Rabu, 26 Juni 2013

Catatan #10. Persiapan Mental Sebelum ke Tanah Suci



Umrah adalah ibadah fisik. Oleh karenanya, yang disiapkan bukan hanya sekedar uang saku dan barang bawaan saja, melainkan juga mental yang kuat. Kenapa saya bilang gitu? Sebab, di tanah suci nanti bisa jadi Anda akan melihat, mendengar dan mengalami banyak hal baru yang di luar dugaan, terutama bagi yang baru pertama kali melaksanakan ibadah Umrah.
So, silahkan simak tulisan berikut ini. Harapan saya, mental Anda bisa lebih kuat selama menjalani ibadah di tanah suci. Hyuk, mari, cekidot;
1.                  Umrah bukan sekedar ke Singapura
Kalau Singapura mah, dekettt...Saya sendiri belum pernah ke sana sih, cuman kalau ke Batam pernah. Jadi saya bisa perkirakan waktu dan jarak yang harus ditempuh jika hendak ke Singapura. Lha kalau Arab?, apalagi kalau menyangkut tempat yang tidak ada lapangan terbangnya? (baca; Mekkah). Bisa dibayangkan bagaimana rasanya menghabiskan waktu menjelajah sebagian permukaan bumi menuju ke tempat dengan perbedaan waktu 4 jam.
Capek. Pake banget. Itu yang saya rasakan saat berada dalam perjalanan berangkat maupun pulang. Apalagi waktu itu kami memilih rute via Hongkong, jadi waktu yang diperlukan untuk mencapai Mekkah menjadi semakin panjang. Berikut ini perincian waktu tempuh Surabaya-Mekkah.
-          4 jam terbang ke Hongkong
-          10 jam transit di Hongkong (ditaruh di Hotel/City Tour)
-          7 jam terbang ke Dubai
-          2 jam transit di Dubai (menunggu di pesawat)
-          2 jam terbang ke Jeddah
-          1 jam transit di Jeddah (untuk makan siang dan shalat Dhuhur)
-          1 jam ke Mekkah (via Bus)
(belum termasuk acara nunggu-nunggu di Bandara dan urusan imigrasi)

Total; 27 jam. Kami berangkat hari Senin pagi jam 8 (WIB), dan tiba di Mekkah hari Selasa sore pukul 3.30 sore (WSA).
So, saran saya persiapkan mental dan fisik sebaik-baiknya. Sekalipun makanan, minuman dan sarana hiburan cukup melimpah dalam pesawat, tetap saja perjalanan menuju ke Arab Saudi adalah perjalanan yang melelahkan. Apalagi bagi para manula.
Sebaiknya pilihlah rute yang langsung direct ke Arab Saudi ketimbang seperti kami yang harus transit terlebih dahulu di Hongkong.  
Terakhir, jagalah suasana hati agar tetap gembira. Karena jika hati sedang gembira, kepenatan fisik tidak akan terlalu dirasa.

2.                  Hati-hati dengan barang bawaan
Tour leader kami sempat berpesan sebelum berangkat; “Di Mekkah, keturunan Rasulullah sangat banyak, tapi keturunan Abu Lahab juga banyak”.
Maksudnya, di tanah suci sekalipun, tidak sedikit orang-orang yang berniat buruk. Jadi, berhati-hatilah dengan barang bawaan Anda, terutama benda berharga.
Jika hanya ingin ke masjid, sebaiknya letakkan barang bawaan dalam deposit box yang tersedia di kamar hotel.
Jika ingin berbelanja (Mekkah dan Madinah adalah surga belanja bagi para peziarah), selalu letakkan tas Anda di depan badan, sehingga dia selalu berada dalam pantauan Anda.
Jangan naik taxi jika Anda tidak mengenal medan, apalagi jika Anda seorang perempuan. Saya banyak mendengar cerita yang menyeramkan seputar taxi dan perempuan. Konon, jika si perempuan naik taxi terlebih dahulu atau turun belakangan, si pengemudi taxi langsung memacu mobilnya dan membawa kabur si perempuan. Hiii...bisa dibayangkan mereka hendak dibawa ke mana.
Ada keluarga teman saya yang mengalami hal tersebut dan tidak kembali hingga kini. Ada juga yang kembali, namun tentu saja sudah mengalami hal-hal yang traumatis. Na’udzubillahimindzalik....
Salah seorang jamaah rombongan kami juga mengalami hal yang tidak mengenakkan. Dia, seorang laki-laki, bepergian sendiri dengan taxi, kemudian di tengah jalan, sopir taxi memaksanya untuk menyerahkan seluruh uangnya dan kemudian menurunkannya di tengah jalan. Syukurlah dia masih bisa kembali ke hotel walau dalam keadaan shock.
So pembaca sekalian, jangan berpikiran bahwa karena Anda sedang berada di tanah suci maka semua penduduknya adalah orang suci. Tetaplah waspada, apalagi sudah jamak diketahui bahwa para jamaah haji dan umrah biasanya membawa uang yang cukup banyak.
  
3.                  Thawaf di tengah hari
Selama di Mekkah, saya menjalani beberapa kali thawaf di waktu-waktu yang berbeda; sore (menjelang Maghrib), malam (antara Maghrib dan Isha’), dini hari (sebelum shubuh) dan siang hari (setelah shalat Zhuhur). Dan, bagi saya, yang paling nyaman adalah di siang hari.
Yes, betul, saat matahari sedang berada di titik tertingginya, saat udara sedang panas-panasnya, saat sedang silau-silaunya. Justru saat itulah saya merasa paling khusyu’ melaksanakan thawaf. Kenapa? Pertama, pelataran Ka’bah tidak terlalu padat (so, kalau mau foto-foto di depan Ka’bah masih sangat memungkinkan, hehe). Kedua, multazam (salah satu tempat yang ijabah, antara Rukun Hajar Aswad dan pintu Ka’bah) juga tidak terlalu padat, sehingga kita masih bisa melakukan shalat sunnah dan berdoa berlama-lama di sana tanpa perlu mendengar teriakan dan bentakan para laskar.
Jika anda melakukan thawaf di siang hari, saran saya, gunakan kaca mata hitam.
Tutup kepala Anda dengan sajadah atau kain tipis untuk mencegah agar kulit tidak gosong (kecuali bagi laki-laki yang sedang berihram tidak boleh melakukannya).
Bawalah tissue atau sapu tangan untuk mengelap keringat (dan atau air mata). Kami melakukan thawaf Wada’ di siang hari, sehingga keringat dan air mata pun campur baur.

4.                  Memperjuangkan shaf
Tidak berlebihan kalau ada yang bilang, haji dan umrah sama dengan berjihad. Luasnya Masjidil Haram tidak menjamin Anda bisa mendapatkan tempat di dalam masjid jika hendak menunaikan shalat fardhu berjamaah.
Lha, siapa coba yang nggak ngiler dengan iming-iming pahala 100.000 kali untuk sekali shalat di Masjidil Haram? Jadi tidak mengherankan, kalau seluruh umat Muslim dari segala penjuru dunia tumplek blek di Masjidil Haram untuk shalat fardhu berjamaah.
Kami selalu mengusahakan agar sudah berada di dalam Masjid setidaknya setengah jam sampai satu jam sebelum adzan berkumandang. Supaya kami bisa lebih leluasa memilih tempat shalat.
Pekara shaf ini, banyak hal yang menarik. Banyak jamaah yang datang agak terlambat, sehingga harus memohon-mohon untuk diberi shaf. Ada juga yang tanpa ba bi bu, langsung main serobot. Yang diserobot ada yang mengalah, ada juga yang tidak mau mengalah. Ada juga yang langsung menggelar sajadah di depan orang yang sudah lebih dulu datang, sementara yang dibegitukan cuman bisa bengong sambil menoleh kiri kanan tanda kebingungan.
Kalau saya sih Alhamdulillah tidak pernah menyerobot, tapi kalau diserobot sering, haha... Gapapalah, soalnya yang menyerobot kan saudara-saudara saya juga sesama Muslim. Hehe...
Oya, Alhamdulillah kami mengalami shalat Jumat di Masjidil Haram. Nah, kalau untuk shalat Jumat, aturan berangkat satu jam sebelum adzan tidak berlaku. Mengapa? Karena saat shalat Jumat, yang datang ke Masjidil Haram tidak hanya para jamaah Umrah, melainkan juga warga kota Mekkah sendiri (hari Jumat adalah hari libur). Jadi bisa dipastikan Masjidil Haram akan sangat padat. Karena ingin mendapatkan tempat di dalam Masjid, kami berangkat jam 9 pagi! (padahal Adzan Zhuhur sekitar jam 12 an).

5.                  Atur pola minum dan berlatih berwudhu dengan air yang sedikit
Toilet di Masjidil Haram jumlahnya memang banyak. Anda dipastikan tidak perlu mengantri jika hendak menunaikan hajat. Cuman masalahnya tempatnya itu lo, jauhnya minta ampun. Toilet berada di pelataran luar Masjid. Jadi kalau Anda ingin buang air, lumayan juga jarak yang harus ditempuh. Apalagi jika Anda sudah terlanjur berada di dalam, biasanya akan malas untuk ke toilet. Letak toiletnya pun berada di basement dan untuk menuju ke sana, anda harus melewati eskalator.
Jadi saran saya, jika hendak shalat di Masjid, usahakan untuk tidak minum terlalu banyak.
Yang paling penting, dalam hal ini, mintalah pertolongan dari Allah untuk membantu menunda dorongan dari kandung kemih (pipis) maupun dari saluran pencernaan (pup).
Sebab saya pernah tu ngalamin, pas Masjid lagi padat-padatnya menjelang shalat Jum’at, saya kebelet pipis. Maklum, nunggunya kan dari jam 9 tuh. Selama itu kan kerjaan saya wiridan, ngaji dan ngobrol ngalor ngidul, haha. Haus kan? Makanya botol tupperware setengah literan saya sampai habis bis bis. Alhasil, kebelet pipis lah saya pas jarum jam menunjukkan pukul setengah 12 siang. Masha Allah....mustahil saya bisa keluar Masjid karena jalan masuk dan tangga sudah dipenuhi jamaah, laki-laki pula. Kalaupun saya bisa keluar, mustahil saya bisa kembali ke dalam sebelum waktu shalat dimulai.
Ya sudah akhirnya saya pasrah dan hanya bisa mengucap “Laa haula wala quwwata illa billahi” saja. Alhamdulillah, hingga shalat Jum’at selesai dan disambung Thawaf wada’, rasa kebelet pipis itu tidak lagi muncul.
Kalau hanya sekedar batal wudhu karena kentut, mulailah belajar untuk berwudhu menggunakan air zamzam. Tidak usah yang komplit, cukup kerjakan rukun wudhu sesuai QS Al Maidah ayat 6, yakni niat, membasuh muka, membasuh kedua tangan sampai siku, mengusap sebagian kepala dan membasuh kaki hingga mata kaki. Semua itu bisa dilakukan dengan menggunakan air zamzam.
Jadi saran saya, selalu sediakan air dalam tas Anda. Dan, berlatihlah berwudhu menggunakan air yang terbatas tanpa membasahi tempat shalat Anda.

Copet dan Dompet


Jamal melompat turun dari bis kota berbarengan dengan puluhan penumpang lain. Hatinya langsung dilingkupi amarah saat meraba saku celananya.
“Sial, kecopetan!”. Jamal menoleh kiri kanan dan mendapati seorang laki-laki tengah membuka dompet berwarna coklat dengan ornamen rantai. “Itu dia!”.
“Copet!! Copet!!”, Jamal berteriak sambil menuding-nuding lelaki itu.
Terkejut lelaki itu melihat banyak orang tiba-tiba mengejarnya. Spontan dia berbalik dan lari. Tapi dia kurang cepat. Lelaki itu merasa lengan bajunya ditarik dan badannya terbanting ke atas aspal.
“Bag! Bug! Bag! Bug!”, lelaki itu menerima pukulan dan tendangan di sekujur tubuhnya, berkali-kali. Teriakan kesakitannya tenggelam oleh amuk massa.
Lelaki itu meringkuk menahan sakit dan sudah hampir tak sadarkan diri tatkala samar-samar ia melihat Jamal, lelaki yang fotonya ada dalam dompet coklat yang tadi dipegangnya.
“Dompetnya...Mas...tadi jatuh...di sana...”, bisiknya, sebelum kesadarannya benar-benar hilang.

-selesai-

Senin, 24 Juni 2013

Kakus



“Alhamdulillah Mak, sudah datang!!!”
“Apa ne Le?”, Emak bingung melihat kehebohanku.
“Keramik, bak mandi, jamban. Sebentar lagi desa kita punya kakus, dibuatkan Pak Broto. Emak ndak usah lagi jauh-jauh ke kali”. Emak mendengar penjelasanku dengan wajah sumringah. Tangannya mengelus-elus kakinya yang sering terserang rematik.
Senyum Emak membuatku membayangkan senyum Yu Minah yang baru saja melahirkan bayi kembar tiga. Juga senyum Mbah Sri yang baru kena stroke dan lumpuh separuh.
“O ya Mak, Pak RW bilang, nanti waktu pemilu, contreng Pak Broto yo”. Emak manggut-manggut.
Jarum jam terus berputar. Euforia pesta demokrasi sudah usai berbulan-bulan yang lalu. Namun material pembuat kakus yang dulu datang masih tertumpuk di halaman balai RW tanpa sempat tersentuh pasir dan semen. Yu Minah juga sampai sekarang harus bangun pagi buta dan tidur tengah malam demi memenuhi tempayan-tempayan airnya. Pun Emak dan Mbah Sri sampai sekarang harus tertatih-tatih merambati batang-batang bambu demi menuju kali, setiap ingin buang air.
Hari ini, tak sengaja aku mendengar bincang-bincang warga di depan balai RW.
“Kabarnya, Pak Broto masuk rumah sakit jiwa”.
“Iya, stress katanya, sudah habis uang semilyar, tapi gagal jadi anggota dewan”.
-selesai-

Minggu, 23 Juni 2013

Kolam Renang



“Byuurr..!!!”, anak lelaki itu, kira-kira kelas 3 SD, melompat ke kolam renang untuk dewasa.
Aku terpekik ngeri, tapi kemudian berubah menjadi lega melihat dia dengan santainya berenang kembali ke pinggir. “Pantesan Ibunya nggak nungguin”, batinku, lantas menoleh pada anak-anakku sendiri.
“Ayo Nak, mentas dulu, sudah sore, kolamnya juga udah sepi”
Anak-anakku yang sudah berenang sejak pagi, tidak membantah karena mereka memang jelas sudah kecapekan. Maklumlah, jarang-jarang kami menghabiskan akhir pekan di sebuah resort di atas gunung semacam ini.
Sempat aku menoleh ke arah anak laki-laki itu saat berjalan kembali ke bungallow kami. Dia sedang berkecipak-kecipak sambil melambai-lambai. “Berenang gaya baru rupanya dia”, batinku lagi, lantas melangkah pergi.
***
Kami sedang menuju restoran untuk makan malam, ketika tak sengaja mendengar kehebohan.
“Kami sudah cari ke mana-mana tapi dia nggak ada Pak”, kepanikan perempuan seusiaku itu tidak bisa disembunyikan.
“Tenang Bu, kami akan bantu cari anak laki-laki Ibu, di kolam renang sudah sempat dicari?”
“Kami nggak cari ke sana Pak, nggak mungkin Pak dia ke sana, saya sudah wanti-wanti agar dia tidak ke kolam renang. Soalnya dia belum bisa berenang jauh”
Deg! Tadi sore, anak lelaki, kolam dewasa, lambaian tangan....

Kamis, 20 Juni 2013

Catatan #9. Jamaah Jalanan


 
Suasana shalat Jumat di Masjidil Haram (Photo by; Antara)
Ada hal unik yang membuat saya terpekik-pekik keheranan di menit-menit pertama kami menginjakkan kaki di kamar hotel. Saya kira wajar kalau saya sampai berteriak histeris, karena pemandangan semacam itu tidak akan saya temui di Indonesia.
Kami memang tiba di kota Mekkah saat menjelang Ashar. Adzan Ashar sudah berkumandang begitu kami masuk ke kamar masing-masing. Beruntung kami mendapat hotel yang berada di salah satu jalanan yang langsung mengarah ke pelataran Masjidil Haram (jaraknya kira-kira hanya 50 meter). Beruntung pula kami mendapat kamar di lantai atas dengan jendela yang memungkinkan kami melihat lalu lalang orang yang berjalan dari dan ke Masjidil Haram.
Sore itu rencananya kami akan langsung melaksanakan Umrah (miqat sudah kami lakukan di atas pesawat saat burung besi itu melintasi Yalamlam). Tour leader kami menginstruksikan untuk melakukan shalat Ashar di kamar masing-masing, setelah itu langsung berkumpul di lobby hotel untuk berangkat bersama-sama ke Masjidil Haram. Akhirnya kami pun melaksanakan shalat sendiri-sendiri. Sambil menunggu giliran shalat, saya melihat-lihat ke luar jendela.
Dan...alangkah takjubnya saya melihat banyak orang yang sedang berjalan ke arah Masjid tiba-tiba langsung menggelar sajadahnya di jalanan begitu iqamat berkumandang. Para pemilik toko dan kios yang berada di sepanjang jalan itu juga langsung meninggalkan dagangannya dan langsung bergabung dengan mereka yang sudah lebih dulu mengambil tempat di emperan toko. Seusai menunaikan shalat berjamaah, kelompok “jamaah emperan” ini langsung beranjak berdiri tanpa mengerjakan shalat sunnat maupun shalat jenazah. Para pemilik kios pun langsung kembali membuka gerainya dan menjalankan bisnisnya lagi.
Pemandangan ini tentu tidak biasa, karena di Indonesia, satu-satunya saat di mana orang shalat berjamaah di jalanan adalah saat shalat hari raya. Sedangkan di Mekkah, shalat di jalanan dan emperan tampaknya sudah menjadi kebiasaan.
Sekarang baru saya mengerti kenapa tempat itu dinamai tanah haram (tanah suci). Setiap jengkal tanah dalam radius tertentu dijaga kesuciannya. Secara berkala dalam sehari, ada kendaraan yang menyemprotkan air di sepanjang jalanan yang menuju ke arah Masjid.
Belakangan baru saya melihat, bahwa jalanan yang menjadi titik berkumpul para burung merpati juga digunakan untuk tempat shalat, sehingga usai sujud, tampak biji-biji makanan merpati menempel di dahi para jamaah. Terus terang saya geli melihatnya.
Tapi kegelian itu tak lama karena segera berganti takjub. Di tempat ini, di tanah suci ini, dalam satu waktu, jutaan manusia bersujud bersamaan, menghadap ke satu titik; Masjidil Haram. Di tanah suci, waktu seakan berhenti sesaat, ketika jutaan orang berhenti beraktifitas, dan secara bersamaan berdiri bersedekap menghadap ke satu titik; Baitullah. Untuk sesaat, orang-orang ini tak lagi mempedulikan apa-apa, kecuali memenuhi panggilan Allah untuk sejenak menyapaNya.
Saya jadi malu sendiri teringat gaya shalat saya di tanah air, yang masih sering melaksanakan shalat jauh setelah Adzan memanggil. Sedangkan di tanah Arab ini, panggilan Adzan dan Iqamat laksana panggilan seorang majikan pada hambanya, dan para hamba-hambanya lantas tergopoh-gopoh mendatangi majikannya, sekalipun harus bersujud di emperan toko dan di atas biji-bii makanan merpati.
Perihal shalat tepat waktunya ini tidak hanya saya temui di Mekkah dan Madinah, melainkan juga di Jeddah. Saya sempat keluar hotel di malam hari demi mencari toko obat yang menjual obat batuk. Namun saya terheran-heran karena banyak toko yang sudah tutup padahal jam belum juga menunjukkan pukul 8 malam. Seorang sopir taxi berkebangsaan Indonesia kemudian menyarankan saya untuk menunggu sejenak karena para karyawan dan pemilik toko sedang menjalankan shalat Isha’. Masha Allah...
Di tanah Arab ini saya belajar satu hal lagi; things that matter is Allah, others may also matter, but not really important.

Rabu, 19 Juni 2013

Catatan #8. Belajar Dari Sumur Zamzam



Sumur zamzam adalah sebuah mukjizat. Seharusnya sumur zamzam layak dikatakan sebagai salah satu keajaiban dunia.
Betapa tidak, dari satu sumur saja, memancarlah air yang tiada habisnya. Walau air dari sumur itu diambil terus-menerus, menjadi pemuas dahaga triliunan manusia, mulai dari sejak ia ditemukan hingga kini.
Semua orang Muslim pasti tahu sejarah yang mengawali adanya sumur zamzam. Ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari cerita tentang Ibunda Nabi Ismail yang berlarian dari bukit Shofa dan Marwah demi mencari air untuk sang bayi. Cinta Ibu, kepasrahan pada Allah, kegigihan dalam berjuang dan yang pasti cinta Allah pada hambaNya yang tak kenal putus asa.
Sejarah sumur zamzam ini hingga kini terus diabadikan dalam ritual sa’i, yakni berlari-lari kecil antara bukit Shofa dan Marwah sebanyak 7 kali. Pada kenyataannya, lari-lari kecil hanya dilakukan di antara 2 pilar yang ditandai dengan deretan lampu hijau terang. Jarak dua pilar ini panjangnya mungkin hanya sekitar 50 meter, hanya 10% dari jarak antara bukit Shofa dan Marwah. So, total jarak yang ditempuh kala sa’i adalah sekitar 3500 meter alias 3.5 kilo. Jauh ya? Lumayan capek pastinya. Saya jadi terbayang bagaimana beratnya perjuangan Ibunda Nabi Ismail saat harus bolak-balik dari bukit Shofa ke Marwah, dari Marwah ke Shofa, terus diulang dan diulang lagi hingga 7 kali, dengan kondisi alam Arab Saudi yang berbatu, berdebu dan panas menyengat. Subhanallah....Sementara saya yang bersa’i dalam kondisi medan yang berkeramik dan berkipas angin dengan deretan kran air zam-zam di mana-mana saja sudah merasa kelelahan. Astaghfirullah...
Oke, balik ke sumur zamzam. Saya sendiri tidak melihat bagaimana aslinya bentuk sumur zamzam. Saat sedang umrah yang lalu, kompleks Masjidil Haram sedang mengalami renovasi demi menyambut tamu-tamu agung Allah saat musim Haji nanti. Namun secara tidak sengaja, seusai sa’i, karena jalan pulang yang seharusnya kami lewati ditutup karena proyek perbaikan, kami menjumpai lokasi sumur zamzam karena kami terpaksa mengambil jalan memutar. Hanya saja, lokasi sumur zamzam tidak bisa disambangi para peziarah. Yang bisa kami lihat adalah segundukan bebatuan yang dilingkupi dengan pagar kaca. Kami tahu di situ adalah lokasi sumur zamzam karena tulisan yang tertempel di salah satu sudut pagar kaca.
Tidak bisa melihat langsung sumur yang paling terkenal sepanjang sejarah peradaban manusia itu tidak lantas membuat kami kecewa. Sebab kekecewaan kami telah digelontor oleh jutaan liter air zamzam yang mengalir tiap harinya di seantero kompleks Masjidil Haram.
Lihat saja di halaman Masjid. Di sana, kita akan menemui deretan kran-kran yang sudah tersambung dengan mata air zam-zam. Untuk bisa meminumnya pun tidak perlu dirisaukan. Pemerintah Arab telah menyediakan gelas-gelas plastik untuk mereka yang ingin langsung meminum air zamzam. Bagi yang ingin membawa pulang ke penginapan, juga bisa melakukannya dengan membawa botol atau jerigen
Tak perlu kuatir saat masuk ke dalam Masjidil Haram. Di dalam masjid pun sudah disediakan puluhan dispenser yang diletakkan di banyak titik tempat shalat. Rasanya? Jangan khawatir. Dingin dan segar. Dingin? Betul, dingin seperti ada esnya, karena memang di dalamnya sudah diberi es batu yang juga dibuat dari air zamzam. Untuk mereka yang tidak suka dingin, bisa mengambil air zamzam dari dispenser yang bertuliskan NOT COLD. Saya sendiri selalu meletakkan botol ukuran 500 cc dalam tas dan selalu memastikan isinya penuh saat keluar dari Masjid. Agar selama di penginapan, air yang saya minum adalah air suci. Mumpung di Mekkah pikir saya J
Sempat sekali saya merasakan kekecewaan yang sangat sehubungan dengan air zamzam ini. Seusai thawaf Wada’, yang artinya sebentar lagi kami akan meninggalkan kota suci Mekkah, saya tidak sempat mengambil air zamzam untuk terakhir kalinya. Botol air minum saya pun saat itu sudah kering kerontang, namun muthawwif mengajak kami segera kembali ke penginapan untuk berkemas-kemas karena bis yang akan membawa kami ke Madinah sudah menunggu sejak lama. Namun betapa girangnya hati ini manakala di Masjid Nabawi, kami mendapati deretan dispenser yang sama dengan yang kami lihat di Masjidil Haram. Apalagi ketika sang guide mengatakan bahwa isi dispenser-dispenser itu juga air zamzam yang didatangkan langsung dari Mekkah dengan menggunakan truk tangki.
Alhamdulillah...terima kasih pemerintah Arab...belum pernah saya sedemikian terharu dengan hanya melihat dispenser yang berderet-deret :’)
***
Air zamzam adalah salah satu topik pembicaraan yang menarik selama kami berumrah. Bayangkan saja, jutaan manusia mengunjungi Masjidil Haram dan jutaan lainnya mengunjungi Masjid Nabawi, tiap hari. Semua manusia ini bisa dipastikan akan turut menggunakan air suci ini sebagai pelepas dahaganya selama berada di Masjid maupun saat keluar Masjid. Tak terhitung berapa banyaknya botol air minum, gelas dan jerigen yang kembung terisi air zamzam tiap harinya. Tak terhitung berapa banyaknya galon air zamzam yang diproduksi di pabrik zamzam sebagai oleh-oleh para jamaah sepulang dari tanah suci (kami masing-masing mendapat 10 liter air setibanya di tanah air). Dan itu terus berlangsung dari puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu, hingga sekarang. Tapi nyatanya, sumur zamzam tak pernah kering.
Sumur zamzam seakan diciptakan Allah untuk mengajari manusia akan beberapa hal perihal pemberian.
Satu. Jika apa yang kita miliki kita berikan kepada orang-orang yang membutuhkan, sebagaimana sumur zamzam memberikan airnya pada orang-orang yang dahaga, maka harta yang kita miliki tak akan pernah mengering. Alquran pun sudah menyebutkan hal ini di beberapa ayat.
Dua. Memberi sebaiknya tidak perlu memandang siapa yang diberi, sepanjang yang bersangkutan memang membutuhkan. Sumur zamzam tidak pernah memilih hendak memberikan airnya pada siapa. Jutaan manusia aneka rupa bebas meminum air zamzam; tua, muda, kaya, miskin, laki, perempuan, artis, dokter, buruh, tukang becak, hitam, putih, pendek, tinggi, kurus, gemuk. Tak ada pengecualian dan kriteria khusus siapa saja yang boleh meminum air zamzam. Bahkan ketika dibawa pulang ke tanah air, mereka yang bukan pemeluk agama Islam pun boleh dan bisa jadi membawa manfaat jika meminum air zamzam.
Subhanallah, masa suci Engkau yang telah menghadirkan sumur zamzam sebagai sebuah pelajaran.

Kota suci
Ingin rasanya menginjakkan kaki sekali lagi
Masjid suci
Kangen rasanya bersujud, berthawaf dan bersa’i
Air suci
Rindu rasanya mencecap segarmu usai dahaga sepanjang hari

Selasa, 18 Juni 2013

Merdeka Tanpa Huruf “L”


“Tanggal berapa hari kemerdekaan Indonesia!?”, tanyaku setengah berseru.
“17 Agustus 1945!!!”, jawab anak-anak ini tak kalah seru.
“Bu! merdeka itu opo?”, terdengar sebuah suara menginterupsi.
Glek! kenapa dia harus menanyakan itu?. “Merdeka itu artinya kita sudah bebas dari penjajah. Kita bebas bekerja dan belajar”, jawabku teoritis.
“Tapi Bu, kalau gitu, harusnya kita bebas ke sekolah to?”, bocah itu bertanya lagi.
Ho oh, kalau bebas, kenapa kita bukannya sekolah malah harus kerja?”, tukas anak yang lain lagi.
Aku termangu. Mereka memang anak-anak yang tak tersentuh program sekolah gratis atau sekolah murah. Banyak dari mereka yang harus putus sekolah, bekerja membantu orang tua, dan harus puas dengan belajar bersamaku di tempat ini, bangunan semi permanen di bantaran sungai.
“Maksud Ibu, di negara kita ini sudah tidak ada lagi orang-orang asing yang seenaknya berbuat sesuka hati. Sebab, kalau belum merdeka, kita tidak mungkin bisa bebas belajar di sini”, jawabku lagi, berharap mereka berhenti bertanya.
***
Aku selesai mengajar agak terlambat sore itu. Tergopoh-gopoh aku turun dari angkot yang mengantarkanku hingga ke mulut salah satu gang di Surabaya.
“Lho, kok sore banget datengnya? Nggak siap-siap to?”, seseorang menyapaku.
Iyo Mbak, ini kudu cepet-cepet makanya”, jawabku dengan langkah bergegas.
Setelah mandi, kulakukan ritual rutinku.
Kusingkirkan kaus lengan panjang dan rok panjang yang tadi kukenakan, berganti tank top dan rok super mini. Tak kuhiraukan jilbab yang sesiangan tadi kupakai mengajar, berganti sebuah kotak make-up berisi riasan aneka warna.
Terakhir, kuusir bayangan murid-muridku yang lucu lugu, berganti wajah-wajah pria yang memandangi tubuhku dengan bola mata seakan hendak meloncat.
Jika di siang hari aku adalah Lastri, guru anak-anak putus sekolah. Sekarang, aku adalah Astri, tanpa huruf L, salah satu warga gang Dolly.
Terngiang tanya muridku siang tadi; “Bu, merdeka itu opo?”.
“Merdeka adalah ketika kamu bebas menempelkan huruf “L” pada namamu”, jawabku dalam hati sambil tersenyum getir.

-selesai-
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, hanya nisankah yang akan kita tinggalkan? (Papa/H. Slamet Sulaiman)