kelak ingin ngajak anak-anak kemping di Gili Labak, supaya kita bisa renang-renang sepuasnya. Huwiiii…!!!!

Oya hampir lupa, untuk informasi lebih detil soal trip dan destinasi lainnya, silakan kontak @AtJava ya, monggo langsung meluncur ke instagramnya mereka. 

Oke deh, see you again soon, Gili Labak J

Video Kompilasi Dokumentasi Gili Labak

Sabtu, 12 Maret 2016

[Flash Fiction] Hadiah Untuk Ibu


Bingkisan mungil yang sudah kubeli beberapa bulan lalu itu masih tergeletak di tempat yang sama. Itu bingkisan untuk ibuku. Hadiah ulang tahunnya yang sudah lewat tiga bulan lalu.

Alasan klise yang membuat bingkisan itu hingga saat ini masih ada bersamaku dan bukan bersama ibu adalah karena aku sibuk. Karir di kota besar ini menelanku bulat-bulat. Jangankan untuk pulang kampung di hari ulang tahun ibu, untuk menyenangkan diri sendiri saja aku nyaris tak punya waktu.

Untunglah hari ini akhirnya aku bisa pulang, tentu saja dengan membawa bingkisan untuk ibu. Kudekap erat bingkisan yang di dalamnya ada sesuatu yang pasti membuat ibu senang.

Dugaanku tidak salah, ibu menyambutku dengan senyum mengembang. Dengan riang, ia membuka bingkisan yang sudah sejak lama kusiapkan.

Tiba-tiba sesuatu yang aneh terjadi. Wajah ibu perlahan memburam. Awalnya kukira mataku kelelahan, tapi semakin lama ibu semakin memudar dan akhirnya menghilang. Aku berteriak-teriak memanggil ibu.

Dalam kebingungan yang sangat, seseorang memanggil namaku dan mengguncang bahuku. Dengan napas tertahan, aku merasa tubuhku menembus selapis kabut. Dalam hitungan detik, sebersit kesadaran akan apa yang sesungguhnya terjadi membuat hatiku ngilu.

Aku memang pulang ke rumah ibu, tapi yang menyambutku bukan senyum ibu, melainkan jasadnya yang membujur kaku.

(selesai)


Sabtu, 05 Maret 2016

[Flash Fiction] Ramalan Langit Malam


Selarik cahaya membelah langit malam. Aku tertegun. Kamu terpekik tertahan. Kita berdua tahu, seperti halnya semua orang tahu, bahwa langit malam di dusun ini bisa meramal. Jika ada selarik cahaya yang membelah langit malam, itu artinya akan ada penduduk dusun yang pergi. Entah meninggal, atau pergi meninggalkan dusun dan tak pernah kembali.
“Mungkin itu ramalan untuk kamu,” bisikku lirih. “Besok kamu pergi kan?”
“Tapi aku pasti kembali.”
Aku tersenyum ragu. Siapa pun tahu, tawaran bekerja di ibukota bagi seorang gadis desa sepertimu tak ubahnya seperti mendapat lotere berhadiah milyaran rupiah. Aku tak menyalahkanmu yang memutuskan untuk menerima tawaran itu. Yang berarti meninggalkan dusun ini. Meninggalkan aku.
“Aku janji, aku pasti kembali. Ramalan itu pasti bukan untuk aku,” tegasmu berusaha meyakinkanku.
Usahamu gagal. Aku yakin ibukota akan merubahmu, seperti ia merubah gadis-gadis lain yang sudah lebih dulu pergi dan tak pernah kembali.
*
Ternyata kamu benar. Ramalan itu bukan untukmu. Kamu bahkan tidak pernah pergi meninggalkan kampung halaman kita. Kamu berubah pikiran, dengan alasan yang hanya kamu yang tahu.
Namun ramalan langit kemarin malam juga tidak salah. Sore ini aku melihatmu, tergugu di depan sebuah batu nisan yang masih baru. Nisan yang bertuliskan Muhammad Iman. Namaku.

(selesai)

Rabu, 06 Januari 2016

Serpihan Surga Dan Negeri Di Atas Awan

Berlibur saat long weekend adalah hal yang paling saya hindari. Dengan naiknya volume kendaraan setiap tahun dan tidak bertambahnya ruas jalan membuat saya berpikiran bahwa liburan sama dengan macet. Belum lagi nanti begitu sampai di area wisata. Bukannya malah melihat obyek wisata, yang kita lihat malah pengunjung yang jumlahnya seabrek hingga menyerupai dawet. Itu sebabnya saya langsung menolak mentah-mentah ketika suami meminta saya untuk mengambil cuti sehari di hari Sabtu tanggal 26 Desember 2015 agar kami bisa pergi berlibur.
Tapi melihat argumen-argumen suami, mulai dari kesempatan tanggal merah yang jarang ada, liburan sekolah anak-anak, sampai para bosnya yang saat itu juga sedang menghabiskan natal bersama keluarga, saya menangkap adanya keinginan di matanya untuk melepaskan ketegangan kerja yang selama ini membelenggu teman hidup saya itu. Akhirnya saya pun mengalah. Saya bersedia cuti, namun dengan syarat; saya tidak mau berlibur ke tempat-tempat yang lazim didatangi, semisal Bandung, Jakarta, Batu atau Jogja, apalagi Bali.
Akhirnya suami menyebut satu lokasi; B29 Lumajang!
Oke, itu nama yang asing. Setidaknya bagi saya dan beberapa teman dekat saya. Karena kebanyakan dari mereka belum pernah mendengar nama B29, akhirnya feeling saya mengatakan inilah tempat liburan yang pas. Hanya saja, saya melakukan satu kesalahan kecil sebelum berangkat ke B29; saya tidak sempat membaca review mengenai tempat tersebut. 
Suami saya hanya memberi tahu bahwa untuk naik ke puncak B29 nanti kami akan naik ojek yang akan langsung membawa kami ke lokasi. Tanpa jalan kaki lagi. Pikir saya, berarti perjalanan ke B29 ini tidak seberat saat kami ke Penanjakan (Gunung Bromo) tempo hari. Maka saya pun memutuskan untuk tidak memakai sandal gunung (oke, ini ternyata kelak menjadi kesalahan kecil nomor 2).
Akhirnya hari Jumat pagi tanggal 24 Desember, kami pun berangkat dari Surabaya. Sempat mampir sarapan di Rawon Nguling (Probolinggo) sebelum sampai di Lumajang kurang lebih pukul sepuluh pagi. Kami langsung menuju rumah guide yang ditemukan suami saya melalui sebuah blog. Sebelum melanjutkan perjalanan ke B29, beliau menawarkan dua alternatif lokasi wisata; yakni Kebun Teh atau Air Terjun Tumpak Sewu.
Begitu saya mendengar nama air terjun, saya langsung membayangkan medan yang naik turun. Maka saya pun memilih kebun teh saja. Namun karena suami saya cenderung memilih air terjun dan si bapak guide bilang medannya bisa kok ditempuh oleh anak balita, maka saya pun tidak keberatan. Hanya saja, bapak guide tadi bilang bahwa nanti di lokasi kami akan butuh dua orang guide untuk membantu menuntun dua anak kami melewati sungai sebatas dengkul. Beliau bilang tarif guide adalah 50 ribu per orang, tapi terserah kami kalau mau menambahi sendiri.
Akhirnya kami pun berangkatlah ke lokasi air terjun Tumpak Sewu, dengan berbekal denah sederhana yang digambarkan sang guide.
Kami tiba di lokasi kurang lebih pukul satu siang (karena kami sempat mampir untuk solat Jumat dulu). Setelah membayar tiket masuk sebesar 5 ribu per orang, kami pun mulai diantar menyusuri jalan makadam menurun yang di kiri kanannya adalah kebun kopi, salak dan kelapa milik warga. Kami berjalan dengan sedikit susah payah (karena saking terjal dan curamnya. Di situlah saya merasa menyesal mengapa saya tidak memakai sandal gunung). Sambil berjalan, kami membayangkan betapa susahnya perjalanan kembalinya nanti (karena kami harus mendaki). Namun ternyata perjalanannya tidak terlalu jauh, hanya sekitar 400 m kami sudah bisa melihat panorama air terjun yang di banner selamat datang tertulis: Serpihan Surga Itu Memang Ada.
Saya rasa tulisan di banner itu tidak berlebihan. Pemandangan yang kami lihat memang sungguh luar biasa indahnya. Puluhan air terjun yang berderet-deret menyerupai tirai yang membungkus tebing-tebing berbatu, membuat saya sejenak menahan napas. Cantik. Menawan. Misterius. Duhai, inikah caranya Sang Maha Perupa menjadikan bumi ini sebagai media menunjukkan ke-Maha Indahan-Nya?  

Dari tempat kami melihat air terjun tersebut (mereka menyebut lokasi tersebut  dengan "Panorama"), kami bisa melihat di kejauhan, deretan bambu yang disusun memanjang dari atas tebing menuju ke bawah air terjun. Ternyata itu lah akses masuk menuju air terjun jika pengunjung datang dari arah Malang. Saat itu saya belum sadar bahwa jalur yang sama dengan deretan bambu juga telah menanti kami tak jauh dari lokasi kami berdiri.

Tangga Bambu di kejauhan tampak di belakang kami (kiri)

Ngomong-ngomong, kami sempat mengira bahwa titik Panorama adalah akhir kunjungan kami ke Tumpak Sewu. Hingga kami sempat berpikiran untuk apa menyewa dua orang guide dengan tarif 50 ribu per orang hanya untuk mengantar kami sejauh 400 meter dari tempat parkir yang petunjuk arahnya sudah jelas. Tapi rupanya, Panorama bukanlah akhir perjalanan. Setelah puas mengambil foto dan mengagumi keindahan air terjun Tumpak Sewu, kami pun diajak turun menuju sungai, yang berarti kami harus melalui medan yang lumayan ekstrim, yang membuat saya kian menyesal meninggalkan sandal gunung saya di rumah.
Dari hasil bincang-bincang dengan bapak guide yang sudah setengah baya dan berwajah ramah itu, tempat wisata ini memang baru dibuka lima bulan terakhir. (Kalau yang dari arah Malang sepertinya sudah lebih lama). Jadi bisa dibayangkan bagaimana sulitnya medan yang kami lalui karena masih berupa tanah yang dibentuk menyerupai anak tangga dengan pagar pengaman darurat dari jalinan bambu. Di beberapa tanjakan bahkan kami harus menuruni tangga-tangga bambu dengan tali-tali tampar yang disediakan untuk membantu kami berpegangan. Di beberapa jalur, kami bahkan harus berjalan bergantian dengan pengunjung yang datang dari arah berlawanan, karena jalannya hanya cukup untuk satu orang saja.

Salah satu medan menuju sungai di bawah air terjun
Akhirnya kami tahu mengapa kami disarankan untuk minta disediakan dua orang guide. Bukan untuk menunjukkan jalan (karena petunjuk jalannya sudah sangat jelas), melainkan untuk menggendong anak-anak kami. Adik bahkan harus digendong ketika perjalanan turun, sedangkan Kakak masih bisa berjalan sendiri hingga nyaris ke bibir sungai, walaupun mulut mungilnya mengeluarkan keluhan dan omelan akibat jalanan yang memang berat untuk ukuran anak SD kelas 3.
Saya tidak tahu dan tidak sempat bertanya berapa jauh jarak yang harus ditempuh untuk menuruni punggung bukit hingga sampai ke sungai. Yang jelas perjalanan menuruni punggung bukit itu sangat melelahkan hingga membuat lutut kami gemetaran. Untunglah sebelum turun tadi kami sempat makan dulu.
Jika perjalanan turunnya saja sedemikian melelahkan, bisa dibayangkan bagaimana perjalanan naiknya bukan? Saya menyebutnya jalur pemecah jantung. Karena begitu kita sampai di ujunng salah satu tanjakan, tanjakan berikutnya sudah menanti dan rasanya tanjakan-tanjakan itu tiada habisnya. Duhai, sedemikian susahnya kah ternyata memasuki surga? Walaupun itu hanya serpihannya saja?
Tapi saya tidak boleh mengeluh dong. Lha mau mengeluh bagaimana wong di depan mata saya ada yang jauh lebih sengsara. Siapa? Ya dua orang guide yang kami minta bantuan tenaganya untuk membopong Kakak dan Adik di punggungnya sembari melintasi jalur mendaki tanpa alas kaki! Akhirnya mana tega kami hanya memberi 50 ribu rupiah sebagai pengganti jasa mereka?
Walaupun perjalannya sedemikian melelahkan, percayalah pada saya wahai pembaca yang budiman, semua jerih payah itu terbayar lunas kok. Baik ketika di titik panorama, juga ketika naik turun menyusuri punggung bukit. Lihatlah pemandangan yang mempesona, tirai air dipadu hijaunya pepohonan. Dengarlah suara gemericik air berpadu dengan nyanyian serangga yang entah apa namanya. Rasakan belaian hawa sejuk khas pegunungan dan sejuknya air gunung yang menyapu kulit. Serta keramahan penduduk lokal yang dengan sabar menuntun dan memandu pengunjung. Semua itu nyaris tidak kita dapatkan di kota besar bukan?

Menikmati kesejukan air sungai setelah berlelah-lelah menyusuri punggung bukit
Oh ya, anak-anak bahkan sempat merasakan sensasi mandi di kebun salak di belakang rumah bapak guide berwajah ramah yang memandu kami, karena air di kamar mandi umum kebetulan habis.
Saya sendiri terus terang sama sekali tidak merasa kapok berkunjung ke Tumpak Sewu. Kelak, saya ingin kembali ke sana lagi. Tentu saja dengan persiapan yang lebih matang, semisal melakukan stretching dan jogging dulu biar badan lebih fit :D
*
 Selepas dari air terjun Tumpak Sewu, kami melanjutkan perjalanan ke tujuan kami semula; B29, Negeri di Atas Awan! Sebenarnya kami cukup percaya diri bahwa kami bisa menemukan lokasi B29. Wong sudah biasa ngebolang dan nyasar-nyasar. Tapi sang guide menyarankan agar kami memakai jasa pemandu begitu kami sampai di Senduro. Sebab beliau khawatir kami tidak bisa menemukan jalanan menuju ke desa selepas dari jalan utama. Akhirnya kami menurut saja. Tak ada salahnya memakai pemandu walau itu berarti ada additional cost untuk jasa penunjuk jalan.
Keputusan untuk memakai jasa pemandu ternyata tidak salah. Jalanan menuju desa B29 cukup meragukan, walau kami yakin kami bisa menemukannya dengan bantuan papan penunjuk jalan dan Google Map. Kami melewati jalanan perbukitan yang beberapa di antaranya cukup terjal dan curam. Dengan adanya pemandu, kami jadi lebih yakin bahwa kami tidak salah jalan dan tidak takut bertemu jalan buntu dan harus putar balik di jalanan yang berada persis di bibir jurang.
Kami sampai di desa B29 tepat ketika adzan Magrib berkumandang dan langsung diantar menuju penginapan. Yang dimaksud penginapan sebenarnya adalah rumah penduduk yang dijadikan guest house. Tempatnya cukup nyaman. Terletak di antara kebun-kebun sayur dengan fasilitas yang cukup memadai. Ada kamar mandi dan dapur. Biaya menginap juga tidak terlalu mahal. Hanya sekitar 60 ribu per kepala. Namun karena rumah tersebut terdiri dari 3 kamar dan kami harus bersedia sharing dengan penyewa lain jika ada, maka suami memutuskan untuk membooking satu rumah tersebut untuk kami sendiri saja (dengan biaya 400 ribu per malam).

Suasana Pagi Di Depan Rumah Penginapan

Kenapa kami tidak memilih menginap di hotel saja? Ya karena di sana memang belum ada hotel.
Tapi rumah sederhana itu menurut kami sudah lebih dari cukup untuk melepas lelah setelah sesiangan berjibaku di sepanjang punggung bukit nan curam demi melihat air terjun Tumpak Sewu. Hanya beberapa menit setelah menjalankan shalat Isya, makan malam seadanya dengan lauk pecel dan mie instan, kami semua sudah terlelap.
Oh ya, mengenai suhu udara di desa B29, memang tidak lebih dingin daripada suhu udara di Bromo. Setidaknya saya tidak sampai harus bertayamum atau memakai alas kaki saat ke kamar mandi, seperti yang saya lakukan di Bromo tempo hari. Tapi tetap saja, walaupun dinginnya suhu udara di B29 masih bisa tertahankan, saya masih harus mengenakan kaus kaki dan sarung tangan saat tidur.
Pukul empat lebih lima belas menit dini hari, setelah shalat Shubuh, kami sudah dijemput rombongan ojek yang akan mengantar kami ke puncak B29. Perjalanan ke sana kira-kira memakan waktu sekitar 30 menit, melalui jalanan yang curam dan terjal. Mobil pribadi sudah dipastikan tidak bisa melalui jalur ini. Jadi jika tidak ingin kelelahan, untuk menuju puncak B29, pengunjung bisa menggunakan ojek seperti kami dengan tarif 90 ribu rupiah/per ojek (untuk perjalanan pergi pulang kembali ke penginapan).
Matahari mulai terbit ketika kami masih di atas ojek. Langit yang semula gelap bergemintang perlahan mulai dihiasi semburat warna oranye di sebelah timur. Saat itu lah kami mulai bisa melihat pemandangan sekeliling yang ternyata ngeri-ngeri memukau. Kami baru sadar bahwa jalanan yang sedari tadi kami lalui tidak hanya berbatu dan terjal, namun juga hanya berjarak beberapa puluh senti dari bibir jurang. Namun punggung bebukitan yang hijau serta ladang-ladang sayur yang tampak dalam keremangan cahaya pagi membuat suasana pagi itu terasa misterius. Untuk sesaat saya seakan berada di dunia lain. Hingga suara mas Slamet, sang supir ojek, yang mengingatkan agar saya duduknya tidak miring-miring karena saat itu angin bertiup cukup kencang, membuyarkan lamunan saya. Demi mendengar suara peringatannya dan jurang yang berada tak jauh dari telapak kaki saya membuat saya kembali berkonsentrasi pada bacaan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang sedari tadi saya gumamkan dalam hati. Aneka perasaan semacam pasrah, takjub dan excited bercampur baur.
Sampai di puncak B29, rupanya kami kurang beruntung. Gumpalan awan menutupi puncak B29 sehingga kami nyaris tidak bisa melihat apa-apa. Lantas suami memutuskan agar kami melanjutkan ke P30. Dari namanya, sudah bisa diduga bahwa P30 berlokasi di tempat yang lebih tinggi lagi.
Oya, nama B29 berarti desa di atas Bukit dengan ketinggian 2900 meter di atas permukaan air laut. So, P30 berarti berlokasi 100 meter lebih tinggi lagi. Untuk menuju ke sana, lagi-lagi kami harus menaiki ojek sejauh 2.5 kilometer (sekitar 15 menit perjalanan). Medannya sudah lebih landai ketimbang saat menuju puncak B29, hanya saja sudah tidak ada lagi jalanan beraspal atau berpaving seperti sebelumnya. Jalan yang kami lewati benar-benar hanya cukup dilewati satu sepeda motor melewati gerumbulan tanaman gunung yang daun dan rantingnya menampar-nampar tubuh kami ketika kami melintas. Karena jalan yang cukup sempit itu, jika kebetulan ada sepeda motor lain yang datang dari arah berlawanan, maka salah satu motor harus rela menunggu sembari meminggirkan motornya ke arah rerimbunan tumbuhan.
Saat kami ke sana, Gunung Bromo sedang "batuk". Itu sebabnya area di sekitarnya (termasuk B29) pun terpapar abu gunung. Kami cukup beruntung karena saat kami ke sana, angin sedang berbaik hati untuk tidak meniupkan gumpalan abu vulkanis Bromo ke arah B29 dan P30. Kami juga beruntung selama di sana, hujan tidak turun, sehingga medan yang kami lalui tidak licin.
Nah, begitu kami sampai di P30, rupanya cuaca pagi masih belum mau bersahabat. Sepanjang mata memandang, kami hanya bisa melihat kabut putih. Kami tak berlama-lama berada di sana karena Kakak tiba-tiba menggigil kedinginan. Setelah mengambil foto sebentar, kami segera turun kembali ke puncak B29 dengan harapan cuaca di sana segera membaik sehingga kami bisa melihat pemandangan. Di sana juga ada beberapa warung agar Kakak bisa menghangatkan diri dengan menghirup teh hangat.
P30 dan kabut yang menyelimutinya
Alhamdulillah. Setelah beberapa menit menunggu di warung kopi sembari menghangatkan diri. Kabut pun mulai sirna dan pemandangan Gunung Bromo dan sekitarnya mulai tampak. Dari Puncak B29 kami bisa melihat dengan jelas erupsi Gunung Bromo dengan gumpalan abu vulkanis yang terus menerus merangsek keluar dari dalam perut gunung.
Erupsi Gunung Bromo
Puncak B29 Ketika Kabut Mulai Tersingkap



Kami kembali dimanjakan oleh pemandangan yang mempesona ketika dalam perjalanan kembali ke penginapan. Pemandangan yang membuat kami enggan meninggalkan Negeri Di Atas Awan.
Tapi kami tahu diri kok. Walau tempat ini sedemikian cantiknya, we are not belong to this place. Tumpukan tanggung jawab dan tugas-tugas sudah menanti kami di Surabaya.
Tapi setidaknya, kami telah membawa beberapa potong kenangan. Tentang serpihan surga dan segala tantangannya untuk menuju ke sana. Tentang negeri di atas awan dan penduduknya yang ramah. Tentang tangan Tuhan yang menjadikan semesta ini menjadi kanvas yang dilukis dengan indah.
Potongan-potongan memori itu akan selalu membuat kami ingat, ke mana kami harus pergi, jika kelak di Surabaya, kami mulai jenuh oleh segala rutinitas.
Panorama Desa B29




Gunung Semeru Tampak di Belakang


Nah, untuk temen-temen yang ingin berkunjung ke Negeri Di Atas Awan, silahkan menghubungi nomor-nomor di bawah ini untuk mendapatkan informasi seputar B29. Mulai dari arah-arah menuju ke sana, penginapan sampai penyediaan tenda untuk berkemah jika seandainya temen-temen berniat camping di sana.

Mas Slamet, ia penduduk B29 sekaligus pemandu kami selama di sana. Bisa dihubungi di 0822-3086-9122.


Pak Mashudi, beliau adalah guide yang ditemukan suami saya melalui sebuah blog. Bisa dihubungi di 081234-92918.

Happy Vacation, teman-teman...!!! ^-^

Kamis, 04 Juni 2015

[Cerpen] Kala Rau


Jika ada yang menyamai badai amuk yang menggelora dalam dada Ni Luh Abhilasha saat ini, mungkin itu adalah amarah yang dirasakan Kala Rau ketika mendapat hukuman dari Dewa Wisnu.
Abhilasha sadar dia tidak sepenuhnya benar. Dia tahu ia telah melakukan sebuah kesalahan. Tapi kesalahannya itu terlalu kecil dibanding hukuman yang kini harus diterimanya. Sama dengan Kala Rau, yang harus menanggung konsekuensi berat karena ingin mencicipi tirta amerta.
Tragedi yang dialami Kala Rau itu bermula saat Dewa Wisnu tengah membagi-bagikan Tirta Amerta bagi para dewa. Nyaris tak ada seorang pun mengetahui bahwa di antara barisan dewa-dewa yang menunggu pembagian Tirta Amerta adalah Kala Rau yang menyamar. Sialnya, ada seseorang yang menyadari hal itu. Dia lah Dewi Ratih, yang langsung mengadu pada Dewa Wisnu. Akibatnya, Kala Rau harus menerima konsekuensi yang sangat berat. Cakram Dewa Wisnu memenggal lehernya tepat ketika Tirta Amerta sempat mengaliri tenggorokannya. Tubuh bagian bawah Kala Rau pun mati, namun kepalanya tetap hidup dan terus melayang-layang di angkasa.
Alangkah kesalnya Kala Rau. Ia tak mengerti mengapa para dewa itu bisa begitu arogan dan merasa mereka lebih mulia ketimbang golongan raksasa seperti dirinya.
Apakah para dewa itu sudah lupa dari mana asal tirta amerta? Apakah mereka lupa bahwa berkat bantuan para raksasa, tirta amerta beserta harta karun yang bersemayam dalam lautan susu di Sangkadwipa akhirnya muncul di permukaan? Apakah mereka tidak ingat ketika mereka bekerja sama memindahkan Gunung Mandara dan mengikatnya pada tubuh Naga Besuki demi mengaduk lautan susu? Apakah mereka lupa bahwa harta karun yang ada dalam perut lautan juga telah mereka kuasai tanpa sedikit pun menyisakannya untuk para raksasa? Kini, setelah tirta amerta berhasil mereka dapatkan, mengapa hanya para dewa yang boleh menikmati air keabadian tersebut? Apakah karena para dewa memiliki derajat yang lebih tinggi, yang membuat para raksasa seperti Kala Rau tidak boleh menikmati segala keistimewaan yang dimiliki para dewa?
Ketidakmengertian Kala Rau itu sama dengan yang dialami Ni Luh Abhilasha saat ini. Apakah karena terlahir di tingkatan kasta yang berbeda, maka ia tidak boleh sedikit saja merasakan kesenangan seperti yang dirasakan oleh Gusti Amita?
Abhilasha sering bertanya-tanya dalam hati, sekalipun segala kemewahan yang ada di sekitarnya ini bukanlah haknya, apakah ia tidak boleh mencicipi sedikit saja? Bukankah ia dan Gusti Amita sama-sama perempuan Bali yang hidup jauh dari kampung halaman? Apakah Gusti Amita yang dipersunting pengusaha kaya ibukota membuatnya menjadi lebih mulia ketimbang Abhilasha yang terpaksa menerima pinangan lelaki yang dahulu pernah berusaha memperkosanya di tepian Danau Kintamani?
Dulu, ketika hendak dinikahkan dengan lelaki itu, Abhilasha sudah berusaha meyakinkan orang tuanya bahwa lelaki itu bukan lelaki yang baik. “Dia laki-laki bajingan yang hendak memperkosaku!” serunya dengan bulir air mata yang terus menganak sungai di pipinya.
Tapi mana ada yang percaya padanya? Demikian juga dengan orang tuanya. Mana mungkin anak lelaki pemilik kebun jeruk paling luas di desa mereka itu hendak memperkosa anak buruh tani miskin seperti Abhilasha? Alih-alih melindungi putri mereka, kedua orang tua Abhilasha malah memarahinya karena merasa Abhilasha telah menggoda anak lelaki orang. Tak ada satu pun yang percaya bahwa sekalipun lelaki itu rajin pergi ke Pura, sesungguhnya ia tidak sesaleh penampilannya. Sayangnya, ketika kata-kata Abhilasha terbukti benar, semuanya sudah terlambat.
Setelah keduanya menikah, lelaki itu ternyata kerap menyiksanya dan lantas pergi entah kemana, meninggalkan Abhilasha yang tengah hamil muda.
Demi para dewa di nirwana, wanita mana yang sudi melahirkan bayi tanpa suami? Apalagi anak itu adalah anak dari lelaki yang dibencinya setengah mati. Sungguh, Abhilasa tidak sudi. Maka dari itu, segala jenis ramuan dan jamu dia tenggak, berharap Dewa Brahma mengambil kembali bayi dalam rahimnya. Tapi rupanya Dewa Brahma berkehendak lain. Bayi itu lahir dengan satu daun telinga yang tak sempurna.
Namun bayi itu dikaruniai mata cantik yang bersinar laksana kejora di langit malam, membuat Abhilasha yang remuk raga dan hatinya tidak bisa tidak jatuh hati pada bayi yang dulu hendak dibuangnya itu. Ia memberinya nama Luh Putu Dewi Swastika.
Abhilasha baru saja bertekad untuk membuka lembaran baru dengan berjuang menjadi ibu yang baik bagi Swastika, ketika lagi-lagi orang tuanya berniat menikahkannya lagi dengan pria lain.
Trauma. Kesengsaraan yang dialaminya di pernikahan sebelumnya menorehkan bekas luka yang tak pernah tersembuhkan. Abhilasha yang tak mampu menolak kehendak orang tuanya memilih melarikan diri dengan sebelumnya meletakkan Swastika yang masih berusia beberapa bulan di depan pintu panti Asuhan. Ia berjanji dalam hati, kelak jika mempunyai bekal yang cukup untuk hidup mandiri, ia akan kembali untuk menjemput Swastika.
Tahun-tahun berlalu. Kehidupan yang penuh cahaya terang tak pernah mendekati Abhilasha. Setelah berganti-ganti pekerjaan, mulai dari berdagang jeruk Bali sampai menjadi tukang pijat di Legian, perempuan yang kecantikannya mulai memudar tergerus kejamnya hidup itu kini terdampar di ibukota. Di sebuah rumah mewah di bilangan Kelapa Gading. Di rumah milik seorang pengusaha mebel dan ukir-ukiran khas Bali itu lah, untuk pertama kalinya Abhilasha berjumpa dengan Gusti Amita, sang nyonya rumah.
Dulu Abhilasha berpikir, dengan bekerja di rumah orang yang dimiliki orang yang sekampung dengannya, ia akan mendapat perlakuan lebih baik. Nyatanya tidak begitu. Bagi Gusti Amita, Abhilasha tetaplah seorang babu.
*
Alangkah beruntungnya perempuan itu, batin Abhilasha tiap kali melihat nyonya rumahnya yang setiap hari selalu berpenampilan layaknya artis-artis sinetron yang kerap ia lihat di televisi. Ia tahu, jika ditotal, benda-benda yang dikenakan Gusti Amita bisa bernilai puluhan juta rupiah. Sungguh jauh berbeda dengan dirinya yang hanya mengenakan pakaian seadanya yang sudah tidak jelas warna aslinya.
Abhilasha juga selalu iri melihat bagaimana mesranya hubungan Gusti Amita dan suaminya. Sungguh, Abhilasha juga seorang perempuan. Ia juga ingin ditatap dengan pandangan penuh cinta oleh lelaki yang juga menghujaninya dengan kemewahan, layaknya suami Amita yang selalu menggamit mesra lengan istrinya setelah mereka makan malam.
Di kamarnya yang lembab dan sempit, Abhilasha kerap membayangkan apa yang keduanya lakukan di kamar mereka yang luas dan berpendingin udara setelah makan malam. Gusti Amita pastilah mendapatkan sentuhan penuh cinta dan kenikmatan tiada tara dari suaminya yang tampan dan gagah.
Sungguh, Abhilasha juga menginginkan itu. Ia juga perempuan biasa yang seumur hidup tidak pernah merasakan sentuhan lelaki yang memandangnya dengan pandangan seolah ia adalah seorang Dewi. Yang ada, adalah sentuhan beringas mantan suaminya yang hanya sekedar menitipkan benih di rahimnya lantas pergi. Atau sentuhan lelaki-lelaki nakal di pasar yang meremas payudaranya ketika ia berjualan jeruk Bali. Atau tindihan lelaki-lelaki di panti pijat yang disertai dengan hembusan napas serupa banteng jantan yang tengah birahi.
Abhilasha tak mengerti, mengapa nasib manusia bisa sedemikian berbeda? Bukankah ia dan Gusti Amita diciptakan oleh Tuhan yang sama? Bukankah ia dan Gusti Amita sama-sama pergi ke Pura untuk menyembah Tuhan yang sama?
Apakah ia telah berbuat dosa yang membuat murka para Dewa? Ataukah ia terkena karma akibat dosa yang telah diperbuat oleh leluhurnya? Atau apakah memang ia telah ditakdirkan menjadi manusia yang tak pernah bergelimang cahaya seperti yang dirasakan Gusti Amita?
Ah, betapa bahagianya menjadi perempuan yang memiliki segalanya seperti Gusti Amita. Perempuan itu cantik, bahkan tanpa pulasan make up dan benda-benda mahal yang menempel di tubuhnya. Perempuan itu hidup enak, bermandikan kemewahan dan tak pernah merasakan panas dan bersimbah keringat karena bekerja keras sepanjang hari seperti Abhilasha. Perempuan itu bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan dengan mudah, tidak seperti Abhilasha yang harus banting tulang sepanjang hari demi kehidupan yang lebih baik dan modal untuk membawa kembali Swastika ke pelukannya.
Begitu teringat Swastika, lagi-lagi hati Abhilasha didera rasa iri. Tidak seperti dirinya yang harus rela berjauhan dengan putri kecilnya, alangkah beruntungnya Gusti Amita bisa berdekatan sepanjang hari dengan gadis kecilnya yang juga bermata serupa kejora di langit malam, Salila.
Perempuan mana yang tidak ingin menjadi Gusti Amita? Abhilasha pun ingin. Tapi ia tahu diri. Di rumah ini, ia tak lebih dari seorang babu. Maka dari itu ia, selama ini tak berani menyentuh barang-barang milik Gusti Amita, sekalipun ia ingin sekali mencoba mengenakan lingerie seksi seperti yang dijemurnya pagi ini, sembari membayangkan bagaimana jika ia mengenakannya di hadapan lelaki yang memandangnya seperti memandang seorang bidadari. Abhilasha juga setengah mati menahan diri untuk tidak mencoba mengenakan kebaya mahal yang semalam baru saja dipakai Gusti Amita ke resepsi pernikahan. Ia hanya bisa mengaguminya sejenak, sebelum dengan hati-hati melipatnya dan memasukkannya ke dalam plastik untuk di-dry clean di laundry.
Tapi hari ini, ia ingin sekali, mencicipi kebahagiaan yang dimiliki Gusti Amita. Walaupun sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak melakukan itu. Bukan, Abhilasha tidak ingin macam-macam. Ia toh tidak menginginkan perhiasan bertatahkan batu-batu mulia yang membuat kecantikan Gusti Amita kian bersinar. Ia juga tidak menginginkan memakai pakaian bagus dan make up mahal milik Gusti Amita.
Ayolah, tidak apa-apa. Ini hanya beberapa tetes minyak wangi. Abhilasha tidak bisa melawan dorongan dari dalam dirinya untuk meraih botol eau de perfume di atas meja rias sang nyonya rumah. Botol kristal berbentuk bulat berisi minyak wangi beraroma melati dan jeruk itu membuat Abhilasha ingin mencoba menyeprotkannya ke tubuhnya sendiri, berharap aroma tubuhnya yang didominasi aroma keringat, detergent dan obat pel desinfektan itu menjadi lebih mendingan.
Abhilasha menggenggam botol kristal itu dengan tangan gemetaran. Seumur hidupnya, itu lah benda termahal yang pernah dipegangnya. Dengan ragu tapi penuh rasa ingin tahu, dicobanya menyemprotkan minyak wangi itu di balik telinganya, seperti yang sering ia lihat di televisi. Seumur-umur, Abhilasha tidak pernah menyemprotkan minyak wangi. Tawas murahan yang dibelinya di toko kelontong adalah satu-satunya andalannya untuk mencegah bau badan. Bedak talk saja ia tidak pernah menggunakan, apalagi minyak wangi mahal yang hanya bisa diperoleh di luar negeri.
Kemudian ia juga menyemprotkan satu semprotan lagi di bawah telapak tangannya dan menggosokkannya dengan bawah telapak tangan yang satunya. Dihirupnya dalam-dalam lembutnya melati bercampur segarnya citrus.
Untuk sesaat, aroma itu seolah menghipnotisnya. Untuk sesaat, ia merasa bukan menjadi Abilasha yang seorang babu. Ia perempuan gedongan yang bergelimang perhiasan dan kemewahan.
Khayalannya itu membuat Abilasha tak sadar bahwa Gusti Amita sudah berdiri di depan pintu. Memandangnya dengan tatapan jijik.
“Berani-beraninya kamu menyentuh barang-barang saya!” bentak Gusti Amita, membuat Abhilasha terkesiap dan tak sadar menjatuhkan botol minyak wangi yang harganya bisa dipakai untuk membeli beras selama setahun.
Pyar! Seluruh isi botol kristal itu berhamburan dan menguarkan aroma pewangi ke seluruh penjuru kamar. Bau yang harum itu membuat perut Abhilasha mual. Bukan karena harumnya terlalu tajam mencucuk hidungnya, namun karena bau itu seolah menghipnotis Gusti Amita menjadi seperti seorang raksasa yang murka. Abhilasha tak kuasa memandang Gusti Amita yang memandangnya dengan ekspresi seperti raksasa yang hendak menelannya bulat-bulat.
Sang nyonya rumah murka luar biasa. Bukan karena ia harus merelakan minyak wanginya pecah berantakan. Bukan itu, karena toh dia bisa mendapatkan berbotol-botol minyak wangi yang sama hanya dengan menggesekkan kartu plastik di pusat perbelanjaan. Yang membuat Gusti Amita meradang adalah karena ia tidak rela kehormatannya sebagai nyonya rumah ternoda oleh ulah pembantunya. Sebab nyonya rumah mana yang rela jika penampilannya disamai oleh si pembantu rumah tangga?
“Kamu harus ganti itu. Sebagai hukuman, gaji kamu tiga bulan lalu tidak akan saya bayar dan tiga bulan ke depan, kamu tidak dibayar!” bentak Gusti Amita lagi, membuat tubuh Abhilasha yang tadinya gemetar ketakutan luruh ke lantai seolah kehilangan tulang-tulang penyangga tubuh. Ketakutannya berubah menjadi kesedihan. Dan kesedihannya perlahan menjadi amarah.
Alangkah teganya Nyonya Gusti Amita. Alangkah tidak adilnya para Dewa.
Mendadak Abhilasha merasa ia seperti kisah Kala Rau yang harus merelakan tubuh dan kepalanya terpisah karena terkena cakra Dewa Wisnu. Hanya karena ia ingin mencicipi Tirta Amerta, Kala Rau harus mendapat murka Dewa Wisnu. Sungguh tak sebanding.
Menurut cerita yang didengar Abhilasha saat masih kanak-kanak, sebagai bentuk balas dendam, Kala Rau tak henti-hentinya mengejar Dewi Ratih, Dewi yang ia anggap sebagai biang keladi terpisahnya tubuh dan kepalanya. Ketika Dewi Ratih sang dewi bulan itu tertangkap, Kala Rau segera menelannya bulat-bulat. Walau Dewi Ratih selalu dapat meloloskan diri karena perut dan kepala Kala Rau yang sudah terpisah, namun momen saat Kala Rau menelan Dewi Ratih itu dipercaya sebagai penyebab terjadinya gerhana bulan.
Kini Abhilasha paham, mengapa Kala Rau sedemikian murka, sebab ia pun saat ini merasakan hal yang sama. Hukuman yang ia terima sama sekali tak sebanding dengan kesalahan yang ia lakukan. Padahal ia tadi hanya ingin mencoba setetes dua tetes minyak wangi. Hanya itu. Tidak lebih. Sungguh kelakuannya tadi seharusnya tidak membuat nyonya rumahnya merugi. Hanya setetes dua tetes minyak wangi, apakah itu artinya dibanding dengan tumpukan berlian yang ada dalam lemari besi yang selalu terkunci? Ah, seandainya Gusti Amita tidak tiba-tiba muncul dan mengagetkannya, pastilah botol minyak wangi itu masih utuh hingga kini.
Abhilasha tak bisa mencegah dendam yang mulai membara di hatinya. Ia tak terima diperlakukan seperti itu dan untuk itu, Gusti Amita harus mendapat balasannya.
Gusti Amita harus merasakan seperti apa rasanya gerhana. Dia harus tahu bagaimana rasanya jika cahaya yang di sekitarnya diambil secara paksa. Dan Abhilasha tahu, salah satu cahaya yang dimiliki Gusti Amita adalah Salila, gadis kecil bermata laksana kejora yang bersinar di langit malam.
Abhilasha bukannya membenci Salila. Ia pun sangat menyayangi gadis kecil itu, karena gadis itu mengingatkannya akan Swastika. Namun hari ini amarahnya sungguh tak terkendali. Ia tahu, ia terlalu lemah untuk melawan Gusti Amita. Dan satu-satu cara untuk menyakiti nyonya rumahnya itu adalah melalui orang-orang yang dicintainya. Salila salah satunya.
Malam itu, ketika membuatkan segelas susu untuk Salila, Abhilasha membubuhkan racun ke dalamnya. Ia tak perlu menunggu terlalu lama ketika Salila roboh dan kejang-kejang dengan mulut berbusa. Senyum puas tersungging di bibirnya.
Ia mungkin tak akan bisa lepas dari kecurigaan jika ketahuan bahwa kejadian yang menimpa Salila adalah akibat racun. Tapi setidaknya ia sudah puas, karena apa yang menimpa Salila hari ini sudah pasti akan merenggut cahaya yang dimiliki Gusti Amita.
Lagi-lagi, Abhilasha dapat merasakan kepuasan yang dirasakan Kala Rau ketika berhasil menelan Dewi Ratih.
Ketika Salila roboh, rambutnya tersingkap dan Abhilasha bisa melihat jelas telinga dan tengkuk Salila yang selama ini tertutup rambut.  Ia melihat sesuatu yang sukar dipercaya. Senyum puas di wajahnya menghilang, berganti cemas dan pias.
Salila yang cantik dan bermata jernih seperti bintang kejora itu ternyata memiliki daun telinga yang sama tak sempurnanya dengan daun telinga bayi kecilnya dulu. Tapi bukan hanya itu yang membuat Abhilasha tertegun. Salila juga mempunyai tanda lahir dengan bentuk yang unik tepat di tengah tengkuknya. Ya, Abhilasha tak mungkin salah, itu tanda lahir dengan bentuk dan posisi yang sama dengan yang dimiliki bayi perempuannya. Tanda lahir berbentuk swastika dan membuat Abhilasha memilih nama simbol itu untuk menamai bayi mungil yang dulu ia letakkan di panti asuhan.


-selesai-
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)